Kediri, 11 Agustus 2010 Jam 2 Pagi
….Cuma Lagi Pengen Nulis…
Sekilas saya teringat pada sebuah judul film yang dibintangi will smith ketika saya memikirkan atau lebih tepat sedang menuliskan judul dari artikel ini: The Pursuit of Happiness. Jujur, saya belum pernah nonton film ini, cuma pernah beli vcdnya dan belum sempat saya tonton karena tidak bisa diputar di laptop saya. Saya tidak tahu isinya, walaupun ketika memikirkan tentang “Kebahagiaan” saya sering teringat tentang judul film tersebut.
Kembali ke topik.
Sekilas mengenai Kebahagiaan
Kebahagiaan dalam arti paling sederhana adalah RASA MANUSIA. Maksudnya adalah kebahagiaan adalah suatu kondisi dimana seseorang insan manusia mengalami “perasaan – (perasaan)” atau “emosi – (emosi)” bahagia. Dalam pengalaman “pribadi” saya sebagai manusia, identitas rasa ini selalu saja merupakan entitas yang temporer, dengan demikian kebahagian juga memiliki suatu rentang periode tertentu. Bahagia adalah bagian dari rasa. Bagian dari manusia.
Pelabelan “rasa tertentu” yang mengada dalam diri manusia menjadi nama “bahagia”, saya pikir lebih pada sebuah proses kategorisasi. Rasa atau emosi dalam diri manusia secara holistik adalah “SATU”, namun ia mengejawantah dalam berbagai bentuk yang “oleh kita” sepertinya berbeda beda. Perbedaan perbedaan inilah yang kemudian kita namai berbeda beda. Sedih, Haru, Tawa, Takut, dan sebagainya adalah bentuk bentuk dari RASA yang satu.
Senang, Suka, Gembira, merupakan penamaan penamaan dari beberapa pengejawantahan perasaan / emosi. Bahagia merupakan sebuah hal yang unik (sejauh dari pengalaman bahasa saya), yang menempati posisi yang levelnya lebih tinggi dari sekedar senang, suka, enak, atau gembira. Bahagia secara personal memiliki tingkat yang lebih tinggi dari sekedar senang. Bahagia bisa mencakup senang, gembira, suka, namun senang belum tentulah merupakan hal yang seseorang rasakan sebagai “kebahagiaan”.
Penggunaan kata bahagia dalam kesehari harian tidak pernah (jarang sekali) dinisbahkan pada peristiwa peristiwa yang temporer (memiliki periode yang singkat). Contohnya ketika kita mendapat sebuah kejutan dari sahabat, kita akan mengatakan bahwa perasaan kita senang, atau gembira, atau suka, tetapi penggunaan kata bahagia kurang tepat dalam peristiwa tersebut.
Bahagia digunakan lebih pada penghayatan atau penilaian kehidupan yang telah ditempuh atau akan ditempuh (dalam rentang yang cukup panjang). Dia lebih bersifat umum dan lebih mendalam.
Apakah engkau Bahagia? Pertanyaan seperti ini, sering kali ditanyakan bukan karena adanya sebuah moment tertentu. Ia bersifat mempertanyakan “kehidupan” yang telah dijalaninya. Bahagia adalah sebuah taraf yang rasa dari kumpulan kumpulan rasa.
Mencari Kebahagiaan?
Continue reading ‘Mencari Kebahagiaan – Sebuah Renungan Filsafat’
Iseng iseng tadi pagi saya nulis status facebook saya tentang islam. Sejauh yang saya pahami, Agama itu dalam ruang lingkup pengetahuan manusia (sebagaimana pernah saya pelajari dulu di sekolahan) termasuk dalam kategori budaya manusia.
Islam itu Ngarab
Ngarab dalam hal ini tentunya sebuah proses. Ngarab itu kerja, Arab itu benda. Proses Mengarab. Demikianlah yang saya maksud. Sebaiknya tidak usah saya jelaskan lebih lanjut. Saya cuma sedikit tersenyum ketika ada yang menimpali tulisan status FB saya tersebut di blog ini.
Inilah status fb lengkap saya:
Islam itu Ngarab, Bahasanya Arab, Anaknya pun dikasih nama Arap. Budaya Indonesia Asli itu pun jadi Ngarab, Arab itu jadi Indonesia. Globalisasi ada sejak dahulu kala: Lah wong Budaya Arab aja dah Nyampe sini sejak dulu kala toh? . Arab tuh Jauuuhh. Suer Jauh mannnn!!
Inilah komentar yang membuat saya tersenyum di blog ini:
Status Facebook anda Haqiqi Sulus :
Islam itu Ngarab sama artinya anda tidak tau Islam itu seperti apa.
Saya rasa itu tampilan kebodohan asli anda dalam menilai islam.Sebaiknya anda tulis saja anda non muslim tak tau tentang islam, Jadi jangan bicara tentang islam apalagi mengartikan islam bila tak tau sama sekali dengan islam.
Sebaiknya status Facebook anda tak layak dipublikasikan
Sekedar Senyum untuk Anda
Haqiqie Suluh
Sebelumnya saya ingin mengemukakan bahwa apa yang saya tuliskan disini lebih kepada apa yang “saya rasakan” dan apa “yang saya simpulkan” tanpa melalui riset atau semacamnya. Jadi asumsi asumsi yang saya bawa merupakan asumsi subjektif saya yang bisa jadi berbeda dengan anda. Asumsi ini saya anggap sebagai sebuah pijakan untuk kemudian saya kembangkan dalam tulisan ini. Berikut Situasinya
Saya “merasakan” bahwa ada sebuah “kesamaan” persepsi dalam banyak orang yang “mengidentikkan” pemilihan sebuah partai politik ibaratnya memilih sebuah kepercayaan agama. Menurut saya, atau asumsi yang saya bangun mengenai dua tersebut (partai dan agama) terdapat kesenjangan atau perbedaan yang significant secara “greget keimanan” atau “greget pilihan”. Agama diletakkan lebih tinggi dibandingkan dengan sebuah simbol “kepartaian”. Hanya saja terkadang saya menangkap dalam perbicangan, diskusi, komentar, atau tulisan tulisan yang “sepertinya” menyamakan (bahkan lebih) tingkat keimanan atau pilihan antara Agama dan Partai.
Continue reading ‘Agama dan Partai Politik – Tinjauan Psikologis dan Keimanan’
Suatu ketika saya berkunjung ke candi buddha terbesar di Indonesia (Katanya sih juga di Dunia): Candi Borobudur. Saya tidak akan mengupas akan kekaguman dan kemegahan Borobudur sebagaimana sering diceritkan dan ditularkan oleh sebagian orang. Saya juga tidak akan mengungkap atau menularkan hal hal mengenai Borubodur. Saya hanya tertegun ketika Kemarin Kamis tanggal 21 Mei 2008 Saya kembali mengunjungi Candi Borobudur tersebut. Tiba tiba, sebuah rasa dan pikir ketika menyimak Stupa Puncak Borobudur bergelantungan di otak dan indera rasaku.
Ingatan saya waktu itu kembali ketika saya ke Borobudur tahun lalu. Ingatan saya membekas ketika seorang wanita China or Hongkong or Tiongkok or entah dari mana melakukan ritual tertentu di Stupa Puncak itu. Dia menyentuhkan tangannya ke bagian pinggir stupa itu dan kemudian memutarinya. Sebuah ritual yang agak asing tapi juga sempat mengingatkanku waktu nonton televisi mengenai Biksu Tibet yang juga suka mengitari kuil or sejenisnya. Saya agak lupa.
Bagi yang pernah membaca postingan puisiku yang berjudul AKu Sang Kebenaran Sejati, mungkin anda akan menerjemahkan sesuai dengan pemikiran dan wawasan anda. Mungkin pemahaman yang anda bangun bisa sama dengan apa yang saya maksudkan dan inginkan, tetapi kemungkinan bahwa pemahaman atau terjemahan anda pada puisi ngawurku tersebut berbeda dengan pemahaman atau maksud yang saya inginkan, juga sama besar. Artinya anda bisa sama dengan maksud saya menulis puisi tersebut, tapi bisa juga tak sama.
Sesungguhnya, apa yang saya maksudkan dari puisi tersebut (sebagaimana sebuah note dibawahnya yang saya samarkan dengan warna putih sesuai background sehingga tidak bisa terbaca langsung) berawal dari pemahaman saya akan wawasan dari Rene Descartes.
Sedih yang tak berujung… dan sejenisnya sesungguhnya merupakan sebuah ungkapan Emosional…. Jika di nalar logis per kandungan kata, maka sensasi emosionalnya akan hilang dan menghasilkan sebuah argumentasi yang gak logis: sedih gak mungkiin tak berujung… toh kita pasti mati, itu akhir kesedihan… dan sejenisnya…
Beda kalau di kaitkan dengan keemosionalan kalimat “sedih tak berujung” yang mengandung maksud bahwa seseorang sedang mengalami kesedihan yang dalam sehingga merasa sedihnya seperti tak punya ujung atau tak memiliki perhentian…
Atau lebih tepatnya itu sebuah ungkapan yang “menyajak” atau “mempuisi” bukan ungkapan “argumentasional”… lebih merujuk ke “hati” dibading “otak”, lebih merujuk ke emosi dibading kognisi..
Sekedar merenung
Haqiqie Suluh
tiba tiba blog2 ku gak bisa di akses… kena suspend.. katanya salah satu subdomainku ngabisin resourses… gila padahal blog tuh cuma 1000 Pageview per hari…
Sedih… Sedih… Sedih…
Moga qwords mau mengembalikan blogku lagi…
Apakah Mungkin Perdamaian Dunia (atau Perdamaian Massive) bisa tercapai Tanpa Senjata?
Mengingat Sejarah dan Karateristike Personalitas Manusia maka Jawabannya adalah MUSTAHIL
Dalam Negara: Tentara ada
Dalam Kota: Polisi Ada
Dalam Mall: Satpam Ada
Dan Tentunya Berbagai Macam Bentuk Senjata bersama mereka.
Sebenernya secara psikologis, senjata ataupun alat perang disini merupakan sebuah potensi ancaman. Ancaman disini bisa digunakan untuk Meredam atau untuk Menyerang. Nah manakah yang akan kita pilih? Silahkan Renungi.
Senjata itu Ancaman
Ancaman itu Ketakutan
Ketakutan itu Meredam Tindakan
Jadilah Proses Perdamaiandan Sesungguhnya Emosi Takut itu INTI dari Perdamaian
Damai Situasional bukan Damai Psikologis Personal
Komentar Anda