Human Instinct in My Understanding

Naluri atau insting atau nafsu, yang inheren bersama manusia merupakan sebuah kenyataan alam yang tiada terhindari. Keberadaan naluri pada manusia merupakan buah dari proses evolusi manusia itu sendiri. Hasrat untuk kawin, hasrat memelihara anak, hasrat menyukai lawan jenis dan sebagainya merupakan hal yang lumrah dan wajar seperti juga hasrat makan atau pun minum. Kesemua naluri tersebut ada dan mempunyai fungsi bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Naluri tersebut ada menjadikan kelangsungan manusia hidup dapat terus terjamin. Seperti halnya pada makhluk hidup yang lainnya. Survival of the fittest kembali terjadi.

Secara logika-material, ketertarikanku sebagai seorang pria, misalnya, pada seorang perempuan, sangatlah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Perempuan dipandang dari sudut logika material hanyalah merupakan sejenis benda atau tubuh yang bergerak yang hampir menyerupai aku sendiri. Perbedaan yang tampak sangatlah kecil. Perempuan berbeda secara nyata denganku hanya pada alat kelamin dan alat menyusui yang ia punya. Secara kasat mata payudara hanyalah sebuah gundukan di dada yang dilengkapi dengan sebuah putting kecil di tengah-tengahnya. Vagina merupakan lubang yang sempit di antara selakangan kedua kaki perempuan. Tidak lebih tidak kurang. Dengan teknologi tertentu pun kita bisa menciptakan benda atau alat yang mirip keduanya. Tapi kenapa aku tertarik secara emosional dengan lawan jenis yang memiliki benda tersebut?

Ketertarikanku pada seorang wanita merupakan fakta psikologis yang juga terjadi hampir pada semua makhluk hidup. Jadi tidak ada yang salah dengan segala naluri ini. Naluri seksual yang disebut sebagai nafsu seks merupakan hal yang sepernuhnya wajar sebagai halnya kewajaran kita mempunyai nafsu makan dan minum. Jika tidak memiliki naluri ini tentulah tidak akan ada lagi makhluk yang dinamakan manusia di bumi ini karena regenerasi melalui proses bertemunya sel telur dari perempuan dan sel sperma dari laki-laki dalam sebuah ritus persenggamaan tidak terjadi lagi. (Aku jadi berfikir: Kenapa orang yang hidup selibat dikatakan suci? Bukankah dia secara tidak langsung memusnahkan keberadaan manusia itu sendiri? Bukankah ia lahir dari rahim ibu yang juga terbentuk dari proses persenggamaan?)

Hanya saja keberadaan hidup manusia yang sudah berlangsung hampir beribu-ribu tahun telah membentuk suatu organisme atau ekosistem yang memiliki unsur-unsur nilai atau aturan serta hukum tertentu yang membedakan dengan jenis makhluk hidup yang lainnya. Keberlangsungan dan selamatnya manusia dari kebinasaan atau kemusnahan secara tidak langsung juga disebabkan oleh keberadaan aturan-aturan hasil pemikiran nenek moyangnya ini.

Konsekuensi dari realitas faktual ini adalah aku yang notabene merupakan seekor makhluk yang berjenis manusia harus mengikuti aturan-aturan yang telah ditentukan oleh nenek-nenek dan kakek-kakekku jika aku ingin selamat atau bertahan hidup dan selanjutnya dapat melangsungkan dan menyelamatkan generasiku sendiri. Keberadaan aturan yang melarang dilakukannya seks bebas atau pun keberadaan lembaga sosial perkawinan haruslah kuikuti dan kulakoni demi keselamatanku sendiri. Aku kira kehormatan dan kebijakan kita ditentukan oleh sikap kita dalam mengakomodir dan menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku ini. Apa yang dinamakan kehormatan atau kebijakan yang (mungkin) telah melekat pada diri merupakan hasil dari penilaian dari yang bukan-kita dari perilaku kita dihadapan hukum dan aturan yang berlaku. Semakin kita konsisten dan sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat tempat kita tinggal dan hidup, semakin terhormat dan bijak kita dinilai oleh komunitas di sekitar kita. Disinilah letak pentingnya kita belajar mengenai ilmu sosial.

Kembali ke bahasan tentang naluri. Kita secara naluri juga lebih menyukai apa yang kita namakan sebuah keindahan. Walaupun jika kita mau memperdalam apa itu yang disebut indah akan menghasilkan suatu kesimpulan yang cenderung subyektif. Tapi ada suatu prosentase lebih tinggi dari kita sebagai manusia untuk menyetujui sesuatu yang disebut indah. Sebut saja kecantikan dari seorang wanita semisal Monica Bellucci atau laki-laki ganteng (bagi para wanita) seorang Brad Pitt merupakan sebuah keindahan bagi sebagian besar. Kecenderungan mengenai hal-hal yang indah ini juga yang menjadikan terbitnya motivasi dan keinginan untuk mempertahankan naluri indah ini. Lahirlah apa yang dinamakan konsep memiliki. Ketika kita mencintai sesuatu yang indah kita cenderung ingin memperlama melihat atau merasakannya. Suatu cara yang dikembangkan oleh manusia dalam memperlama ini adalah dengan suatu konsep hak milik. Kita bisa mengawini seorang wanita cantik sehingga ia seolah-olah menjadi milik kita dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya apalagi menyetubuhinya, demikian juga berlaku sebaliknya.

Iklan

1 Response to “Human Instinct in My Understanding”


  1. 1 Ardy Widyarso Minggu, 23 November 2008 pukul 7:39 am

    Bagi saya tulisan anda menarik.
    Secara sosiologis, naluri sex maanusia tidak berubah. Yang berubah adalah tata cara/tata laku dalam “ritual sex” nya. Evolusi perilaku yang anda sebut ritual sex itu mendapat pengaruh sejalan dengan semakin banyaknya populasi manusia dan berubah secara melembaga. Pada awal adanya manusia perilaku sex tak ubahnya seperti hewan. Dalam perkembangan kemudian karena mulai ada hidup mengelompok “tribe” (kesukuan) maka mulai diatur oleh kelompok suku itu. Hegemoni suku yang kuat membentuk sistem pemerintah kerajaan, dan perilaku sex mulai melembaga secara lebih memiliki kekuatan (daya paksa) untuk dipatuhi. Keadaan yang sekarang terbukti pada UU No. 1 tahun 1974, telah mengatur dan mengarahkan kita untuh patuh melaksanakannya untuk “memayu hayuning bhawono”.
    Salam,
    Ardy


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: