Antara Tuhan dan Alam: Sebuah Renungan Filsafat

Untuk mendahuluhi tulisan pendekku ini, Aku ingin memberikan sebuah pernyataan bahwa apa yang Aku tuliskan dan ungkapkan serta pikirkan disini, murni merupakan tanggung jawabku dan tidak bermaksud untuk melecehkan, merendahkan, menghinakan suatu kelompok keyakinan manapun. Jikalau dalam tulisanku ini mengandung suatu kesesuaian ide dengan pemikiran orang atau yang lainnya, Aku tidak akan mengklaim bahwa ide tersebut belum pernah kubaca atau kupikirkan, atau ide tersebut murni orisinil dari ideku sendiri. Bisa jadi ide atau isi dari tulisanku ini merupakan ide yang pernah ditulis dan ditorehkan oleh orang lain, akan tetapi Aku disini hanya berniat untuk memahami sekaligus memperdalam aspek pengetahuan atau wawasanku. Aku cukup percaya, bahwa melalui media tulisan dan bahasa, Aku menjadi cukup intens dalam perenungan-perenungan maupun pemahaman-pemahamanku.

Tuhan dan Alam: Prolog

Dimulai dari rentetan sebuah aksioma atau postulat “sebab-akibat” (kausalitas). Kenapa sebab-akibat Aku sebut aksioma? Kausalitas sejauh yang Aku renungkan bukan merupakan sebuah pengetahuan yang terbukti dalam dirinya sendiri (self evident). Konsep sebab-akibat pada dasarnya terbit dari kehampaan yang tidak diketahui dan tidak bisa dijustifikasi secara holistik. Konsep sebab akibat juga tidak mungkin dilepaskan dengan konsep waktu. Sebab-akibat akan selalu membutuhkan “waktu sebab” dan “waktu akibat” yang masing-masing dipisahkan dalam rentang periode tertentu: entah menit, detik, mili second, atau nano second. Aku menendang bola, sedetik kemudian bola itu terpental sejauh 100 meter. Menendang bola selalu mendahului bola yang terpental. Sebab selalu “mendahului” akibat. Kapan waktu menendang bisa mengakibatkan terpentalnya bola sejauh 100 meter? Detik keberapa? Kita bisa mengukurnya dengan alat: tetapi kita tak akan pernah bisa memastikan secara filosofis kebenarannya. Apakah sebab akibat merupakan kekontinuan sehingga tidak ada yang namanya jeda atau detik perubahan ataukah tidak merupakan sesuatu yang kontinu? Aku tak cukup mengerti akan hal ini. Namun, kita tahu waktu juga tidak bisa dilepaskan dari konsep ruang. Konsep sebab-akibat juga tidak bisa dilepaskan pada konsep “keberadaan sesuatu” (eksistensi)..

Tuhan dan Alam: Scene I

Pertanyaan yang paling sering diutarakan seputar keberadaan manusia adalah asal dari manusia itu sendiri. Manusia sejauh yang Aku pahami merupakan entitas yang mengada dalam alam. Oleh sebab itu pertanyaan yang mendahului sebelum menjawab keberadaan manusia adalah “Dari mana alam itu berasal?”. Dari pengalamanku, jawaban dari pertanyaan ini sering kali merujuk pada “Tuhan”. Pertanyaan tersebut yang merupakan rentetan dahulu mendahului, asal mengasali, merupakan proses sebab-akibat. Untuk memenui syarat bagi berlakunya kausalitas, sepatutnya kita tidak menghentikan pencarian asal usul maupun sebab akibat pada suatu titik henti. Kesalahan yang paling sering terjadi dalam penalaran ini adalah adanya titik henti pada “Tuhan menyebabkan Alam itu ada”. Jika kita konsisten dengan penalaran kita seharusnya ada pertanyaan lanjutan setelah itu. Siapakah yang menyebabkan Tuhan itu Ada? Atau dari mana Tuhan itu berasal? Katakanlah kita kemudian menemukan jawaban bahwa Tuhan berasal dari entitas X, atau entitas X lah yang menyebabkan Tuhan itu ada. Apakah kemudian kita berhenti pada entitas X ini. Tidak. Kita harus menanyakan dari mana entitas X itu berasal atau apa yang menyebabkan entitas X itu ada. Jika jawabannya adalah entitas Y maka kita harus bertanya darimana entitas Y. Demikian seterusnya sampai tiada akhir. Ini jika kita konsisten dengan penalaran kausalitas kita.

Tuhan dan Alam: Scene II

Didasari akan pemahaman bahwa sebuah kontinuitas yang tiada akhir pada dasarnya merupakan proses yang diluar kemampuan logika atau penalaran kita, kemudian terbit suatu opsi baru. Kita terbitkan sebuah postulat baru untuk menangani kekontinuan yang tak terhingga pada sebab-akibat tersebut. Postulat yang pada dasarnya merupakan sesuatu yang tidak bisa dijustifikasi dan tidak bisa dibuktikan apalagi terbukti dengan sendirinya. Postulat itu adalah ada titik henti dari sebuah proses sebab-akibat. Jadi disini kita berusaha untuk menangani sebuah ketakmampuan penalaran dengan mengajukan batasan baru berupa postulat baru yang mana postulat baru tersebut juga terbit dari kehampaan.

Kita bisa menggunakan postulat ini untuk menghentikan proses sebab-akibat untuk sampai pada level “Tuhan”. Dengan demikian Tuhan merupakan titik henti dari segala proses sebab akibat (ini merupakan postulat tambahan yang kita butuhkan untuk menghentikan ketakberhinggaan). Akan tetapi bisa muncul juga pertanyaan baru? Kenapa titik hentinya musti di “Tuhan”? Kenapa tidak di entitas X atau Y? Kenapa juga tidak di Alam itu sendiri? Aku hanya bisa menjawab: Terserah anda mau menghentikannya dimana. Jika pengen menghentikan di Alam cukup buat postulat yang berisi bahwa semuanya berhenti di alam. Jika pengen di entitas X buat postulat yang isinya mengatakan bahwa entitas X merupakan akhir atau titik henti dari proses sebab akibat tersebut. Sedehana bukan? Toh semuanya juga terbit dari kehampaan dan tidak bisa dijustifikasi atau dibuktikan atau dicari pembenarannya. Namanya juga postulat.

Tuhan dan Alam: Scene III

Kita hidup membutuhkan tempat berpijak. Kita hidup membutuhkan makanan. Kita hidup dan melangsungkan keberlanjutan hidup kita membutuhkan udara (tidak hanya oksigen) untuk bernafas. Udara dibutuhkan tumbuhan yang kita makan. Pada dasarnya tanpa adanya penunjang-penunjang kehidupan (baca:alam) yang eksternal dari diri kita (baca:manusia), keberlangsungan dan kelanjutan hidup dan generasi kita tidaklah mungkin terjadi.

Kebutuhan nyata dalam mempertahankan hidup kita secara fakta inderawi berasal dari apa yang sering kita namakan alam semesta: tanah, air, udara dan segala sesuatunya. Apakah tidak layak jika kemudian Alam tempat kita melangsungkan keberadaan ini disebut sebagai sumber kehidupan. Semuanya dari alam dan kembali ke alam. Kita juga melihat orang yang sudah mati akan menjadi tanah. Ia akan kembali ke alam. Salahkan jika kemudian menyebut Alam itu sendiri sebagai Tuhan?

Tuhan sama dengan Alam. Jika merujuk pada kausalitas ditambah postulat di Scene II, ini bisa jadi memberikan postulat bawah Alam adalah titik henti dari segalanya. Dengan demikian Alam itu sendiri merupakan Tuhan itu sendiri. Aku rasa banyak juga orang yang mempunyai kepercayaan atau keyakinan akan hal ini.

Alam sebagai Tuhan dalam pandanganku hanyalah sebuah sinonimitas linguistik. Dengan mengatakan bahwa Alam itu sendiri adalah Tuhan, tidak akan memperkaya wawasan atau pemahaman kita terhadap alam itu sendiri. Ini hanyalah ibarat menggantikan suatu entitas A dengan menyebut dengan nama yang lain. Hal ini Aku pikir tidak merupakan solusi atau pemahaman yang tepat dan terlalu dangkal. Alam itu sinonimnya atau kata lainya adalah Tuhan. Apa yang bisa diambil dari pemahaman seperti ini? Kedangkalan.

Ah, sejatinya Aku juga tidak tahu.


Tuhan dan Alam: Epilog

Seseorang berjalan dengan langkah gontai sembari menengadahkan mukanya ke arah biru langit sore. Dingin sepoi angin gunung sore tidak menyurutkan tanyanya akan dirinya dan segala sesuatu. Tiba-tiba sebuah batu membuatnya terjatuh, berguling-guling, sebelum kemudian ia terseret oleh gravitasi ke arah jurang. Di detik ambang kematian itu, dengan tangan mencengkram kuat akar rerumputan yang mulai goyah, nalurinya hanya satu: “Aku ingin Hidup! Tolonglah Aku! Toloooong!!”. Teriaknya kencang. Dan sirnalah semua Tanya di benaknya.

Dalam Kenangan-kenangan Akan Rembulanku
Dalam Rintihan Hati Menunggu Kabar Rembulanku
Dalam Pilu Merindukanmu

Untuk Rembulanku yang sedang Mengelana di Negeri Sakura

Haqiqie Suluh

About these ads

35 Responses to “Antara Tuhan dan Alam: Sebuah Renungan Filsafat”


  1. 1 telmark Selasa, 18 September 2007 pukul 9:39 pm

    tolonggggggg…. aku bingung…

  2. 2 Joyo Rabu, 19 September 2007 pukul 3:48 am

    jadi mas Suluh milih yang mana? siapa? :)

  3. 3 Suluh Rabu, 19 September 2007 pukul 8:23 am

    @telmark: sama mas saya juga bingung :sad:

    @joyo: saya agnostik mas… :wink:

  4. 4 joyo Kamis, 20 September 2007 pukul 4:38 am

    bukannya berhenti di alam lebih realistis dan objektif mas?

  5. 5 Suluh Kamis, 20 September 2007 pukul 8:41 am

    @joyo:

    saya gak pernah bisa memastikannya mas joyo jadi saya agnostik. Objektif dan realistik menurut indera kita mungkin saja walau sebenarnya yang bisa kita akses dari indera kita hanyalah duplikasi dari yang “ada”, atau dengan kata lain akses indera kita sebenarnya bukan akses langsung ke alam. Contoh mata kita melihat sebenarnya tidak “melihat sungguh2″, hanya duplikasi di otak atau indera kita. Dan bagi saya, kalau hanya karena indera kita terus menyebut objektif dan realistik, itu bagi saya gak realitik dan objektif mas… Rasionalistas (baca:nalar) manusia mandeg ketika memikirkan yang tak terhingga dan yang muncul dari ketiadaan: sama sama mustahil. Postulat, aksioma, dan sejenisnya sebenarnya gak pernah bisa masuk akal. Tetapi karena hanya dengan membentuk suatu aksioma kita bisa membangun pemahaman dan pengetahuan kita maka aksioma dan sejenisnya “perlu” di buat dengan “kehati-hatian”. Selanjutnya bagi saya, saya harus mengakui sampai saat ini, satu-satunya keyakinan atau pengetahuan atau pemahaman yang tak tergoyahkan dan memiliki sifat self evident hanyalah “eksistensi diri saya: kesadaran saya”

  6. 6 mathematicse Jumat, 21 September 2007 pukul 3:08 am

    Bisakah membandingkan dua hal yang jelas-jelas tidak setara?

  7. 9 Suluh Rabu, 26 September 2007 pukul 8:39 am

    @joyo:

    mungkin iya ya? soalnya memang dalam tahap peragu itulah yang bisa saya capai sekarang ini. Entah kalau nanti.

  8. 10 eko Rabu, 3 Oktober 2007 pukul 2:25 pm

    wah “Renetika” ya
    peragu, yang meragukan segala sesuatu kecuali berpikir ya…..
    berpikir yang hanya segayung dari lautan itu…… becanda…. berhati-hati lah….. jangan cuma muter-muter kaya para pemikir materilis itu yang ga pernah akan sampe pada kenyataan bahwa alam ini adalah bukti adanya Tuhan….. sedang ada atau tidak adanya manusia tidak ada pengaruh dengan Tuhan… Tuhan adalah tetaplah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu….. baik manusia suka maupun tidak, manusia adalah salah satu mahluk ciptaan Nya… Tuhan ya Alloh SWT yang di maksud oleh agama2 samawi….

    jadi Klo mo Tahu ya Jangan berpikir sebagai mahluk tetapi berpikir sebagai Tuhan (Alloh SWT) yang mempunyai segala sesuatu yang tak terbatas, tentunya yang di sifati oleh sifat2nya……

    kalo berpikir mahluk untuk sampai Khalik ya mustahil dapat sampe sana…
    Inget gayung ma lautan luas………

  9. 11 Suluh Kamis, 4 Oktober 2007 pukul 9:37 am

    @eko:

    adakah saya “muter-muter”? saya disini hanya ingin memahami apa yang menjadi landasan pemikiran sebagian orang. Kalau menurut pengamatan atau perasaan saya, mas eko memilih Scene II. Itu sepenuhnya saya serahkan kepada diri mas eko. Dan saya juga mengerti dan paham atas pilihan mas eko.

    Coba mas baca artikel-artikel saya mengenai nalar atau pemikiran. Bisa di search kok. Saya tidak menuhankan atau mengandalkan nalar atau berfikir, karena saya bukanlah nalar, saya adalah kompleksitas, emosi, tubuh, nalar, dan entitas-entitas yang tidak mampu saya pahami, walaupun saya tahu saya itu eksis. Karena nalar itu cuma alat dan sangat terbatas. Saya tahu itu. Karena itu pertanyaan-pertanyaan saya yang notabene lahir dari proses nalar atau pemikiran selalu saja buntu dan bersifat antinomi.

  10. 12 eko Kamis, 4 Oktober 2007 pukul 11:35 am

    benar adanya jika sebab dari segala sesuatu adalah Tuhan,

    jadi akan menjadi mudah jika penyebab pasti ada yang menyebabkan kalo sebab itu di sebabkan oleh yang lainnya makanya dia sendiri bukanlah yang menyebabkan segala sesuatu, sehingga penyebab segala sesuatu harusnya tidak bersebab dan di sebabkan……

  11. 13 gedjetshop Kamis, 11 Oktober 2007 pukul 9:59 pm

    @eko
    itu kan yang seharusnya (menurut anda), tapi yang sebenarnya belum tentukan yang seharusnya.

    Salam

  12. 14 kurtubi Selasa, 20 November 2007 pukul 4:55 pm

    yang tidak pusing2 akhirnya mengambil wahyu… mungkin nanti kalau akal sudah mampu menjawab scene2 itu maka pertanyaan berikutnya: apakah kemudian manusia butuh agama? heheh :)

  13. 15 kurtubi Selasa, 20 November 2007 pukul 4:58 pm

    aduuh banyak sekali artikel2nya yang menusuk2 pikiran.. nanti kalau ada waktu main2 lagi ah… :) makasih ya mas… saya mau pamitan lagi mengunjungi tetangga sebelah…

  14. 16 ROCH AKSIADI Jumat, 23 November 2007 pukul 6:39 pm

    Salam Kenal,
    Kehidupan ini memang penuh misteri, dan pemikiran manusia pasti akan selalu berkembang.Yang jelas sekarang adalah berusaha untuk bijaksana dalam perbuatan, tidak merugikan orang lain, dan jalani semua situasi dan kondisi sesuai dengan realita dan kenyataan yang ada. Karena semua kebahagiaan dan penderitaan itu hanyalah urutan dari SEBAB dan AKIBAT dari kesadaran suatu Mahkluk.
    Dan saya yakin bahwa tak ada yang namanya Kebahagian yang kekal dan Penderitaan yang Kekal, semua akan berubah,(Karena Kebahagian dan Penderitaan adalah Perasaan yang dimiliki oleh Mahluk yang Hidup, karena Hidup ia pasti akan Mati) Kecuali ia telah menuju jalan yang terang sehingga terbebas dari Kematian, Usia Tua dan Kelahiran.

  15. 17 Suluh Kamis, 10 April 2008 pukul 8:59 am

    @roch aksiadi: terbebas dari kematian, usia tua dan kelahiran, sepertinuya bukan jalan yang menyenangkan bagi sebagian orang.. kadang saya ketakutan juga kalau memikirkan saya akan hidup abadi…. so bagaimana ya?

  16. 18 ROCH AKSIADI Senin, 14 April 2008 pukul 1:17 am

    Ketakutan adalah bayangan….
    Bayangan muncul dari Pikiran…
    Pikiran adalah Pemimpin…
    Jadi sebenarnya memang demikian adanya, jika pikiran kita selalu dibayangi rasa takut itu adalah ilusi dari pencerapan yang sudah melekat kuat sehingga terpatri dan mempengaruhi perasaan manusia. Memang saya sendiri masih demikian juga.. Hanya waktu dan keadaan saja yang bisa menentukan hasil dari segala perbuatan kita. Yang jelas sekarang adalah bagaimana kita menghadapi segala masalah yang ada didepan kita dengan merespon dan berusaha menuju kearah kebaikan bagi diri dan orang lain serta mahkluk lain. Untuk menuju kekekalan diperlukan waktu tidak hanya sebatas 1 umur dunia kadang 1000 umur dunia pun belum cukup.
    Itulah kenyataan yang sementara saya tahu.

  17. 19 Suluh Senin, 14 April 2008 pukul 7:42 am

    @roch aksiadi: sudah saya katakan saya gak pengen kekal lho mas… lagian ketakutan itu kadang yang menyelamatkan kita dari cepatnya kematian yang datang lho…. ketakutan itu manusiawi menurut saya… jadi bagaimana kita mengelolanya aja… saya sangat tidak setuju kalau hanya waktu dan keadaan yang menentukan hasil segala perbuatan kita… absolutely not agree… I still believe that I have (even in small portions) FreeWill:

    Kehendak Bebas: Apakah sebuah ilusi Realitas?

  18. 20 arsyi pamma Kamis, 22 Mei 2008 pukul 1:00 am

    Salam kenal mas suluh. saya telah mengomentari dua artikel anda tanpa sebelumnya memperkenalkan diri. maaf atas kelancangan saya. ini adalah komentar ketiga.

    Terima kasih telah mengunjungi blog saya.

    blog anda salah satu blog yang saya sukai. ketertarikanku ada pada penalaran,filsafat,logika dan semua yang berbau itulah. dan itu ada disini.

    perkenalanku dengan falsafatuna karya ayatullah baqir sadr. sedikit bisa memberi energi buat saya untuk mengomentari halaman ini.

    Sebab-akibat yang tak berujung adalah satanic circle atau kerennya Tasalsul. pertanyaan atau proposisi yang terus berulang-ulang. dan ini bisa menyebabkan seseorang menjadi a-theis.

    saya tidak ingin memaksakan bahwa Tuhan adalah akhir dari pertanyaan itu tanpa alasan. tapi gambaran saya tentang Tuhan mengantarkanku untuk menjustifikasi bahwa harus ada Causa Prima untuk menghentikan tasalsul ini. sebagaimana pertanyaan Telur atau Ayam yang lebih dahulu eksis?

    sebelum menjawabnya saya ingin merinci kausalitas itu sendiri.
    ada dua kausalitas yang aku pahami berkaitan dengan penciptaan? yaitu
    kausa efisien dan kausa material.

    1. kausa efisien adalah sebab yang tidak masuk dalam komposisi material dari suatu penciptaan dalam artian dia adalah sebab ekternal.
    2. kausa material adalah sebab yang inklud sebagai materi dari suatu penciptaan.

    apakah alam ini jadi dengan sendirinya? bagi anda mungkin saja itu terjadi. tapi bagi saya itu hal yang mustahil.
    alasannya akan saya jawab dengan sebuah analogi.

    apakah kursi kayu (kayu:optional-bisa diganti dengan material lain) jadi dengan sendirinya? kalau bisa, saya mau liat dimana ada kayu yang mengubah dirinya sendiri menjadi sebuah kursi.

    kayu adalah kausa material dari kursi.
    dan tukang kayu adalah kausa efisien dari kursi.

    sehingga kayu membutuhkan sebab diluar dari dirinya yang menjadi creator.

    sebagaimana alam ini, apakah ada entitas di alam ini yang menjadi sebab material atas keterciptaannya?
    dalam fisika klasik, air,udara,tanah,api dianggap sebagai unsur dasar keterciptaan alam ini.
    tapi benarkah unsur-unsur tersebut adalah sebab keterciptaan alam ini mengadakan dirinya sendiri tanpa ada sebab eksternalnya?

    perlu juga diketahui bahwa
    wujud terbagi dua.
    wujud karena diri sendiri dan wujud karena yang lain.

    Tuhan tidak pernah mengalami ketidak-eksisan. jika pernah berarti Dia diciptakan karena sebelumnya mengalami ketiadaan. kalau dicipta berarti bukan Tuhan.

    Dia tidak mungkin berasal dari ketiadaan. sebab ketiadaan tidak akan memberi efek keberadaan. kaidah akal mengatakan, yang tak punya tak akan memberi.

    dalam argumen matematik
    angka 1 dianggap sebagai awal dari semua angka dan menjadi penyebab tunggal keberadaan 2,3,4 sampai tak terhingga.
    dan O dianggap sebagai ketiadaan.

    1 adalah bilangan causa prima, keberadaannya tanpa yang lain.
    2 adalah 1+1
    3 adalah 1+1+1
    dst.

    angka 2 adalah sebab bagi keberadaan 3 tapi juga sekaligus adalah akibat dari 1.

    keberadaan angka 2 dan seterusnya disebabkan karena yang lain.

    Dalam argumen LAMA/BARU

    segala sesuatu yang pernah mengalami ketiadaan dianggap sebagai BARU sebab ia dicipta sebelumnya adalah ketiadaan.

    dan LAMA yang dimaksud adalah sesuatu yang tidak pernah mengalami ketiadaan sehingga ia tidak pernah dicipta atas keberadaannya.

    Apakah Alam termasuk LAMA dalam artian tidak pernah mengalami ketiadaan?
    kalau iya maka ALAM adalah Tuhan itu sendiri. tapi perlu kita tahu bahwa alam ini tersusun. dan kaidah akal mengatakan segala yang tersusun pasti ada penyusunnya.

    cukup dulu komentar saya. terima kasih.

  19. 21 Suluh Kamis, 22 Mei 2008 pukul 3:03 am

    1 itu juga berasal dari 1/1juta atau miliaran yang kemudian bisa mendekati 0 tapi tidak penah menjadi 0

    0 sendiri sebenarnya secara filosofis masih seperti bilangan tak terhingga ~

    sama sama mustahil… atau diluar nalar tapi selalu saja enak atau nyaman atau bisa digunakan dalam matematika…

    antara ketiadaan vs ketakberhinggaan itu sama sama mustahil alias diluar logika atau rasio kok mas… ini seperti waktu maupun ruang…

    oh ya tambahan: kalau anda mengatakan 1 itu causa prima itu merupakan “postulat” yang anda buat dengan keimanan anda sendiri lho mas… saya bisa saja mengatakan 1/100 itu causa prima 1/1milyar itu causa prima tetapi tidak akan pernah bisa mengatakan 0 itu causa prima… causa prima dalam kalimat anda itu sama dengan aksioma atau postulat dalam tulisan saya….

    anda jug membuat sebuah lama/baru atau dalam kalimat saya sebab akibat layaknya 3 dari 2 dari 1.. tetapi ingat diantara 3 dan 2 masih ada lagi.. ini seperti menunjukkan titik titik dalam sebuah garis… tetapi sebenarnya garis itu bukanlah hanya kumpulan titik… ada yang unik dan tak terpahami dari garis… yaitu sifat kontinuitas dari 2 ke 3 dan seterusnya yang tak bisa dilambangkan… ini merupakan salah satu kelemahan dari argumen mas… lama / baru bukan cuma segmentasi titik titik tapi dari lama ke baru itu ada kontinuitas yang tak bisa dimengerti atau dipahami dengan lama/baru… ada kontinuitas disana…

    saya tambahi lagi: alam bisa tercipta sendiri? bagi saya mustahil lho mas (secara nalar, sebagaimana kemustahilan angka 0) tetapi alam ada penciptanya? bagi saya juga mustahil karena penciptanya juga menuntut adanya pencipta lagi alias rangkaian sebab akibat tak terhingga (sebagaimana kemustahilah angka tak terhingga ~)… makanya saya mengambil sikap agnostik…

    untuk soal kursi dari kayu dari manusia yang anda bedakan kausa material dan kausa effisien itu sebenarnya sama aja kok mas (intinya anda membedakan kausa material dan kausa effisien dari dogma indera anda, yang juga merupakan salah satu bentuk postulat) yang jadi pertanyaan lebih tuh sebenarnya adalah predikat causa nya itu sebab akibat, sebab akibat itu dogma alias tidak bisa dibuktikan dan cenderung deterministik.. nah sebab akibat nantinya juga akan berkontradiksi dengan apa yang dinamakan free will kehendak bebas yang terbit dari kehampaan..

    ini masih sama dengan tercipta dari ketiadaan vs ketakterhinggaan… sebab akibat vs kehendak bebas… problem problem filsafat biasanya berkelindan dan buntu ketika menjelaskan antinomi antinomi seperti ini: Inilah batas dari rasio kita (baca Critique of Pure Reason Emmanuel Kant).

    yang unik disini adalah, sebab akibat yang deterministik ini ternyata “bekerja” sangat baik di alam dengan ciri khas fisikan newtonian yang diteruskan oleh einstein. sedang kehendak bebas juga “bekerja” dengan sangat baik di alam dengan adanya “nilai nilai” atau moral moral manusia.. Sesuatu yang sebenarnya sama sama mustahil di nalar tetapi bekerja dengan baik di dunia empiris… Inilah sebenarnya pertanyaan mendasar dan pemahaman lanjutan yang perlu dipahami.. Beberapa filosof semisal shopenhauer telah mengajukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, namun bukan disini saya akan membahasanya.. terlalu panjang..

  20. 22 regi Minggu, 13 Juli 2008 pukul 1:23 pm

    Siapakah yang menyebabkan Tuhan itu ada? atau dari mana Tuhan itu berasal? Didalam Islam yang disebut sebagai Tuhan itu adalah zat yang bisa menciptakan, mengadakan, mengasalkan tanpa ada yang menciptakannya, mengadakannya, dan mengasalkannya.

  21. 23 Suluh Minggu, 13 Juli 2008 pukul 2:27 pm

    Yup: Itu Postulat Islam tentang Tuhan :)

  22. 24 lovepassword Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:03 pm

    Hi Hi hi…
    Memang logika seperti ini adalah lawan tanding filsafat Ketuhanan yang cukup kuat. Teman2 saya para atheis juga memakai logika ini.

    Jika segala sesuatu ada penciptanya
    lalu siapakah pencipta tuhan ?

    kita memang butuh semacam titik henti , tapi kalo pun logika di atas yang dipake saya rasa ini masih menjelaskan kalo sesuatu itu ada penciptanya, kan? Jadi logika ini pun sebenarnya tidak bisa mengatakan kalo alam tidak ada penciptanya.

    pencipta menuntut adanya pencipta lagi pencipta lagi dan seterusnya. dalam pengulangan tak terhingga kali.
    Artinya tetap selalu ada pencipta.

    Lalu titik hentinya dimana ? Saya rasa memang memusingkan kepala hi hi hi. Mungkin pada kesamaan objeknya.

    Analoginya gini mas Suluh, karena anda anak Fisika seingat saya – saya pake contoh analisa numerik ya.

    Kita buat persamaan matematika sembarang, misalnya
    y = x^2 + 2x + 1, kita cari nilai x dengan sembarang iterasi, misalnya Interval tengah atau Newton rapshon atau apa kek.

    Kita lakukan trial error dengan sembarang harga awal. Lakukan Iterasi demi iterasi dst.

    Lha iterasi kita ini akan berhenti atau akan menghasilkan hasil ketika kita berjumpa dengan objek yang sama, misalnya beda/selisih antara persamaan matematika 1 dan 2 pada iterasi sebelumnya dan sekarang sudah tetap. Kalo diteruskan sampe kapanpun ya ketemunya hasilnya tetap di situ itu.

    Saya sulit ngomong ini dalam bahasa tertulis kalo pake tabel iterasi beneran mungkin lebih gampang tapi saya harap anda mengerti maksud saya.

    Dalam kasus Tuhan, oke kita anggap saja ada iterasi di situ, sampai tak terhingga iterasi. Ada suatu proses diciptakan menciptakan yang menurut anda tak terhingga.

    Tetapi iterasi yang seperti itu tidak perlu, tidak ada gunanya karena begitu ketemu objek yang sama ya iterasi sebenarnya sudah bisa kita hentikan. Kita sudah temukan hasilnya di situ.

    SALAM MAS Suluh

  23. 25 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:18 pm

    @lovepassword: dalam matematikan iterasi seperti itu pendekatan mas, bukan yang benar benar benar, sama seperti limit… iterasi itu pendekatan :). Jelas berbeda dengan ketakterhinggaan.

  24. 27 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:27 pm

    Disitu anda ingin mencari sebuah titik dengan proses iterasi, ini sangat berbeda dengan sebab akibat. Sebab akibat jelas tidak pernah mencapai titik tertentu. dia berada dalam ketakberhinggaan. menyamakan mencari titik berarti dalam sebab akibat sudah dimasukkan postulat tambahan (dalam contoh anda sebuah persamaan). Mencari x bukanlah mencari titik henti. dia hanya mencari sebuah titik dalam jutaan titik untuk sebuha postulat tersendiri). Ini sama sekali gak relevan dan jauh berbeda dengan ketakberhinggaan sebab akibat.

    Kalau dalam matematika sebab akibat adalah fungsi, bukan persamaan :)

    f(x) = x^2+ 2x + 1

    dimana x dari -~ ke +~ x bilangan rasional

  25. 28 lovepassword Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:29 pm

    Lho yang saya bicarakan itu justru kapan kita harus berhenti Mas dari kontinuitas/perualangan yang tidak perlu.

    iterasi itu memang kontinu tetapi hasilnya justru bisa diketahui bila prosesnya tidak kontinu. Artinya harus ada penanda untuk menghentikan iterasi. Sebab iterasi yang kontinue berlangsung terus sampe tak terhingga tidak ada gunanya.

    Gampangannya gini Mas : A dari B, B dari C, C dari D, D dari D, D dari D, D dari D, D dari D, D dari D, dst.

    Ya kita berhenti di D.

    SALAM

  26. 29 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:32 pm

    lah berarti anda memasukkan postulat baru toh = “berhenti dari kontinuita atau perulangan yang tidak perlu” (ini jelas postulat baru). dari mana anda mendapatkannya? terserah anda sendiri bukan. dalam contoh anda ya x persamaan kuadrat itu deri berjuta juta atau bahkan ketakterhinggaan persamaan matematik yang ada bukan?

  27. 30 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 2:44 pm

    Sebab akibat tidak punya prinsip seperti A dari B, B dari C, C dari D, D dari D, D dari D, D dari D, D dari D, D dari D. TIpe seperti ini tipe matematik iterasi masnya yang “mas ambil sembarangan” sedang sebab akibat tipenya gak seperti ini.

    Sebab akibat tipenya i A > B > C > D > E >dst ( tak terhingga).

  28. 31 lovepassword Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 3:08 pm

    @menyamakan mencari titik berarti dalam sebab akibat sudah dimasukkan postulat tambahan

    Lha memang yang lagi saya bicarakan ini yang anda bahas pada :
    Tuhan dan Alam: Scene II -memasukkan postulat tambahan untuk menghentikan sebab akibat.

    Bahwa ada konsep untuk menghentikan kontinuitas gitu lho.

    Sebab akibat jelas tidak pernah mencapai titik tertentu. dia berada dalam ketakberhinggaan. Tetapi saya rasa begitu juga iterasi.

    Saya tahu bahwa iterasi itu menunjukkan pendekatan, Mas Suluh. Yang saya maksud itu jumlah iterasinya gicu lho. Proses Iterasi itu akan terus berlangsung tak terhingga bila tidak ada suatu penanda untuk menghentikan iterasi.

    Lha iterasi yang berlangsung terus itu tidak ada gunanya.

    Mengapa ? Ya gampangannya kalo hasilnya bisa kita dapet pada iterasi ke 13 mengapa juga iterasi perlu kita lanjutkan ke iterasi 100, 1000 dsb. Yang kita pake ya hasil dari iterasi ke 13.

    SALAM YA

  29. 32 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 3:18 pm

    lho anda memasukkan sesuatu yang lain lagi ya? guna tidaknya sebuah terus menerus itu jelas dogmatik atau keinginan egoistik kita. yang jadi masalah itu bukan iterasinya tapi dari mana kita mendapatkan persamaannya? ini kan sama aja kita ngambil sembarang toh? sama kek apa yang saya katakan terserah anda mau berhenti dimana?

    dalam hal ini anda hanya membuat sebuah postulat baru untuk menghentikan sebab akibat yang lebih keliatan “mewah dan njlimet” dengan mengambil sebuah “persamaan” dan iterasi mendapatkan x nya. dan anda juga mengambilnya juga “sembarang” alias terserah anda. Intinya ya sama aja bukan?? sama sama terserah anda menghentikannya dimana dan lewat cara apa. kalau anda pake cara iterasi kek gitu.

  30. 33 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 3:33 pm

    misal ketak terhinggaan dalam fungsi matematik:

    f(x) = x , x bilangan -~ sampai +~ (sebab akibat yang takterhingga, sebenarnya kurang tepat sih, soalnya saya kesulitan mencari yang pas )

    kemudian kita menambahkan sebuah postulat tambahan pada x secara sembarangan alias semau gue sehingga x tidak lagi ~ tak terhingga tetapi berhenti

    x^2 + 2 x + 1 = 0

    nah anda ingin mencari x dengan cara iterasi. maka akan dihasilkan x yang terhingga alias berhenti di titik tertentu.

    kenapa anda mengambil persamaan tersebut bukan persamaan yang lain untuk menghentikan ketakterhinggaan x? ini jelas secara dogmatik alias semau gue. kenapa bukan x^3+x+1= 0 kenapa tidak langsung x = 1 or x = 4, kenapa bukan yang lain?
    Well, namanya juga sembarang, jadi terserah saya dong! Mungkin gitu jawabannya.

  31. 34 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 4:01 pm

    Hmmm, keliatannya anda berkutat pada iterasi untuk mencari persamaan x? Iterasi yang sifatnya tak terhingga yang keliatan seperti proses sebab akibat gitu kan? tetapi saya melihat dari dari mana persamaan itu di dapat? apakah persamaan masnya itu mencirikan sebuah sifat sebab akibat? jelas tidak bukan. Itu persamaan yang jelas mempunyai titik henti. Dan anda mencari titik hentinya x nya dengan cara iterasi yang seperti prosesnya seperti kontinuitas sebab akibat. Ini saya kira keliru. Pertama karena persamaan tidak memiliki sifat ketakterhinggaan. yang memiliki sifat ketakterhinggaan ya fungsi x sebagaimana contoh saya diatas. Jelas ini tidak relevan.

    Atau, Kalau anda ingin mencotohkan iterasinya yang seperti proses sebab akibat yang dijadikan alasan untuk mencari xdalam persamaan itu, maka Pertanyaannya kenapa anda menghentikan disitu? ya karena telah cukup, darimana cukup, ya karena ada persamaan itu telah cukup. Kenapa telah cukup? Karena tidak perlu lagi mencari sampai iterasi ke 1000.

    Yang jadi pertanyaan kemudian, anda mencapai titik itu dikarenakan “persamaan sembarang”. Jadi titik hentinya dipostulatkan “oleh persamaan yang anda ambil sembarangan itu”. Jika anda mengambil persamaan yang lain maka titik hentinya juga lain. Dalam hal ini titik hentinya juga akan berbeda beda tergantung dari persamaan yang anda ambil awal. Alias hasilnya juga entar akan tergantung dari Kesembarangan kita mengambil Persamaan.

    Salam Juga

  32. 35 lovepassword Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 4:30 pm

    Lho persamaannya memang bisa sembarang asalakan di dalam persamaan itu terkandung pertanyaan untuk mencari hasil. Gicu lho. Saya melihat dari sisi proses demi proses bukan persamaannya.

    @ Jika anda mengambil persamaan yang lain maka titik hentinya juga lain. Dalam hal ini titik hentinya juga akan berbeda beda tergantung dari persamaan yang anda ambil awal. Alias hasilnya juga entar akan tergantung dari Kesembarangan kita mengambil Persamaan.

    Yup kelihatannya anda benar karena itulah semua agama punya Tuhan yang berbeda-beda bukan ? Hi Hi Hi.

    Saya permisi dulu ya Mas Suluh, saya sudah Online hampir delapam jam soalnya – sambil ngintip yang lain juga sih.

    Kalo masih ada tanggapan besok-besok tak terusin lagi ya OK deh.

    SALAM


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 286 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: