Memahami Politik, Memahami Manusia: Apa itu? Definisi dan Pertanyaan

Dibenak saya sekarang ini, saya sesungguhnya tidak mengerti dengan sepenuhnya apa itu yang dinamakan Politik. Pertanyaan saya sekaligus tulisan ini merupakan sebuah upaya untuk memahami dari dasar mengenai dunia politik yang kadang kala, atau sebagian orang menyakini bahwa politik itu diluar analisis logika atau nalar. Saya mencoba untuk mengerti disini juga sekaligus mempertanyakan karena ada sebuah gejolak dalam diri saya yang mempertanyakan hubungan politik dengan perkembangan kearah yang lebih baik dari kehidupan manusia itu sendiri.

Kita tahu politik merupakan sebuah proses yang begitu rumit namun merupakan sebuah proses mulia dengan tujuan idealist yang mulia juga: mengatur kehidupan seluruh masyarakat ke arah yang lebih baik—lebih makmur, lebih sejahtera, lebih sehat, lebih membahagiakan, dan lebih lebih yang lain. Namun ada sejenis paradox disini yang membuat saya takjub sekaligus keheranan. Sebuah upaya yang sedemikian mulia tersebut, ternyata di lahan sesungguhnya merupakan sebuah adu kekuatan atau adu muslihat untuk mencapai sebuah entitas atau apapun itu yang dinamakan “kekuasaan”.

Saya sendiri menyaksikan bahwa dalam berpolitik memang tidak ada yang namanya janji atau keputusan atau sumpah yang tetap atau bisa dipertahankan secara konsisten. Kadangkala sebagian orang mengatakan dengan sebuah slogan bahwa dalam berpolitik itu tidak ada kawan yang abadi yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Namun saya sendiri sangat tidak sependapat dengan slogan seperti ini. Ada dua alasan utama yang menyebabkan saya tidak menyetujui slogan seperti ini dalam dunia perpolitikan.

Pertama mengatakan slogan seperti itu yang kemudian teramat sering menisbahkan slogan tersebut menjadi sebuah definisi dari politik adalah tindakan yang sangat gegabah dan terlalu prematur. Politik mengalami proses yang sedemikian komplek dan rumit yang tidak mungkin bisa didefiniskan hanya dengan sebuah kalimat pendek yang berupa slogan. Hal ini akan menjadikan politik sebuah olok olokan atau ejekan yang sangat merugikan bagi proses politik itu sendiri, padahal sesungguhnya proses politik sangatlah komplek. Keberatan kedua berkaitan dengan proposisi dari slogan itu sendiri. Tidak ada kawan yang abadi yang ada hanyalah kepentingan yang abadi. Kepentingan dalam dunia politik sesungguhnya tidak pernah abadi. Kepentingan itu berkembang dan berubah juga dalam dunia politik seiring dengan perubahan masyarakat dan kondisi yang ada dalam proses politik itu sendiri. Tidak ada kawan yang abadi juga merupakan hal yang terlalu menggeneralisir. Kawan atau tidak tidak bisa ditentukan hanya karena suatu waktu janji atau keputusan seorang yang berpolitik berbeda dengan yang lainya. Berkawan adalah masalah hati bukan masalah yang bisa dilihat secara objektif.

Memahami Politik Memahami Manusia

Saya sampai sekarang ini masih saja menganut suatu keyakinan bahwa apapun itu yang ada dalam dunia manusia merupakan sebuah realita yang patut kita hargai dan patut kita mengerti atau pahami. Sebuah proses entah itu ekonomi, keyakinan, dan sebagainya, merupakan “sesuatu” yang ada dan berjalan dikarenakan karena keberadaan manusia itu sendiri. Apapun itu proses yang ada karena manusia itu ada, saya menganggap bahwa proses itu merupakan sebuah hal yang patut kita pahami. Dengan demikian proses politik yang notabene lahir atau ada karena adanya manusia, layak untuk kita bahas pertanyakan dan telusuri. Dengan mencoba memahami proses proses demikian, saya merasa bahwa kita akan lebih mengerti diri kita sendiri sebagai manusia pada khususnya, atau masyarakat manusia itu pada umumnya.

Sering saya mendengar bahwa berpolitik itu tidak bisa dikasih penilaian baik atau buruk (dalam istilah mereka halal dan haram) karena menurut mereka berpolitik itu merupakan percampuran dari keduanya. Sebagian orang juga bahkan menganggap proses politik itu semuanya buruk atau haram. Politik itu tidak punya moral. Dan sebagainya

Siapapun orangnya yang mengatakan hal demikian saya sangat tidak menyetujuinya. Proses politik sebagaimana proses proses yang dijalani manusia (ekonomi, sosial, keagamaan) merupakan sebuah hal yang tidak bisa dilepaskan pada keberadaan dan kondisi dari lingkungan dimana proses politik itu berjalan dan berkembang. Politik selalu saja didasari atau istilahnya dibatasi oleh kehendak kehendak atau nilai nilai moral dimana nilai itu dipercaya dan dipertahankan kelangsungannya oleh masyarakat itu sendiri. Politik itu juga pada finalnya atau pada tujuan idealnya merupakan sesuatu yang menjadi kehendak dari sebagian besar masyarakat. Mewujudkan masyarakan yang makmur, adil dan sejahtera, merupakan impian dari hampir semua proses politik yang ada dalam dunia manusia.

Sebagai pribadi saya memang secara alamiah menjauhi aktivitas politik dalam skala besar namun masih terus menjalankan aktifitas politik secara pribadi. Berpolitik tidak mungkin lepas dari psikologi manusia, komunikasi massa, ekonomi, dan lain sebagainya. Sebagai bagian dari proses manusia berpolitik adalah hal yang sangat manusiawi. Walaupun sering kali, sebuah “kemenangan” politik selalu dinisbahkan pada “kemenangan menduduki kursi kekuasaan” namun hasil akhri dari proses politik itu bukan ditentukan oleh hal tersebut.

Berpolitik juga merupakan sebuah upaya untuk mewujudkan kehendak atau ambisi atau kepentingan dari manusia itu sendiri. Dan kadang kala karena “kekuasaan” itu sering menjadi inti dari “keberhasilan politik” maka adalah sangat logis jika “kekuasaan” itu tidak boleh sembarangan digunakan, atau mengandung suatu potensi untuk dengan mudah bisa “disalahgunakan”. Sejauh yang saya pahami, politik yang menjurus pada “kekuasaan tunggal” atau “kekuasaan terbatas” bukanlah sebuah proses yang dalam jangka panjang merupakan hal yang pantas dipertahankan. Hal ini mengingat sekali potensi kekuasaan tunggal ini disalahgunakan maka keberlanjutan kehidupan masyarakat menjadi taruhannya. Contoh: sistem diktaktor.

Saya sampai saat ini masih mengganggap bahwa demokrasi merupakan sebuah upaya (dalam wilayah negara, atau kekuasaan yang tersegmentasi) cara yang mampu mengurangi potensi-potensi “penyalahgunaan kekuasaan”. Walaupun sepertinya demokrasi bukan merupakan cara yang stabil dan cepat untuk mencapai “kesejahteraan” namun satu kelebihan dari demokrasi adalah ia sangat terbuka pada perbaikan-perbaikan seiring dengan perkembangan zaman. Demokrasi adalah sebuah upaya rekayasa bongkar pasang. Ia saya yakini lebih bermoral dibandingkan misalnya rekayasa cetak biru.

Politik dan Logika Situasi

Politik sebagaimana telah saya sampaikan di atas tidak terlepas dari kondisi kondisi dimana proses politik itu berlangsung. Berpolitik dalam situasi tertentu, atau bahkan sering kali, merupakan sebuah proses yang sedikit bisa didekati dengan pendekatan situasional atau lebih kerennya disebut sebagai Logika Situasi.

Ilustrasi yang lebih mudah akan saya berikan sebagai berikut:

Ada banyak gelembung sabun yang tercipta dari sebuah proses pembuihan. Gelembung tesebut tidak bisa pecah atau musnah, dan hanya bisa bergabung, atau menempel dan membentuk gelembung baru yang lebih besar, sukarela ataupun tidak. Nah, Setelah beberapa waktu terciptalah dua buah gelembung besar yang mendominasi gelembung gelembung yang ada. Dua gelembung besar ini ternyata tidak bisa bersatu menjadi gelembung baru yang lebih besar lagi. Nah pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukan oleh gelembung gelembung kecil untuk melangsungkan keberlanjutannya.

Ada beberapa opsi disini. Pertama bergabung dengan gelembung gelembung kecil yang lain dan membentuk sebuah gelembung besar lagi yang akan menyangin 2 gelembung besar sebelumya. Opsi kedua adalah bergabung atau setidaknya melekat atau menempel ( atau menjadi pendukung) dari salah satu kedua gelembung besar tersebut. Dan yang ketiga adalah opsi mati, yaitu tidak mau bergabung dan menunggu gelembung besar dari salah satu keduanya menyerap secara paksa masuk kedalam gelembung besar itu sendiri. Opsi terakhir ini adalah opsi yang akan menyebabkan identitas asli dari gelembung kecil itu lebur dan hilang kedalam gelembung besar walaupun entitas nya tidak ada yang musnah.

Nah jika situasi perpolitikan itu merupakan sebuah kondisi “kekuasaan” yang demikian, maka sebuah keputusan-keputusan politik akan bisa ditebak arahnya, terutama keputusan-keputusan dari gelembung-gelembung kecil.

Apa maksudnya? Coba sekarang anda ganti kata gelembung menjadi “negara atau pemerintahan”, dan ganti keputusan bergabung atau tidak dengan “kebijakan luar negeri”. Nah sekarang anda bisa liat di dunia nyata dan bandingkan! Kenapa kita sebagai negara ini selalu terpengaruh oleh kebijakan dari negara-negara yang memiliki ukuran gelembung yang besar. Jawabannya bisa diliat dari Logika Situasi seperti yang terjadi pada Gelembung Gelembung Sabun!

Note: Ilustrasi akan sedikit berbeda bila dikaitkan dengan Partai Politik. Suatu saat akan saya bahas di artikel yang terpisah.

Sekian dulu ya

Sekedar Memahami

Haqiqie Suluh

About these ads

11 Responses to “Memahami Politik, Memahami Manusia: Apa itu? Definisi dan Pertanyaan”


  1. 1 mira Minggu, 20 April 2008 pukul 2:45 pm

    menarik, tapi panjang bgt, blm selesai baca, simpen dulu :D

  2. 2 sayaperagu Senin, 21 April 2008 pukul 10:00 am

    mas suluh saya tunggu kelanjutan pemahaman politiknya…saya tertarik dengan ilustrasi pembuihan dan gelembung.tanpa mengurangi penghargaan terhadap tulisan mas diatas. saya ganti kata pembuihan dengan proses politik, gelembung dengan negara(termasuk individu2 dalam negara tsb)dan keputusan bergabung ato tdk saya ganti dengan kekuasaan/kepentingan. secara singkat ilustrasi anda dalam benak saya akan menjadi spt ini:
    negara terbentuk dari sebuah proses politik kemudian negara tersebut mendominasi negara yang ada disekelilingnya.untuk mempertahankan kekuasaan/kepentingannya negara besar tersebut mengajak dan bisa juga memaksa negara2 lainya untuk bergabung…dst,dst. jika tetap menggunakan opsi2 yang mas berikan saya melihat adanya kemungkinan lebur atau hilangnya bagian ato keseluruhan negara2 kecil yang ada. yang jadi beda, saya mengibaratkan gelembung2/negara2 ini bisa pecah, hancur, mati dan benar2 musnah seperti pada kondisi riilnya. selayaknya proses peleburan ato penggabungan sebuah negara tentu saja ada penolakan dan perlawan (dalam skala besar saya sebut perang)yang berakibat pada kehancuran bahkan kemusnahan salah satu pihak termasuk individu di dalamnya (sebagaimana banyak terjadi dalam sejarah manusia).berarti bisa dikatakan bahwa awal dari semua ini adalah suatu proses politik.
    mas jika benar perang,penghancuran dan ato pemusnahan sebuah negara berawal dari proses politik/politik, saya kok semakin miris dengan politik itu sendiri…ahh saya kok jadi meragukan cita-cita luhur politik itu sendiri..ato benak saya saja yang terlalu berlebihan…

    matur nuwun…pareng….

    nb: sori saya agak ngelantur…

  3. 3 Suluh Senin, 21 April 2008 pukul 3:20 pm

    @sayaperagu: tujuan luhur itu tentunya sebuah cita cita moral aja kok mas… tentunya juga tergantung dari msyarakat dan individu yang ada… subjektif juga akhirnya… sejauh politik dalam koridor atau tujuan seperti itu, saya sih gak miris miris amat… perang, pembunuhan itu manusiawi, tetapi perlu ditekan dan dikecilkan prosinya… perang atau persiapan perang, atau senjatanya juga merupakan salah satu unsur dari pembentuk “gelembung” semakin besar atau kecil… sejauh yang saya ketahui dari pengetahuan sejarah saya, tatanan dunia sekrang ini jauh lebih baik dibandingkan awal atau akhir abad 20…

    untuk sementara ini dulu tanggapan saya…

  4. 4 Asep Kususanto Jumat, 2 Mei 2008 pukul 4:57 pm

    Saya sepakat dengan Kang Mas.

    Politik mungkin dapat dipahami sebagai proses pembuatan kebijakan. Sedangkan kebijakan itu sendiri memiliki siklus: Diawali dengan perumusan, implementasi dan evaluasi.

    Mungkin yang terjadi kemudian adalah situasi “dynamik” di dalam membangun kesepakatan-kesepakatan dalam konteks siklus tersebut. Sementara siklus tersebut pun dapat over-laping untuk setiap hal yang berbeda. Belum lagi dapat dicermati juga melalui sisi hirarki kewenangan (policy hirarchy). (strategis, manajerial, operatisonalkah?). Juga termasuk telaah dari sisi contentnyakah? atau dari sisi prosedurnyakah?

    Namun lazimnya politik lebih pada sisi prosedural dalam membangun kesepakatan dari para pihak (bagaimana pengaruh kewenangan dan kekuasaan saling berinteraksi dalam meletakan landasannya). Sedangkan untuk kontentnya lebih pada domain ilmu-ilmu pasti dan ekonomi.

    Memang politik pada akhirnya menjadi terpaksa diletakan dalam konteks dynamic complexcity untuk mencapai kesepakatan. Meskipun boleh jadi melahirkan “sepakat untuk tidak sepakat”.

  5. 5 putut Kamis, 8 Mei 2008 pukul 12:50 am

    hebat mas luar biasa .bisa jadi inspirasi buat aku

    thanks

  6. 6 weni Kamis, 15 Mei 2008 pukul 7:09 am

    Membahas politik berikut sistem idealnya sama seperti mencari posisi duduk yang nyaman. bahkan ketika sudah duduk pada posisi yang OK, tetap saja ingin berdiri, merubah posisi, melirik bangku lain, keluar ide lain, memvariasikan …terus aja sampai akhir hayat dikandung badan deh …

    sebenarnya lieur juga si ..

  7. 7 Virdaus Senin, 26 Januari 2009 pukul 2:13 pm

    okey……….
    daus suka membacanya, so…. panjang banget

  8. 8 Malik Sabtu, 5 Desember 2009 pukul 12:54 pm

    Wew. Bner2 bgus tulisan ama comment2nya.
    Penerus bangsa nih. ^^

    Tp kdang2 susah j klo ngebahas politik. Krn gw sendiri lbi sependapat ama comment dari weni walaupun ga sepenuhnya setuju.
    Gw bukan pesimis ama politik2 tp klo di liat dari psikologi manusia pasti ga pernah puas ama sesuatu. Pasti pengen lebih dan lebih. Gw si seneng2 aja klo pemimpin politik kita punya ambisi yg ga gampang surut. Biar kita makin maju jg.
    Tp dalam politik harus ada yg kalah ato di korbanin buat bisa maju lebih jauh.
    Gw setuju politik ga bisa di liat secara hitam dan putih.
    Karena kita harus selalu bisa melihat kesempatan sekecil apapun. Dan ambil kputusan.
    Mw itu harus merugikan ataupun mengorbakan sesuatu.

  9. 9 ceritadarilangit Kamis, 3 Mei 2012 pukul 8:27 pm

    Pemahamanku simpel. Politik itu cara mengelola negara.


  1. 1 Memahami Ekonomi, Memahami Manusia: Sebuah Pengantar « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Rabu, 30 April 2008 pukul 11:48 am
  2. 2 Twitted by pandTosa Lacak balik pada Kamis, 1 September 2011 pukul 8:49 pm

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 290 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: