The Second: My Contemplation I; Dialectic of My Conscious Mind

Melimpahnya sudut pandang kita dalam memahami dunia dan berusaha merekayasa dunia dalam bentuk tertentu demi kebutuhan hidup manusia merupakan suatu kemajuan yang cepat. Sistematika yang dikembangkan oleh manusia dalam menyerap setiap pemahaman dari sudut pandang yang berbeda menjadikan manusia merupakan organisme yang paling unggul diantara organisme yang ada di permukaan bumi (geosfer).

Kemampuan diriku sendiri dalam merenungkan setiap perjalanan dan pengalaman hidup dalam sebuah tulisan merupakan keunggulan yang sangat bermanfaat bagiku sendiri. Dengan melalui jembatan kecerdasan yang unik dari manusia ia mampu menjadikan sebuah evolusi pemikiran dari manusia itu sendiri. Terobosan terbesar dari dunia evolusi manusia aku pikir terletak bukan pada perubahan bentuk fisik manusia tetapi pada pola berfikir dan kecerdasan yang ia miliki.

Demikian banyaknya studi ilmu yang berusaha mempelajari aspek kehidupan dan materi di dunia merupakan suatu bukti yang tak terbantahkan dari evolusi pemikiran manusia itu sendiri. Kelimpahan sumber pengetahuan ini sesungguhnya bila kita renungkan dari sejarah kehidupan manusia secara individual merupakan hal yang absurd atau tak memiliki nilai. Pikirkan saja rentang hidup seorang manusia yang hanya paling lama sekitar 100 tahun, betapa sedikit yang dapat diperoleh oleh manusia dalam merangkum setiap pengetahuan dan pengalaman yang ada di muka bumi ini. tidaklah salah mengatakan bahwa kehidupan ini merupakan kehidupan yang singkat, sesingkat kedipan mata kita apabila dibandingkan dengan umur semesta yang mencapai jutaan tahun bahkan miliaran tahun. Kesadaran akan kefanaan ini kemudian banyak menjangkiti virus keputusasaan dalam hati manusia. Manusia akan menjadi lelah dalam mencari pengetahuan dan kemudia berusaha untuk merenungi kehidupannya sendiri dan menjadi tambatan atau pegangan dalam mengatasi badai keputusasaan. Secara keseluruhan banyak sekali manusia yang kemudian menggantungkan kehidupannya pada otoritas keimanan tertentu dari suatu agama. Inilah yang kemudian ia gunakan sebagai pegangan dan pedoman. Kegairahan akan pengetahuan lambat laun menghilang dan digantikan pada kepatuhan mutlak tak terbantahkan atas otoritas agama ini.

Maka adalah sebuah kewajaran jika banyak orang kemudian menjadikan agama sebagai sumber pencarian kedamaian dan kebenaran. Alih-alih berusaha untuk mengatasi keputusasaan dengan keberanian, mereka malah takluk pada suatu otoritas tertentu yang membuat nyaman diri dan hati mereka walau belum diselidiki secara sungguh-sungguh kebenarannya. Kebanyakan orang yang kutemui secara langsung selama aku hidup menggantungkan kehidupannya pada jalan ini atau setidaknya mempercayai jalan yang diberikan oleh agama pada kehidupannya.

Aku bukanlah merupakan seseorang yang mengidam kepercayaan seperti mereka. Dengan demikian aku merupakan sosok yang sendirian ditengah gerombolan yang buta. Gerombolan buta yang menyandarkan kepercayaan pada orang yang sama-sama buta dalam mencari petunjuk kebenaran akan dirinya dan dunia. Sedangkan aku walaupun menyadari bahwa diriku merupakan salah satu dari orang yang buta namun aku terus berusaha meraba-raba dan menggunakan segala kemampuanku yang masih tersisa untuk mencari jalan sendiri atas kebenaran diri dan kehidupan yang aku jalani. Kesendirian memang begitu mengelisahkan tetapi dalam pencarian yang aku jalani aku lebih memilih jalan ini dari pada harus menyodorkan tangan ke pundak orang yang sama-sama buta yang berbaris seperti kereta yang mereka tak tahu ujungnya dimana. Lebih baik mencari dalam kesepian daripada dalam kepatuhan dan ketertundukan. Itulah jiwa dari petualangan yang aku jalani sekarang ini. Pada diriku aku berharap agar terus bertahan dalam gelombang ketidakpastian ini.

Aku menyadari bahwa ada orang-orang yang seperti aku dalam pencarian dan perjalanan hidupnya tetapi sampai saat ini aku belum bertemu dan bertatap muka secara langsung dengan mereka. Aku hanya dapat mengenal mereka lewat tulisan-tulisan mereka. Dan kenyataanya mereka seringkali merupakan orang yang diluar negara yang aku anut. Jauh di daratan Eropa dan Amerika sana. Merekalah orang-orang yang mencari dalam kesendirian dan tidak mengekor pada orang-orang buta. Aku mencintai sikap mereka. Dan kuharap jika memang Tuhan itu ada, ia akan mengatakan bahwa jalan yang aku tempuh merupakan suatu jalan yang berada dalam jalur yang telah tepat.

Aku tidak akan berusaha untuk menyadarkan mereka atas kekeliruan yang mereka ambil karena suatu alasan praktis. Jikalau mereka telah nyaman dan dapat hidup dengan tentram karena mengambil kepercayaan tersebut maka aku tidak akan dapat memaksa mereka mengambil jalan yang tidak menjanjikan kedamaian hidup. Perjalanan kehidupan pada jalur yang kuambil bukan lah merupakan jalur yang damai namun jalur yang terus mengalami kegoncangan karena adanya penemuan dan pertanyaan yang tak akan pernah dapat selesai dijawab. Tidak ada gunanya aku menyadarkan mereka, bahkan jika aku berusaha menyadarkan mereka mungkin hal itu akan mengakibatkan sesuatu hal yang buruk bagi diriku sendiri dalam menjalani kehidupan sosialku. Mereka akan mencaci dan menganggap gila diriku, bahkan akan mengucilkanku dan dalam tingkat yang ekstrim akan membunuhku. Oleh sebab itu dalam kehidupan bermasyarakat yang aku jalani, aku mengidap suatu gejala “mitigate skeptism”. Tapi ini bukanlah merupakan sesuatu yang salah menurutku. Bersikap dan bergaul serta menjalankan kehidupan yang selaras dengan kebudayaan masyarakat di sekitarku bukanlah merupakan hal yang salah. Menjalani kebudayaan tertentu bagiku seperti mengenakan pakaian yang sesuai dengan situasi yang berlaku disekitarku. Dengan demikian menjalankan kehidupan dengan suatu aturan yang sesuai dengan kebudayaan disekitarku adalah pilihan yang paling bijak dan benar. Tanpa harus ikut dalam dogmatisme yang melandasi kebudayaan tersebut, karena kebenaran tidak ada dalam suatu pola umum yang berkembang kebenaran adalah milik yang privat yaitu diriku sendiri. Tidak ada satu hukum alam pun yang menyatakan bahwa yang benar adalah yang mayoritas. Di dasar pikiranku yang terdalam, aku seperti berkata pada diriku bahwa apa yang selama ini kita maksudkan dengan kebenaran sesungguhnya tidak ada, yang ada adalah kepercayaan. Amin.

Iklan

1 Response to “The Second: My Contemplation I; Dialectic of My Conscious Mind”


  1. 1 etikesen Rabu, 18 Juli 2007 pukul 5:09 pm

    tidak ada yang berubah dalam kehidupan ini, potensi manusia sama dari zaman adam hingga sekarang, manusia punya kebutuhan biologis dan beberapa potensi yang lainnya, pun pola fikir dan kecerdasan manusia.
    kecerdasan manusia ditentukan oleh informasi yang dia punya. pada awal kehidupan, manusia memenuhi kebutuhan biologisnya dengan menggunakan alat2 yang sangat sederhana, itu karena yang mereka tahu cuma itu. semakin tua peradaban manusia semakin banyak informasi yang dipunya oleh manusia2 yang baru lahir (banyaknya informasi tentu saja berkorelasi dengan umur manusia) walaupun manusia baru ini belum tentu mengetahui sejarah informasi yang dia punya.
    yang berubah dalam kehidupan ini hanyalah sarana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, itu saja. potensi manusia tetap sama, otaknya sama, kemampuan otaknya sama.
    bahkan banyaknya studi yang berusaha mempelajari aspek kehidupan dan materi dunia pun tidak menunjukkan bahwa telah terjadi evolusi pemikiran. dari jamannya adam ada orang yang tidak yakin pada agama, sampai sekarang pun orang2 seperti itu juga ada, yang berbeda antara orang yang tidak yakin pada agama pada masa adam dan masa sekarang hanyalah banyaknya informasi yang mendukung ketidakyakinan mereka. semakin hari semakin rumit, tapi pada dasarnya sama, tidak meyakini adanya tuhan. itu saja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: