Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia

Nalar, sebagaimana selama ini kita memuja akan keunggulan dan kelebihannya, ternyata di tangan Donald B. Calne hanyalah sebuah piranti alat bagi manusia untuk melangsungkan kehidupannya. Melalui terjemahan dari bukunya yang diusung oleh KPG dengan judul Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia, ia memerikan dengan gamblang sebuah kenyataan bahwasanya nalar yang dimiliki manusia hanyalah sebuah instrumen yang tidak berbeda jauh dengan pedang ataupun palu. Sebagai sebuah alat, nalar tidak dapat menentukan arah dan tujuan ia digunakan oleh si empunya alat yakni manusia. Dengan demikian, seperti sebuah pedang nalar juga memiliki dua buah sisi yang bisa berlawanan bila digunakan. Nalar bisa menjadikan manusia, sang pemilik nalar, menjadi seorang manusia perusak dan penghancur sebagai mana pedang bisa digunakan untuk membunuh sesama manusia. Sebaliknya nalar dapat digunakan oleh manusia untuk menjadikan dirinya seorang manusia pembangun dan pelindung.

Nalar dengan demikian tidak bisa menentukan arah mana ia mau menuju, tetapi nalar mampu memberikan pilihan-pilihan terbaik bagi manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Disini, nalar hanyalah sebuah produk biologis dari manusia yang digunakan oleh manusia untuk tujuan-tujuan biologis. Nalar disini berubah menjadi pelayan bagi manusia.

Tetapi setidaknya nalar juga sering menunjukkan kekeliruan dari sifat dan naluri kita sendiri. Ia berulangkali juga menunjukkan kesalahan dalam keyakinan kita yang kita anut selama ini. Keraguan dan kebimbangan yang muncul dalam keyakinan kita acap kali merupakan suatu kesimpulan nalar yang menunjukkan bahwa keyakinan kita sering tidak konsisten dan keliru secara logika.

Hanya saja aku masih sering dibingungkan pada aspek penggunaan istilah nalar itu sendiri serta definisi yang jernih dari aspek nalar ini. Terutama apabila istilah nalar ini dipergunakan dalam bahasa keseharian. Kecenderungan subjektif dari manusia dalam mendifinisikan nalar demi sebuah “kemenangan argumen” sering menjadikan kerancuan dalam pemahamanku. Disini istilah nalar menjadi suatu simbol kebenaran semu. Seringlah kita dengar ungkapan,”Gunakan nalarmu! Gunakan akal sehatmu!”. Disini nalar seolah olah menjadi jantung untuk suatu tindakan benar dan baik. Padahal dari kenyataannya tidaklah demikian.

Iklan

15 Responses to “Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia”


  1. 1 eka Senin, 5 Februari 2007 pukul 12:43 pm

    ass. bonjour…tulisanmu bole juga, gak banyak orang berpikiran seperti kamu.bacaanmu sama dengan ku..batas nalar adalah salah satu buku yg menarik bagiku..

    oke deh lam kenal yah..
    eka
    palembang

  2. 2 etikesen Senin, 16 Juli 2007 pukul 10:24 am

    aku setuju, nalar hanyalah sebuah alat. alat ini melekat pada diri manusia, manusia yang tidak menggunakan alat nalarnya adalah manusia yang gila. nalar menurutku adalah akal, akal mensyaratkan adanya empat hal, panca indera, otak, fakta/realitas, dan informasi awal.
    akal/nalar terkait dengan pertanggungjawaban manusia atas kemanusiaannya. orang yang gila tidak bisa dituntut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, manusia waras/berakal akan diminta pertanggungjawabannya. oleh karenanya akal terkait dengan dosa dan pahala, akal terkait dengan surga dan neraka. dosa-pahala, surga-neraka sudah ditentukan, sudah ditetapkan, tinggal akal saja mau milih yang mana. oleh karenanya akal menjadi alat pemilih

    hmmmm gitu ya…

  3. 3 eka Kamis, 19 Juli 2007 pukul 2:32 am

    tetapi sebuah nalar yang berdisiplin dan bertanggung jawab adalah suatu kebenaran subjektif.

  4. 4 sepotongsenja Selasa, 5 Februari 2008 pukul 5:52 pm

    “tetapi sebuah nalar yang berdisiplin dan bertanggung jawab adalah suatu kebenaran subjektif.”
    eka

    kebenaran subjektif tak layak untuk dibanggakan.
    walaupun kebenaran objektif itu hanya dimiliki oleh Tuhan,
    Selayaknya kita mengadakan pencarian hingga mendekati arah objektifitas.

  5. 5 sepotongsenja Selasa, 5 Februari 2008 pukul 5:53 pm

    kebenaran subjektif tak layak untuk dibanggakan.
    walaupun kebenaran objektif itu hanya dimiliki oleh Tuhan,
    Selayaknya kita mengadakan pencarian hingga mendekati arah objektifitas.

  6. 6 sem Senin, 14 Juli 2008 pukul 10:35 pm

    apa sih yang disebut objektif? bukankah itu klaim2 mereka yang ingin dominan? bagi saya, tidak ada yang objektif, di dunia manusia.

  7. 7 mangjudge Selasa, 15 Juli 2008 pukul 5:07 am

    saya sepakat, tapi jika bicara nalar atau akal orang cenderung peoratif. padahal dunia ini berumur sekian lama, dgn begitu pesatnya perkembangan. juga karena manusia….

  8. 8 Suluh Selasa, 15 Juli 2008 pukul 6:13 am

    subjektif atau objektif itu hanyalah cara kita memandang sebuah pengetahuan. Kalau subjektif dan objektif dirunut dari keberadaan dan atau kemunculan pengetahuan maka segalanya adalah subjektif karena pengetahuan itu ada dan mengada karena manusia ada.

    Tetapi jika dirujuk pada eksistensi yang real atau yang ada, saya masih tetap yakin bahwa ada hal yang objektif. Setidaknya keberadaan diri saya merupakan bukti sebuah keobjektifan tentang sesuatu.

  9. 9 regi Selasa, 15 Juli 2008 pukul 6:40 am

    Nalar di sini berubah menjadi pelayan manusia<<<bukannya sebaliknya manusia yang menjadi pelayan nalar? contohnya orang gila. Dikatakan orang gila sebagian fungsi nalarnya tidak berfungsi. Maka dari itu tubuh orang gila hanya bisa melakukan sebatas nalarnya yang bisa berfungsi.

  10. 10 Suluh Selasa, 15 Juli 2008 pukul 8:41 am

    @regi: nalar itu melekat di diri manusia. Pada dasarnya kita sebenarnya gak bisa memisahkan apakah nalar itu pelayan atau kita yang melayani nalar. Sama sama ada adalm diri manusia. Kita sendiri itu termasuk nalar. Jadi kurang tepat sih layan melayani.. Nalar emang jadi salah satu bagian dari manusia. Bahkan ketika anda mengatakan bahwa nalar itu pelayan manusia anda sedang menggunakan nalar anda atau malah nalar anda yang sedang mengatakan itu.

  11. 11 regi Rabu, 16 Juli 2008 pukul 12:31 am

    Coba mas suluh baca copasan ini:Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.<<< berarti disini di katakan penalaran hanya untuk kebenaran.

  12. 12 Suluh Rabu, 16 Juli 2008 pukul 6:52 am

    @regi: lho keknya anda terlalu mereduksi deh….

  13. 14 raswin Jumat, 9 Oktober 2009 pukul 11:28 am

    mantap sangat tulisannya bro .tetap semangat ………..


  1. 1 Agama sebuah Kemandegan « joyo Lacak balik pada Sabtu, 28 Juli 2007 pukul 2:51 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: