The First: My Journey to the Present World

Langkah pertama terasa berat bagiku. Bukan saja karena pikiranku yang lemah, tapi juga hasratku yang malas. Eh, ternyata kemalasan itu nyebar juga sampai soal isi-mengisi coretan huruf di blog ini. Nah, hanya setelah ditulari virus “blog” dari seorang kawan (inisialnya YP), aku memberanikan diri membongkar-pasang blog ini. Walau, aku tak tahu apa yang mau kupasang di dalamnya (jangan tanya soal bongkar-membongkar lho, karena belum ada yang bisa kubongkar).

Syahdan, pertengahan tahun 1980 aku dilahirkan (Itu kata Pa’e dan Bu’eku, dan karena alasan praktis aku percaya juga, uniknya, aku lahir dengan kaki yang nongol duluan, itu juga masih katanya Pa’e dan Bu’e, he.. he.. he..). Kata temanku, aku beruntung bisa lahir sebagai manusia, bukan sebagai monyet, karena kalau jadi monyet, kata temenku, dia tak akan mau temanan sama aku. Maklum deh, kan dulu masih anak kecil, pikirannya juga kecil. “Coba kalau kamu jadi monyet, kamu tak bisa main, tak bisa sekolah, tak bisa ngomong, tak bisa nulis, tak bisa baca, tak bisa main sepeda, tak bisa main kelereng, dan lain-lain (Kecuali jadi monyetnya tukang monyet yang kerjaannya nari-nari keliling-keliling kampung. Tapi itu pun hanya akan dijadikan monyet pencari uang receh bagi si tukang monyet (jadi budak jelasnya), bukan sebagai monyet yang “bebas” melakoni hidup sekehendakmu sendiri).” Kalau yang ini kata Guru SDku dulu.

Pernah Aku pergi ke Gembira Loka. Di sana kulihat monyet. Aku pernah juga melihatnya di Gunung Slamet, di Gunung Merbabu, di Gunung Lawu, juga di Sangeh Bali (sayang, di Gunung Sumbing dan Gunung Merapi aku tidak melihat monyet). Di tempat-tempat itulah ingatanku sering ada kalau bicara soal monyet. Kata orang-orang, kita seturunan dengan hewan itu. Kalau tidak salah, Guru Biologi SMPku juga sering bilang begitu (Pak Hesti namanya, seorang yang kocak dan lucu yang dapat mertua yang kebetulan juga punya habitat yang sama, seorang guru). Guyonannya juga sering kali seputar monyet-memonyet.

Waktu SMU, yang hadir di telinga seputar monyet, lha, ternyata, kok beda banget!! Kebohongan besar kalau kita itu satu turunan dengan monyet. Kita adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Kita mengemban tugas yang mulia. Kita adalah khalifah di muka bumi ini. Khalifatul fil ard. Teori evolusi yang melahirkan konsep manusia satu moyang dengan monyet adalah kesalahan dan kebohongan besar…dst. Monyet disini diletakkan sebagai sebuah wacana yang penting dan serius, yang perlu disikapi dengan serius dan matang, seolah-olah dianggap sebagai arus kejahatan ideologi yang bisa merusak generasi. Monyet tidak lagi jadi sekedar guyonan atau bahan tertawaan.

Uniknya, pernyataan-pernyataan tersebut aku dapat bukan di ruang kelas, tapi dari kakak-kakak kelasku yang “membinaku”. Aku dibina seperti itu di ruang masjid oleh sebuah organisasi kerohanian di sekolah yang kuikuti karena aku memang menganut agama Islam—suatu keyakinan terbesar di Indonesia, yang beruntung aku warisi dari kedua orang tuaku, sehingga membuatku selalu nyaman dan aman pergi kemana pun di Pulau Jawa dengan menyandang keyakinan ini (Kenapa? Kan mayoritas…). Lambat laun pernyataan-pernyataan itu mengeras menjadi keyakinan-keyakinan. Keyakinan-keyakinan yang keras perlahan-lahan menjadi sikap-sikap yang keras.

Lalu, tibalah waktu jadi mahasiswa tepat di penghujung akhir abad 20. Isu soal monyet-memonyet sudah reda. Sebagai gantinya isu syariat dan keimanan melingkari hidupku. Dua tahun pertama hampir selalu bertatap muka dengan isu-isu ini. Mungkin, aku pikir, hal ini merupakan sebuah proses yang dilalui oleh banyak mahasiswa. Apalagi teman-temanku juga banyak yang berhasrat dengan isu semacam ini. Kalau tak salah ingat yang paling santer didengungkan waktu itu adalah jihad di Pulau ambon. Harus kuakui juga, kalau aku cukup simpati dengan gerakan Salafi pimpinan AN (bukan JUT) dan Jamaah Tarbiyah (cikal bakal PKS), yang waktu itu lagi berkembang di kota Jogja.

Dua tahun pertama aku itu lalui dalam lingkaran orang-orang agamis. Hanya saja tahun ketiga di Jogja, walaupun masih dalam lingkaran orang-orang agamis, pengaruh penyeimbang mulai ada dalam lingkaran hidupku. Soal monyet-memonyet mulai hadir kembali dalam pikiranku.

Mulai waktu itu, isu monyet lambat laun mulai jadi pokok pembicaraan dan pergulatan pemikiranku. Dari soal kacamata hitam yang kubayangkan dipakai si monyet, sampai, berandai-andai si monyet itu adalah aku. Salah satu orang yang berpengaruh dalam lingkaran penyeimbang, pernah berkata padaku,”Bayangkan kamu pakai kacamata hitam seumur hidupmu, apakah yang akan kamu lihat dan percayai? Kamu akan terus melihat dunia ini hanya memiliki warna putih, abu-abu dan hitam, dan kamu akan mempercayai hal ini seumur hidupmu. Jikalau kamu diberitahu bahwa ada warna selain itu kamu tak akan percaya.”

Selagi aku masih manggut-manggut dan mengkerutkan dahiku, ia menambahi, “Kemudian, bayangkan kamu adalah seekor monyet. Kamu sudah merasa hidup nyaman di hutan dengan segala kelimpahan rezeki untuk makan sehari-hari. Kamu seakan-akan tahu segalanya tentang hutanmu. Kamu merasa kamu penguasa hutan itu. Hingga, suatu saat ada satu makhluk tak berbulu yang berjalan tegak dengan dua kaki melihatmu. Kamu ketakutan setengah mati. Kamu anggap ia seperti monster. Kamu berlari menjauh. Lalu hari berikutnya ia datang. Ia melempar makanan kepadamu. Kamu dengan curiga mendekati makanan itu. Kamu ambil dan makan makanan itu. Hari berikutnya ia datang dengan lemparan makanan lagi. Kamu ambil dan makan. Demikian sampai berkali-kali. Sampai lama-lama kau menyukai makhluk itu dan tak menganggapnya lagi sebagai monster menakutkan. Tetapi suatu saat ia datang dengan teman-teman sejenisnya. Ia dekati wilayahmu. Ia membawa barang-barang yang belum pernah kamu lihat dan dengar. Dan dengan barang-barang tersebut, Ia kemudian tumbangkan pohon-pohonmu. Ia ratakan hutanmu. Ia bunuh saudara-saudaramu. Kamu ketakutan. Kamu bersembunyi. Kamu mengiba-iba. Kamu berdoa. Walaupun kamu tahu bahasamu tak digubris dan tak didengarkan mereka. Kamu sadar kamu tak bisa apa-apa dihadapan mereka. Cintamu berubah jadi benci. Tiba-tiba kamu seperti terbangun dari khayalan.” Aku seperti mendapat pencerahan ketika mendengar kedua argumentasi tersebut.

Kini…. Aku memang bukanlah seekor monyet. Aku sadar bahwa aku adalah manusia yang ingat akan diri dan keberadaanku. Secara unik, aku memiliki kesadaran yang terinsafi (conscious awareness). Aku tahu bahwa aku ada. Aku tahu bahwa aku bergerak. Aku tahu bahwa aku hidup. Aku tahu bahwa aku berpikir. Hanya, mungkin saja aku hidup dengan kacamata yang mengilusikan keyakinanku? Atau dengan kacamata yang hanya melihat realitas semu? Tapi setidaknya, sampai detik ini, aku sadar dengan sesadar-sadarnya, aku pernah sedikitnya memakai dua buah kacamata. Yang pertama, kacamata berlensa Islam (sebagai ideologi/ pemikiran tentunya, bukan sebagai jalan hidup), satunya lagi kacamata berlensa Sains. Masing-masing memberikan realitas kebenaran menurut hasil olahan dari lensa kacamatanya sendiri-sendiri, yang tentu saja bukan kebenaran yang sebenarnya.

Kata temanku (inisialnya HM), kita hanya dapat menemukan kebenaran dalam perspektif, tanpa pernah menemukan kebenaran dalam hakikatnya. Atau dalam bahasa guruku yang telah tiada (inisialnya IK), kita hanya dapat mengakses dunia fenoumenal, dan tak akan pernah mengerti dan tahu tentang dunia noumenal. Kenapa? Karena kita tak akan pernah bisa melepas kacamata yang kita pakai seumur hidup kita, yaitu, kacamata berlensa aparatus indera manusia (dan bagi monyet, kacamata berlensa aparatus indera monyet). Dan aku sadar, tanpa kacamata berlensa aparatus indera manusia, aku tidak akan bisa melangsungkan kehidupanku, demikian juga halnya dengan si monyet. Untuk hal ini aku merasa harus bersyukur.

Dan… dalam metafora monyet, mungkin, kita adalah monyet-monyet yang hidup di hutan belantara bumi… yang ketakutan pada makhluk yang lebih kuat dan kuasa sekaligus kadang merindukan dan mencintai makhluk tersebut…. Ia kadang datang dengan membawa manisnya nikmat rezeki… kadang pula datang dengan membawa bencana yang pedih dan pilu. Mungkin hidup kita ini merupakan permainan yang dipermainkan oleh kehendak hati makhluk itu.

Andai saja persoalan monyet bukan hanya persoalan metafora. Dan andai metafora bisa menerjemahkan realitas sesungguhnya. Inilah sekelumit sejarah hidupku, sejarah hidup seorang manusia. Sejarah hidup Haqiqie Suluh. Sejarah hidup yang tentunya hanya hadir lewat sebuah lensa kacamata, yaitu lensa kacamata pengalamanku; lebih khusus lagi lensa kacamata pengalaman pemikiranku.

Dalam kesadaran akan kekinian diri, di dasar hati yang terdalam, kurasakan, aku itu nyaris tidak tahu apa-apa.

Ketika kepala terantuk batu

Baru kita tersadar

Ah, sakit juga!!

Ketika tanya tehempas ombak jawab

Baru kita tersadar

Ah, betul juga!!

Iklan

3 Responses to “The First: My Journey to the Present World”


  1. 1 chiket Rabu, 13 Juni 2007 pukul 7:42 pm

    saia maklum thd koment kawanmu itu (HM):”kita hanya dapat menemukan kebenaran dalam perspektif”,tapi jika ‘persepsi’ itu masih dibalut dengan ‘ego’..ya sama aja..buta..’kacamata’mu adalah ‘ego’mu.’ada’mu masih ‘ego’mu,kenali dulu ‘dirimu’,kenali dulu ‘ego’mu,hapus dulu ‘ego’mu,baru kita bisa bicara ‘saia sadar’.tak bisakah kita memeras sgala kebijaksanaan menjadi setetes intisari dari segalanya,yaitu antara ‘aku’ dan ‘ego’.pertarungan terhebat adalah yang ‘di dalam’ dengan ‘ego’nya sendiri.slamat berjuang!!!

    syalut buat mbak or mas chiket yang telah bisa mengenali egonya… eh ego tuh apa sih? Gak mudeng saya.. egonya Frued apa yang lain? Saya jadi bingung nich… :D mohon penjelasannya.. posting diblog mbak or mas chiket lebih baik…. sayangkan ilmu gak dibagi bagi kepada yang masih ijo kayak saya… *kompor mode :ON*

  2. 2 chiket Kamis, 14 Juni 2007 pukul 8:56 pm

    suatu hari..kawan saia bertanya “‘ego’tu apa?”,trus tak coba jelasin ke dia sedetil mungkin…bla..bla..bla..eh bukannya tambah mudhenk malah tambah mumet dia..ha..ha..disitu saia menyadari..tidak mampu meng’hack’ persepsinya..entah itu karena benteng ‘ideologinya’ or somethin else i dont know, but one thing im sure that the per person that i’ve met is nothin but ‘ego’ it self.di laen hari waktu ketemu dia..aq bilang “ego adalah semua/sgala yang kamu pikirkan, so..just let it go”,he said “but thts impossible,we cant live without our minds”, i said “how bout try it first..catch me later”.

    wah hebat bener yach mbak or mas chiket nich… bisa banyak tahu.. saking dalam pemahamannya sampai orang biasa aja gak ngerti… termasuk saya mungkin… ah gak tahu juga… selamat-selamat atas pemahaman “ego” nya… salut…

  3. 3 etikesen Rabu, 18 Juli 2007 pukul 4:49 pm

    monyet-memonyet, dengan pengetahuanku yang sangat terbatas, konon monyet-memonyet ini direkayasa untuk menjustifikasi kebenaran “tidak ada tuhan”, “segala alam, manusia, dan kehidupan” mengada dengan sendirinya” dengan metode ilmiah. oleh karenanya, direkayasalah manusia purba, direkayasalah monyet yang struktur tubuh dan tulangnya perlahan2 menyerupai manusia, padahal tulang2 itu sudah dilumuri dengan bahan2 kimia, jadi tulang2 itu hanya boong2an.
    tujuannya apa? ya supaya banyak orang yang ikut ketidakyakinan mereka pada adanya tuhan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: