Jogja, Kaki, Sepeda, Teman, dan Aku

Awal menjadi mahasiswa di Jogja dulu (sekitar medio 1999), mobilitas yang aku jalani hanya memiliki sedikit alternatif media. Pertama dan yang paling utama adalah kedua buah kakiku ini, yang selanjutnya disusul oleh kendaraan umum dan yang terakhir adalah sepeda ontel. Demikianlah selama kurang lebih empat tahun aku menjalani kehidupanku hampir hanya menggunakan tiga buah alat transportasi itu. Walaupun demikian kadang ada juga teman yang mau memberikan boncengan naik sepeda motor kepadaku. Masih teringat dengan jelas, suatu ketika aku berjalan kaki dari pondokanku, yang terletak di sebelah utara kampus UGM, pergi menuju ke Malioboro. Kurang lebih jarak yang harus aku tempuh adalah sekitar 6 kilometer. Kalau dihitung dengan jalan pulangnya maka aku telah menempuh perjalanan sepanjang 12 kilometer. Namun aku tidak sendirian menjalani perjalanan tersebut, seorang teman bernama Yudha turut serta bersamaku.

Waktu itu, sehabis makan malam kami berdua duduk di sebuah pos kampling (atau setidaknya balai-balai di pinggir jalan), sambil melepas lelah sembari menurunkan makanan yang ada di lambung untuk dicerna, kami ngobrol sekenanya. Entah karena jenuh mau pulang ke pondokan atau entah karena memang lagi pusing dalam menentukan langkah, terpicu ide untuk pergi berjalan kaki ke Malioboro. Kebetulan waktu itu ada pameran di Benteng Vrederbug. Kalau tidak salah ingat pameran itu merupakan pameran budaya yang selalu diadakan di sana setiap tahunnya. Tidak ada rasa enggan dan malas di dalam diriku waktu itu mengenai rencana itu, dan aku masih juga heran sampai sekarang kenapa waktu itu Yudha mau juga mengikuti rencana tersebut. Untuk hal ini, dia mengatakan kepadaku sewaktu dalam perjalanan pulang dari pameran di Benteng Vrederbug kalau alasannya karena kalau berjalan denganku dia tidak akan kehabisan ide untuk terus ngobrol (atau lebih tepatnya debat kusir) sehingga rasa lelah atau malas bisa terabaikan dengan kegiatan ini. Masuk akal juga aku pikir, tapi perlu diketahui juga kalau aku sempat ngotot tidak mau naik angkot sewaktu mau pulang, padahal menurut Yudha angkot masih ada dan ia ingin naik angkot. Entah kenapa ia nurut juga kemauanku (egois juga aku waktu itu).

Kebiasaan berjalan kaki ini tidak dapat aku lepaskan sedemikian mudah ketika pada akhirnya aku harus berpisah dengan teman-temanku (waktu itu aku ngontrak bersama teman-teman SMAku) dan memilih untuk mencari pondokan sendiri yang lumayan jauh dari kampusku, tepatnya di sebelah utara fakultas peternakan (aku kuliah di fakultas teknik, jadi kira-kira 1 km jaraknya dari pondokan ke kampus teknik). Di pondokan yang baru ini cukup sering aku berkeliling jogja, entah itu ke Toko Buku, ke Malioboro, ke Warnet, ke tempat teman, dll. Bersama dengan seorang temanku yang bernama Miftah, aku pernah pergi berjalan kaki (lagi) ke Malioboro. Kepergianku dengan temanku ini cukup unik karena sebenarnya kami tidak memiliki tujuan. Yang terjadi adalah sebuah tantangan dari kami berdua. Bermula dari sebuah pembicaraan sederhana yang kemudian diakhiri dengan tantangan. Jadi yang terjadi waktu itu adalah sesampainya di Malioboro, tepatnya di depan Ramai Mall, tanpa menoleh kesana kemari atau berhenti sedetikpun kami langsung aja pulang ke kosan kembali. Tidak ada yang kami dapat waktu itu kecuali kelelahan. Aku juga pernah berjalan kaki hanya untuk mencari makan malam dengan seorang temanku sampai ke Janti, yang kira-kira berjarak 4 km dari tempat kosku. Rasa-rasanya berjalan kaki merupakan suatu keasyikan tersendiri waktu itu atau juga sudah merupakan kebiasaan yang sulit untuk diubah.

Tidak hanya berjalan kaki, bersepeda juga merupakan hal keseharianku waktu itu. Peristiwa bersepeda yang paling aku ingat adalah sewaktu aku memutuskan untuk pulang ke rumahku di Muntilan dengan menggunakan kendaraan ini. Dibutuhkan sekitar 2 jam lebih untuk sampai ke kampung halamanku dengan menggunakan kendaraan ini. Jarak antara kosanku dengan kampung halamanku kira-kira sejauh 24 kilometer. Aku melakukan perjalanan ini sampai tiga kali, itu seingatku. Hal lain soal bersepeda yang teringat di benakku adalah sewaktu aku dengan Budi Reing pergi untuk mencari selembar kain hitam sebagai tugas yang diberikan pada waktu kita berdua menjalani ospek. Dengan berboncengan kami berdua silih berganti saling memboncengkan sembari menengok kesana kemari guna mencari toko yang menjual bahan kain hitam ini.

Kenapa semua hal tersebut aku ceritakan? Tidak lain tidak bukan karena aku menyadari, pada waktu sekarang, hal tersebut tidak lagi menjadi kebiasaanku lagi. Kegiatan tersebut menjadi terlalu asing bagiku, khususnya bagi tubuhku. Bukti yang paling bisa dipercaya timbul dari pengalamanku sendiri di pagi ini, (tulisan ini aku tulis pada tanggal 16 Mei 2006) sewaktu aku secara sadar memilih untuk menggunakan sepeda ontel sebagai alat mobilitasku. Aku mengendarai sepeda ini dari kampungku ke kota Muntilan yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer. Memang pada mulanya perjalanan yang aku kerjakan tidaklah begitu sulit karena jalan yang aku lalui berupa jalan yang menurun sehingga aku tidak perlu mengayuh sepedaku. Akan tetapi berkebalikan dengan perjalanan pergi, perjalanan pulang membutuhkan kerja ekstra keras dikarenakan jalan yang menanjak. Bahkan sempat aku beberapa kali harus beristirahat sebentar untuk mengatur nafas dan mengistirahatkan otot-otot kakiku. Sesampainya di rumah aku merasakan keringat yang bercucuran serta nafasku yang tidak teratur. Kelelahan jelas menghinggapi tubuhku. Tenggorokanku mengering tajam sehingga terasa sangat tidak nyaman, pertanda aku sangat kehausan dan mengharuskan untuk segera meminum segelas atau beberapa gelas air. Betapa berbedanya keadaan ini dengan masa laluku.

Dalam kesadaranku, muncul suatu keinsafan dalam diri bahwasanya aku, dalam hal ini tubuhku, bukanlah sesuatu yang tetap atau ajeg, yang bisa aku gunakan semauku sendiri. Tubuh selalu saja merupakan mekanisme yang tunduk pada hukum alam. Mengenai persoalan ini telah aku bahas dalam tulisanku sebelumnya.

Tubuh yang lelah… pikiran yang kalut… aku rasa telah mencukupi untuk menghentikan perjalanan hari ini….

Iklan

2 Responses to “Jogja, Kaki, Sepeda, Teman, dan Aku”


  1. 2 etikesen Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 12:02 pm

    setiap proses kehidupan=proses pembelajaran, bagi orang yang berfikir


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: