Dialektika Hegel (Thesis, AntiThesis, Sintesis): Ritme Tiga Hentakan Proses Sosial Yang Cukup Melenakan

Dialektika Hegel saya rasa cukup dikenal di kalangan para pecinta Ilmu ilmu sosial. Sebagai sebuah doktrin yang cukup mampu bertahan dan diikuti oleh banyak orang dialektika Hegel ibarat sebuah teori Newton yang diamini dan dianggukki oleh sosiolog maupun pemerhati sosial yang lainnya. Ketika menjelaskan atau berusaha menerangkan tentang proses-proses sosial, dialektika hegel ini selalu saja banyak dicopot dan dijadikan sebuah penjelasan. Proses sosial memang sepertinya bekerja seperti dialektika Hegel ini, namun bagi saya Dialektika Hegel cukup melenakan dan menjauhkan atas kekomplekan apa yang terjadi sebenarnya. Doktrin ini melemahkan, menyempitkan dan menyederhanakan realita Proses Sosial yang ada. Doktrin Hegel ini memang cukup menarik dan cukup memberikan suatu penjelasan yang keliatannya rasional.

Dikembangkan dari filsafatnya Kant yang tertulis di Critique of Pure Reason, Dialektika Hegel kemudian mereduksi dan mengembangkan cirinya sendiri. Sebagai sebuah penjelasan atas proses-proses tertentu, dialektika itu sendiri sudah jauh dari apa yang dimaksudkan oleh Kant. Dialektik terdiri dari Ritme Tiga Hentakan: Thesis, AntiThesis dan Sintesis. Thesis dan Anti Thesis dikembangkan oleh hegel dari Antinomi-antinominya Kant yang notabene membahas mengenai batas-batas dari rasionalitas kita atau merupakan kritik atas rasionalitas kita (Critique of Pure Reason) yang mengatakan bahwa kita tidak akan mampu memahami sesuatu yang sifatnya seperti ketakberhinggaan dan bersifat dua kutub, bipolar. Kita akan selalu menemui jalan buntu (antinomi) yang berlawanan satu sama lain ketika berusaha memahami semisal waktu atau ruang. Silahkan search tulisan saya yang lain mengenai Antinomi Kant soal waktu dan ruang ini. Akan tetapi Hegel mengambil jalan lain. Sembari mengatakan bahwa Kant memang benar bahwa dalam banyak hal di kehidupan kita adalah merukpakan antinomi-antinomi akan tetapi diantara dua buah kutub tersebut bisa muncul gabungan dari dua kutub tersebut.

Dalam hal ini sebenarnya Hegel membuat antinomi Kant menjadi melebar dan menyentuh apa yang sebenarnya tidak ingin dikatakan oleh Kant. Hegel kemudian mengadopsi antinomi Kant ini dalam sebuah doktrin Dialektika Sosialnya. Thesis, merupakan sesuatu yang pada dasarnya berkebalikan dengan AntiThesis. Dalam sebuah ide AntiThesis merupakan lawan atau kutub yang berkebalikan dengan Thesis. Pro dan Kontra istilahnya. Namun ketika Thesis dan AntiThesis ini bergejolak dan bertemu di dunia nyata maka suatu saat akan timbul hal baru yang merupakan akomodasi atau hasil-hasil dari benturan keduanya (entah itu kompromi, win-win solution, perjanjian, atau ide2 baru, dan semua proses sosial atau budaya baru) yang ia sebut sebagai Sintesis. Sintesis kemudian bisa menjadi Thesis dan kemudian menemukan AntiThesisnya dan melahirkan Sintesis baru. Demikian seterusnya.

Setidaknya menurut Hegel Dialektika ini merupakan sebuah proses yang mati. Istilah kerennya Dialektika ini adalah Hukum Sosial yang berlaku untuk semua waktu dan semua tempat. Kalau dalam Fisika atau ilmu dikenal dengan Hukum Newton maka Dialektikanya ini merupakan Hukum Sosialnya. Seluruh Proses Sosial kemasyarakatan merupakan proses yang pada dasarnya berdialektika seperti ini, demikian kata Hegel. Tentunya ini merupakan dukungan dari Ide Sosial yang ia sebut sebagai Roh Masyarakat (Zeitgeis kalau tidak salah, tolong dikoreksi ya). Akan tetapi sebagai sebuah doktrin yang sudah mengurat akar di kalangan sosial (saya kok yakin setiap ilmuan sosial mengenal bahkan sering meyakini Doktrin ini), jika dianggap sebagai sebuah keimanan, hal ini akan membahayakan dan merupakan kekeliruan atau penyederhanaan yang berlebihan. Kecenderugan Historisis dalam Dialektika ini sangatlah tinggi. Seperti Kehendak Hukum Tuhan mungkin.

Ah, saya juga tidak begitu mengerti. Tolong dikoreksi dan dibantah jika saya keliru dalam memahaminya.

Salam Penuh Tanya

Haqiqie Suluh

About these ads

39 Responses to “Dialektika Hegel (Thesis, AntiThesis, Sintesis): Ritme Tiga Hentakan Proses Sosial Yang Cukup Melenakan”


  1. 1 jurig Sabtu, 9 Juni 2007 pukul 11:26 am

    dialektika hegel akan terus selalu berputar, mengikuti perubahan jaman …
    *menurutku sih …*

    @:
    wah mbaknya hegelian juga ternyata:D, berbeda dengan saya ternyata… salam beda…

  2. 2 rendra Sabtu, 9 Juni 2007 pukul 5:05 pm

    Saya pusing bacanya (mungkin level saya masih rendah kali ya… ). Jadi intinya, dialektika Hegel itu seperti apa ya? Saya masih belum ngerti (maklum masih celeron nih :p ), mohon ditambahkan penjelasannya

  3. 3 Aleks Minggu, 10 Juni 2007 pukul 1:20 pm

    Waduh, saya keduluan! Padahal saya pengen banget bikin artikel tentang Hegelian dialectic yang emang sumpah keren (dalam artian ada aplikasinya di dunia nyata)ini ;_;
    Btw, saya baru tahu Hegelian dialectic setelah baca Rule By Secrecy-nya Jim Marrs.
    @rendra:
    Biar ga pusing, saya kasih satu contoh ya (terjemahan langsung dari Rule by Secrecy, maaf kalo ada info yang masih terasa nggantung):
    Terjemahan:
    “Aplikasi yang relevant untuk Dialektika Hegelian disini adalah sebuah ide bahwa Kapitalisme Barat menciptakan Komunis di satu sisi (thesis) sebagai ‘musuh’ bagi kalangan Demokratis (antithesis) di sisi lain. Konflik yang kemudian terjadi (antara komunis & demokratis) menghasilkan komoditas pasar yang tinggi bagi finansial dan penjualan senjata, yang kemudian akan menguatkan 2 sisi-Komunis & Demokratis (synthesis)”
    Ada lagi:
    “Mintalah lebih dari yang kamu butuhkan(thesis) dari yang berseberangan denganmu(antithesis) dan, setelah beberapa perundingan, biasanya kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan lebih dulu (daripada lawanmu)(synthesis)”
    Demikian, mohon maaf kalo cuma ini yang bisa saya sumbangkan.

    sudah baca kritik dialektika Hegel ini belum… Silahkan baca artikel-artikelnya atau Schopenhauer Popper mengenai Hegel… Saya bukan pecinta Hegel atau seorang Hegelian… Bahkan saya termasuk seorang yang gak begitu setuju dengan Doktrin2 Hegel… Salam kenal ya…

    • 4 Reinhard Rupilu Kamis, 5 Desember 2013 pukul 3:09 am

      @Aleks: Justru dari penjelasan Anda ini, saya dapat memahami pandangan Karl Marx. Sebelumnya saya membaca sebuah artikel yg agak rumit utk dimengerti (mungkin karena terlalu luas referensinya). Hehehe.
      Btw, thanks.

  4. 5 praha Senin, 9 Juli 2007 pukul 9:33 am

    sebagai seseorang yang secara tidak sengaja harus membaca aliran-aliran filsafat, dialektika hegel ini memang cukup menarik…maksud saya, sebatas yang bisa saya pahami, teori ini cukup menarik.
    tapi, saya bukan hegelian tentunya :)

  5. 6 sayyid Jumat, 26 Oktober 2007 pukul 10:20 am

    dialektika hegel sangat rasionalitas..serta mengedepankan akal hampir mutlak,saya khawatir bagi mereka yang kurang memahami makna dialektika Hegel akan tercebak pada rasionya sendiri…
    padahal Hegel sendiri diyakini masih diakui sebagai pengikut Lutherian..sebelum beliau wafat.
    Manifestasi pemikirannya pun hampir mempengaruhi Gereja yang ketika itu memiliki otoritas penuh atas dunia politik….
    Pemikiran para filsuf memang pada umunya membingungkan…
    makannya jng ditelan mentah-mentah…nanti jadi muntah,atau terteln sepenuhnya tapi berakibat fatal….
    terima kasih

  6. 7 teguh Rabu, 19 Desember 2007 pukul 8:53 am

    saya sepakat!
    Dialektika memang menjadi hukum bagi kehidupan sosial.
    seperti halnya perubahan dan kehidupan yang dinamis penuh gejolak.
    dialektika seperti roda yang terus berestafet (tesis-antitesis-sintesis), sambung menyambung.
    bagi orang yang percaya akan perubahan dan mengangap dunia ini terus berkembang dan plural!dialektika layak untuk dipertimbangkan.
    ^_^

  7. 8 Pionz Selasa, 25 Desember 2007 pukul 10:08 pm

    Hegel? Dia memang tokoh yang luar biasa! Sistem filsafatnya sulit untuk ditumbangkan oleh para filsuf sesudahnya. Lagi pula, dia tersohor dengan filsafat dialektisnya yang sungguh idealis. Mau tahu banyak tentang Hegel? Baca dong karya besarnya yang berjudul: Phenomenologie des Geistes (Phenomenology of Spirit by A.V. Miller). Pasti seruuuu!

  8. 9 Suluh Rabu, 26 Desember 2007 pukul 8:28 am

    bukan… hegel bukan filsuf yang besar menurutku…. dia lebih banyak ngomong gak jelas… filsuf besar tuh Plato dan Kant klo modern ya Popper or Russel lebih saya suka… saya lebih menyukai schopenhauer dari pada hegel… hegel tidak banyak memberikan pemahaman terhadap dunia menurut saya… doktrin dialektisnya juga kurang begitu bagus… cuma menang populer aja kok….

  9. 10 b Rabu, 16 Januari 2008 pukul 10:50 pm

    Hegel adalah sesuatu yg baru bagi saya dan saya telah membaca salah satu bagian dari inti filsafat sosialnya; dialektika. Lalu saya secara naluri menjadi tertarik semata-mata karena relevansinya terhadap proses berpikir dan merasa dalam tatanan kepercayaan sosial masyarakat pada umumnya. Saya melihat bahwa dalam prinsip dialektika terdapat sesuatu yang memang seakan-akan ‘mati’, atau katakan lah ‘baku’. Saya rasa metode dialektika Hegel pastilah termasuk di dalam salah satu bagian dari kepribadiannya sendiri, dan dia menemukannya juga semata-mata dalam bentuk kesadaran akan keberadaan sifat-sifat kontradiktif dalam dirinya itu. Ah! saya bahkan langsung yakin bahwa jangankan dalam konteks kehidupan sosial yg mana dapat dikatakan kompleks dan penuh kontradiktif, bahkan bila manusia mau kembali melihat kediriannya maka dia akan melihat bahkan dialektika juga sangat mungkin berlangsung secara personal. Secara pribadi saya merasa bahwa Hegel adalah seorang introvert yang penyendiri, tapi tentu saja saya di sini tidak dalam maksud membahas soal kepribadian Hegel. Saya hanya melihat bahwa dialektika Hegel adalah sesuatu yg ‘biasa’ dalam artian bahwa itu seperti banyak dari ilmu pengetahuan lainnya bahwa kontradiksi itu selalu ada dan juga kebenaran sebagai sesuatu yg relatif itu selalu dapat menemukan ‘kebenarannya’, dan kebenaran yg dimaksud Hegel kurasa tetaplah kebenaran yg bersifat personal dan sementara, karena spt halnya sintesis yg didoktrinkannya itu yg mana adalah hasil dari pertemuan antara dua kutub yg berbeda dan melalui sintesis pula masih dapat terjadi thesis dan lalu anti-thesis lalu sintesis lagi.. bukannya ini adalah perputaran yg bila dilihat dari satu sisi sifatnya ‘kekal’.. Sintesis bukan lah akhir! Di sana saya melihat bahwa Hegel masih menyisakan segala kemungkinan bagi ketiga ‘hentakan’ sosialnya itu.. Maka saya melihat ini sebagai ‘pola’ sosial, sebagaimana yg mngkn jg d maksudkan Hegel, untuk sekedar merumuskannya ke dalam suatu konsep yg lbh mudah dimengerti.. Saya masih melihat Hegel dengan dialketikanya sbg filsuf yg tetap brpegang pada kesederhanaannya sendiri.. Tapi ini adalah perjumpaan saya yg prtama, tapi saya kira saya akan menyukai Hegel spt halnya pemikir2 yg baik lainnya

  10. 11 Leil fataya Senin, 15 September 2008 pukul 10:02 pm

    Baca madilognya tan malaka dech, dialektikanya beda lho

  11. 12 rira Kamis, 27 November 2008 pukul 12:25 pm

    dialektika hegelian itu berarti mendukung konsep waktu yang sirkular ya, bertentangan dengan spirit renaissance yang linear dimana kemajuan akan selalu dicapai sesuai perkembangan zaman… bener gak sih? salam bingung :)

  12. 13 andi Selasa, 2 Desember 2008 pukul 8:08 pm

    Pufff…Hegel memang penuh kontraversi. Saya juga bingung harus dipahami dari perspektif mana. Tapi, dalam konteks sosial, teori Hegel bisa dijadikan bahan acuan dalam mencermati gejolak sosial -walau itu bukan satu-satunya indikator.

    Saya sendiri kadang merasa teori tersebut, tidak memberikan ruang bagi munculnya ide-ide baru karena memiliki kecenderungan yang sirkular. Namun pada sisi lain, Hegel bisa menangkap munculnya kontradiksi sebagai bantahan/penolakan terhadap kesimpulan yang sudah ada.

    Persoalannya, sanggupkah teori Hegel mengantisipasi gejolak sosial yang terjadi belakangan ini? Atau paling tidak bisa dijadikan semacam isyarat untuk memperbaiki kekurangan dalam sistem sosial kita?

    Maaf, jika tidak berkenan…

    Tabik,

  13. 14 deela Rabu, 15 April 2009 pukul 2:44 pm

    Dialektika……
    what exactly is that???????????????

  14. 15 hegel Jumat, 15 Mei 2009 pukul 7:50 am

    pada dasarnya filsafat hegel itu bermula pada ide yang berdasarkan pada kesadaran manusia. kesadaran manusia itu ada pada being atau keadaan.

  15. 16 hegel Jumat, 15 Mei 2009 pukul 7:56 am

    semua itu bersifat subyektif. coba pahami lagi?

  16. 17 solopok Jumat, 15 Mei 2009 pukul 7:58 am

    deela, pikirkan sebenarnya di dunia ini. segala sesuatu berasal dari kesadaran manusia dan kesadaran itu akan membentuk ide dalam diri manusia. mudhengggggg!!!!!!!

  17. 18 CahBar Kamis, 8 Oktober 2009 pukul 12:46 pm

    Segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan pastinya memiliki 2 sisi kehidupan yang kontradiksi.. nah dari pro dan kontra itulah akan menghasilkan hal-hal baru. nah hal-hal baru itulah yang menurut Hegelian disebut sebagai tatanan baru dalam proses pemikiran manusia. (betul gak sih….?)

    • 19 adhiey Senin, 23 Agustus 2010 pukul 10:10 pm

      Mnurtq, Teori yg terlalu mereduksi kenyataan bhkan mnjd keliru. Seolah-olah tidak ada kebenaran yg mutlak/hakiki. Padhl kbnran t hx 1 dn mutlak yaitu yg dtg dr Tuhan. Iya kannn….

      • 20 Lea Minggu, 17 Oktober 2010 pukul 6:54 pm

        Justru kalau kebenaran mutlak itu adalah Tuhan, menurut gw manusia ga mungkin bisa tahu kebenaran mutlak/hakiki Tuhan tersebut. (coba sebutkan satu kebenaran yang menurut anda merupakan kebenaran mutlak yang tidak bisa disanggah)

        Malah menurut gw teori tesis-sintesis-antitesis Hegel ini selalu ada di kehidupan manusia (coba baca sejarah kebudayaan/seni rupa yang jelas memperlihatkan hal ini)

        Dan teori ini bukan mempertentangkan kebenaran mutlak Tuhan, tapi mempertanyakan teori2/paham2 yang beredar di masyarakat, karena pasti ada yang setuju dan tidak setuju dengan sesuatu hal.. :)

  18. 21 irlan Jumat, 30 April 2010 pukul 4:16 pm

    alangkah baiknya jika di berikan dengan buku ( dicantumkan nama bukunya) yang menjaadi referensi dari isi tulisan diatas………….
    dan dijelaskan juga hubungannya dengan filsafat yang lebih detail.
    makasi………………..

  19. 22 belman Rabu, 19 Mei 2010 pukul 10:47 am

    teori hegel sangat berpengaruh pada semua bidang ilmu sosial,hegel juga mempengaruhi marx,dan mungkin dia adalah tokoh terbaimk dari tokoh ilmu sosial di dunai ini……….tetpai seperti yang dibilang kawan itu jangan ditelan bulat-bulat ntar fatal………

  20. 23 sofian Minggu, 11 Juli 2010 pukul 5:12 pm

    Teori ini tidak pernah ada faktanya. Silakan cari faktanya pasti gak ketemu. Justru yang ada adalah sebaliknya. Contoh, di negara-negara eropa tidak pernah berubah menjadi negara sosialis, meskipun disana terdapat banyak buruh sementara Rusia yang sedikit buruhnya -karena lebih banyak petaninya- justru berkembang menjadi negara sosialis-komunis. So tidak ada fakta dari teori dialektika;tesis anti tesis & sintesis.

    • 24 randy Selasa, 31 Mei 2011 pukul 11:48 am

      kata siapa nggak ada buktinya…bukannya revolusi dan reformasi bisa menjadi bukti kalau dialektik tersebut ada. Masalahnya berapa lama waktu yang dibutuhkan utk satu putaran.

  21. 25 adhiey Senin, 23 Agustus 2010 pukul 10:14 pm

    Kok pada pusing s m teori tu? Perasaan g penting amat tu teori. Knp kita ga gali ja ilmu yg sudah pasti benar n tu hax dari Tuhan yg serba tahu, bisa dsb? Bukan malah teri manusia yg sangat relatif kebenaranx. Iya kan??

  22. 26 jojon Kamis, 14 Oktober 2010 pukul 7:30 pm

    Jadi maksudnya kalo kebenaran adalah thesis dan kebohongan adalah anti thesis berarti sinthesis-nya mengandung kedua hal tersebut yang berarti semakin jauh dari kebenaran (yg berarti semakin jauh dari agama yg merupakan kebenaran mutlak) karena dialektik Hegel bersifat sirkular. Ini kira-kira akan menuju kemana ya?

  23. 27 aghost Senin, 21 Maret 2011 pukul 12:29 am

    madilog karangang tan malaka seru buat referensi….

  24. 28 Jundurrahman Assayyaf Rabu, 13 April 2011 pukul 4:36 pm

    Soal digunakannya model dialektika Hegel dalam ilmu2 sosial, itu saya kira merupakan pengaruh Marx-Engels yang mengembangkan konsep dialektika-historis Hegel kepada materialisme-historis Marxis. Ketika Hegel merenungkan filsafatnya, dia agaknya tidak berpikir mengenai kegunaan praktis filsafatnya dalam menjelaskan perubahan sosial (saja). Banyak komentator Hegelian mutaakhir (terkemudian) yang menyatakan bahwa Hegel itu lebih menghadiahi kita dengan pertanyaan2 baru, bukan tawaran2 jawaban. Bisa dibilang kalau Hegel menyediakan instrumen yang berkemungkinan terap luas, tetapi Ia tak membatasi diri pada satu kemungkinan penerapan saja. Maka, ada yang mengatakan bahwa Hegel tidak memberi kita ‘bayi’ yang sudah lahir, tapi Hegel membantu agar ‘seseorang’ ‘hamil’. Dia memberikan bahan-baku bagi kemungkinan2 filosofis.

    Buat saya dialektika Hegel adalah suatu ‘solusi’ yang berharga. Hegel, dalam konsep dialektika, dipengaruhi oleh 2 seniornya sesama filsuf jerman: Fichte dan Schelling.

    Dialektika Fichte sendiri berangkat dari kritisisme atas cogito Descartes. Artinya Fichte berusaha untuk menemukan postulat yang tak terbantahkan agar kita bisa ‘melenggang’ dengan nyaman dalam menyelidiki alam objek2, di luar subjek. desacartes sendiri mengatakan bahwa kita bisa mulai menyelidiki objek berdasarkan postulat ketidakmungkinan menyangkal eksistensi subjek (cogito, ergo sum).

    Fichte mengembangkan gagasan Descartes itu dengan kritisisme: ‘penerimaan atas eksistensi subjek/ego/Aku saja tidak cukup, sebab dalam memastikan eksistensi subjek, aku menjadi sadar akan keakuannya justru karena ada yang di luar-aku’. Toh, ‘cogito’ hanya bisa menghasilkan ‘ergo sum’ karena subjek berinteraksi dengan yang di luar ‘aku’, yakni bisa ‘alam’ (objek2) atau ‘aku yang lain’ (intersubjek-tifitas). Di sini Fichte menyimpulkan bahwa, (1) Thesis: Aku ini ada (2) antithesis: [sebab 'selain-Aku'] juga Ada (3) Sinthesis: Aku dan selain-Aku saling membatasi [dalam proses mengetahui].

    Schelling keberatan dengan memodifikasi model Fichte dengabn alasan bahwa apabila ‘alam’ yang notabene objek dapat dianggap sebagai ‘selain Aku’, maka pengertian ‘Aku’ menjadi absurd, sebab apa yang ‘objek’ dapat menjadi pribadi-subjektif. Maka Ia mengajukan modelnya: (1) Thesis: Aku-bersifat objektif (2) antithesis: aku bersifat subjektif (3) Sinthesis: Aku tidak subjektif dan tidak pula objektif; aku ‘absolut'; bukan spirit dan bukan materi.

    Nah, dialektika Hegel adalah dialektika atas 2 hal ini. Jadi secara unik merupakan model dialektis yang dihasilkan justru oleh dialektika sebelumnya antara Fichte dan Schelling, di mana Hegel-lah moderatornya.

    Tafsir atas Hegel, dulu dan kini, bersifat kontroversial. Tapi disepakati bahwa Hegel memengaruhi terlalu banyak filsuf kenamaan.

  25. 31 dhani Sabtu, 30 Juli 2011 pukul 9:41 am

    dialektika hegel bukan kebenaran tapi jalan menuju kebenaran…
    bukan hasil tapi proses…
    jangan melihat hasil dari pemikirannya tapi cara mereka berpikir…

  26. 32 Luppy Indah Jumat, 7 Oktober 2011 pukul 1:02 pm

    wah…bru tahu…. stelah bca artikel nh…
    tdinya disuru nyari tugas ttg modeldialektika hegelblm tahu sblimnya),, trnyta ada hubnya dgn filsafat… gag taw teori paan, kirain smacam teori komunikasi gt ssuai dgn jrusan ak… hehe tugasnya prdana c….. ckckckk
    tpi mksih bgd,,,, sngt m’bantu………… sukses…………… !

  27. 33 hari bowo Rabu, 15 Februari 2012 pukul 7:22 pm

    Sebagai sebuah filsafat yang berangkat dari sebuah observasi akal terhadap realita seperti apa yang di kemukakan hegel adalah hal yg mungkin hari ini bisa digugat keabsahannya. Yang tidak bisa di gugat keabsahannya hanyalah Al Quran dan Assunnah yang memberikan petunjuk kepada kita manusia yang serba terbatas dalam menilai sesuatu.

  28. 34 azam Minggu, 29 Juli 2012 pukul 9:11 am

    rezim pengetahuan yang di ciptakan hegel sangat berpengaruh terhadap perkembangan dunia,,,,,merupakam PR kita bersama untuk mengeluarkan karya-karya yang mengkritik rezim pengetahuan ini

  29. 35 Ethus Senin, 13 Agustus 2012 pukul 1:54 pm

    Ethus M.

    G. W. F Hegel, seorang filsuf abad modern yang tampil dengan pandangan-pandangannya yang sangat rasional dan kritis. Banyak orang yang tertarik untuk membaca karya-karyanya akan mengatakan, “sangat sulit, tak terpahami, tak terkatakan, dan tidak jelas”. Memang benar, pandangan-pandangan sangat sulit untuk dipahami bila orang yang membacanya tidak memiliki dasar pengetahuan filsafati yang cukup.
    Secara pribadi saya sangat tertarik dengan beberapa pandangan Hegel yang nampaknya terlalu abstrak dan sangat spekulatif namun sangat inspiratif. Salah satunya yang sangat menarik perhatian saya ialah pandangannya tentang realitas. Pandangan tentang relitas ini telah diutarakan oleh Kant. Menurutnya, realitas noumenal tiak dapat dijangkau oleh daya pengertian manusia, dengan maksud bahwa manusia tidak akan mampu mencapai pengetahuan teoretis tentang realitas secara utuh. Kalau pun manusia mampu memahami sesuatu tentang realitas, pasti ia tidak mampu mengatakan apa-apa tentangnya.
    Hegel mengkritik pandangan Kant itu dengan mengatakan, sungguh mustahil bagaimana mungkin bila nomena menyebabkan sesuatu namun nomena itu sendiri tidak diketahui. Adalah suatu kontradiksi, bagaimana mungkin nomena itu menjadi penyebab bagi sesuatu, namun tentangnya tidak bisa dikatakan sesuatu. Bagi Kant, apa yang tampak, bukanlah apa yang sebenarnya. Sebaliknya bagi Hegel, apa yang tampak adalah apa yang sebenarnya. Karena itu Hegel memutar balikan pandangan Kant dengan mengatakan, “semua yang rasional bersifat riil, dan semua yang riil bersifat rasional. Artinya, luas realitas sama dengan luas rasionalitas. Dengan demikian, semua realitas yang ada terbuka kepada daya pengertian manusia maka apa yang ada atau apa yang bereksistensi, bereksistensi karena dapat diketahui. Bila tidak diketahui maka apa yang ada itu tidak bereksistensi. Konsekuensinya ialah segala sesuatu yang bereksistensi, bereksistensi karena bisa dikenal, dipikirkan, dan diketahui.
    Bagi saya secara pribadi, pandangan Hegel ini sangat tepat karena tidak mungkin kita bisa mengatakan sesuatu tentang sesuatu, namun sesuatu yang kita katakan itu tidak ada. Jika kita mampu mengatakan sesuatu tentang sesuatu, berarti sesuatu yang kita katakan itu ada, sehingga memungkinkan kita untuk mengatakan sesuatu tentangnya. Tidak mungkin kita mengatakan sesuatu tentang seuatu yang tidak ada. Jika sesuatu itu tidak ada, berarti secara otomatis memang sesuatu itu tidak ada, sehingga tidak bisa dimengerti, dipahami, dan dijelaskan. Sebab, jika kita mengatakan sesuat, berararti, kita mengatakan sesuatu tentang sesuatu yang ada, yang kita ketahui….

  30. 36 Tahsin Tanjung Kamis, 7 November 2013 pukul 8:02 am

    wah, tanpa sadar dengan pro kontra ini jadi terjebak dalam dialektika hegel….tinggal menunggu sinthesis nya….

  31. 37 putri Selasa, 8 April 2014 pukul 9:57 am

    contoh tesis antitesis,syntesis apa yaa…

  32. 38 fitri handayani Kamis, 24 April 2014 pukul 3:44 pm

    semakin di pahami semakin sulit untuk di mengerti apa itu kontroversi dialektika hegel ini


  1. 1 Kenapa Aku tidak Begitu Tertarik dengan Pemikiran Hegel? « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Jumat, 28 Desember 2007 pukul 8:12 am

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 290 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: