Apakah anda Percaya Islam agama yang paling benar? Ya, jawab saya

Saya berandai andai jika seseorang bertanya kepada saya tentang keimanan saya terhadap sesuatu, semisal kejadiannya begini. Ada yang tanya kepada saya,”Apakah kamu percaya Mangkok Terbang?” dan saya jawab,”Ya, saya percaya”.

Nah ada hal yang menarik disini, ketika saya ditanya dan ketika saya menjawab dan “kemungkinan” kelanjutan dan kasus diatas. Jikalau sang penanya meneruskan, “buktikan kepada saya kalau kepercayaanmu itu benar?”. Disini, saya sesungguhnya tidak memiliki kewajiban untuk membuktikan kepercayaan saya kepada sang penanya, saya sekedar ditanya dan menjawab dan tidak memaksakan kepercayaan saya kepada sang penanya. Jadi tidak ada kewajiban bagi saya untuk membuktikan kepercayaan akan Mangkok Terbang saya. Toh kepercayaan saya tidak mengganggu si penanya, dan ini adalah kepercayaan pribadi saya sendiri.

Sebagaimana jika saya ditanya, “Apakah anda percaya Mangkok Terbang?” dan saya jawab, “Tidak, saya tidak percaya”. Saya juga disini tidak memiliki beban pembuktian atas ketakpercayaan saya pada Mangkok Terbang. Akan berbeda jika ketidak percayaan saya ini saya paksakan kepada orang lain atau membikin saya berhak membunuh, menyakiti, memenggal sesama saya.

Lain halnya jika kepercayaan Mangkok Terbang saya tersebut saya paksakan untuk dipercayai oleh sipenanya or Kepercayaan Mankok terbang saya, dikemudian hari ternyata menjadikan orang lain sengsara, semisal menjadikan saya berhak mengusir si penanya, membuat saya memukulinya atau bahkan membunuhnya. Maka wajib hukumnya saya membuktikan klaim kepercayaan saya dan mungkin wajib hukumnya jika saya musti “menafsirkan ulang kepercayaan Mangkok Terbang yang membikin saya punya dasar mengusir, membunuh atau memenggal” (yang saya pikir ini sebuah ego / emosi manusia). Bagaimana mungkin Mangkok Terbang kok bisa memerintahkan saya membunuh, mengusir, bagaimana mungkin saya memperoleh wahyu memenggal sesama manusia. Saya yakin hal ini dipandang oleh orang lain (secara umum) sebuah kesalahan (sisi kemanusiaan).

Demikian pula sebaliknya, bagi yang tidak percaya Mangkok Terbang, tapi ketidak percayaan ini membikin dia membunuh, memenggal, maka dia juga perlu menafsirkan ulang “ketidak percayaannya”. Walau kurang tahu sih alasan yang bisa dipake kecuali emosi aja or menggunakan kepercayaan selain Mangkok Terbang (bisa yakin karena Alam, karena Tuhan, or lainnya)

So, Jika anda ditanya; Apakah anda Percaya Islam agama yang paling benar? Anda Jawab,” Ya, saya percaya” berhentilah disitu. Tidak ada kewajiban bagi anda membuktikan kepercayaan anda. Kecuali anda memaksakan keyakinan itu, alias keimanan Islam anda pada orang lain. Dan sekali lagi, bagaimanapun keyakinan kebenaran Islam anda, jika anda membunuh, mencincang dan memenggal, “mengganggu” orang lain, maka selayaknya anda musti “menafsirkan ulang” keimanan anda, atau mungkin meninggalkannnya or mencari yang lebih baik. Demikian juga sebaliknya bagi yang tidak percaya (dan atau menganut keyakinan yang lainnya).

Manusia tidak bisa hidup tanpa kepercayaan apapun. Jadi hati hati dengan kepercayaan anda. Manusia Ada, karena Kita percaya kita Ada.

Salam untuk Sang Manusia

Haqiqie Suluh

23 Tanggapan ke “Apakah anda Percaya Islam agama yang paling benar? Ya, jawab saya”


  1. 1 ahmad saedi Kamis, 16 Februari 2012 pukul 12:23 am

    di Al-qur,an dijelaskan didunia adalah ujian, namanya dunia ya pasti ruangan dimana kita bebas melakukan apa saja, tetapi sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka, kita berusaha untuk mengerjakan yang baik dan meninggalkan larangan-Nya. karena kalau kita percaya bahwa ada hari akhir, kita lebih berhati-hati dalam segala hal,,,menjalani hidup, karena semua amal didunia akan di hisab atau dipertanggung jawabkan tanpa ada yang terlewatkan. OK didunia kita bebas ngapain saja tapi bayangkan ketika didalam kubur kita sendiri dan tak punya kuasa apa-apa. maka disitulah sebenarnya awal kita mendapat balsan seuai amal kita selam didunia. yang karena kehidupan sesungguhnya adalah setelah mati,,, manusia diuji dg harta, tahta , wanita.

  2. 2 Aribowo Minggu, 5 Februari 2012 pukul 1:50 pm

    untuk mu agama mu dan untuk ku agama ku,,,,,,

  3. 3 Sarmento Selasa, 17 Januari 2012 pukul 1:01 am

    1) saya memberikan apresiasi atas tulisan artikel anda : – )

    2) adapun dukungan saya disertai dengan sebuah argumen singkat yang mendukung tesis anda: anda benar bahwa kita harus membuat suatu distingsi antara ruang privat dan ruang publik. Agama dan keyakinan pribadi dalam konteks yang anda kemukakan memang mesti dipahami dalam realitasnya sebagai suatu ruang privat di antara sekian pluralitas yang ada yang ada dalam ruang publik.. ruang privat tidak dapat dipaksakan dalam ruang publik karena… ruang privat berurusan dengan hal-hal yang sifatnya parsial atau partikular sedangkan ruang publik merupakan sintesa dari sekian pluralitas yang ada… konsekuensi logis adalah.. tidak mungkin hal yang parsial dapat merangkum seluruh universum yang ada. Namun bukan berarti suatu konsensus tidak dapat tercapai… konsensus tetap dapat tercapai akan tetapi konsensus tersebut tidak berkaitan dengan suatu bentuk tindakan mengkonvergensi atau mereduksi pelbagai konsepsi tentang iman. Konsensus yang tercapai adalah suatu konsensus untuk menghargai perbedaan dan keunikan dari setiap keyakinan yang ada… dengan begitu tercipta suatu kerukunan dan perdamaian antara seluruh umat manusia.
    rujukan untuk lebih menilai ruang privat dan ruang publik: dialektika sekularisme Habermas-Ratzinger. Budi Hardiman

    3. Komentar saya untuk Samiun: ketika kita menyoal tentang kebenaran.. bertanya tentang acuan untuk melihat outentisotas dari kebenaran.. maka kita hanya mampu melihatnya dalam kajian epistemologi. saya tidak akan menjelaskan secara kompherensif… kalau samiun mau tahu lebih banyak tentang konsep tentang “kebenaran” maka samiun mesti membaca buku2 epistemologi, ontologi, dan metafisika….
    ada kebenaran universal dan kebenaran partikular. kebenaran universal juga terdapat dalam nilai-nilai hidup yang ditawarkan dalam keagamaan. Tetapi…. saya tetap setuju dengan saudara Haqiqi Suluh dengan beberapa argumentasi:
    1. Kendati agama-agama juga mengandung nilai-nilai kebenaran universal.. kita tidak memberlakukan secara absolut satu agama sebagai kebenaran universal… bahwa agama mengambil bagian (secara partisipatoris) dalam kebenaran universal itu bisa diterima.. tetapi bahwa satu agama mesti dipaksakan sebagai kebenaran universal.. masih sebuah pertanyaan? saya bertolak dari kata2 anda bahwa Tuhan mencptakan kebenaran-kebenaran universal… yang kita mengerti dalam nilai-nilai yang kita sebut seperti kebaikan… kemanusiaan… dan sebagainya…kalau dikaji bertolak pada data empiris bukankah nilai-nilai itu tidak dihayati pada satu agama saja? bahkan seorang yang mengatakan dirinya ateis pun menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran universal itu… bertolak dari realitas maka dapat kita simpulkan bahwasanya semua nilai-nilai kebenaran universal tersebut melampaui batas-batas tembok pemisah agama, suku, dan ideologi… kerja sama di dunia… untuk hal itu dilakukan tampa memandang latar belakang yang sifatnya parsial…
    2. komentar anda keluar jalur
    saya mendukung haqiqie… sementara komentar anda samiun keluar dari konteks yang dimaksud haqiqi…haqiqi berbicara tentang kebenaran akan suatu keyakinan yang sifatnya parsial… sementara anda berbicara tentang kebenaran yang bersifat universal… kita tidak dapat mereduksi hal yang parsial kedalam hal yang universal begitu pula sebaliknya… karena kita tahu… ada kebenaran subyektif ada kebenaran obyektif… nah… kita tidak dapat campur adukan dua hal tersebut… kita hanya berusaha pahami konteks…
    3. lebih jauh.. jika setiap kita beriman.. maka tunjukan jatidiri kita sebagai orang beriman… kita hendaknya memancarkan kasih Allah.. kepada sesama… lewat praksis hidup kita sehari-hari…

  4. 5 hamba yang lemah Sabtu, 7 Januari 2012 pukul 12:16 am

    santai aj gan, kita memang tidak perlu membuktikan apa2 karena semua telah tertulis dalam al quran dan hadist, bacalah pelajarilah isi dan makna yang terkandung didalamnya….insya Alloh hidayah akan senantiasa menyertai smua aktivitas kehidupan kita smua sebagai manusia yang sangat lemah dan tidak mempunyai apa2 renungkanlah sadarilah…….

  5. 6 staynightsstay night Minggu, 18 Desember 2011 pukul 6:32 pm

    terkadang kepikiran buat jadi agnostik karna semua nya no logic mau islam kristen apapun agamanya kembali ke manusia nya sendiri agama paling benar bisa keliatan dari orng itu sendiri,,

    • 7 Sarmento Selasa, 17 Januari 2012 pukul 1:33 am

      saudari… permisi… ini komentar sya terhadap komen anda..

      1. penghayatan berkaitan dengan personalitas seseorang.. agama menawarkan nilai-nilai… dan penghayatan tergantung dari pribadi bersangkutan… jadi kenampakan penghayatan tidak dapat dijadikan basis absolut untuk menilai benar tidaknya sebuah agama… satu lagi… di dunia ini tidak ada basis absolut untuk menilai agama mana yang paling benar…
      2. agnostik? mungkin… tapi hanya agnostik dalam arti lunak… bukan agnostik mutlak… hehehehe… kenapa… ketika orang berkata tidak ada Tuhan atau kebenaran tertinggi… maka sebenarnya secara tidak langsung ia.. sudah mengakui adanya konsep tentang Tuhan.. dan kebenaran tertninggi… lalu baru dinegasikan dengan formulasi negatif (dengan jalan negatif-via negationisme)… lucu juga…
      kalau anda mau pembuktian Tuhan secara logis.. mungkin bisa baca buku-buku yang berkaitan dengan pembuktian adanya “Ada Tertinggi” secara rasional. sari pelbagai filsuf seperti al-Qindi… (tiga jalan:causa,analogis, dan teleologis) atau pembuktian adanya Allah versi Thomas Aquinas… atau Buku Metafisika Aristoteles…

  6. 8 comevreth Jumat, 9 Desember 2011 pukul 11:03 am

    Waahhhh….mantab nih artikelnyaaa.., ijin share ya gaannnn……, bgus buat menambah pngethuan org lainn…, thanks seblumnyaaaa…

  7. 9 irhamsyah Rabu, 7 Desember 2011 pukul 4:27 pm

    Hanya ALLAH lah yang tau siapa dari hambanya yang tersesat (ALQUR’AN)….,jadi kalo mau tau siapa sesungguhnya yang tersesat mati dulu aja kali ye… :)

    itu artinya jangan sembarangan ngatain seseorang ‘SESAT’

  8. 10 imam Rabu, 9 November 2011 pukul 2:53 am

    Agama itu juga yg bikin manusia, dan manusia itu tak luput dari kelalahan. Saya yakin anda smua karna dari kecil sudah di didik islam oleh orang tua anda masing2 makanya anda percaya muslim itu benar.. Coba anda pelajari smua agama dan yg mana pasti smuanya mengajarkan kebaikan. Tp blm tentu benar.. Coba renungkan..
    Anda percaya islam karna didikan orang tua anda kan?
    Anda percaya islam kerna lingkungannya anda islam kan?

  9. 14 indraphpx Minggu, 6 November 2011 pukul 10:04 pm

    setuju,,, Tidak ada kewajiban bagi anda membuktikan kepercayaan anda

    Kecuali anda memaksakan keyakinan itu, alias keimanan Islam anda pada orang lain. Dan sekali lagi, bagaimanapun keyakinan kebenaran Islam anda, jika anda membunuh, mencincang dan memenggal, “mengganggu” orang lain, maka selayaknya anda musti “menafsirkan ulang” keimanan anda, atau mungkin meninggalkannnya or mencari yang lebih baik. Demikian juga sebaliknya bagi yang tidak percaya (dan atau menganut keyakinan yang lainnya).

  10. 15 Gayus Tambuni Rabu, 2 November 2011 pukul 4:09 am

    aku mau komen juga nih . aku setuju sama mba yng komen diata gni aja deh kita berpikir logis aja boz misalkan koruptor nih dihukum 12thn penjara tuh si pemberi hukuman kan ga semena menamena memberikan hukuman kalo kaga ada bukti yg kuat kan booz sama aja tentang pernyataan lo diatas lu jawab benar ato tidak kan mesti ada alasanya knapa lo jawab benar ato tidak kalo engga itu namanya jawaban yang kosong men segala sesuatu ada alasannya men jangan asal jawab percuma tinggi2 sekolah kalo dikasih jawaban mendasar jawabnya YA atau TIDAK ky anak TK ajah sesuatu kepercayaan di nyatakan itu agama ada bukti yg nyata yang mendasari bahwa itu kepercayaan yg benar. setiap kepercayaan menganggap agamanya benar semua ada pembuktian yang logis dan nyata. kalo nulis jngn asal nulis belajar aja dulu baru nulis and berpikir bung.

  11. 18 putri Minggu, 30 Oktober 2011 pukul 4:44 pm

    ssuatu it dapat di ktakan benar atau salah jika ada kriteria dan pembanding.. silahkan di nilai sendiri dan bandingkan agama mana yg paling benar.

  12. 20 samiun Kamis, 27 Oktober 2011 pukul 10:27 am

    benar salah itu subyektif….jadi wajar bila di pertanyakan….benar menurut anda belum tentu menurut orang lain…tp cara untuk menentukan benar itu yg harus di pilih..kalo cara memilih benar itu dengan kekejian, pembunuhan, mengancam orang lain, mengintimidasi apalgi menilai orang lain salah…nah itu….anda harus selektif…. kalo cara2 diatas anda lakukan..kebenaran anda adalah kebenaran anda sendiri, bukan kebenaran universal…padahal Yang maha Kuasa menciptakan kebenaran yg universal agar umatNya bisa damai dan bahagia, bukan kebenaran individu masing2…silahkan renungkan…

    • 21 Sarmento Selasa, 17 Januari 2012 pukul 1:46 am

      Komentar saya untuk Samiun: ketika kita menyoal tentang kebenaran.. bertanya tentang acuan untuk melihat outentisotas dari kebenaran.. maka kita hanya mampu melihatnya dalam kajian epistemologi. saya tidak akan menjelaskan secara kompherensif… kalau samiun mau tahu lebih banyak tentang konsep tentang “kebenaran” maka samiun mesti membaca buku2 epistemologi, ontologi, dan metafisika….
      ada kebenaran universal dan kebenaran partikular. kebenaran universal juga terdapat dalam nilai-nilai hidup yang ditawarkan dalam keagamaan. Tetapi…. saya tetap setuju dengan saudara Haqiqi Suluh dengan beberapa argumentasi:
      1. Kendati agama-agama juga mengandung nilai-nilai kebenaran universal.. kita tidak memberlakukan secara absolut satu agama sebagai kebenaran universal… bahwa agama mengambil bagian (secara partisipatoris) dalam kebenaran universal itu bisa diterima.. tetapi bahwa satu agama mesti dipaksakan sebagai kebenaran universal.. masih sebuah pertanyaan? saya bertolak dari kata2 anda bahwa Tuhan mencptakan kebenaran-kebenaran universal… yang kita mengerti dalam nilai-nilai yang kita sebut seperti kebaikan… kemanusiaan… dan sebagainya…kalau dikaji bertolak pada data empiris bukankah nilai-nilai itu tidak dihayati pada satu agama saja? bahkan seorang yang mengatakan dirinya ateis pun menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran universal itu… bertolak dari realitas maka dapat kita simpulkan bahwasanya semua nilai-nilai kebenaran universal tersebut melampaui batas-batas tembok pemisah agama, suku, dan ideologi… kerja sama di dunia… untuk hal itu dilakukan tampa memandang latar belakang yang sifatnya parsial…
      2. komentar anda keluar jalur
      saya mendukung haqiqie… sementara komentar anda samiun keluar dari konteks yang dimaksud haqiqi…haqiqi berbicara tentang kebenaran akan suatu keyakinan yang sifatnya parsial… sementara anda berbicara tentang kebenaran yang bersifat universal… kita tidak dapat mereduksi hal yang parsial kedalam hal yang universal begitu pula sebaliknya… karena kita tahu… ada kebenaran subyektif ada kebenaran obyektif… nah… kita tidak dapat campur adukan dua hal tersebut… kita hanya berusaha pahami konteks…
      3. lebih jauh.. jika setiap kita beriman.. maka tunjukan jatidiri kita sebagai orang beriman… kita hendaknya memancarkan kasih Allah.. kepada sesama… lewat praksis hidup kita sehari-hari…

  13. 22 Daniel Ortega Kamis, 20 Oktober 2011 pukul 10:43 pm

    Semakin dalam….. semakin nikmat…… (Tasawuf)
    gadjahmada999@yahoo.co.id

  14. 23 disinisolusijitumengatasumasalahandarna Senin, 17 Oktober 2011 pukul 9:55 am

    ya saya percaya….semua agama samawi dan islam yang terakhir dam sekarang telah menjadi 72 firqoh islam


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.