My Contemplation II: The Angry Man

Kemarahan yang tertuju pada seseorang yang muncul dalam diriku ternyata ketika ia dilampiaskan kepada orang yang bersangkutan malah menyebabkan diri semakin terbawa dalam lautan emosionalitas yang tak terkontrol. Pagi ini, aku melontarkan kekesalanku kepada seseorang lewat media sms. Walaupun pada dasarnya kalimat atau perkataan yang aku berikan kepadanya lebih merupakan suatu ungkapan tersirat dan tidak jelas, akan tetapi ternyata kemarahanku yang terbawa dalam kalimat tersebut terbaca oleh orang yang bersangkutan. Walaupun juga ia telah meminta maaf tetapi aku menangkap dari nada kalimat yang ia tuliskan permintaan maaf tersebut lebih merupakan suatu yang tidak timbul dari dalam hati. Maksudku maaf yang disampaikan kepadaku lebih merupakan suatu hiasan bibir yang tidak muncul dari dalam hatinya. Aku merasa bahwa jauh dilubuk hatinya yang terdalam ia tidak merasa bersalah kepadaku. Entah mengapa perasaan ini sampai muncul dalam diriku.

Tidak mudah memang membatasi atau memberikan suatu kriteria yang baik dan benar dari fungsi emosionalitas yang kita keluarkan. Marah, senang, suka, jijik, sedih, geram dan sebagainya pada dasarnya merupakan aspek yang komplek yang muncul dalam diri seseorang. Kesemuanya itu merupakan tampakan lahir dari fungsi emosionalitas manusia. Emosi bukanlah merupakan tindakan nyata di dunia di luar subjek diri. Emosi merupakan dunia kerja subjek dalam dirinya sendiri yang muncul karena tanggapan dan rangsangan balik kita terhadap dunia di luar subjek tersebut. Karena merupakan aspek yang subjektif maka sebuah rangsangan yang berasal dari situasi dan gejala yang sama dari luar subjek bisa menimbulkan tanggapan yang berbeda tergantung dari subjek yang memberikan tanggapan tersebut.

Apakah kemarahan saya yang saya tujukan kepada orang lain merupakan suatu hal yang benar atau tidak, merupakan suatu persoalan yang rumit dan sulit untuk diberikan penilaian. Akan tetapi selalu saja dalam diriku muncul perasaan bahwa hal tersebut harus diberikan suatu penilaian tertentu yang harus berujung pada benar atau tidak dan baik atau tidak. Perasaan memang bukanlah suatu prasyarat dari keharusan ini. Hanya saja selalu saja muncul kehendak penilaian tersebut.

Jikalau kehendak tersebut diberikan suatu pembenaran yang dilontarkan kepada subjek yang berbeda yang ingin menilai emosionalitas tersebut apakah sudah baik atau belum, maka subjek penilai akan memberikan suatu penilaian menurut standar yang ia yakini dan jalani. Salah satu standar penilaian yang berkembang dalam masyarakat umum adalah standar keyakinan penilaian agama. Dengan demikian emosionalitas yang keluar dalam diri seseorang akan dinilai dari kacamata agama.

Dalam agama Islam kacamata ini akan selalu dihubungkan dengan ayat-ayat dan hadis-hadis tertentu yang berhubungan, atau secara tidak langsung dihubungkan, dengan kasus emosionalitas tersebut. Ataupun kalau tidak seperti itu, orang akan mengambil suatu pendapat dari orang lain yang ia percaya benar, seperti pendapat para ulama, pendapat idola mereka, pendapat pendeta, pendapat para psikolog dan sebagainya.

Karena pada masing-masing standar memiliki suatu standarisasi yang berbeda maka hasil yang akan diperoleh dari proses penilaian tersebut akan membuahkan hasil yang bermacam-macam.

Dengan demikian kesulitan pada persoalan ini akan terus terjadi dan terjadi. Ada baiknya memang keberagaman ini terjadi. Dengan demikian kita bisa melihat dari berbagai kaca-mata yang berbeda yang kemudian kita akan menyintesiskan sendiri keragaman tersebut dengan penilaian kita sendiri. Walaupun penilaian yang kita berikan mungkin bukan merupakan penilaian yang terbaik—karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan kriteria yang terbaik tersebut—namun kita dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang lebih.

Salah satu indikasi dari keberhasilan dari penilaian kita mungkin dapat kita ketahui dengan mempertimbangkan apakah penilaian kita menimbulkan suatu tidakan kearah kedamaian dan ketentraman dalam hati kita dan mereka atau tidak. Jikalau malah menimbulkan kebencian dan berlarutnya permasalahan atau malah kemunduran dalam suatu cita-cita maka dapat diindikasikan kalau penilaian kita kurang cocok dengan situasi dan kondisi permasalahan emosi yang kita alami.

Sekali lagi hari ini aku kesal dengan N, sosok yang entah kenapa selalu menimbulkan perasaan tertentu dalam diri. Sosok yang selalu menerbitkan kekesalan dan kejengkelan dalam diri karena sikap tak acuhnya kepadaku. Sosok yang seperti tak pernah punya kata menyesal dalam hatinya. Sosok yang sangat mudah mengucapkan maaf dan maaf di bibirnya. Sosok yang sering mengatakan membutuhkan bantuanku tapi sekaligus seperti enggan dibantu. Sosok yang ketika kita siap membantu saat dia mengatakan butuh bantuan tapi seketika itu juga ia mengabaikan bantuan kita. Sosok yang sangat sulit aku sesuaikan perasaan empatiku kepadanya. Dan inilah akhir dari perenunganku pagi ini. Seiring mentari menyinari bumi dan angin berhembus sepoi di pucuk bambu di depan rumahku. (From My Diary on April 13th, 2006)

Iklan

1 Response to “My Contemplation II: The Angry Man”


  1. 1 etikesen Rabu, 18 Juli 2007 pukul 5:21 pm

    sudah menjadi kebutuhan hidup manusia, bahwa manusia selalu ingin memastikan bahwa apa yang diperbuatnya adalah sesuatu yang terbaik. manusia selalu memberikan penilaian, ini poin penting.
    ukuran mengenai apakah penilaian kita adalah penilaian yang terbaik dan yang terbenar adalah dengan melihat apakah penilaian kita itu menentramkan jiwa, sesuai dengan fitrah manusia dan memuaskan akal. sepertinya semua orang akan setuju dengan ukuran ini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: