Jalaludin Rahmat, Goenawan Mohammad: Seri Pemikiran Tokoh Indonesia

Kemarin sore tepat sehari sebelum hari raya imlek atau tahun baru cina, saya kepikiran untuk menulis mengenai beberapa tokoh buku pemikir indonesia yang dulu sempat saya kagumi. Yang saya maksud dengan tokoh buku  pemikir indonesia adalah tokoh tokoh yang menuliskan pemikirannya dalam bentuk text atau tulisan yang kemudian sampai dalam pembacaan saya dan membuat saya dulu sempat “terkagum-kagum” walaupun saya tidak mendalami atau memahami apa yang menjadi inti pemikiran mereka.

Saya kemudian berkata dalam hati saya sendiri, bermanfaat atau tidakkah jika saya menuliskan pemahaman saya terhadap mereka dengan sudut pandang saya sendiri dan subjektifitas penilaian saya sendiri terhadap pemikiran dari buku buku atau karya text mereka. Apakah nantinya hal ini akan bermanfaat bagi saya, anda, dan kalian serta mereka. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menggelayuti saya sampai beberapa jam, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menulis pengantar ini.

Tokoh Indonesia merupakan hak subjektif saya untuk menentukan pilihan siapa saja mereka. Belum tentu yang bagi saya merupakan tokoh Indonesia lalu juga merupakan tokoh indonesia anda. Pilihan saya dan anda kemungkinan sama dan kemungkinan juga berbeda. Yang bagi anda mempengaruhi anda dan merupakan tokoh belum tentu akan menjadi tokoh bagi saya.

Sebagai sebuah upaya subjektif, kebanyakan dari pembahasan ini merupakan upaya dari saya sendiri dengan merujuk pada point-point pemikiran mereka yang secara subjektif saya anggap penting bagi saya sendiri. Target tokoh Indonesia pertama yang ingin saya bahas disini adalah Jalaludin Rahmat, kemudian disusul oleh Gunawan Mohammad. Sedang nama-nama yang lain, masih dalam taraf pertimbangan saya. Berikut merupakan pengantar ringkas yang kemungkinan akan saya buat versi panjangnya dalam artikel yang terpisah.

Jalaludin Rahmat atau Kang Jalal

Dari buku-bukunya yang saya baca, saya menyimpulkan secara subjektif, sampai saat ini, bahwa tidak ada hal atau pemikiran yang murni yang muncul dari diri kang jalal atau Jalaludin Rahmat. Jalaludin Rahmat lebih tepat saya sebut sebagai ensiklopedia buku, mengingat ia lebih banyak merangkai kejadian kejadian atau cuplikan-cuplikan ilmiah atau buku ke dalam bukunya sendiri. Beberapa artikel bebasnya juga tidak lebih dari sebuah upaya pengulangan atas ide-ide masa lalu. Kecerdasan dalam hal tersebut saya tidak akan menyangsikannya. Ia memang cerdas secara akademik, tetapi menurut saya ia bukan seorang pemikir yang benar-benar outentik. Jelas sekali dia bukan seorang filosof atau mendalami filsafat murni, Dogma dogma agama malah lebih mempengaruhinya sekarang. Sekarang ini saya lihat ia bahkan menjadi seorang yang saya sebut: Ustad para Terpelajar, bukan lagi pemikir. Gerak langkahnya sekarang lebih kearah pragmatis atau kearah tindakan, tidak lagi berkutat di dunia pemikiran.

Goenawan Mohammad

Saya pertama kali kenal beliau dari tulisan-tulisan di Cacatan Pinggir. Sekedar celoteh singkat mengenai Caping: Sekilas Catatan Pinggir memang mempesonakan. Ditulis dengan gaya bahasa yang puitis (dia lebih dulu dikenal sebagai penyair) dan dengan kontent atau isi gaya Reporter. Hasilnya adalah sebuah tulisan pendek yang mempesonakan tetapi miskin ide. Yang ada adalah berita berita dengan ide yang sangat sedikit. Kita terpesona saat membaca paragraf demi paragraf yang kadang kala hanya berupa reportase puitik saja. Kita memang menikmatinya tetapi kita sering kali tidak mendapatkan ide-ide segar dan baru walaupun pengetahuan baru ada (tahu tentang tokoh ini, buku ini, puisi ini, lokasi itu, dsb). Ya pengetahuan kita bertambah, tetapi kita tidak akan banyak mendapat suntikan pemikiran. Ini memang wajar mengingat ia seorang wartawan yang berpredikat seorang penyair juga. Membaca Caping berarti membaca Koran Puitis.

Sedang untuk tulisan-tulisan beliau yang lain akan saya bahas di postingan tersendiri.

Sekali lagi ini hanyalah pengantar awal dan sebuah prekonklusi,  dan tulisan tadi diatas adalah Sebuah sisi negatif mereka dalam pandangan subjetif saya (baca: Kritik). Untuk tulisan atau pemaparan yang lebih lanjut, akan dibahas di postingan atau artikel tersendiri. Ini murni subjektifitas saya, Jika anda tidak setuju dan mempunyai pandangan berbeda, silahkan tulis di kolom komentar. Saya akan menghargainya dan saya anggap sebagai masukan berharga. Terima Kasih

Salam Syahdu

Haqiqie Suluh

About these ads

59 Responses to “Jalaludin Rahmat, Goenawan Mohammad: Seri Pemikiran Tokoh Indonesia”


  1. 1 Praja Jumat, 8 Februari 2008 pukul 11:26 pm

    Permisi, nyasar kesini.. boleh ngasih comment?
    Saya hanya pernah baca satu judul bukunya Kang Jalal, judulnya “Al Qur’an dan Pluralisme”, yang saya pikir lebih kaya akan isi. Di awal bab memang disebutkan perbandingan pandangan antara ulama fundamental dengan ulama salaf. Dari situ beliau menunjukkan hal yang sama ttg pluralisme, dengan memberikan kelemahan di beberapa penafsiran ulama ttg ayat2x pluralisme. Saya pikir itu termasuk orisinalitas dalam bersikap.

    Kalau Goenawan Muhammad, saya hanya mendengar nama besarnya saja, tak pernah membaca karya2xnya..

  2. 2 alfaroby Sabtu, 9 Februari 2008 pukul 12:20 am

    wah jujur saja.. saya belum baca satupun buku mereka.. dan gara gara udah terlanjur baca semua tulisan diatas jadinya penasaran pengen baca buku buku mereka.
    punya referensi judul mereka gak yang sekiranya saya akan mengajungkan jempol pada mereka…..?

  3. 3 Suluh Sabtu, 9 Februari 2008 pukul 8:47 am

    @yang lainnya yang lum komentar:

    ada yang mau nambahin?

    • 4 Haris Jumat, 28 Agustus 2009 pukul 11:19 am

      Bagi saya Kang Jalal adalah “Pencerahan”.Terlepas dia seorang Syiah atau Sunni. Saya dah banyak membaca tentang tulisan dan mendengarkan ceramah-ceramahnya. Bahkan saya baru mengenal islam semenjak mendengar dan membaca tulisan beliau. Sebelumnya saya belajar agama dari kecil 6th di Madrasah Ibtidaiyah, 3 th di Madrasah Syanawiyah, 3 th di Madrasyah Aliyah dan 5 th. di IAIN. Saya merasa pemahaman keberagamaan saya gersang bahkan membosankan. Setelah mengenal lewat pemikiran dan ceramah kang jalal baru rasanya saya mengenal pemahan tentang Islam begitu mendalam.
      “TERIMAH KASIH KANG JALAL.

      Alangkah baiknya baca dan dengarkan dudlu tentang pemikiran seseorang sebelum menilai seseorang itu baik atau sesat.

  4. 5 Suluh Sabtu, 9 Februari 2008 pukul 8:51 am

    @praja:

    wacana pluralisme udah ada dari dulu kan.. tuh bukan autentik lagi lah… buku itu malah menunjukkan bahwa kang jalal memang pandai merangkai berbagai buku atau karya orang lain (fundamental atau salaf) ke dalam bukunya sendiri seperti yang saya katakan dipostingan…

  5. 6 dobelden Sabtu, 9 Februari 2008 pukul 9:36 am

    kang jalal itu yg ngiklan di tipi itu ya??

  6. 7 Suluh Sabtu, 9 Februari 2008 pukul 1:44 pm

    @dobelden: betullllll………..

  7. 8 dede imyut pisan ^_^ Minggu, 10 Februari 2008 pukul 5:05 pm

    halah,bapakku malah bilang kalaludin rahmat itu orang liberal…JIL banget.
    ok lah,lupain itu.sekarang gini. emang ada,seseorang yang cara berpikirnya tuh bebas dari dogma agama,trus bukankah lebih baik kalau kita lebih konsen ke tindakan,tidak hanya berkutat di ranah pemikiran saja.karena pemikiran itu kan butuh aksi,gak cuman ngen-dog di utek saja.

  8. 9 Suluh Senin, 11 Februari 2008 pukul 2:16 am

    @dede:

    dan kadang pemikiran juga tinggal pemikiran…. contoh: fisika modern lebih banyak tidak menjadi ajang sentral dari tindakan wlo itu diajarkan… matematika juga… bahkan agama pun banyak yang hanya pikiran… teologi, cerita-cerita, hukuman larangan pun kadang hanya sekedar hiasan…

    dogma agama tuh seperti dogma sosial masyarakat mbak, sejauh yang saya pahami seseorang tumbuh dan berkembang dlam dogma dogma sosial (termasuk agama), jadi tidak ada yang bisa bebas sepenuhnya (dalam sadar maupun bawah sadar). contoh: moral dalam berperilaku (dogma moral sosial).

  9. 10 jendelapemikiran Jumat, 20 Juni 2008 pukul 6:46 pm

    seumpama di Indonesia ini orang kayak kang Jalal n Gunawan mohammad yang jumlahnya banyak, mungkin pemerintah akan capek mengaturnya.

    karena sering banyak protes.
    salam,

    edi Purwanto

  10. 11 Zulfiqor Jumat, 4 Juli 2008 pukul 6:00 am

    Mas jalaluddin itu kan Orang plin plan,dulu dia orang Muhammadiyah, sekarang ngaku Syi’ah, dilain tempat ngaku Sunni… bagi saya orang seperti itu, sama sekali tidak pantas jadi tokoh agama, menurut saya, dia adalah manusia liar… dan sering kali cerita keutamaan Ahlul Bait, seakan akan dia adalah pengikut setia Ahlul Bait… dan tidak pantas jadi pengikut Ahlul Bait, sbb Ahlul Bait adalah Manusia2 Suci yang Lurus dan bijaksana.. Wa salam.

  11. 12 Suluh Jumat, 4 Juli 2008 pukul 6:18 am

    @zulfiqor: Saya kira mas terlalu menghakimi. Tidak masalah kalau saya dia mau jadi sunni, syiah or apapun. That’s not big problem!

  12. 14 lovepassword Jumat, 4 Juli 2008 pukul 3:29 pm

    Harap maklum : Yah, memang banyak pejabat/orang besar yang perilakunya sama seperti itu, maksudku di depan A dia ngomong A, didepan B ngomongnya B. Mau dianggap plin-plan boleh saja.

    Tapi mungkin itu upaya untuk merangkul lebih banyak kalangan.
    Soekarno juga sering berperilaku seperti itu :
    Di depan Muhammadiyah ngaku kalo dia kader.
    Di hadapan partai X ngaku kalo dia kader partai X.
    dst.

    Yang diaku-aku ya nggak usah besar kepala atau justru marah karena merasa dikhianati. Thats just marketing, fren.
    Nggak usah terlalu sewotlah – tapi nggak usah juga terlalu percaya mendengar mulut manis orang lain. Bisa saja maksudnya sekedar basa-basi atau PDKT

  13. 15 del hakim Selasa, 22 Juli 2008 pukul 2:02 pm

    mereka berdua org2 hebat. saya sendiri sangat mengagumi mereka. syiah atau sunni tidak ada jaminan siapa yg nanti bakal masuk surga. atau, diam-diam kita seperti org2 yahudi yg mengaku hanya beb. saat disiksa sementara yg lain akan langgeng?
    bagaimanapun, kang jalal adalah guru spiritual saya yg luar biasa. ada yg protes? silahkan.

  14. 16 ajisoko Minggu, 3 Agustus 2008 pukul 12:02 am

    Saya ingin tahu pendapat Anda, siapa orang Indonesia yang punya karya bagus. Bukan pengulang ide-ide lama atau resensor buku-buku dan pemikiran yang sudah ada? Mungkin saya perlu belajar.
    Matur nuwun.

  15. 17 arif Rabu, 17 September 2008 pukul 3:34 am

    mereka berduaa…adalah contoh dari sedikit orang yang berani berpikir dan berbuat ya….paling tidak dia berani buat buku ….nah kalo boleh tau apa kah suluh punya buku….saya mau baca buku kamu barang kalee aja buku kamu lebih bagus(kale)…penuh inpirasi ….dan murni……wah enstein baru ne….ha ha ha salam kenal….

  16. 18 cantik Rabu, 17 September 2008 pukul 3:38 am

    boleh ngeritik ga …aku pikir kamu terlalu dalam membahas kedua tokoh ini kedua orang diatas ini pemikir besar khusus kang jalal dia punya pengaruh yang sanggat besar dalam komunitas syi’ah indonesia…

  17. 19 Suluh Rabu, 17 September 2008 pukul 8:44 am

    @arif: buku saya bisa di baca di blog ini. Inilah buku saya. Btw, use your intelligence to shoot the message not the messenger. Ada tidaknya buku yang saya buat, tidak mempengaruhi isi tulisan. Anda telah terpengaruh oleh Psikologi “NAMA BESAR dan TERKENAL” bukan oleh objectifitas (minimal) argurment. Entah saya gembel, entah saya gak pernah nulis or buat buku, gak ada pengaruhnya dalam sebuah argumentasi.

    @cantik: lebih baik to the point mbak. apa yang dimaksud terlalu dalam? dan sekali lagi saya gak ngomong pengaruh kang jalal untuk komunitas syiah indonesia. Sama seperti mas arif: Anda terpengaruh NAMA BESAR DAN TERKENAL secara psikologis. Shoot the message (isi tulisan) not the messenger.

  18. 20 jalaludin itu orng syiah Minggu, 26 Oktober 2008 pukul 1:30 am

    jika mo tau bagai mana syiah itu. lihat di hakekat.com

  19. 21 dalamilah agama dengan ilmu, pahamilah Alquran dan sunnah menurut pemahaman salafussalih Minggu, 26 Oktober 2008 pukul 2:02 am

    Buat suluh ya sekedar komentar nech. Klo mo tau siapa jalaludin rahmat, search di google.liat segi positif dan negatif na melalui penilaian yang ada.

    Kang jalal adalah dosen di unpad, sekaligus pendiri yayasan muthohari yayasan
    syiah indonesia selain syiah dia ini juga JIL.
    kalau mau lengkap search di google aja dh keyword jalaludin rahmad
    tetapi oleh orang syiah sendiri dia disebut syiah liberal .

    Syiah liberal…???Istilah baru coy…
    Syiah..syiah..

  20. 22 gustav Senin, 10 November 2008 pukul 12:40 am

    mereka org hebat …
    segelintir dari sedikit org cerdas yg ada di indonesia..
    tambah satu lagi coy selain kang jalal dan mas goenawan..
    pak arvan pardiansyah…
    bangga lah dengan mereka..jangan di hina dan di cari2 kesalahannya..
    mereka gak sempurna…bukan nabi…tapi udah meotivasi banyak org…
    kalo masalah keaslian ide…siapa sih di dunia ini yg punya ide asli ?
    dari nabi ke nabi ? dari imam ke imam ?
    itu semua pengulangan…
    tapi penyajiannya yg indah menggugah hati pembaca…itu yg hebat ..
    doain mereka supaya bisa berkarya terus dan memasukkan keindahan
    dalam hati pembacanya…jangan di cari2 kesalahannya mas…muwah
    i lov u

    Love & Respect
    gustav

  21. 23 kuruseta Minggu, 30 November 2008 pukul 9:19 am

    Punten dek nanya dulu… kira2 dah berapa buku Jalal yang mas baca untuk bisa nyimpulin kang jalal bukan pemikir otentik? lagi pula bukankah setiap pemikiran merupakan hal pengendapan pengalaman, termasuk di dalamnya pengalaman membaca pemikiran orang lain? jadi sebenarnya pemikir yang outentik itu yang bagaimana? dan weleh2 kalau begawan sekelas Gunawan saja anda cap miskin ide…betapa hebat kepenulisan anda….

    oke deh terus menulis…semangat semoga lebih bijak

  22. 24 Suluh Minggu, 30 November 2008 pukul 9:33 pm

    @atasku: sejauh yang saya baca maka itulah yang saya nilai… haruskah saya musti membaca semua karyanya, tidak tanduknya, kesehariannya untuk menilai (secara subjektif dari sudut pandang saya sendiri tentunya…

    Otentik itu dalam subjektifitas saya, artinya saya tidak/belum menemukan sesuatu hal yang baru atau orisinil di dalamnya… keknya udah saya jabarkan di tulisan saya diatas deh…

    Gunawan saja anda cap miskin ide…betapa hebat kepenulisan anda….

    saya bukan membandingkan antara saya dan mereka mas or mbak, saya menilai secara pribadi… dan itulah yang saya simpulkan…

    Begawan?? gelar, status, nama, derajat sosial, pengaruh, bukanlah inti atau dasar penilaian yang baik dalam sebuah karya… demikian menurut pandangan saya..

  23. 25 Cy Rabu, 10 Desember 2008 pukul 4:34 pm

    numpang lewat mas ..
    beginilah mungkin kalo melawan arus “konvensi”..yah ?

    dua tokoh dibahas disini.. ada “fans” publik
    dan atmosfer tulisan mas suluh, rada “mandang enteng” (CMIIW)

    walaupun kita bisa pake topeng Subjektif(itas)..
    sehingga ada celah terlepas dari “kebersamaan”

    Aniway,
    saya dulu sangat bingung dengan pakem “Ad-Hominem”
    tapi barangkali sekaranglah saatnya itu dilakukan.. (soory kl hrs melakukannya)
    dan .. akhirnya

    bagian manakah tulisan mas suluh ini, yang memicu ide ide baru..?
    seperti yang anda “klaim” tidak terdapat dalam caping GM ..!!
    dan
    tolong bantu saya membedakan “shoot mesagge” dengan “shoot messengger” dalam, tulisan disini.

    kalo ga salah, yang anda hadapi sekarang dari para komentator..
    sama dengan yg dihadapi GM ketika., melawan Orba

    segala kompetensi intelek anda “pertaruhkan” dalam menulis. OK

    Matur Nuwun Sobat !!

  24. 26 Suluh Rabu, 10 Desember 2008 pukul 7:38 pm

    @Cy:

    bagian manakah tulisan mas suluh ini, yang memicu ide ide baru..?

    Ide baru, ada tidaknya, tergantung pada subjektifitas orang. :) Terserah anda menilainya. Yang jelas tulisan singkat diatas hanyalah sebuah Kritik subjektif. Dan sekali lagi saya menilai bukan membandingkan. Terserah anda kalau mau membandingkan saya dengan GM atau siapapun, itu jelas diluar kontek tulisan ini.

    Shoot the message itu komentar saya kepada komentator yang “keliatannya” berusaha menyerang Pribadi saya alias siapa saya, bukan pada tulisan. Shoot the message itu seharusnya kepada tulisan. Misalnya. Buatlah penilaian subjektif anda sendiri atau kritik anda sendiri kepada mereka yang kusebutkan diatas. Itu lebih membangun, dibanding berusaha membandingkannya dengan DIRI saya (Tulisan, Jabatan, KEdudukan dan sejenisnya). Bandingkanlah penilaian anda kepada Tokoh yang saya sebut diatas, Kritiklah mereka, itu lebih shoot the message. Kalau mau membandingkan dengan saya mah itu jelas shoot the messenger.

    Artinya kita mendiskusikan sesuatu, maka mari berdiskusi tentang sesuatu itu, jangan malah mendiskusikan saya sebagai pencetus diskusi itu. Itu namanya melarikan diri.

  25. 27 Firdaus Kamis, 22 Januari 2009 pukul 12:37 pm

    maaf semuanya!!!! dari tulisa singkat diatas dan beberapa komentar yang tean-tean berikan menunjukan tidak memahaminya filsafat dan dunia pemikiran, dapat dipastikan bahwa komentator diatas tidak mendalami epistemologi ilmu sehingga tidak dapat menangkap esan intelektual dari tulisan tulisan kedua tokoh tersebut, salam, selamat melakukan perjalanan intelektual, karena tingkatan intelektual dapat dilihat dari kedalaman analisanya!!!!

  26. 28 kopi cina Kamis, 22 Januari 2009 pukul 1:13 pm

    yang otentik itu opo tho’ masss ????

  27. 30 evina Sabtu, 25 April 2009 pukul 8:40 pm

    oh my god, saat saya baca ulasan saudara tentang mereka saya tercenggang, how can you conclude like that, based on what , i guess it come from your own opinion…..i disagree about that if you have more broader thought and deep knowledge it would different story…….

  28. 31 aibnu Rabu, 6 Mei 2009 pukul 4:05 pm

    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

    Al’Baqarah 204 : “ Dan diantara manusia ada orang (kafir/munafik) yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah isi hatinya , padahal dia adalah penentang yang paling keras “.

    Al’ Munafikun – 4 : “ Kamu akan merasa kagum dengan tubuh mereka (kafir/munafik ) dan kamu akan mendengarkan suaranya , sesungguhnya mereka itu ibarat sepotong kayu yang bersandar . Mereka mengira teriakan keras itu ditujukan kepada mereka “ .

    At Taubah 107 : Dan ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah diantara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta

  29. 32 Gus wahyu As Samarony Selasa, 6 Oktober 2009 pukul 7:00 am

    Numpang ngobrol donk kawan – kawan
    apa yang kita yakini itu yang kita pengang kuat, bud jangan sampe kita menutup semua pintu informasi keilmuan, bahkan klo kita belajar ilmunya firaun ja boleh, ilmu jadug sakti mandra guana pun boleh, ttapi qta harus tau apa yang dikehndaki oleh allah dan nabinya , Sehingga qi akan jadi orang yang berbicara bukan sekedar katanya2″ kata bapak saya , kata mbah saya , nanto Kata dukun sakti itu” So mari qta menjai pelajar yang betul 2 terpelajar, Ok

  30. 33 cundo Senin, 19 Oktober 2009 pukul 9:52 am

    .subjektifitas kok di tanggepin siriuss……….tolol bener……

  31. 34 defi Rabu, 27 Januari 2010 pukul 12:16 pm

    jangan selalu menilai subyektif orang lain.walau bagaimanapun ia sudah memiliki karya.anda pengritik,sudahkah memiliki karya?

  32. 35 ima Sabtu, 10 April 2010 pukul 7:36 pm

    Pada bait-bait awal mas suluh sudah mengatakan “…saya menyimpulkan secara subjektif,…..” dan menjelang akhir dipertegas kembali dengan ucapan “…..Ini murni subjektifitas saya,…” artinya dengan ungkapan semacam itu maka seharusnya tidak dibutuhkan lagi komen-komen karena menjadi sah-sah saja jika kita merasa sepakat ataupun tidak terhadap seseorang. Bagaimanapun tidak ada manusia yg sempurna kecuali orang-orang yang telah Allah tentukan. Namun saya tergelitik ketika mas suluh menanggapi salah seorang komentataor dan mengatakan “…Anda telah terpengaruh oleh Psikologi “NAMA BESAR dan TERKENAL” bukan oleh objectifitas (minimal) argurment.”
    Hanya ini yang ingin saya garis bawahi. Bahwa sesungguhnya kedua orang tersebut kang Jalal dan GM, mereka besar bukan karena dibesar-besarkan, tapi mereka besar karena karya-karya mereka. dan mereka bukan seorang plagiat.
    karena ini pendapat subyektif mas suluh yang tentu saja jauh dari nilai ilmiah… maka rasanya tidak perlu diperpanjang. setiap orang bebas berpendapat, hanya itu yang saya hormati. Dan sangat saya sarankan agar mas suluh lebih banyak dan lebih kritis dalam membaca karya-karya mereka, sehingga kritikan yang disampaikan bisa bernilai ilmiah dan cukup argumentatif. Dan akan lebih obyektif jika mas suluh coba mengkritisi salah satu karya mereka.

  33. 37 hilman Rabu, 12 Mei 2010 pukul 5:48 am

    hati-hati ketularan syiahnya JALAL
    kata syiah: makan tai imam dan kencingnya bisa masuk sorga
    kata syiah: boleh bertukar istri
    kata syiah: boleh menyodomi anak kecil
    kata syiah:imam lebih utama daripada nabi
    kata syiah:begitu lahir imam langsung syahadat
    kata syiah:halilintar dibawah keinginan ali
    kata syiah:imam adalah penyebab terciptanya langit dan bumi
    kata syiah:hasan bebicara dengan 70 juta bahasa
    kata syiah:fatimah tidak menstruasi
    dimana kebenarannya pa haji
    semuanya ada di buku syiah….tidak percaya?……cari sendiri..pasti dapet

    • 38 galih Rabu, 19 Mei 2010 pukul 2:35 pm

      saya sudah mempelajari syiah tiga tahun. belum ketemu tuh dengan yang Mas Hilman sampaikan. kalo boleh tahu sudah berapa lama Mas Hilman mendalami syiah? butuh berapa lama lagi ya agar saya bisa sampai pada apa yang Mas Hilman katakan. terima kasih

    • 39 Heri Apriadi Sabtu, 27 November 2010 pukul 7:54 pm

      Masa sih mas? gak percaya saya…

    • 40 de Minggu, 2 Januari 2011 pukul 7:29 pm

      saya syiah, dan kang jalal adalah saudara saya, selama saya menjadi syiah saya belum pernah menemukan yang seperti itu, apakah bisa dibuktikan?

      malahan khalifah yang dianggap oleh kaum ahlussunnah wal jamaah (baca: yazid bin muawiah), telah membunuh cucunya rasulullah, (baca: imam husain)

      apakah pantas seperti itu?

      kalau ada mazhab yang lebih baik dari syiah saya keluar dari syiah!!!

      • 41 darsono Jumat, 17 Juni 2011 pukul 3:31 am

        syiah bukan mahdzab.
        sebaiknya buka mata dan pelajari tarikh agar tahu betapa mulia para sahabat.
        Abu bakar adalah sahabat yang paling dikasihi oleh Rosulullah, dan selanjutnya adalah Umar Ra. banyak sekali ayat yang turun karena usulan dari Sayyidina Umar. seandainya kamu mau belajar, banyak sekali hadits Rosulullah yang menyatakan kasih Beliau saw kepada Abu Bakar, Umar, dan para sahabat. merekalah para SalafusSalih, generasi terbaik Islam. tidak ada yang meragukan itu.
        jangan pelajari Islam dari “qiila wa qoola” atau bahasa kitanya “katanya”.
        pelajari total, belajar Qur’an dan Hadits agar dibukakan kebenaran oleh Allah untuk kita. kalian tau hadits hanya dari mempelajari sebuah pendapat yang hadits cenderung dhoif bahkan palsu. maka pelajarilah hadits secara luas, barulah bisa menilai suatu pendapat.
        kufur seseorang apabila mendustakan para sahabat Rosulullah. segeralah bertaubat.

  34. 43 numpanglewat Senin, 24 Mei 2010 pukul 12:15 am

    klo menilai itu sebaiknya secara objektif bukan subjektif..

  35. 44 Arif parker Sabtu, 10 Juli 2010 pukul 6:56 pm

    Saya sangat susah untuk tidak membenci orang2 yang membenci sahabat nabi (atau bahkan nabi sendiri)…

  36. 45 dalam hati... Kamis, 19 Agustus 2010 pukul 12:52 am

    buat smuanya…
    selain mengenal dari tulisannya…kenalilah mereka dari kesehariannya…apa betul ucapan, tulisan, yg mereka buat sesuai dengan kehidupan yg diterapkan dalam kesehariannya…udah kebanyakan orang yg ngemengnya gede…ga sesuai dengan kesehariannya…

  37. 46 Kal-sel Senin, 23 Agustus 2010 pukul 8:50 pm

    Penulis artikel ini apa gk kebalik katanya orang lain obyek tapi dari segitulisan artikel ini merupakan subjek nyata, apa terlalu banyak pikiran hingga gk ada tindakan neh?

  38. 47 Banjarbaru kalsel Senin, 23 Agustus 2010 pukul 9:09 pm

    Alangkah baiknya kita bersama2 membangun bangsa, negara, rakyat kita dengan pemikiran juga tindakan, kita memilih dan melihat fakta mana yg terbaik bukan sekedar khalayan dan berulang2 melakukan kesalahan berdasarkan prasangka!!

  39. 48 Ben Sabtu, 18 Desember 2010 pukul 3:36 pm

    Sekarang Begini Apa bedanya Ali Ra dengan Abubakar Ra, Umar bin Khotab Ra, Utsman Ra, kenapa dalam acara keagamaan nya dia hanya mengangungkan satu shahabat saja…apakah tdk membaca syiroh Nabawiah bagaimana Sohabat berjuang untuk tegaknya Islam (bukan satu saja tetapi semua shahabat……)

    Maaf tdk nyambung sengaja yg terpenting point ini


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 290 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: