Memahami Ekonomi, Memahami Manusia: Sebuah Pengantar

Setelah beberapa waktu yang lampau saya sempat menuliskan sebuah upaya pemahaman saya di wilayah Politik Manusia, kini saya ingin berbagi dengan anda untuk memahami suatu wilayah (segmentasi) dari proses keseharian manusia yang disebut sebagai Proses Ekonomi Manusia. Ya, Ekonomi yang sering digadang gadangkan di televisi, di koran, dipelajaran sekolah maupun universitas. Yah bahkan untuk mempelajarinyapun telah dikhususkan sebuah kelas atau jurusan atau segmentasi tersendiri: Ilmu Ekonomi

Pertama saya ingin menyampaikan bahwa saya hanyalah seorang yang belum lulus dari Fakultas Teknik dan sama sekali tidak pernah mengkhususkan diri untuk belajar secara formal ilmu Ekonomi (Jadi Sarjana Ekonomi atau masuk Jurusan Ekonomi di Universitas, hanya pelajaran SD, SMP dan SMA saja saya mendapatkannya). Dengan demikian apabila terdapat ketaksamaan atau suatu pemahaman atau pemikiran yang bertentangan dengan ilmu ekonomi pada umumnya hal ini murni merupakan tanggung jawab saya. Saya memang berfikir dengan pemahaman saya pribadi. Benar tidaknya atau disetujui tidaknya tergantung dari saudara sendiri yang membacanya.

Sekali lagi Semua Bermula dari Manusia itu Ada

Segala macam bentuk atau proses segmentasi Keilmuan yang telah menjadi sejenis Pengetahuan Tak sadar Maupun Sadar, Tertulis maupun Tidak Tertulis, yang menjadi ciri khas manusia, hal tersebut juga pasti dimulai dari Eksistensi dari manusia itu sendiri. Apapun itu ilmu yang digoreskan dan ditularkan serta dipraktekkan, semuanya dimulai dari kenyataan bahwa Manusia itu Ada. Demikian pula proses Ekonomi yang kemudian dihasilkan atau digoreskan atau dijadikan sejenis ilmu yang dinamakan Ilmu Ekonomi, ini juga dimulai karena Manusia itu Ada dan melakukan sesuatu yang kemudian dinamakan sebagai Proses Ekonomi.

Mari kita memulai dari Manusia terlebih dahulu. Manusia sebagai makhluk atau entitas yang mengada di dalam Yang Ada dan termasuk juga sebagai Yang Ada, membutuhkan apa yang dinamakan kegiatan untuk melanjutkan kekontinuan proses hidupnya. Ini terjadi secara alamiah alias tidak bisa dikontrol oleh nalar manusia itu sendiri. Proses ini sering dinamakan kebutuhan biologis: Makan, Minum, dan lain sebagainya.

Anggaplah proses ini sebagai kebutuhan mutlak yang tanpanya manusia akan musnah atau berhenti “hidup dan beraktifitas”. Secara bawaan alias begitu saja ada atau alami, manusia mencari makanan untuk dimakan, mencari minuman untuk diminum, dan seterusnya. Ketika kebutuhan itu sudah terpenuhi (jadi ingat maslow), ia membutuhkan hal hal lain yang diinginkannya atau tidak diinginkannya. Semisal hidup bermasyarakat atau membutuhkan orang lain untuk melakukan aktifitas seksual dan sejenisnya. Kebutuhan ini berlanjut ketika ia juga mengetahui bahwa orang lain ternyata memiliki sesuatu yang tidak dimilikinya. Sebuah proses kepemilikian pun lahir. Ia memiliki sesuatu yang dianggap milikinya demikian pula orang lain memiliki sesuatu yang dianggap sebagai miliknya. Orang tidak berhak mengambil sesuatu yang menjadi miliknya (ini merupakan proses psikologis), demikian pula dirinya akan segan atau takut untuk mengambil sesuatu yang dimiliki orang lain.

Lalu Pertanyaannya adalah bagaimana kalau ia benar benar menginginkan milik orang lain? Jawabannya adalah mengambil secara paksa (bisa dengan ancaman dll), meminta, atau memberikan ganti rugi, atau tukar menukar. Nah, secara psikologis juga, manusia akan nyaman kalau dia melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain (memaksa tidak nyaman karena dia juga tidak suka dipaksa, mencuri tidak nyaman karena dia juga tidak suka dicuri miliknya, meminta juga kadang tidak nyaman karena ia juga sering tidak ingin miliknya diminta orang lain, dsb, hal ini merupakan proses psikologis manusia). Nah proses yang menarik kenyamanan psikologis adalah melakukan ganti rugi atau melakukan pertukaran. Jika saya memiliki barang yang kuanggap berharga dan dia juga punya, sedang saya menginginkan miliknya dan dia menginginkan miliku, akan lebih baik dan menyenangkan jika saya menukarnya, demikian juga dia. Sama sama senang.

Nah Prinsip tukar menukar inilah yang menjadi prinsip dasar Ekonomi. Perlu disadari pula bahwa Prinsip Dasar ini merupakan Tukar menukar barang langsung dari hasil bumi. Ini fondasi pokok dari Proses Ekonomi. Kemudian akan muncul Proses Ekonomi yang lebih komplek, semisal penggunaan uang dan Proses Ekonomi yang berupa Produk2 tak Langsung (bukan langsung dari hasil bumi).

Perlu diberi catatan juga bahwa Proses Ekonomi Dasar ini juga didasari oleh Proses Psikologis atau Kejiwaan. Ini sebenarnya juga patut diberi garis bawah, karena banyak tulisan yang mengabaikan Proses Psikologis ini ketika menyampaikan suatu Proses Ekonomi Dasar.

Sekian dulu. Tulisan ini akan dibuat bersambung.

Sekedar Memahami

Haqiqie Suluh

7 Tanggapan ke “Memahami Ekonomi, Memahami Manusia: Sebuah Pengantar”


  1. 1 joyo Kamis, 1 Mei 2008 pukul 10:54 pm

    nunggu postingan suluh berikutnya yg berjudul “memahami agama, memahami manusia” :D

    nice post bro, congrats PRnya naik 1 :D

  2. 2 Suluh Jumat, 2 Mei 2008 pukul 7:37 am

    @joyo: weh kok bisa naek ya? he he he jadi 5 tuh… padahal gak kuoptimasi sama sekali nich blog…

  3. 3 Cactus Minggu, 4 Mei 2008 pukul 8:05 pm

    Loh bukannye udeh lulus setahun lalu kak???? bingung gue????

  4. 4 lovepassword Jumat, 27 Juni 2008 pukul 9:03 pm

    @manusia akan nyaman kalau dia melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain (memaksa tidak nyaman karena dia juga tidak suka dipaksa, mencuri tidak nyaman karena dia juga tidak suka dicuri miliknya, meminta juga kadang tidak nyaman karena ia juga sering tidak ingin miliknya diminta orang lain, dsb, hal ini merupakan proses psikologis manusia).

    Ini pernyataan menarik : Mengapa manusia nyaman bila melakukan sesuatu yang tidak merugikan orang lain ? Saya rasa nggak mesti begitu. Itu mungkin sangat terkait dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh lingkungan seklilingnya.

    Saya teringat dua konsep filsafat di Cina yang sayang saya lupa siapa pencetusnya. Yang pertama berkata : Kalau pada dasarnya manusia itu baik. Lingkungan yang salahlah yang membuat manusia jadi jelek. Sedangkan pendapat kedua kebalikannya : Pada dasarnya manusia itu jelek. Karena itu perlu dibuat aturan yang keras agar manusia mau berbuat baik sehingga muncul sistem yang baik.

    Rupanya anda penganut filsafat yang pertama, ya ?

    Konsep ini juga rasanya lumayan religius :

    memaksa tidak nyaman karena dia juga tidak suka dipaksa, mencuri tidak nyaman karena dia juga tidak suka dicuri miliknya,

    YAH, Good deh, kalau semua orang berpikiran seperti anda.
    Sayangnya nggak semua orang sebaik dan sebijak anda , Mas.
    Banyak orang yang suka maksa tetapi tidak suka dipaksa, lho…

    Lebih parah lagi ada orang yang siap menderita agar kawannya lebih menderita dari dia.
    Susahkan kalau ngomongin manusia….Susah…susah…-

    SALAM

  5. 5 Suluh Jumat, 27 Juni 2008 pukul 10:39 pm

    saya cuma ingin memahami mas…. itu intinya…

  6. 6 lovepassword Jumat, 27 Juni 2008 pukul 11:05 pm

    Yah, kita semua memang selalu ingin memahami.


  1. 1 » Muntilan Kota Kecil di Kaki Gunung Merapi Pokoke NgeBlog Lacak balik pada Senin, 5 Mei 2008 pukul 5:24 pm

Tinggalkan Balasan




YM Invis Checker

MRoo Yahoo Invisible Status Checker - Online tools buat scan or deteksi status invisible di yahoo messenger
Haqiqie Suluh Facebook Profile

Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis

Blogs Sehat

Butuh pengetahuan atau tips dan triks seputar permasalahan jerawat? Atau pengen tahu tentang penyebab jerawat dan cara menghilangkan jerawat. Silahkan kunjungi Blog Bicara Jerawat Bicara Acne.