Merenung lagi.. merenung lagi…

Bergabungnya beberapa pemikiran tentang beberapa persoalan dalam benakku yang selama ini memiliki wajah yang berbeda baik dari segi pemahaman maupun kerangka dasar munculnya persoalan tersebut, menjadikan pemahamanku terhadap hidup dan dunia ini semakin lama semakin membikin aku penasaran, walaupun juga menambah luas pemahamanku atas dunia ini. Dunia, seperti yang sering aku katakan, bukanlah memiliki wajah sebagai mana yang terlihat oleh aparatus indera kita. Dengan demikian untuk memahami dunia, walaupun aku juga memiliki keyakinan bahwa dunia tidak akan terpahami secara menyeluruh—yang berarti akan terus menjadi misteri dan pertanyaan–, tidak hanya diperlukan pengalaman aparatus indera kita, melainkan juga pemikiran kita.

Akan tetapi dengan kedua aparatus kita ini, pemahaman terhadap dunia juga tidaklah dapat kita lakukan. Nalar kita sering kali menemukan jalan buntu (antinomi) ketika kita mencoba untuk menggunakannya dalam memahami dunia. Penggunaan nalar untuk memahami waktu misalnya akan selalu menemui jalan buntu. Demikian pula penggunaan nalar untuk memahami ruang juga akan menemui jalan buntu. Dengan demikian hakikat dari ruang dan waktu akan terus menjadi misteri yang tak akan dapat dipecahkan. Dalam fisika misalnya, waktu dan ruang (yang berarti jarak atau panjang) menjadi suatu satuan dasar yang tidak dapat didefinisikan hakikatnya. Yang terjadi hanyalah penyetandaran kedua satuan tersebut. Apalagi kalau dikaitkan dengan teori Einstein, jelas akan menemui kesukaran apabila dipaksa untuk menjelaskan hakikat dari waktu itu sendiri.

Mengingat dan menimbang kelemahan yang ada dari kedua aparatus yang kita miliki tersebut, kita harus sepenuhnya sadar bahwa apapun yang ingin kita ketahui dari dunia ini, seberapa pun kuat usaha kita untuk mengetahui dan memahami dunia ini, kita akan selalu menemui jalan buntu-jalan buntu. Dari kenyataan ini kita juga harus mengakui bahwa kita tidak layak untuk berbangga diri apalagi dengan penuh keangkuhan serta kepongahan mendeklarasikan diri telah mengetahui rahasia seluruh alam. Dari dasar hati yang terdalam kita itu nyaris tidak tahu apa-apa.

Iklan

1 Response to “Merenung lagi.. merenung lagi…”


  1. 1 etikesen Rabu, 18 Juli 2007 pukul 5:36 pm

    dari hati yang paling dalam dan kesadaran yang seutuhnya, aku setuju dengan pendapat mas suluh. lalu, aku jadi kagum banget dengan sesuatu yang menciptakan dunia ini, berarti puinter banget dong…..huebat banget dong…..keren banget dong……masa iya dunia ada dengan sendirinya? pencipta dunia memang maha keren


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: