Lingkaran Perempuan dalam Laku Hidupku

Dalam beberapa hal menyangkut pertemananku dengan seorang perempuan, selama ini selalu saja aku mendapati bahwa seorang teman perempuanku yang berparas cantik memiliki suatu kelemahan dari segi intelektualitas. Sedangkan beberapa temanku yang tidak begitu cantik malah memiliki kemampuan intelektualitas yang lebih.

Walaupun demikian saya juga menyadari bahwa di luar lingkungan pertemanan saya, harus diakui pengalamanku tersebut tidaklah benar. Aku menemukan dalam literature maupun dalam dunia pertelevisian bahwa banyak perempuan cantik yang memiliki kemampuan intelektualitas yang tinggi. Katakanlah penyiar televisi seperti Najwa Shihab, Sandrina Malakiano, Virgie Baker, dan Valerina Daniel yang memiliki kecantikan diatas rata-rata juga memiliki kecerdasan yang lumayan tinggi.

Kenyataan yang berlawanan ini tidak luput juga akan fakta bahwa aku lebih suka berkawan atau lebih nyaman berkawan dengan perempuan yang tidak begitu memiliki daya tarik kecantikan yang menawan.

Seberkas kecantikan atau kesombongan yang ingin aku rasakan dan miliki kenyataannya malah menjadikan sebuah bumerang yang menikam perasaan dan emosionalitasku sendiri. Keinginan untuk mencintai yang rasional atau terlalu rasional malah menjadikan cinta itu ditolak oleh obyek yang dicintainya.

Tiba-tiba perhatianku dari soal perempuan beralih pada soal berumah tangga atau menikah, yang tentunya masih berkaitan dengan perempuan juga. Dalam rencana dan pikiranku, aku memang merasa bahwa kehidupan rumah tangga merupakan sebuah tujuan yang menempati prioritas yang tinggi. Aku menyadari bahwa keluarga merupakan landasan yang penting bagi perkembangan dan kematangan diri seseorang. Akan tetapi aku merasa bahwa keinginan berkeluarga yang berawal dari sebuah niat yang disebabkan oleh tekanan emosionalitas baik itu dari dogma agama maupun dari orang-orang sekelilingnya bukanlah sesuatu yang benar. Apalagi kesadaran menikah dikarenakan cinta seksual.

Iklan

2 Responses to “Lingkaran Perempuan dalam Laku Hidupku”


  1. 1 etikesen Senin, 9 Juli 2007 pukul 10:15 am

    setuju banget mas, setuju banget….te o pe be ge te deh menikah tidak boleh berangkat dari tekanan emosional maupun cinta seksual, tapi kalo begitu menikahnya berangkat dari niatan apa dong…?

    niatan apa ya? gak tahu juga… pengen nikah aja kali :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: