Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, dan Persepsi Umat Islam

Ketika buku yang cukup tebal muncul dari sebuah penerbit di bandung, Mizan, dengan judul yang begitu mengguncangkan perasaan kaum agamis, “SEJARAH TUHAN”, buku tersebut kemudian menjadi seperti kacang goreng yang banyak sekali dibeli dan dibaca oleh bermacam-macam orang, terutama dari kalangan islam, yang mayoritas di Indonesia, walaupun harga yang tertera cukup mahal untuk kantong orang kebanyakan. Saya juga sempat mendengar bahwa buku tersebut juga menduduki buku best seller di negeri Barat (terutama Amerika Serikat).

Sebelum buku tersebut di terbitkan di Indonesia, seorang teman pernah menunjukkan kepada saya buku tersebut hasil dari pemberian teman bulenya, dalam bentuk fotokopian versi bahasa inggris, sehingga tidak begitu dapat kupahami, mengingat lemahnya bahasa Inggris saya dan tentu saja menyebabkan, waktu itu, tidak muncul ketertarikan atas buku tersebut dalam diri saya. Namun setelah buku tersebut terbit dalam bahasa Indonesia, dengan terjemahan yang cukup apik, buku tersebut kemudian menjadi salah satu buku yang membangkitkan gairah bacaku.

Secara tersurat dan jelas, dari judulnya saja sudah dapat diprediksi bahwa isinya merupakan suatu rangkaian pemahaman dan keyakinan dari jaman musa sampai jaman modern sekarang ini mengenai ide-ide seputar teologis atau ketuhanan yang ditulis mengikuti perjalanan waktu dari sejarah atau tahapan hidup manusia. Ditulis dengan gaya santai dan unik serta kronologis, dengan kedalaman empati dan pengertian rasa yang begitu tinggi dari sang penulis menjadi setiap kalangan yang membaca, baik itu dari pihak kristen, yahudi, islam atau yang lain, merasa tersanjung dan terbela keyakinannya. Berbagai diskusi dan komentar apik pun berterbangan ke sana ke mari dari para mulut agamawan, pakar teologis, santri, rohaniawan, bahkan orang awam sekalipun seperti saya. Buku inilah yang kemudian menjadikan Karen Amstrong tenar dan sedemikian banyak di sebut di Indonesia khususnya kaum terpelajar. Buku-buku karangannya yang lain kemudian menyusul terbit dan tentu saja mengikuti buku pertamanya juga terjual laris manis. Berperang demi Tuhan, Buddha, Sejarah Islam, merupakan beberapa karyanya yang kemudian menjadi sedemikian laku di Indonesia.

Dalam membahas setiap episode manusia dalam memahami dan meyakini kepercayaan terhadap Tuhan, entah itu dari pihak yahudi, nasrani atau islam, bahkan kaum ateis, Karen selalu saja berusaha secara empatik untuk masuk kedalam perasaan dan jiwa para pemuja tuhan tersebut kemudian berusaha menjelaskan dan mengelaborasi serta memberikan suatu pencerahan, dengan bahasanya sendiri, kenapa kepercayaan itu bisa timbul. Tidak salah jika setiap pembahasan mengenai tuhan ia selalu mengedepankan rasa dibandingkan aspek intelektualitas atau kritik. Maksudnya adalah Ia mengedepankan pemahaman dari pada mencari kelemahan-kelemahan teologis. Ia mengabaikan logika intelektual demi tujuan pemahaman psikologis-teologis. Salah satu kalimat atau pendapat pribadi yang paling sering ia munculkan berkali-kali dalam buku tersebut (dalam kalimat saya) adalah bahwasanya setiap kepercayaan atau teologi mengenai Tuhan dalam periode waktu tertentu akan mengalami suatu perubahan dikarenakan situasi dan kondisi manusia itu sendiri. Setiap konsep akan ditentang kemudian secara lambat laun atau drastis digantikan dengan konsep atau keyakinan yang lain yang lebih sesuai atau mampu beradaptasi atau cocok dengan kondisi masyarakat waktu itu. Konsep ketuhanan yang lama akan digantikan dengan konsep ketuhanan yang baru apabila dirasa konsep ketuhanan yang lama tidak lagi diterima oleh masyarakat dalam periode tersebut. Salah satu pandangan subjektifnya yang bersumber dari harapannya akan kedamaian dan kebermaknaan hidup antar sesama manusia muncul dalam bentuk teologis perdamaian. Simak saja paragraf terakhir dari Sejarah Tuhan yang ia tulis,”Manusia tidak bisa menanggung beban kehampaan dan kenestapaan; mereka akan mengisi kekosongan itu dengan menciptakan fokus baru untuk meraih hidup yang bermakna. Berhala kaum fundamentalis bukanlah pengganti yang baik untuk Tuhan; jika kita mau menciptakan gairah keimanan yang baru untuk abad kedua puluh satu, mungkin kita harus merenungkan dengan seksama sejarah Tuhan ini demi menarik beberapa pelajaran dan peringatan.”

Beberapa kesalahpahaman dari proses pembacaan ini banyak muncul dari kalangan Islam di Indonesia. Mereka banyak yang menganggap bahwa buku tersebut membela dan menyokong kepercayaan Islam. Dengan mengutip kata-kata atau kalimat pujian yang diberikan Karen kepada pendiri Islam yaitu Muhammad, banyak pihak dari kalangan islam merasa terbela dan mengangguk atas pemahaman empatik yang diberikan oleh Karen. Bahkan Jalaludin Rahmatpun mengungkapkan atau mengisyaratkan hal yang sama (baca Catatan Sufistik). Hal ini lah yang saya kira menjadikan alasan kenapa mereka menyebut Karen berpihak pada teologis Islam. Padahal jika membaca secara keseluruhan dan utuh dari karya Karen tersebut, Karen tidak bermaksud demikian. Karen tidak berusaha memihak satu teologi manapun, ia hanya berusaha memahami secara empatik dan kronologis, jikalau ada keberpihakan biasanya Karen memihak karena alasan moral dari dalam dirinya, yaitu keberpihakan pada teologi yang menjunjung kedamaian hidup di dunia. Simak saja tulisannya mengenai teologi sufi yang kecenderungan keberpihakan kepadanya lebih tinggi (sebagaimana ia juga memihak kaum kabbalah) dibandingkan teologi kaum fundamentalis, walaupun ia juga sempat memberikan kritik bahwa tuhan para kaum mistik ini sulit di aplikasikan di tataran sosial masyarakat.

Maka tidak heran jika kalangan islam (terutama kaum fundamentalis) selalu kebingungan dan bertanya-tanya kenapa setelah begitu memihak islam dan begitu memahami serta memuji nabi muhammad dan kebenaran ajarannya, Karen tidak berganti keyakinan dan menjadi seorang Islam. Banyak pertanyaan yang muncul mempertanyakan hal ini. Saya yakin hal ini dikarenakan kekeliruan pemahaman atas Karya Karen itu sendiri dari para pembaca yang berasal dari kalangan Islam sebagaimana telah saya jelaskan di atas. Setiap orang yang mengatakan bahwa buku Sejarah Tuhan tersebut memihak pada salah satu agama, saya yakin tidak memahami dan mengerti betul-betul karya Karen tersebut. Bahkan dalam buku biografinya yang di terbitkan oleh Mizan, Menerobos Kegelapan, Karen tidak menyinggung atau mengelaborasi secara jelas masalah perubahan ideologisnya atau keyakinannya. Pembelaan terhadap islam juga tidak di dapatkan dari sana. Dalam sampulnya di tuliskan juga ia menganut keyakinan independen mengenai tuhan yang dikatakan sebagai “freelance monoteism”. Namun saya kurang begitu yakin dengan hal ini mengingat dalam biografinya ia tidak menyebutkan atau menjelaskan mengenai hal ini. Saya tidak tahu dari mana penerbit menemukan istilah tersebut. Salah satu gairah yang dituliskan dari penderita epilepsi ini malah lebih bersifat sufistik, yaitu sewaktu ia merasakan ketenangan dan kejernihan, atau dalam istilahnya Daniel Goleman (baca Emotional Intelegent) disebut sebagai “flow”, sewaktu melakukan proses penulisan karya-karyanya. Ia seperti menulis dan menulis tanpa beban dan terus mengalir tiada henti seolah mengalir dari sumber mata air yang tiada berhenti alirannya. Demikianlah yang ia nyatakan. Dalam terminologi sufistik ia telah mencapai pencerahan atau “trans” lewat metode menulis. Hal itulah yang sangat saya rasakan ketika membaca biografinya tersebut.

Dengan demikian persepsi umat Islam yang begitu menyanjung dan memuji buku “Sejarah Tuhan” sebagai buku yang menyokong dan membela islam dibandingkan dengan agama atau teologi yang lain merupakan sesuatu kekeliruan yang fatal (Sebagaimana hal itu juga banyak terjadi kekeliruan pemahaman atas karya Karen pada penganut agama selain Islam). Hal tersebut memang sering dilakukan oleh para tokoh atau penganut Islam (demikian juga dengan penganut agama yang lain). Hal tersebutlah yang saya sebut sebagai sikap “apologis yang membabi-buta”. Sebagai mana pernah dilakukan dalam pembacaan para penganut Islam atas Karya Edward Said. Suatu hal yang saya anggap terlalu gegabah dan terburu-buru.

Semoga Bermanfaat..

Dalam hangatnya empati yang merasuk ke dalam diri

Haqiqie Suluh

(Muntilan, Selasa, 05 September 2006)

About these ads

93 Responses to “Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, dan Persepsi Umat Islam”


  1. 1 agorsiloku Sabtu, 17 Februari 2007 pukul 2:12 pm

    aduh…. saya sudah baca sejarah tuhan, tapi baru sebagian dan saya lupa kenapa saya menghentikannya. Rasanya menarik pandangan mas ini, entar ah, saya mo baca lagi… karena itu melihat tuhan dalam perspektif sosiologi….

  2. 2 Kususanto Asep Selasa, 13 Maret 2007 pukul 12:22 pm

    Kebutuhan akan sesuatu yang mutlak, yang tidak sirna, yang menjelaskan, dst (99 Asmaul Husna). Menjadi titik tolak pencarian manusia atas latar belakang permasalahan hidup dan kehidupan yang tidak dapat dimengerti dan dipahami secara utuh dan jelas bahkan terukur.

    Sebagai contoh; karena kehidupan berjalan berubah, manusia mencoba berpegangan pada waktu. Maka ada juga yang berasumsi eksistensi manusia melekat pada waktu, sehingga tercetus ungkapan “kemewaktuan”. Lalu pertanyaan kepada asumsi ini, adalah menjadi: “apa itu waktu?”

    Terimakasih atas para pihak yang telah menyajikan buku Karen Amstrong ini. Penulis secara kronologis telah menyuguhkan informasi dari waktu ke waktu, serta informasi tentang kemewaktuan dari existensi Beliau.

    Salam

  3. 3 masv1ck Selasa, 5 Juni 2007 pukul 12:53 pm

    jadi penasaran seperti apa c isi buku ini…??/
    tapi dilihat dari sampulnya sih memang bikin hati tertarik bagi org yg sedang mencari Tuhannya…

    baca aja lah kalau pengen tahu…

  4. 4 ibnu Senin, 18 Juni 2007 pukul 7:09 am

    :) tapi harus hati-hati baca buku ini..,
    dalam perjalanan membacanya, suka timbul banyak persepsi kita tentang Agama dan TUHAN…,
    bisa jadi syirik..
    *nice blog, ^_^ numpang lewat yaa..,

    monggo mas… entar lewat lagi ya… saya tunggu..

    • 5 asep Selasa, 13 April 2010 pukul 3:44 pm

      ya ya kalau secara theologi mungkin siapa nama tuhan itu tidak penting & menurut saya juga begitu yg jelas tuhan itu prima causa/penyebab kejadian dari semua yg ada& terjadi. jadi kalau nama tuhan allah bagi orang islam itu berasal tentu itu tidak penting yg terpenting esensi dari tuhan bahwa tuhan itu ESA & penyebab semua kejadian. dan apapun orang menyebut nama tuhan : jehovah ,hyang widhi ,god dll itu hanya sebutan yg maksudnya tentu saja sama. yg tidak mungkin kalau tuhan itu lebih dari satu,pernah berwujud manusia / pernah punya anak tentu itu nggak masuk akal menurut logika.yg penting kita percaya bahwa ada kekuatan X diluar kemampuan manusia yg selalu mempengaruhi jalan hidup manusia & itulah tuhan.

      • 6 ihsan Senin, 17 Desember 2012 pukul 12:20 am

        “kekuatan X -diluar- kemampuan manusia”

        jangan selalu mencari yang diuar mas, sesekali harus “nglinguk” yang didalam :)

        salam

      • 7 aris Sabtu, 27 Juli 2013 pukul 8:16 pm

        wah….
        emank tuhan namanya x ya ???
        gak kali….
        tuhan t patut kita sembah.jadi kita hars kenal dengan than kita
        jadi dak salah sembah nantinya..
        kalau mau belajar mengenal tuhan monggo…
        ada ahlinya ….

  5. 8 hans Jumat, 21 September 2007 pukul 11:56 pm

    harus baca alias wajib biarberagaa bukan karena keturunan, kemauan sendiri

  6. 9 wien Rabu, 26 September 2007 pukul 10:13 am

    Buku ini kan hanya sejarah persepsi manusia terhadap Tuhan….Sebenarnya ada hikmah dibalik penulisan buku itu..kalau kita berpikir reflektif.Sebenarnya agama2 besar itu mungkin persepsi ttg Tuhan itu sama..Tapi terkadang Tuhan dimaknai bermacam-macam..sehingga terjadilah pertentangan, pertikaian bahkan perang yang mengatasnamakan agama…

    Trims Mas Blognya bagus…

  7. 10 hendy Senin, 22 Oktober 2007 pukul 1:45 pm

    telah dengan terang dijelaskan dalam QS.Al-Baqarah:6-7 bahwa sebagaimanapun cerdasnya pemahaman seseorang dan sejernih apapun hatinya,tak akan pernah dapat menerima hidayah.orang boleh kagum atas argumen karen atau dari segi manapun.tetapi selayaknya harus menjadi pengingat bahwa kebaikan apapun tak akan lebih dapat berarti tanpa iman kpd Allah SWT.gimana,stuju?

  8. 12 gzhart sang laskar Senin, 26 November 2007 pukul 8:09 pm

    POKO’E Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan adalah rasional, cuman membutuhkan kajian yang mendalam. Bacaan sejarah Tuhan adalah salah satunya, hanya saja kalian perlu membacanya dan mengkajinya. Seandainya isinya itu kuanggap mencederai AGAMAKU…!!!!! Tak usah banyak komentar , karna sampai di AKHIRATPUN PASTI AKAN KUBUAT PERHITUNGAN DENGAN Karen Armstrong.

  9. 16 dandy83 Kamis, 27 Desember 2007 pukul 9:00 pm

    aaaaaaaaaaaa puyeng

  10. 17 azhari syarief Sabtu, 19 Januari 2008 pukul 5:33 pm

    baca dulu dong, jgn kulitnya aja…..

    subjektif itu gak baik lo …..

    jangan biasakan curiga dan anggap remeh seseorang. coba kita sebagai muslim, bisa gak buat tulisan semacam itu????

  11. 18 Suluh Minggu, 20 Januari 2008 pukul 6:30 pm

    @azhari:

    maksudnya apa mas? dah baca article saya diataS?

  12. 19 Tom Heneghan Selasa, 5 Februari 2008 pukul 4:09 am

    If you’re interested in Karen Armstrong, you might want to look at her latest interview on Pakistan, Islam and secularism in the Reuters religion blog FaithWorld — http://blogs.reuters.com/faithworld.

  13. 20 Kendurian Senin, 3 Maret 2008 pukul 12:28 am

    Aku kira Karen dlm bukunya itu menerangkan seobyektif mungkin persepsi Tuhan dalam tiap-tiap agama…
    Tentu saja itu berdasarkan kajian literature history maupun kitab-kitab yang berkaitan…
    Kalau dibilang memihak? Ga jugalah… Karena apa yang ditulis/dikaji memang terasa nyaman bagi orang muslim karena yang ditampilkan memang berdasarkan kitab Al-Quran bukan atas “tafsir” seorang orientalis.

  14. 21 Kendurian Senin, 3 Maret 2008 pukul 12:37 am

    Sayang di komentar ini banyak orang yg belum membaca bukunya tapi sudah bernada sinis,skeptis, bahkan berteriak “JIHAD”? He he he…
    Orang muslim itu harus cerdas… dikit2 ko esmosian… :) Blom baca bukunya aja ko marah-marah? Ayo dong bersaing sama Karen, bikin karya sebaik Karen… (kalau bisa).
    Ada yg khawatir baca buku Karen jadi syirik (lucu banget…), ada yg mau bikin perhitungan lah… (hisab aja sendiri..)
    yang ga bisa menganalisa buku ini (atau bahkan lihat covernya aja belum), udah langsung ngeluarin ayat… (lucu nih), kaya kyai2 janman orde baru aja yg dukung suharto pake ayat2 Al Quran segala…
    Ada lg yg ngaitin sama Hidayah… Newton, Einstein aja bukan Muslim, tp ko ente belajar jg ilmunya?
    Lucu deh kalau baca analisa orang emosian…

    • 22 Black Selasa, 29 September 2009 pukul 11:47 am

      @ Kendurian :seeeppp setujuuu….aq setuju bgt dengan pemikiran km..itu baru pemikiran positif..dan fleksibel..kadang byk orang yg sering nya gA mempelajari n ngolah dalam pikiran..uda main nyocot aja ..yg kyk gitu itu yg bahaya…pada inti nya semua manusia tu 1 ciptaan..dan agama bukan utk di perdebatkan tp kudu di pahami masing2..kadang mengetahui sejarah agama masing2 itu baik koq..drpd ga tau sama sekali sejarah agama yg kita anut…:)

    • 23 ari Kamis, 25 Juli 2013 pukul 9:03 pm

      Yang penting kitab suci al-quran tidak pernah dicampuri tangan manusia. Seperti perjanjian baru. Kitab suci yang baik tidak pernah ada campur tangan manusia yang punya emosi seperti anda katakan.

  15. 24 Suka Sarana Sabtu, 29 Maret 2008 pukul 12:16 am

    setelah baca buku itu, saya jadi paham, ternyata begitulah prosesnya manusia percaya kepada tuhan.

    kalau begitu timbul pertanyaan: “sejak kapan dong, tuhan itu ada?”

  16. 25 Suluh Sabtu, 29 Maret 2008 pukul 8:36 am

    @Suka Sarana: mbak or mas jangan digeneralisir ya. Itu hanya salah satu proses pemahaman akan kepercayaan manusia MENURUT sudut Pandang KAREN ARMSTRONG. Saya masih yakin banyak lagi jalan atau prosesnya yang tidak seperti itu atau berbeda. Sejak kapan tuhan ada? Setidanya menurut saya, TUhan ada dalam kepercayaan manusia mensyaratkan adanya Manusia itu sendiri. Sehingga “Kepercayaan” pda TUhan ada karena Manusia Ada. SEjak kapan? Kalau ini saya tidak tahu…

    • 26 efrafas Senin, 16 April 2012 pukul 3:16 pm

      @suluh : kalau saya simak dari tulisan2 anda,sepertinya ada pemahaman pribadi anda soal Tuhan yg enggan anda uraikan secara gamblang..rasanya menarik berdiskusi dengan anda,saya yakin ada sesuatu yg ingin anda diskusikan tp tdak bisa anda bicarakan dengan semua orang.. :D apakah analisa saya benar?

  17. 28 imago Jumat, 4 April 2008 pukul 3:21 pm

    ya…saya kira tulisan karen tidak “membela” agama apapun..dia hanya mencoba seobjektif mungkin apa yang bisa dia lakukan..dan apa yang sampeyan tulis ini sangat menarik…dan mambuat saya ingin coba mengeja buku itu dengan lbh “jeli”..

  18. 29 maztegh Jumat, 23 Mei 2008 pukul 1:56 pm

    Blog yang bagus. Jadi pingin baca postingan lainnya….

    Ttg buku Sejarah Tuhan, sebuah referensi yg bagus. Tidak banyak orang berani “mengkaji tuhan” dari banyak sudut pandang. Sebagian yg tdk berani itu ada yg takut masuk ke syirik, ada yg memang didoktrin tdk boleh membahas ttg tuhan karena itu menjadi rahasia terlarang yg hanya utk diyakini dan bukan utk dipertanyakan, tidak hanya di kalangan Umat Islam saja, juga di umat yang lain sama kasusnya.

    Kita senang dg hadirnya buku itu. Buku itu seperti merangkum apa yang selama ini kami cari dari berbagai judul buku yg bertebaran di berbagai bidang ilmu. Setidaknya mempermudah kajian kami.

    Tuhan memang bisa ditemukan dari berbagai sudut pandang. Karena meamng Dia menyebarkan tanda-tanda (ayat-ayat) EksistensiNYA keseluruh pelosok alam semesta, ke segenap bidang ilmu. “Kemanapun kamu menghadap kamu akan menemukan WajahNYA.”

    Jadi, @ Suka Sarana; pertanyaannya kurang pas, yg pas sejak kapan manusia itu peduli pada Tuhan?

    Dari sekian banyak definisi ttg Tuhan, pasti hanya 1 (satu) yang benar. Yaitu definisi dari Dia sendiri.

    Thanks.
    -yg lg belajar bikin blog-

  19. 30 rian Sabtu, 23 Agustus 2008 pukul 8:26 pm

    karya karen ini memang sangat spektakuler.sebuah karya yang menjelaskan filosopi dari penyembahan dan kepercayaan terhadap tuhan secara rasional.dalam membaca buku ini butuh ketelitian tingkat tinggi,tetapi bukan berarti mutlak bagi kaum intelek untuk memahami karya ini,ini bukan masalah keintelekan tetapi masalah keikhlasan dalam memahami arti ketuhanan dengan sudut pandang yang menyeluruh.

  20. 31 iyus Senin, 25 Agustus 2008 pukul 2:29 am

    KONSEPSI KETUHANAN itu apa ya?
    TEologi?
    menurut pemahaman saya sebagai orang islam, teologi islam ditujukan untuk membantu orang awam (makanya dipesantren2 ada kitab AQIDATUL AWWAM) untuk menuju suatu konsepsi bahwa:Tuhan tak terkonsepsikan!
    namun dalam sebuah perjalanan spiritual manusia dapat merasakan: Tuhan BEGITU DEKAT, BEGITU NYATA.karena sudah kodrat manusia percaya pada tuhannya.

    AGAMA?
    Kalau agama ya tidak lepas dari konteks ruang waktu dimana manusia berkehidupan.
    lalu

  21. 32 lovepassword Senin, 25 Agustus 2008 pukul 5:37 pm

    Buku-buku Karen emang keren. Bahasanya juga lumayan enak. Kalau dibilang memihak salah satu agama emang kayaknya nggak, karena dia kan nulis buku tentang berbagai agama juga. Tetapi secara umum kayaknya Karen cenderung melihat agama dari sisi positifnya. Tentu ada kritik juga tetapi cenderung halus dan santun. karena itulah buku-bukunya disukai berbagai kalangan masyarakat tentu dengan persepsi mereka masing-masing. Orang islam, kristen, yahudi, budha , dsb silakan saja mengagumi dan ngefans sama karen toh ngefans sama dia juga lumayan keren. Hik hik Hik….SALAM MAS SULUH, semoga anda menjadi suluh terus.

  22. 33 ahmad Syukur Jumat, 10 Oktober 2008 pukul 3:29 pm

    Sejarah Tuhan Sudah Lama Saya Membacanya. Rasanya Isinya terlalu mengagungkan pemikiran manusia saja atau dengan kata lain Logika Dibandingkan Dengan Tuhan. Thanx.,

  23. 34 ali vikram Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 11:30 am

    Karen itu genius,seakan akan berfihak kepada islam karena ngerti emosinya umat islam.Belajar dari pengalaman Shalman yang kena fatwa mati.

  24. 35 hairulsaleh Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 10:51 pm

    buku karen ini membuka wawasan bagaimana sejarah pengenalan tuhan sehak peradaban manusia menganal agama, khususnya tentang pencarian akan sesuatu yang menyangkut adanya kekuatan laian dalam diri manusia.apakah kita percaya akan semua itu?tentunya buku ini sedit akan membawa kita untuk lebih mengenal tafakur “pencarian” itu.yang jelas berterima kasihlah pada penulis buku ini, karena biar bagaimanapun karen menggambarkan bentuk dan model pencarian tuhan oleh manusia yang memiliki sifat rasa takut yang membawanya kepada keyakinanan terhadap ‘ada’ atau ‘tidaknya’ tuhan.

  25. 36 nuri nurzikri Minggu, 2 November 2008 pukul 11:12 pm

    lagi membaca niy..bukunya siy udah di beli 1 th yang lalu…neggak selesai-selesai. sekilas isinya cukup memenuhi rasa haus akan pemenuhan cara berfikir yang logis.

    wassalam

  26. 37 rocky Sabtu, 15 November 2008 pukul 4:50 pm

    gw sendiri. lum baca yg sejarah tuhan. karena bukunya sekarang langka bgt. susah nyarinya.ada yg tau beli buku sejarah tuhan dimana?
    klo gw baca dari bukunya karen yg sejarah singkat islam. gw bener2 terharu, karena dia menyajikan sejarah islam secara objektif dan memaparkan kenapa islam fundamental&ke-stres-an muslim yg melahirkan fundamentalisme islam sekarang ini.

    apalagi digabung bukunya irshad manji yg “beriman tanpa rasa takut.” bikin gw sedkit paham…bahwa ada yg salah dengan umat muslim sekarang ini…

    sejarah islam yg dibajak oleh budaya suku arab,patrilinealisme membuat islam semakin menjauhi rahmatan lil alamin. bukankah esensi dasar setiap agama adalah kasih sayang dan cinta kasih!

    bukankah perbedaan baik suku,agama,ras adalah suatu keindahan yg diciptakan tuhan.

    bukankah ishak(keturunannya menjadi bangsa yahudi pada umumnya) dan ismail(keturunannya menjadi bangsa arab pada umumnya) adalah bersaudara…anak dari ibrahim!

    bukankah tuhan ada dimanapun kau berpaling. lalu mengapa kalian sesama keturunan adam saling bertikai dan merasa yang paling benar diantara manusia.
    bukankah sesungguhnya kebenaran itu hanyalah milik tuhan(apapun sebutannya)! dan tak ada seorang manusia pun yg mengetahuinya.

  27. 40 adnanino Rabu, 19 November 2008 pukul 4:24 pm

    gw dibesarkan di keluarga islam taat, pada jenjang smp gw masuk sebuah pesantren modern di salatiga, disana kita dididik untuk menjadi islam garis keras (bukan oleh kurikulumnya) tetapi karena pergaulannya yang lebih seperti “islamlah yang paling benar”, dididik untuk membenci “selain islam”.

    jenjang sma gw kembali ke komunitas umum, gak ada yang berubah karena gw mencintai islam karena ego gw sendiri, gw melakukan ibadah2nya karena ego, dan berbangga agama gw islampun karena ego.

    jenjang kuliah gw menemukan apa itu yang disebut “filsafat”. gw melepaskan atribut keagamaan gw dan tidak mengenal tuhan (karena sama saja, sebelumnya pun gw tidak mengenalnya)gw menghujat, menelaah, berkeliling dari buku satu ke buku lain, dari komunitas satu ke komunitas lain, dari celaan orang-orang, dan dari hujatan orang-orang, untuk sebuah tujuan akhir agar gw dapat “menetralkan” pemikiran gw, mengosongkan segala dogma dan doktrinitas di dalam kepala, dan menjadi orang yang bersih dari atribut apapun.

    gw punya jeda sejenak, mencoba untuk beribadah dan akhirnya meneteskan air mata saat membaca salah satu surat, YUP! gw menemukan sebuah kerinduan, keagungan, dan kemegahan perasaan yang melebihi apapun, pikiran bercampur aduk! gw menemukan Tuhan di Islam, disitulah gw bisa merasa kecil sekali dan perasaan yang sangat spektakuler, ternyata qta tidak boleh menggantungkan tangan di agama orang tua qta.

    dan menurut gw yg namanya “nikmat islam” itu gak ada, karena alangkah kasihannya mereka yg terlahir sdah mnjadi kristen, hindu, budha, atau agama lainnya. karena qta harus mencari kebenaran itu dengan “hati” bukan hanya sekedar ikut2an orang tua qta!!!

  28. 42 hendi Sabtu, 22 November 2008 pukul 8:20 am

    EFEK SPONTAN

    menurut saya sangat wajar kalo orang islam / muslim merasa terbela dengan bukunya karen, karena dalam bukunya terpaparkan kesalahpahaman atau kesalahpersepsian orang barat terhadap islam, saya jadi bingung kenapa mas suluh kayaknya nggak suka kalo orang islam merasa terbela dengan adanya buku ini, kalo berdasarkan persesi saya secara pribadi karen amstrong berusaha memaparkan kenapa tuhan menjadi berhala (idol) bagi manusia sepanjang jaman dan berusaha memupuskan kebencian antar umat beragama karena setiap apa yang dilakukan oleh umat beragama memiliki dasar, setiap manusia memiliki kehausan spritual terhadap tuhan bahkan seorang ateis sekalipun (seseorang lebih memilih menjadi ateis mungkin dengan alasan kekecewaan karena tuhan yang ada atau perilaku orang yang mengaku hamba tuhan tidak memuaskan kehausan spiritualnya), saya rasa setiap orang yang membaca buku nya mbak karen akan merasa terbela (agama apapun itu) karena saya rasa mbak karen berusaha memberikan pencerahan keimanan terhadap setiap pemeluk agama (termasuk yang ateis)berdasarkan pemahaman yang dia miliki dan memang pembaca yang lebih dibidik oleh mbak karen (khusus dalam bab yang membahas tentang islam) adalah orang barat dan pemahamannya yang banyak keleru tentang islam bukan orang islamnya.

    trus kenapa orang islam ga bisa bikin karya yang seperti karen, bahasan tentang islam bisa dibilang objektif kalo penulisnya bukan orang islam dan tidak bersifat menyerang agama manapun, kalo orang islam nulis tentang islam seilmiah apapun hampir bisa dipastikan akan akan ada unsur subjektifnya dan hanya bisa dikonsumsi dengan nyaman oleh pembaca muslim.

    kalo mbaca tulisan saya yang diatas itu puyenk, intinya apa salahnya kalo umat muslim merasa terbela dengan buku ini walaupun si mbak karen ndak bermaksud untuk menyokong atau membela umat muslim, bisa dibilang ini adalah efek yang dihasilkan dari karyanya yang dirasakan oleh pembaca muslim secara spontan bukan terburu-buru atau gegabah……

  29. 43 Suluh Sabtu, 22 November 2008 pukul 1:52 pm

    Istilahnya, buku itu menceritakan sebuahh sejarah dengan empatik. Keberpihakan Karen bukan pada satu agama tetapi pada alasan Moral. Nah ini yang sering tidak ditangkap oleh “pembaca spontan”. Makanya terlalu gegabah kalau buku itu cenderung “hanya” membela satu pihak, sebagaimana sering saya dengar. Buku itu menceritakan secara “empatik” bukan kritis, dari sejarah Tuhan, bukan cuma satu sudut pandang. Sekali lagi, keberpihakan Karen lebih karena alasan Moral bukan pada Satu Agama:

    Manusia tidak bisa menanggung beban kehampaan dan kenestapaan; mereka akan mengisi kekosongan itu dengan menciptakan fokus baru untuk meraih hidup yang bermakna. Berhala kaum fundamentalis bukanlah pengganti yang baik untuk Tuhan; jika kita mau menciptakan gairah keimanan yang baru untuk abad kedua puluh satu, mungkin kita harus merenungkan dengan seksama sejarah Tuhan ini demi menarik beberapa pelajaran dan peringatan

    Nah kesimpulan yang ada dalam pemahaman saya adalah seperti berikut:

    Karen tidak berusaha memihak satu teologi manapun, ia hanya

    berusaha memahami secara empatik dan kronologis, jikalau ada keberpihakan biasanya Karen memihak karena alasan moral dari dalam dirinya, yaitu keberpihakan pada teologi yang menjunjung kedamaian hidup di dunia. Simak saja tulisannya mengenai teologi sufi yang kecenderungan keberpihakan kepadanya lebih tinggi (sebagaimana ia juga memihak kaum kabbalah) dibandingkan teologi kaum fundamentalis, walaupun ia juga sempat memberikan kritik bahwa tuhan para kaum mistik ini sulit di aplikasikan di tataran sosial masyarakat

  30. 44 Joedi Moeljanto Senin, 1 Desember 2008 pukul 9:34 pm

    hmmm ….

  31. 45 reza Minggu, 14 Desember 2008 pukul 11:24 am

    yg harus dilakukan oleh setiap muslim adalah berilmu dan beramal sesuai dg petunjuk2 Allah n Rasul. trus jgn menutup diri dari org lain. siapa pun itu. hikmah itu milik orang beriman, yg sedang hilang, ato sedang dimiliki oleh orang lain. maka, bukalah hati kita pada kebenaran, selama itu cocok dengan apa yang Rasul sampaikan pada kita krn pada hakikatnya kebenaran itu berasal dari Allah. hilangkan atribut keorganisasian, latar belakang, n tendensi apa pun. lepaskan segala standar moral kita, kita ganti dengan apa yang Allah titahkan pada kita. kita umpamakan diri kita ini serupa kain putih. bersihkan dulu kain putih itu. lalu kita celupi diri kita dengan shibghatillah. dengan celupan warna Allah.
    buat semuanya, sekali lagi, mari kita kaji lagi seluruh dogma yang ada pada lingkungan kita. baik itu disampaikan oleh kiai, ulama, ustadz, bahkan orientalis sekalipun. semuanya. mari kita kaji tanpa ada tendensi apa pun. seobyektif mungkin.
    moga2 Allah memberi hidayah pada kita

  32. 46 alin Rabu, 22 April 2009 pukul 6:48 am

    Ya Ampun.. Dari dulu nyariin buku ini susah banget. Taunya dari ulasannya aja. Saya kenal Karen Armstorng itu dari bukunya yang judulnya “Muhammad sang Nabi”. selanjutnya saya baca buku-bukunya yang lain. Tetap keren. Tapi yang “sejarah tuhan bener-bener penasaran banget isinya seperti apa.

  33. 47 Max Havellar Rabu, 29 April 2009 pukul 10:00 pm

    Beberapa komentar di atas membuat aku cukup tersenyum. apalagi pertanyaan tentang sejak kapan Tuhan ada?
    Mungkin pertanyaan awal terkait hal ini, Sejak kapan Tuhan harus terikat ruang dan waktu? Kalau orang muslim percaya bahwa Tuhan itu azali dan kekal harusnya pertanyaan macam itu tak perlu dimunculkan. Lain halnya, kalau pertanyaannya, sejak kapan konsep tentang Tuhan muncul? aku pikir akan lebih relevan pertanyaan ini yang dimunculkan.
    Membaca sejarah Tuhan-nya Karen Armstrong, pertama kita harus membedakan definisi Tuhan terlebih dahulu. Apakah yang dimaksud armstrong Tuhan pada dirinya sendiri yang (gaybul Guyub/ tidak terkonsepkan) dengan Tuhan yang dipahami manusia.
    dari sini kita dapatkan bahwa Sejarah Tuhan pada dasanya berangkat dari pemahaman bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan yang dipahami manusia.
    Armstrong hendak bilang bahwa ini loh pemahaman manusia tentang Tuhan. Dan kenapa misalnya nampak seperti ada Tuhannya orang Islam, Tuhannya orang Kristen, dan selanjutnya. Karena sekali lagi itu berangkat dari pemahaman masing-masing. Tuhan hanya satu, tetapi dengan proses pengenalan dan pemahaman yang berbeda itu maka nampak terlihat adanya Tuhan yang berbeda-beda bagi masing-masing agama.

  34. 48 jitu indra timur Kamis, 7 Mei 2009 pukul 8:39 pm

    Karen Amstrong cukup apik membahas tentang Tuhan, saya sedang membacanya yang saya download di 4sahared.com. tetapi sepertinya Karen Amstrong hanya berani bertanya secara kritis tentang Tuhan kalau boleh dibilang kegundahan Hatinya tentang Tuhan Siapa sebenarnya Tuhan itu. tanpa berani berterus terang bagaimana Tuhan Sebenarnya. Fase yang menurut saya juga pernah di alami setiap orang tentang konsep di yakininya. karena bukunya beberapa orang bahkan berani bilang dulu sebelum Tuhan Bernama Allah. banayak Umat Islam juga tidak mengerti Tentang Bahasa Arab sehingga Allah Adalah Nama Tuhan. Padahal Allah Adalah Hyaang(sangsekerta), Theo(yunani), Tuhan(indonesia), Pho(Aceh), God(english), Gusti(jawa), Pangeran(Sunda) dan dalam bahasa yang Lain. Namanya Tuhan/ALLAh/Pho/Theo yaitu seperti dalam Al Quran yang dikenal dengan Asmaul husnah(nama2 yang Indah) ada 99 nama, mulai dari Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Quds………….Ash Shabura. Nama Allah tidak lain adalah sifat2 ALLah. Karen Amstrong tidak berani mengambil kesimpulan tentang Tuhan karena latar belakang Karen Amstrong yang Khatolik. Tuhan Bagi mereka berwujud dan berbentuk. Padahal tidak sama sekali silahkan pahami surat Al Ikhlas. Saat ini Science sudah memasuki Pada taraf kembali kepada Allah, dengan Teori Big Bangnya, dimana Alam semesta ini pada keimpulannya di Ciptakan. Oleh siapa? Oleh Tuhan. dengan Memahami teorii Big Bang maka kita dapat Memahami Bahwa Tuhan tidak dapat di definisikan. Bahwa Yang kita tahu Adalah ciptaanNya. Siapa Dia. Dia adalah Yang selain ciptaaNya. utnuk diskusi silahkan email saya jitu_indra_timur@yahoo.com

  35. 49 fikri Kamis, 17 September 2009 pukul 3:56 pm

    bagai mana mungkin manusia membahas tentang penciptanya dangan menggunakan pendekatan waktu, sedangkan waktu tersebut adalah ciptaan tuhan? sepertinya akal manusia itu ada batasannya deh

  36. 53 Gus om Minggu, 6 Desember 2009 pukul 3:32 am

    Ho.Ho.Ho….
    Ada yg menarik nich…
    “Sejarah Tuhan” Bagus tch,Tuhan hanya bisa di kenali…tau di ketahui…oleh Tuhan ituch…Sendiri…

  37. 54 El faqir Rabu, 9 Desember 2009 pukul 1:50 am

    “bener-bener gila
    karen @all.Keyakinan terhadap tuhan bkan dari karen..Dalam ìslam tidak ada tuhan,,tidak ada tuhan kecuali aku,tuhan telah mati,tuhan tidak perlu di bela.Wslm

  38. 55 Indraxula Selasa, 13 April 2010 pukul 8:38 am

    Karen menggunakan pisau sosiologi dalam mengenal karakter Tuhan..Ujung perkaranya wal, gakan prnah kt temukan siapa Allah dr para Ilah. kcuaili dg rasa pendekatan intuisi..Sbgmana perjalanan spiritual al-ghajali

  39. 56 Ratno Mahdi Harris Jumat, 30 Juli 2010 pukul 9:44 pm

    Salah satu hikmahnya, ummat Islam dan ummat yang lain harus selalu membaca, belajar dan belajar untuk proses menuju keyakinan yang benar dan lurus. Dan hal pokok/substansi keyakinan adalah tentang “Tuhan”. Sebab bila tentang hal ini (“Tuhan”) salah, bengkok/batil-lah/tertolaknya keyakinan kita oleh-Nya. Rugi dan celaka khan? Maka, baca dan bacalah dengan nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia yang menciptakan manusia dari segumpal darah…dst. Jadi memang sangat tidak hanya dengan merasa diri (keyakinannya yang paling benar). Atau ngerinya malah menunjuk orang lain salah…Ngeri dech. Begitu kira pikirku yang awam ini.


  1. 1 Dualitas Dogma Psikologis Kognitif dan Konflik Manusia « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Minggu, 23 November 2008 pukul 8:05 am
  2. 2 Sejarah Tuhan | zansyuyut Lacak balik pada Jumat, 14 Januari 2011 pukul 8:32 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 288 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: