Sains

Sebagai seseorang yang dididik dengan pendekatan saintifik semenjak kecil, mau tidak mau akhirnya saya memiliki kecenderungan untuk berfikir secara saintifik. Seringkali penjelasan yang menurut saya tidak mengandung suatu metode ilmiah atau cara cara saintifik tidak saya anggap sebagai sebuah fakta atau kebenaran yang patut diyakini. Sains dalam pandangan saya sekarang ini merupakan suatu cara pandang terhadap dunia yang memiliki kredibilitas yang sangat bagus. Terutama jika cara pandang sains ini diterapkan pada bidang bidang yang menjadi wilayahnya. Dibangunnya dunia yang kita sebut sebagai dunia “modern” dengan tingkat percepatan pertumbuhan yang melampaui periode periode sebelumnya (ini sejauh pengetahuan sejarah saya) tidak lepas dari cara pandang yang saintifik ini. Gedung pencakar langit, pencakar bumi, jembatan laut, jembatan bumi (terowongan) dan berbagai prestasi saintifik yang aplikatif lainnya seperti dunia telekomunikasi merupakan hasil dari manifestasi cara pandang saintifik dalam dunia sehari hari.

Bagi saya, cara pandang saintifik bukanlah merupakan sebuah cara pandang final. Artinya, saya tidak bisa menerapkan cara pandang saintifik ini terhadap setiap hal yang ada dihidup saya maupun pemikiran saya. Walaupun saya siap mengakui bahwasanya cara pandang saintifik merupakan suatu cara pandang yang sangat teruji (mungkin yang paling teruji) dan memiliki kemampuan prediktif (ramalan) terhadap masa depan yang sangat bisa dijamin kredebilitasnya. Tentunya untuk bidang yang telah teruji juga dengan cara cara sains. Akan tetapi masih banyak bidang atau wilayah yang tidak mampu dijangkau dengan kapabilitas dan kredibilitas cara cara sains. Disini saya tidak sedang membicarakan dunia gaib atau supranatural, apalagi masalah keagaamaan atau teologi. Bukan pula dunia hantu atau setan apalagi dunia jin dan neraka. Wilayah apakah yang tidak terjangkau oleh sains?

Sebelum melangkah ke arah itu saya ingin menegaskan bahwa sains dibangun tidak atas dasar sebuah upaya yang benar benar rasional. Sains dibangun melalui kepercayaan-kepercayaan yang irasional juga. Waktu misalnya merupakan sebuah entitas yang diandaikan begitu saja ada di dunia ini tanpa pernah bisa diketahui secara saintifik apa itu sebenarnya yang dimaksud dengan waktu? Sains membutuhkan waktu sebagai suatu asumsi awal yang terbit dari kehampaan. Demikian pula dengan entitas entitas dasar saintifik yang lainnya. Dengan demikian kepercayaan kita terhadap waktu merupakan sebuah kepercayaan yang irasional sebenarnya. Sebuah kepercayaan yang diambil dari ketergantungan kita terhadap pengalaman sehari hari kita.

Kembali ke wilayah dimana sains tidak dapat menjangkau atau memberikan penjelasan atau prediksi yang mantap. Ambilah contoh emosi diri kita. Bisakah kita memprediksi dengan keakuratan seperti memprediksi matahari terbit (atau berapa lama waktu yang diperlukan air sekilo untuk mendidih), emosi emosi yang akan muncul dimasa depan. Bisakah kita memberikan penjelasan dari mana datangnya emosi emosi itu dengan penjelasan yang tidak menemukan celah? Bisakah kita memprediksi setiap omongan kita yang akan kita keluarkan ketika berbicara dengan orang lain dengan keakuratan saintifik? Bisakah kita memprediksi apa yang akan kita impikan nanti malam ketika kita sedang tidur? Dengan cara cara atau metode ilmiah saya pikir dan rasa hal tersebut merupakan sebuah kemustahilan.

Jadi, sains memang merupakan sebuah cara pandang yang luarbiasa hebat diantara cara pandang cara pandang lainnya dalam memahami dunia sehari hari kita. Akan tetapi tidak semua hal yang ada di dunia sehari hari kita mampu dijelaskan dengan cara cara saintifik. Kita hanya mampu meraba-raba; berandai andai; menduga-duga; berasumsi; berhipotesis; namun kesemuanya itu hanyalah sebuah cara kita memahami dunia atau mungkin sebuah paksaan untuk memahami apa yang terjadi sebenarnya.

Perlu diberi catatan juga bahwa yang dimaksud dengan cara pandang saintifik disini merupakan kepanjangan tangan dari metode ilmiah yang dimiliki oleh sains selama beberapa abad sampai sekarang ini. Akan lebih sempit lagi wilayah yang mampu dimasuki oleh sains apabila definisi atau batas dari sains mengambil pendekatannya Popper melalui falsifikasinya.

Salam penuh ketakmengertian

Haqiqie Suluh (Muntilan 9 Januari 2007)

About these ads

0 Responses to “Sains”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 290 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: