Karya Pram dalam Pembacaanku

Beberapa minggu yang lalu aku sempat dikejutkan oleh peristiwa meninggalnya sastrawan yang cukup terkenal di Indonesia, sekaligus merupakan sosok yang aku kagumi karya-karyanya. Orang itu adalah Pramoedya Ananta Toer. Perkenalanku dengan karya-karya Pram dimulai ketika salah seorang temanku yang belajar di Sospol mengenalkanku pada karya-karya Pram. Novel Pram yang pertama kali aku baca, seingatku adalah Jejak Langkah.

Dari proses pembacaanku terhadap novel tersebut, aku dikenalkan pada suatu gaya penulisan yang penuh dengan intrik atau perjuangan sosial yang mengingatkanku pada novelnya Ayu Utami yang pertama, yaitu Saman. Hanya saja dikemas dengan nuansa yang sedikit berbeda. Dari Jejak Langkah inilah aku kemudian mencoba untuk menelusuri karya-karyanya yang lain. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca, yang menjadi suatu rangkaian utuh dari Tetralogi Pulau Buru-nya Pram dan sempat juga akhirnya aku tamatkan. Satu hal yang selalu aku ingat setiap menyebut ke-empat karya Pram dari Tetralogi ini adalah cuplikan dari Tokoh Minke yang merenungkan tentang keadilan. Kalau tidak salah ingat, ia selalu mengatakan,”Adilah sejak dalam pikiran!” Sebuah ungkapan yang selalu saja menyergahku dan menggetarkan hatiku.

Sebenarnya karya Pram yang paling aku sukai bukanlah Tetralogi Pulau Buru melainkan karya seperti Gadis Pantai-nya atau Arus Balik-nya. Dari Gadis Pantai aku bisa mengetahui dan menerima gambaran yang sangat kaya akan kultur yang berkembang dalam masyarakan Jawa Kuno. Sebuah etos jawa yang sangat murni dan kental hadir dalam cerita tersebut. Sedang Arus Balik-nya sangat menyegarkanku akan rasa nasionalisme, bukan sebagai sebuah pemikiran atau landasan ideologi tetapi sebagai sebuah rasa atau perasaan rindu.

Dan yang paling menonjol yang aku rasakan ketika membaca karya-karya Pram adalah adanya kekuatan karakter dari masing-masing tokoh yang terlibat dalam ceritanya. Kemampuan elaborasi karater yang unik dalam kalimat dari penulisan Pram selalu membuat aku merasa rindu untuk membaca kembali karya Pram tersebut. Kerinduan serupa pernah aku rasakan ketika aku terpesona oleh gaya penulisannya Dewi Lestari dalam novel Supernova-nya. Tetapi kerinduan yang aku rasakan berlainan dengan yang dimunculkan oleh karya Pram. Pada karya Dewi kerinduanku lebih disebabkan oleh kemampuan elaborasi diksi atau permainan kata yang dimilikinya. Dewi aku rasa sangat senang bereksperimen dengan jenis-jenis kata. Namun hal tersebut kemudian kusadari malah menjenuhkanku sehingga karya-karya Dewi yang lain tidak menarik bagiku. Serupa dengan Dewi, walaupun dengan intensitas yang lebih kurang, aku juga mengalami degradasi rindu ketika membaca karya Ayu Utami. Hal tersebut sangat terasa sewaktu aku membaca karya keduanya Ayu yaitu Larung.

Kembali ke Pram. Karya-karyanya Pram aku memang sangat mengagumi dan merindukannya, akan tetapi dari segi perjalanan hidup maupun sikap hidupnya aku tidak begitu menyukainya. Lewat kesaksiannya Goenawan Mohammad (Baca salah satu artikelnya Goenawan di Catatan Pinggir), aku mengetahui bahwa Pram selama hidupnya suka mengumbar Polemik yang menyakitkan bahkan sering menyebabkan kekacauan. Kekacauan dari komentar-komentarnya tidak hanya berimbas pada kekacauan ide melainkan juga kekacauan suasana politik dan keamanan. Dalam menghalau pihak lawan, ia sering bersikap seenaknya saja dalam mengomentari atau mencemooh lawannya. Ketika kekacauan bahkan pembunuhan terjadi di tataran massa, ia hanya berkomentar dengan entengnya kalau ia hanya ingin berpolemik saja. Suatu sikap yang cenderung tidak mau bertanggung jawab.

Pram telah meninggal tetapi karyanya akan selalu dibaca dan dibaca. Entah dengan penuh curiga atau dengan penuh kekaguman. Selamat tinggal Pram….

Iklan

4 Responses to “Karya Pram dalam Pembacaanku”


  1. 1 vheerz Kamis, 31 Januari 2008 pukul 4:31 pm

    maaf mas. dimana yah kita bisa dapetin karya-karya Pram? ada gak yang yang udah dalam bentuk file elektronik, supaya bisa di download?
    sebelumnya saya ucapkan terima kasih sebesar2besarnya atas responnya..

  2. 2 sayaperagu Jumat, 25 April 2008 pukul 2:17 am

    tentang minke…saya jadi teringat masa sekolah saya…dulu saya kayak minke..sering nangis membik-membik klo tidak bisa jawab pertanyaan dari guru…

  3. 3 si_Bhl0nk Sabtu, 24 Mei 2008 pukul 11:08 pm

    …”Entah dengan penuh curiga atau dengan penuh kekaguman”

    tentunya dengan penuh kekaguman Sob, bayangkan seorang manusia yang telah melewati penjara 3 rezim, tentu telah banyak pahit kehidupan yang dia rasakan, namun mampu melahirkan mahakarya spt Tetralogi Buru.

  4. 4 Murad Maulana Kamis, 8 April 2010 pukul 4:21 pm

    pasti anak sospol itu kang iwan slow motion………


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: