Kerap kali hamba mengalami kesulitan atau kebingungan lebih bagus atau baik atau nyaman mana menggunakan istilah pengganti diri: Aku atau Saya? Istilah “Aku” memang dalam beberapa budaya tertentu di indonesia ataupun dalam sejumlah orang memiliki kesan egoisme atau kebanggaan diri yang berlebihan serta tidak mengandung kerendahan hati. Sedangkan “Saya” lebih mengandung kerendahan hati dan sedikit jauh dari kesan sombong. Hamba pun mengetahui kenyataan ini. Menggunakan kata “Aku” untuk pembicaraan kepada orang yang kita hormati atau lebih tua kadang merupakan sejenis penghinaan atau setidaknya kekurang hormatan. Sedangkan penggunaan kata “Saya” lebih nyaman dan hormat dari pada kata “Aku” kalau ditinjau dari segi kenyamanan emosi hati.
Dalam penulisan atau sebuah tulisan, hamba memandang bahwa penggunaan kata “Aku” lebih nyaman dan enak dari segi prosedural. Kata “Aku” bisa kita letakkan atau gabungkan dengan kata kerja maupun benda dengan nyamannya dan dimanapun juga. “Aku memakan buah kurma itu” bisa dengan mudah digabung menjadi “Kumakan buah kurma itu”. Demikian pula untuk menunjukkan kepemilikan lebih mudah menggunakan “Aku” yang disingkat “Ku” dibandingkan “Saya”. Itu bukuku. Itu pikiranku. “Dalam benakku, Aku menganggap bahwa pengalamanku kuhargai sebagai sebuah ujian dalam kehidupan.” Bandingkan dengan pengunaan kata “Saya”, “Dalam benak saya, saya menganggap bahwa pengalaman saya, saya hargai sebagai sebuah ujian dalam kehidupan. Dengan menggabungkan “Ku” di depan kata kerja atau benda, lebih menegaskan bahwa kata kerja atau kata benda tersebut berkorelasi langsung dengan “Ku” itu sendiri, sedangkan kalau menggunakan saya, terkadang sulit membedakan kata saya sebagai subjek kerja atau sebagai subjek pemilik.
Akan tetapi, mengingat ada kecenderungan sebagian orang yang menganggap bahwa Saya lebih sopan dibandingkan dengan Aku, hamba juga berkali kali kebingungan untuk memilih menggunakan Saya atau Aku. Keakuan lebih mudah dimengerti dibandingkan Kesayaan. Kadang hamba menggunakan kata “Aku” bukan karena ingin menunjukkan ke-aku-an atau sebuah egoisme, tetapi lebih mengutamakan kenyamanan dalam menulis. Jikalau hal tersebut menimbulkan sejenis penafsiran yang mengarah ke egoisme atau kesombongan, hamba benar-benar menghaturkan permintaan maaf. Sesungguhnya hamba tidak bermaksud demikian.
Dariku atau Dari saya
Haqiqie Suluh
Hamba terpingkal karena aneh saja, belum biasa menggunakan kata “hamba” untuk menggantikan kata “aku” atau “saya”. nice topic.
Wah keren juga sih, tapi maaf, hamba tidak bisa jawab..