Naik-naik ke Puncak Gunung… Tinggi-tinggi Sekali….

Jangan kau ambil sesuatu kecuali gambar…Jangan kau tinggalkan sesuatu kecuali jejak….Jangan kau buru sesuatu kecuali waktu…”

 

Pernah mendengar atau membaca kalimat diatas? Aku menemui atau setidaknya mendengarnya pertama kali ketika aku duduk di bangku Sekolah Menengah Umum. Seorang seniorku atau aku lebih suka menyebut kakak kelasku (tidak berarti kakak umurku), “mengkuliahiku” dengan kalimat-kalimat di atas. Kalau tidak salah ingat, peristiwa itu terjadi sewaktu aku berkeinginan untuk mengikuti salah satu acara yang diadakan oleh organisasi ekstrakulikuler Pecinta Alam di sekolahku: mendaki gunung. Sebelum “petualanganku” yang pertama tersebut terlaksana dilakukanlah briefing yang berisi pengetahuan dasar seputar dunia pendakian. Mulai dari perabotan yang seharusnya dibawa, bekal yang harus dipersiapkan sampai hal-hal yang terlarang untuk dilakukan sewaktu mendaki. Sempat aku mengucap dalam hati waktu melihat daftar barang yang harus dibawa,”Wow, banyak sekali!”. Sempat pula aku mau mengurungkan niatku karena ketakmampuanku untuk memenuhi barang dan alat yang “harus” dibawa. Namun, pada waktu hari H, walaupun sempat merasakan ketakutan kalau-kalau ketahuan karena tidak membawa semua yang perlu dibawa, aku nekat juga mengikuti kegiatan tersebut. Karena waktu itu rencana pendakian diputuskan di Gunung Merbabu, maka di Gunung Merbabulah aku pertama kali melakukan proses pendakian gunung “yang sesungguhnya”.

Aku ingat pula hujan deras sempat mengguyur di sebagian waktu perjalananku. Menambah gelap dan dingin malam itu. Baterai yang kubawa mati sehingga aku hanya bisa mengandalkan penerangan dari baterai teman-temanku saja. Bahkan seniorku mengatakan kita terkena badai bukan hanya sekedar hujan biasa. Namun mendekati puncak gunung badai tersebut reda. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan bagaimana kesenangan yang muncul saat berhasil mencapai puncak sebuah gunung. Memandang langit pagi yang terbentang selaksa kita berada di tengah-tengah piring yang begitu lebar dan luas. Awan dan kabut berada di bawah kita seakan-akan kita menginjak atap dunia. Matahari yang kuning keemasan. Laut yang lembayung terkena matahari yang lambat laun berubah biru. Hawa yang begitu dingin sampai mematikan indera kulit tanganku. Ingus yang menetes yang tak henti-hentinya harus diseka. Kesemua pemandangan dan perasaan itu, menjadi sebuah pengalaman yang tak akan pernah kulupakan, mungkin, untuk seumur hidupku.

Hari beranjak siang. Secepat itu pula aku melangkah turun dari puncak gunung. Aku tidak ingat waktu itu sampai dimana, namun yang pasti cukup banyak bunga, yang kata temanku adalah bunga edelwies, ada disekitarku. Seorang teman mencoba untuk memetiknya. Katanya bunga tersebut merupakan bunga khas orang naik gunung sehingga menjadi cenderamata yang sangat dicari. Katanya juga bunga tersebut sangat cantik, namun dalam pandanganku bunga tersebut tidaklah secantik dan sekhas yang dikatakan temanku, aku menilai bunga edelwies bahkan kalah cantik sama bunga sepatu di kampungku, apalagi kalau dibandingkan dengan bunga mawar atau melati—selain kalah rupa juga kalah harum.

Aku tidak ingat apakah temanku tadi jadi memetiknya atau tidak, namun sempat temanku yang lain mengingatkan kalau hal tersebut dilarang atau setidaknya merupakan larangan dari senior untuk dilakukan. “Jangan kau ambil sesuatu kecuali gambar. Jangan kau tinggalkan sesuatu kecuali jejak. Jangan kau buru sesuatu kecuali waktu”, menjadi salah satu isi dari argumentasi temanku tersebut. Lagi pula sebelum berangkat kita juga sempat diingatkan kalau nanti akan ada penggeledehan jika ada dari kita yang mengambil bunga atau barang lain dari gunung tersebut. Hukuman yang diberikan, katanya, juga tidak main-main: mengembalikan bunga tersebut ke tempat asalnya. Seingatku, hukuman tersebut tidak pernah terjadi.

Tak perlu menjelaskan latar belakang dari munculnya ketiga kalimat tersebut diatas. Jelas sekali aroma kelestarian alam di dalamnya. Sehingga tidak teragukan lagi kalau kalimat itu merupakan penerjemahan dalam bahasa puitis sikap mencintai atau melestarikan alam. Melestarikan alam yang mungkin terwakili oleh satu kalimat,”Jangan lakukan apa-apa!”. Sebuah sikap mencinta dalam diam dan diam dalam mencinta. Agak Absurd memang kedengarannya.

Aku tak habis pikir juga kenapa hampir sebagian besar orang yang suka mendaki gunung menyebut dirinya atau perkumpulannya sebagai pecinta alam. Bagiku, aku merasa bahwa mendaki gunung lebih tepat menyebut dirinya sebagai “Penikmat Alam” atau “Penonton Alam”, hal ini berlaku juga bagi diriku sendiri.

Omong-omong soal edelwies, selama aku mendaki beberapa gunung, dan selama aku menemukan bunga tersebut, selama itu pula aku tidak pernah memetik apa lagi membawa pulang bunga tersebut. Alasannya bukanlah karena slogan pelestarian alam atau larangan yang dibuat, namun karena aku tidak merasa ingin memetiknya atau membawanya. Tidak ada kaitan dengan ideologi atau identitasku sebagai anggota sebuah perkumpulan yang memberi nama dirinya Pecinta Alam.

Itulah sekelumit kisah pengalamanku yang pertama dalam mendaki gunung… Sebuah pengalaman yang timbul dari keingintahuan akan petualangan daki-mendaki. Mungkin juga sebuah pengalaman yang muncul karena pengulangan doktrin lagu kanak-kanak yang selalu dinyanyikan oleh guru Tkku, yang mengendap jadi keinginan hasrat bawah sadarku.

Naik-naik ke puncak gunung… tinggi-tinggi sekali…

Kiri-kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara….

Kiri-kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara….

 

Iklan

0 Responses to “Naik-naik ke Puncak Gunung… Tinggi-tinggi Sekali….”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: