Sebelumnya saya ingin mengemukakan bahwa apa yang saya tuliskan disini lebih kepada apa yang “saya rasakan” dan apa “yang saya simpulkan” tanpa melalui riset atau semacamnya. Jadi asumsi asumsi yang saya bawa merupakan asumsi subjektif saya yang bisa jadi berbeda dengan anda. Asumsi ini saya anggap sebagai sebuah pijakan untuk kemudian saya kembangkan dalam tulisan ini. Berikut Situasinya
Saya “merasakan” bahwa ada sebuah “kesamaan” persepsi dalam banyak orang yang “mengidentikkan” pemilihan sebuah partai politik ibaratnya memilih sebuah kepercayaan agama. Menurut saya, atau asumsi yang saya bangun mengenai dua tersebut (partai dan agama) terdapat kesenjangan atau perbedaan yang significant secara “greget keimanan” atau “greget pilihan”. Agama diletakkan lebih tinggi dibandingkan dengan sebuah simbol “kepartaian”. Hanya saja terkadang saya menangkap dalam perbicangan, diskusi, komentar, atau tulisan tulisan yang “sepertinya” menyamakan (bahkan lebih) tingkat keimanan atau pilihan antara Agama dan Partai.
Secara umum, dalam penerjemahan saya akan dua hal tersebut, Agama lebih kepada sebuah “Jalan Hidup” sedangkan Partai lebih kepada “Alat Hidup”. Secara simplitis dapat juga dikatakan Agama lebih kepada Tujuan sedang Partai lebih kepada Alat mencapainya (ini kalau ditilik dari gabungan keduanya walau dalam banyak hal tidak musti demikian).
Nah uniknya, psikologis atau kefanatikan kepada partai kadang kalau melampaui atau menyamai kefanatikan pada agama. Walaupun saya tahu bahwa dalam sebuah proses psikologis, kefanatikan pada partai atau pada agama bukanlah hal yang abnormal atau tak wajar (bahkan sangat manusiawi sekali karena pada dasarnya proses keimanan atau kefanatikan terhadap keduanya dapat dibangun dengan proses yang mirip), akan tetapi dalam “keseharusannya” atau “kesemestiannya” dua hal tersebut secara “utopia” harusnya berbeda. Saya mengatakan utopia, keseharusanya, kesemestiannya disini sebagai sebuah pendapat pribadi.
Salah satu contoh yang sering saya liat adalah kasus Pindah Partai vs Kesetiaan terhadap Partai. Pindah Partai dalam kerangka utopia politik adalah sebuah hal yang wajar. Akan tetapi para pengidam fanatisme Partai menganggap hal ini sebuah penghianatan atau sebuah sikap yang buruk: Tak punya Pilihan, cuma cari Posisi, dan sebagainya.
Disini layaknya terjadi sebuah pergumulan ditingkat tertentu antara Partai sebagai Agama versus Partai sebagai Alat.
Sebuah Tulisan yang Ngambang Ternyata n Kok saya jadi beranggapan bahwa Agama dan Partai itu pada dasarnya adalah sebuah hal yang sama: Identitas, jadi gak perlu dipisahin mana yang baik, lebih tinggi, atau lebih rendah, mana yang musti difanatikan mana yang tidak, mana yang musti di imani atau tidak. Keduanya hampir mirip secara sosiologis!
Haqiqie Suluh
sebagian besar parpol di Indonesia tidak memiliki ideologi. Kalaupun ada, yang disebut ideologi itu tak lebih hanya aksesori …
http://serbasejarah.wordpress.com/2009/05/25/kisah-negara-politik-tanpa-ideologi/
lah wajar sekali itu
Yah ada benernya, tapi loncat parpol kayaknya “lebih ringan” dampak sosiologisnya.
bagi saya agama juga cuma alat, tanpa agama pun hidup tetap “jalan”
@joyo: lah ini kan mbahas “mereka” bukan mbahas “anda”
lho kowe kok malah balik nuduh aku?!hehehe
)
)
Ya ya ya agama itu cuma alat bagi manuasia untuk mencapai Tuhan, dan biasanya orang malah terjabak pada agama, seolah2 agama itu Tuhan dan sebaliknya, misalnya simbol2 agama (spt jilbab, sorban, kalung salib, dll) dijadikan tolak ukur keimanan orang pada Tuhan. Cih!
Dan yg paling penting, tanpa agama kita juga bisa menuju Tuhan. Ya to?!
Eh Tuhan ki opo to?
nuduh piye? ketokke aku ora nuduh kowe kok gil
Tuhan? sesuatu yg dibicarakan, dituliskan, dikomunikasikan dari orang ke orang. tidak kurang tidak lebih
hmmm kok jadi mirip gosip yak
@joyo: eksistensi “sesuatu” dalam masyarakat manusia pasti dalam bentuk “itu” soalnya