Dilarang Mencintai Bunga-bunga

Baru saja aku menemukan sesuatu. Membaca sesuatu yang sifatnya atau cara penyampaiannya terlalu bertele-tele dan panjang ternyata membutuhkan kesabaran yang cukup tinggi. Dan rupanya kesabaran ini belum dapat aku miliki sepenuhnya. Aku disadarkan pada kenyataan ini ketika berusaha membaca kembali kumpulan cerpennya Kuntowijoyo yang berjudul Dilarang Mencintai Bunga-bunga.

Perasaan yang muncul ditengah-tengah proses pembacaan tersebut adalah kelekasan atau perasaaan terburu-buru untuk menyelesaikan proses pembacaannya itu. Ada kesan yang sangat kental dalam diriku yang mengakibatkan muncul sifat kesusu atau tergesa-gesa. Banyaknya informasi atau tambahan ide atau situasi di dalam cerpen Dilarang Mencintai Bunga-bunga tersebut yang menjadi pemicu munculnya perasaan tersebut. Ternyata perasaan seperti ini telah diketahui oleh pemberi pengantar dari kumpulan cerpen tersebut. Dan secara cukup jelas ia mengatakan bahwa kesan yang akan diterima oleh pembaca novel tersebut memang demikian.

Dari proses pembacaanku terhadap dua buah judul dalam kumpulan cerpennya Kuntowijoyo tersebut ku temukan aroma filosofi kehidupan yang cukup kental dan lumayan berat. Pertarungan identitas antar tokohnya cenderung dilakoni oleh suatu tokoh utama sebagai unsur pembentuk cerita. Dalam cerita Dilarang Mencintai Bunga-bunga ditampilkan suatu arketipe maskulinitas dan feminim yang bertarung dalam diri seseorang dan bagaimana menyeimbangkan keduanya. Sosok kerja dan bunga yang direpresentasikan oleh ayah dan ibu serta kakek dan diseimbangkan melalui cara yang terlalu rasional bagi seorang anak kecil.

Di judul cerpen keduanya, Anjing, ditekankan secara berlebihan sosok wanita yang berperan sebagai seorang isteri yang emosional dengan tokoh utama seorang suami yang rasional. Kedua sifat ini ditemukan dalam menerjemahkan suatu kejadian dan menanggapi setiap kejadian yang ditimbulkan dalam novel tersebut. Bagaimana kedua sifat tersebut bertarung dalam sebuah rumah tangga yang hidup di sebuah flat. Banyak makna yang bisa diambil memang, seperti rasionalitas yang keliru dan emosionalitas yang keliru juga. Walaupun keduanya menghadapi satu fakta yang sama.

Iklan

0 Responses to “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: