Langsung saja: Saya akan memberikan sebuah pemahaman mengenai falsifikasi khususnya untuk Pernyataan tunggal. Mana Pernyataan yang dapat dikategorikan sebagai pernyataan yang bisa diuji (difalsifikasi) dengan yang tidak. Tolong bedakan diuji disini dengan diuji dalam kaitan (verifikasi). Yang saya maksud diuji itu bukan di”benarkan” oleh suatu percobaan, karena dalam prinsip atau metode falsifikasi tidak ada sebuah pernyataanpun (teori) yang bisa dbuktikan “benar” namun dia dapat “diuji” sejauh mana dia “mendekati” yang real.
Lanjutkan membaca ‘Sedikit Pemahaman Tetang Falsifikasi: Memfalsifikasi Membedakan Pernyataan Tunggal’
Tulisan yang dikaitkan 'logika'
Sedikit Pemahaman Tetang Falsifikasi: Memfalsifikasi Membedakan Pernyataan Tunggal
Diterbitkan Senin, 3 November 2008 Personal Live 4 CommentsTags: dunia, filsafat, ilmu alam, logika, pemikiran, sains
Ada dan Tiada: Sebuah Sajak Filsafat
Diterbitkan Minggu, 25 Mei 2008 Personal Idea , Personal Live , Personal Tought 49 CommentsTags: diri, dunia, emosi, filsafat, logika, puisi, sajak, syair
Buat saya, Ada dalam arti sebagai bentuk atau wujud keeksistensian saya, selalu muncul mendahului atau menegasikan Tiada. Setidaknya ini berdasarkan dogma dan atau aksioma indera saya.
Lanjutkan membaca ‘Ada dan Tiada: Sebuah Sajak Filsafat’
Ketika Keimanan itu Jadi Sesuatu Yang Konyol
Diterbitkan Jumat, 2 Mei 2008 Personal Idea , Personal Live , Personal Tought 94 CommentsTags: agama, emosi, filsafat, iman, kepercayaan, logika
Sebelum membaca tulisan ini, saya harap anda tidak dalam keadaan emosional negatif seperti marah marah atau sejenis terutama kalau anda keemosional atau emosi negatif anda itu muncul karena alasan keagamaan dan sejenisnya. Saya disini hanya ingin mengemukakan sesuatu yang saya anggap atau mungkin banyak orang menganggap sebagai sebuah joke atau guyonan atau kekonyolan seorang yang gila atau tidak waras atau lagi mabuk.
Keimanan dalam arti tertentu merupakan sesuatu yang tidak bisa dibuktikan atau dicarikan alasan yang benar benar tak tergoyahkan. Keimanan itu masalah hati. Dalam budaya plural yang menjujung hak asasi dan pendapat setiap orang, menghargai kepercayaan orang lain merupakan sesuatu tuntutan moral sosial yang berlaku dimasyarakat atau kebudayaan itu. Nah yang menjadi permasalahan adalah ketika keimanan terhadap sesuatu hal itu merupakan sesuatu yang menggelikan atau konyol atau benar benar gak masuk akal dimata yang lainnya.
Lanjutkan membaca ‘Ketika Keimanan itu Jadi Sesuatu Yang Konyol’
Aku dan Saya: Kenyamanan Linguistik Prosedural
Diterbitkan Selasa, 16 Oktober 2007 Personal Live , Personal Tought 3 CommentsTags: , diri, emosi, hati, logika, pemikiran
Kerap kali hamba mengalami kesulitan atau kebingungan lebih bagus atau baik atau nyaman mana menggunakan istilah pengganti diri: Aku atau Saya? Istilah “Aku” memang dalam beberapa budaya tertentu di indonesia ataupun dalam sejumlah orang memiliki kesan egoisme atau kebanggaan diri yang berlebihan serta tidak mengandung kerendahan hati. Sedangkan “Saya” lebih mengandung kerendahan hati dan sedikit jauh dari kesan sombong. Hamba pun mengetahui kenyataan ini. Menggunakan kata “Aku” untuk pembicaraan kepada orang yang kita hormati atau lebih tua kadang merupakan sejenis penghinaan atau setidaknya kekurang hormatan. Sedangkan penggunaan kata “Saya” lebih nyaman dan hormat dari pada kata “Aku” kalau ditinjau dari segi kenyamanan emosi hati.
Lanjutkan membaca ‘Aku dan Saya: Kenyamanan Linguistik Prosedural’
Menggugat Yang Maha, Menjernihkan Istilah?
Diterbitkan Minggu, 23 September 2007 Tak Berkategori 22 CommentsTags: agama, artikel, bahasa, buku, dialog, diri, dunia, emosi, filsafat, hati, hidup, logika, pemikiran
Suatu saat (kira-kira 7 tahun yang lalu seingatku), dalam perjalanan pembacaanku terhadap kata pengantar sebuah buku (Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, karya: Jujun S. Suriasumantri), yang kemudian juga ditambah dengan perjalanan tanya jawab maupun diskusi-diskusi, Aku menemukan sesuatu yang dulu cukup mengguncangkan pikiranku. Sesuatu yang mengguncangkan itu merupakan sebuah proposisi atau pernyataan yang berbunyi,
Kalau Tuhan Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut.
Supaya tidak menimbulkan efek yang terlalu mengguncang bagi anda yang memiliki kepercayaan tertentu, Aku akan mengubah subjeknya menjadi lebih berkenan di emosi keimanan,
Kalau Superman Maha Kuasa, maka Ia kuasa membuat batu yang maha besar sehingga Ia tidak kuasa mengangkat batu tersebut.
Aku pikir banyak orang yang telah menghadapi pertanyaan “sensitif” seperti ini, dan aku juga merasa sudah cukup banyak juga orang “yang merasa” mengetahui jawaban atau setidaknya memiliki kemampuan menjawab atas problem tersebut diatas. Akan tetapi aku harap anda menyimak apa yang akan aku sampaikan berikut ini.
Antara Agama, Sekte, Ideologi, Aliran, Ide, Pemikiran Dan Sejenisnya: Mengelola Perbedaan
Diterbitkan Senin, 17 September 2007 Tak Berkategori 3 CommentsTags: agama, artikel, dialog, dunia, emosi, estetika, etika, filsafat, hati, hidup, logika, manusia, masyarakat, moral, orang, pemikiran, politik, rakyat, sosial
Realitas di sekeliling kita selalu saja menyuguhkan sebuah fakta bahwa yang aku, dan bukan-aku, yang anda dan bukan-anda, yang kami dan bukan-kami, atau yang kita dan bukan-kita, berwajah dan berperilaku sama dan bukan-sama. Kebhinnekaan dalam ruang tunggal selalu saja menerobos masuk ke dalam ruang privat, ruang pikir, ruang keluarga, ruang emosi, ruang rupa, maupun ruang-ruang yang lainnya dalam satu kekontinuan waktu sadar kita. Seberapapun hebat, seberapapun ternama, seberapapun suci, seseorang atau sebuah organisasi, yang ingin menanamkan dalam benak kesadaran ku dan bukan-aku, bahwasanya realitas beda disekeliling kita, merupakan sebuah imajinasi semu, atau mungkin sebuah kepalsuan, atau bahkan bukan sebagai kebenaran, ia tidak akan mampu mengubah keyakinanku dan mungkin keyakinan bukan-aku. Kejamakan, kebernekaan, kewarnawarnian dunia adalah fakta indera sekaligus fakta logika.
Antara Titik, Garis, Bidang, Ruang dan Kontinuitas: Sebuah Tinjauan Filosofis
Diterbitkan Jumat, 7 September 2007 Tak Berkategori 9 CommentsTags: artikel, belajar, diri, dunia, filsafat, fisika, hidup, ilmu alam, logika, manusia, matematika, pemikiran
Sewaktu SMU dulu saya masih teringat salah satu penjelasan dari guru matematika saya mengenai hubungan garis dan titik. Saya juga mengetahui bahwa pendekatan atau pemahaman yang Guru SMU saya sampaikan atau ajarkan kepada saya, juga merupakan sebuah pemahaman yang digunakan dalam banyak bidang. Yang paling modern adalah dalam bidang komputer grafis. Monitor Televisi, Monitor Komputer, Gambar Digital, Gerakan Sebuah Film dan masih banyak bidang lainnya yang menggunakan pendekatan Guru SMU saya ini. Tetapi saya selalu memendam satu pertanyaan atau keraguan yang sampai sekarang belum bisa saya pecahkan.
Aku, Bukan-Aku dan Kesombongan Ide: Sebuah Renungan Hidup
Diterbitkan Senin, 27 Agustus 2007 Tak Berkategori 5 CommentsTags: artikel, dialog, diri, emosi, etika, hati, hidup, logika, memori, moral, orang, pengalaman
Ternyata bersikap konsisten dalam berpikir dan berlogika tidaklah semudah yang ku bayangkan. Untuk menjadikan sebuah pemikiran konsisten dari awal sampai akhir dibutuhkan beberapa premis atau asumsi dasar yang kokoh seperti sebuah postulat atau hukum apriori. Disinilah letak kelemahanku dalam berfikir. Pengetahuan dan pengalamanku sangatlah sedikit untuk dapat menyusun sebuah asumsi dasar yang kokoh dan tak tergoyahkan. Setiap kali aku berusaha menyusun argumen dan pemikiran yang konsisten ternyata aku menemui kesulitan karena adanya fakta atau data baru yang menyanggah atau menyangkal asumsi dasarku.
Memasuki Belantara Filsafat: Berkawan Dengan Kebingungan-kebingungan
Diterbitkan Selasa, 17 Juli 2007 Tak Berkategori 20 CommentsTags: artikel, dialog, diri, dunia, emosi, filsafat, hati, hidup, logika, manusia, memori, orang, pemikiran, pengalaman
Saya tahu bahwa apa yang saya ketahui dan saya pahami lewat jejak petualangan saya di belantara filsafat sangatlah dangkal dan sedikit. Saya pun sekarang ini jarang sekali berusaha untuk menembus hutan raya filsafat dalam keseharian saya. Saya dalam satu minggu bahkah hanya menyempatkan membaca atau menelusuri beberapa halaman sebuah buku yang bisa dikategorikan dalam “penghuni hutan filsafat”. Intensitas saya memasuki belantara ini sudah sedemikian lelah namun juga sama sekali tidak ingin beristirahat. Saya masih memiliki hasrat yang kuat untuk terus meneruskan perjalanan saya walaupun sampai saat ini yang saya peroleh hanyalah bertambahnya wawasan-wawasan atas pertanyaan-pertanyaan filosofis saya namun tidak sampai bisa menuntaskan jawabannya. Saya semakin menyadari bahwa saya sesungguhnya tidak tahu apa apa. Realitas dunia dan diri saya sendiri, yang memunculkan berlaksa tanya yang menggetarkan pikiran saya, memang akan selalu membuat saya tertegun, termenung dan tersungkur.
Komentar Anda