Tiba-tiba saya memikirkan sesuatu mengenai seksualitas. Seksualitas yang begitu mengguncangkan perasaan dan pemikiran saya, sehingga membuat saya termenung selama beberapa lama memikirkannya. Bahkan permenungan saya seakan akan “mengharuskan” saya untuk menuliskannya dan membuka kembali “kemacetan” dalam hal tulis menulis. Ya, selama beberapa waktu saya tidak mampu untuk menuliskan sesuatu hal, saya benar benar tidak mampu menulis tentang sesuatu. Dan perhentian saya dalam coret menyoret ini dilepaskan sumbatnya oleh sesuatu yang menyangkut mengenai “seksualitas”.
Saya anggap dalam pemikiran atau ideologi atau pemahaman di manapun di dunia manusia, sesungguhnya tidak ada yang benar benar mampu secara holistik untuk “memusnahkan” atau “meminggirkan” atau “mengesampingkan” mengenai laku dan rasa seksual. Maksud saya di sini adalah, seksualitas merupakan sebuah laku dan rasa yang menjadi bagian hidup manusia yang tidak akan bisa disingkirkan sampai kapanpun. Ia melekat dan menjadi sebuah INTI dari laku dan rasa MANUSIA. Tanpa laku dan rasa seksual, manusia akan menghilang dan musnah.
Keberadaan anda, saya, mereka dan siapapun itu, secara biologis natural, merupakan buah dari sebuah “hasrat” seksual. Keberlanjutan kita sebagai manusia juga merupakan buah tangan dari hasrat seksual. Tanpa adanya hasrat atau nafsu seksual di diri kita (baca: manusia) yang “take for granted” keberadaan hidup kita tak akan pernah bisa dilanjutkan. Intinya dari hasrat itulah kita lahir dan berkembang.
Disini saya tidak membahas mengenai aspek teknis dari perkembangan kita– bertemunya sel telur dan sperma. Saya ingin mengemukakan bahwa yang mendasari pertemuan sel telur dan sperma itu sesungguhnya merupakan pertahanan tak sadar manusia untuk keberlajutan kehidupannya. Secara teknis Hal ini hampir sama dengan hasrat pengasuhan orang tua kepada anak.
Saya merasa bahwa seksualitas adalah “ekstase” paling alamiah dari manusia. Ekstase ini memiliki arti yang sangat penting baik secara pribadi maupun secara sosial kemasyarakatan. Mencapai ekstase dalam laku seksualitas adalah bagian yang paling wajar dari diri manusia. Menghentikannya adalah sebuah penolakan diri. Menghentikannya adalah sebuah kemandulan diri. Menghentikannya adalah sebuah upaya mengebiri laku diri.
Homo dan Lesbian
Dari pandangan Pragmatis Biologis Evolusioner, keberadaan laku dan rasa yang bersifat sejenis merupakan sebuah kegagalan biologis evolusioner. Maksudnya disini adalah secara evolusioner adanya laku dan hasrat sejenis mengakibatkan aspek perkembangan manusia akan mundur.
Pertimbangan kenapa laku dan hasrat sejenis tidak “dominan” di kehidupan manusia selama ini. Pertama laku dan hasrat sejenis –sebelum ada teknologi enseminasi buatan– jelas tidak mampu untuk mempertahankan keturunannya secara biologis. Homo dan lesbian jelas tidak mungkin mempunya keturunan jika melakukan laku seksual. Laku sejenis hanya bisa bertahan dalam 1 generasi. Ia akan musnah.
Dengan demikian kemunculan laku sejenis hanya dan hanya bisa dimunculkan dari laku tak sejenis yang “mendominasi” manusia. Yang pasti laku dan hasrat sejenis saya perkirakan tidak akan mampu “mendominasi” dalam segi jumlah dari masyarakat manusia. Secara evolusioner sesuatu hal yang tidak mampu mengenerasikan diri, berarti ia akan tersingkir.
Ekstase Sejenis
Dengan demikian walaupun laku ekstase sejenis “bisa jadi” memiliki kesamaan dengan laku ekstase tak sejenis, namun secara biologis evolusioner, ekstase sejenis adalah mandul dan mati. Ia tidak bisa mempertahankan diri. Manusia secara normal evolusioner adalah berhasrat tak sejenis. Alat alat seksual manusia juga secara evolusioner berkembang menjadi tak sejenis dan cocok. Batang dan lubang.
Dengan demikian apapun itu laku ekstase sejenis, saya merasa ia merupakan sebuah upaya genetis yang ada tetapi tidak cocok untuk keberlangsungan hidup manusia. Dalam sejarah manusia saya yakin laku ekstase sejenis tidaklah menguasai masyarakat manusia secara keseluruhan. Kemungkinan lain bisa jadi gabungan antara laku ekstase sejenis dan tak sejenis sekaligus.
Bersambung…
Kritik: Kalau dilihat dari tulisan, cara fikir yg nulis rada mbulet…
Let’s go-blog-ing..
Saya tunggu sambungannya deh.
Bukannya heteroseksual bertahan karena memang secara fitrah manusia adalah demikian.
Tapi menarik juga pernyataan bang suluh.
“Alat alat seksual manusia juga secara evolusioner berkembang menjadi tak sejenis dan cocok. Batang dan lubang.”
“Kemungkinan lain bisa jadi gabungan antara laku ekstase sejenis dan tak sejenis sekaligus”
aku sepakat sama yang itu….
boleh ga aku bilang gini : jadi sebenarnya gak ada ekstase sejenis tok. kalopun ada, pasti di ikuti sama yang tak sejenis itu. iya ya?
lha ekstase kok ya pake jenis2an sih???
>>>rethinking: close encounter of the 3rd kind aja dah seru banged, apalagi 5th or 9th kind ya????? bisa2 kayak Hallaj
btw, tought apa thought nih? sorry baru nyadar…