Emotional Intelligence (EI) / Emotional Quotient (EQ): Sebuah upaya Popularisasi Satu Wajah Diri Manusia

Emotional Intelligence (EI) atau Emotional Quotient (EQ) begitu populer ketika hadir dalam Sebuah buku yang diterbitkan Gramedia yang diterjemahkan dari karya Daniel Goleman. Saya cukup tertarik mendalami dan memahami apa yang ingin dikatakan Goleman mengenai Emosi. Terutama ketika Goleman menggabungkan emosi ini sebagai sebuah bentuk kecerdasan. Mungkin sebuah keterperangahan ketika mengetahui atau disodorkan sebuah paradigma baru dalam memandang emosi sebagai sebuah kecerdasan.

Goleman menyodorkan fakta atau bukti bahwasanya dalam menjalani kehidupan dan penghidupan di dunia ini (termasuk interaksi sosial dan lain lain) merupakan sesuatu yang keliru jika menganggap bahwasanya kecerdasan logika (kognitif) atau yang seiring disebut dengan Kecerdasan Berfikir (Intelligence Quotient) merupakan faktor yang menentukan sukses tidaknya seseorang dalam menjalani hidup. IQ yang telah menjadi suatu kriteria dari kecerdasan berfikir seseorang dan sering kali merupakan sesuatu yang dijadikan indikator untuk memprediksi sukses tidaknya seseorang di masa depan, ternyata menurut Goleman hanya menyumbangkan sedikit sekali bagi sukses tidaknya seseorang tersebut kelak. Ada faktor yang lebih berpengaruh dibandingkan dengan IQ tersebut ia sebut sebagai EQ atau EI (Emotional Quotient atau Emotional Intelligence). Sejauh pengetahuan saya, setiap orang yang membicarakan konsep EI atau EQ selalu merujuk pada pemikiran dari Goleman, atau setidaknya mengambil contoh maupun pemaparan Goleman. Mengenai definisi dari EQ atau EI sendiri saya kira masih merupakan sesuatu yang sifatnya subjektif yang masih bisa diperdebatkan. Maksud saya disini, saya tidak ingin mengambil atau memberikan definisi “mati dan tak terbantahkan” dari apa yang disebut oleh Goleman mengenai Kecerdasan Emosi ini. Jika anda menginginkan jawaban atas pertanyaan “Apa itu kecerdasan Emosi atau Emotional Intellegence?” dalam tulisan ini secara gamblang, maka mungkin kekecewaan yang akan anda dapatkan.

Melalui rentetan penjelasan awal khas para neurologis-materialis, Goleman menggali sebuah penjelasan mengenai sesuatu yang ia sebut sebagai emosi. Bagian mana dari dalam diri kita yang teramat bertanggung jawab terhadap emosi yang kita munculkan atau termunculkan. Terutama penjelasan emosi ini berkaitan erat dengan fungsi otak kita yang diklaim mempunyai tanggung jawab yang paling besar atas keberadaan emosi-emosi kita. Dengan demikian, mau tidak mau, pemahaman maupun pendekatan terhadap sesuatu yang Goleman namakan Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence harus diturunkan dari pemahaman kita secara materialistik tentang kerja dari otak kita.

Kecerdasan atau Intelligence. Apakah yang dimaksudkan dengan kecerdasan? Saya juga tidak begitu mengerti. Ingin saya membuka sebuah kamus atau apa dan mengartikan secara tekstual yang ada di kamus tersebut mengenai apa yang dimaksud dengan kecerdasan. Akan tetapi saya merasa bahwa saya tidak akan mendapatkan cukup pemahaman yang berarti dengan cara tersebut. Karena saya sadar apapun itu yang disebut oleh kamus hanya merupakan penjelasan orang juga. Saya ingin menggali sendiri apa yang sebenarnya orang atau seseorang maksudkan ketika mengucapkan atau memberikan penilaian mengenai kecerdasan ini. Terutama dari hasil pengalaman saya sendiri.
Mari kita tinggalkan dulu apa yang ingin saya ungkapkan atau paparkan mengenai Kecerdasan. Kita kembali ke Goleman. Ada satu pemahaman atau setidaknya penjelasan yang unik yang mungkin dapat memperjelas maksud dari Goleman mengenai Kecerdasan Emosi. Penjelasan ini lebih tepat disebut sebagai “understanding by example” atau “memahami dengan contoh”. Dengan demikian bukan ungkapan atau pernyataan definisional yang akan diberikan melainkan contoh-contoh untuk memahami. Apapun itu yang dimaksudkan oleh Goleman sebagai Emotional Intelligence ia memberikan contoh dalam beberapa kasus

1. Dengan alasan ingin membuat teman-temannya terkesan seroang murid berumur 9 tahun mengamuk, menuangkan cat ke bangku-banku, komputer-komputer, printer-printer dan merusak sebuah mobil di parkir sekolah.
2. Sebuah senggolan tak disengaja dari kerumunan anak muda pecah menjadi pergulatan yang diakhiri dengan penembakan peluru kaliber 0.38 ke kerumunan massa.
3. Seorang pemuda Jerman diadili karena membunuh lima orang gadis dan wanita Turki karena gagal dalam mendapatkan pekerjaan dan mempersalahkan nasibnya pada pendatang-pendatang asing.

Inilah yang Goleman maksud sebagai sebuah tindakan yang tidak memiliki Kecerdasan Emosi. Ia memberikan arah bahwa tindakan-tindakan seperti tadi sebagai sebuah contoh dari rendahnya Kecerdasan Emosi yang mereka miliki. Dan tentunya berkebalikan dengan hal tersebut seseorang yang memiliki kecerdasan Emosi tinggi akan berkelakuan sebaliknya ketika menghadapi situasi situasi tersebut. Goleman sering menyebut respon reptilian (serang atau lari ketika menghadapi situasi yang membahayakan) sebagai bentuk dasar dari kecerdasaan emosi.

Saya ingin mengabaikan penjelasan neurobiologi mengenai kecerdasan emosional Goleman ini, walaupun di akhir tulisan ini mungkin penjelasan neurobiologi tidak mungkin dapat saya singkirkan guna memperkuat argumen saya. Saya ingin mengelaborasi kecerdasan emosi ini sebagai sebuah bentuk analisis fenomenologi. Artinya bukan mekanisme kecerdasan itu yang ingin saya ungkapakan melainkan gambaran real yang tampak di interaksi kita mengenai kecerdasan emosi ini.

Paling tidak dari 3 contoh yang saya kutip dari Goleman diatas dapat dipahami bahwa Kecerdasan Emosi melibatkan situasi-situasi. Entah itu situasi konkret di dalam diri seseorang (pergulatan pikir dan emosi diri atau situasi internal) maupun situasi eksternal yang mengelilingi seseroang tersebut (interaksi dengan yang bukan-aku, baik material maupun sosial, yang-mati maupun yang-hidup). Yang kedua, Kecerdasan emosi melibatkan pengalaman-pengalaman diri atau memori memori. Yang ketiga, Kecerdasan emosi melibatkan aksi atau tindakan. Nah sebenarnya hal ini bukan merupakan sesuatu yang baru dalam pemahaman kita. Banyak sekali literatur yang sudah membahas mengenai aspek ini. Terutama dalam kajian Psikologi. Maslow telah banyak membahas mengenai ciri-ciri yang dimiliki oleh orang-orang yang “sukses”. Saya merasa yakin bahwa apapun itu yang dimaksudkan oleh Kecerdasan Emosi hanyalah sebuah upaya dalam mempopulerkan sebuah wajah diri manusia. Terutama wajah kita ketika menghadapi kehidupan kita. Interaksi jiwa atau dialog diri dan pembiasaan diri maupun ketrampilan tak sadar banyak diungkapkan oleh Goleman. Ini bukan merupakan sesuatu yang baru. Hanya saja dengan mengajukan sebuah istilah baru yang cukup mengguncang dengan mengambil paralellitas linguistik dari istilah Kecerdasan Intelligence, yang sebelumnya telah sedemikian populer. Goleman telah memberikan sebuah upaya secara persuasi dan argumentatif untuk lebih mengenal diri dengan emosi-emosi maupun pengalaman-pengalaman hidup kita. Untuk hal ini saya menghaturkan terimakasih serta memberikan dua acungan jempol kepadanya.

Sekedar tambahan. Ada satu hal yang menjadi saran pokok dari Goleman mengenai bagaimana seseorang memiliki Kecerdasan Emosi yang baik. Goleman sebagai mana mirip dengan pemikiran Freud (dalam soal pengaruh masa kanak-kanak di masa dewasa) menitik beratkan pada perkembangan otak sebagai titik tolaknya. Karena otak mengalami pertumbuhan yang paling pesat dimasa-masa kecil manusia maka membentuk kecerdasan emosi sangat efektif apabila dilakukan di masa kecil. Dengan demikian yang paling bertanggung jawab atas cerdas tidaknya seseorang ada pada masa-masa kehidupan kecilnya (walaupun tidak selalu). Coba tengok contoh-contoh yang Goleman berikan. Ini sangat mirip dengan pendekatan Freudian maupun kaum behavioristik.

Apapun yang dibahas oleh Goleman di bukunya Emotional Intelligence, kesemuanya bukan merupakan hal yang baru, terutama di dunia psikologi maupun neurologi. Kita sebut aja psikoneurologi (ini sejauh yang saya pahami). Sesuatu yang baru dikaryanya adalah pengajuan istilah Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence. Dengan demikian Emotional Intelligence khas Goleman merupakan sebuah upaya pemahaman apa yang terjadi di dalam diri kita khususnya dalam wajah emosi kita dengan memberikan sebuah ungkapan baru yang menggemparkan. Walaupun banyak mengutip hasil-hasil saintifik-statistik (saya membedakan saintifik-statistik dengan saintifik-deterministik) dari para peneliti, saya merasa bahwa Kecerdasan Emosi dalam dirinya sendiri (Emotional Intelligence an sich) seperti yang dimaksud oleh Goleman bukan merupakan sebuah upaya saintifik atau ilmiah. Tidak ada teori atau pembuktian baru di dalamnya. Ia lebih tepat sebagai sebuah upaya perangkuman atau penamaan baru, mungkin juga upaya holistifikasi-linguistik atas penelitian-penelitian lama di bidang kejiwaan, neurologi, sosial maupun yang lainnya.

Ohya, masih ada hutang saya yang tersisa ketika membahas apa yang saya maksud Kecerdasan. Lain waktu mungkin saya sampaikan. Namun tidak untuk saat ini.

Salam Cerdas

Haqiqie Suluh

About these ads

14 Responses to “Emotional Intelligence (EI) / Emotional Quotient (EQ): Sebuah upaya Popularisasi Satu Wajah Diri Manusia”


  1. 2 fertobhades Rabu, 21 Maret 2007 pukul 11:16 pm

    Manusia yang “utuh” akhirnya dipecah dan dikenali lewat wajah-wajah yang saling terpisah.

  2. 4 Anak Sultan Kamis, 22 Maret 2007 pukul 9:53 pm

    pernah baca buku ‘blink’ karya Malcolm Gladwel, katanya informasi terpenting yang menentukan tingkat kecerdasan manusia berada pada 2 (dua) detik pertama saat orang tersebut menerima informasi. bila dalam 2 detik itu manusia mampu menangkap informasi yang tepat maka keputusannya akan tepat. menurutnya lagi, manusia akan semakin bingung dalam menentukan pilihan apabila diberi terlalu banyak informasi terhadap masalah yang akan ia putuskan.

    2 detik pertama menentukan apakah orang yang tersenggol di kerumunan akan membalas atau tidak, bila orang yang disenggol cerdas emosinya ia akan langsung mengambil kesimpulan yang tepat untuk mencegah kejadian lebih lanjut.

    • 5 dedi Kamis, 7 Januari 2010 pukul 7:09 pm

      setuju,krn hasil resonansi energi yang diterima oleh gelomabang listrik yang ada pada tubuh kita memang mempunyai momentum sendiri.Saya pelajari ini kurang lebih sudah 20 tahun belakangan ini..

  3. 6 Roess Minggu, 21 Juni 2009 pukul 10:26 am

    Tulisannya inspiratif, Makasih atas sharingnya. Salam kenal.
    Salam,
    Roess
    http://alqiada.blogspot.com

  4. 7 erna Sabtu, 18 Juli 2009 pukul 3:00 pm

    thaks tulisanya. bagus sekali. sangat cocok untuk referensi skripsi saya

  5. 8 Rizal Rahmansyah Rabu, 6 Januari 2010 pukul 10:12 am

    alhamdulillah. aku butuh banget banyak referansi buat skripsi gue. makasih buanyak yach…..

  6. 9 arya Rabu, 6 Januari 2010 pukul 12:05 pm

    Bagus bgt, bisa menambah ilmu pengetahuan tentang psikologi….lanjutkn

  7. 10 Nining Desriawati Roseff Sabtu, 29 Oktober 2011 pukul 2:20 pm

    Great mas Haqiqi Suluh..
    Pastinya ini sangat berguna untuk saya pribadi dan tema-teman lain yang membacanya..:)
    Tengkiiu..:))

  8. 12 maya Senin, 28 November 2011 pukul 11:48 am

    semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya!!!!

  9. 13 fajar ferwiziono Senin, 9 Januari 2012 pukul 9:20 am

    kecerdasan emosi dan kecerdasan berfikir….
    bagaimana persepsi anda jika kedua nya saling bekerja sama…


  1. 1 Lembur yang mengerikan… « Secangkir Teh Hangat Lacak balik pada Rabu, 18 Juni 2008 pukul 8:41 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 286 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: