Rene Descartes (diambil dari sumber anonim)

Renè Descartes (Latin: Renatus Cartesius) hidup di Perancis (1596-1650). Dia hidup sejaman dengan Raja Charles I dan Oliver Cromwell, dengan Kepler, Galileo dan Harvey. Descartes mendapat pendidikannya bukan di sebuah universitas tetapi di sebuah kolese Jesuit. Namun ini ternyata bukan kerugian, sebab dia menerima suatu dasar yang lebih baik dalam matematika daripada yang dapat diterimanya di kebanyakan universitas pada masa itu. Dalam usahanya mencari kehidupan yang menyenangkan, Descartes mulai merintis karier di bidang militer. Dia mencoba memasuki beberapa ketentaraan di Eropa, selalu berhati-hati pindah ke tempat manapun waktu peperangan berkobar. Dia pergi ke Swedia atas permintaan Ratu Christina yang, sebagaimana ditegur Bertrand Russel, berpikir bahwa, sebagai penguasa, ia berhak menghamburkan waktu orang-orang besar.

Nampaknya Descartes telah terus menerus berupaya untuk memelihara penampilannya sebagai seorang amatir yang sopan. Dia dikatakan telah bekerja secara singkat dan membaca sedikit. Dia mencoba tidak serius dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kedokteran. Tetapi sumbangsihnya yang utama dilakukan dalam bidang ilmu ukur (geometri) dan filsafat. Dalam bidang geometri dia menemukan geometri koordinat. Dalam bidang filsafat dia merintis rasionalisme yang didahuluinya dengan kesangsian Cartesian. Dia digelari “Bapak filsafat modern”. Dua karyanya yang utama dalam filsafat adalah “Discourse de la Methode” (Uraian tentang Metode, 1637) dan “Méditations” (1641).

Di dalam Discourse, Descartes melukiskan perkembangan intelektualnya. Dia teringat bagaimana dalam musim dingin 1619-1620 dia memasuki suatu “tungku perapian” (suatu ruangan yang dihangati oleh sebuah tungku atau perapian) dan melewatkan hari itu dengan bermeditasi. Pada waktu dia masuk, filsafatnya masih tergarap setengah. Waktu dia keluar kembali, filsafatnya yang paling esensial tergarap sepenuhnya. Di mana prinsip pertamanya memutuskan “tidak akan pernah mau menerima atau menganggap benar sesuatu yang saya tidak tahu dengan jelas itu memang benar demikian.” Dalam bidang ilmiah tidak sesuatupun yang dianggapnya pasti; semuanya dapat dipersoalkan dan pada kenyataannya memang dipersoalkan juga kecuali ilmu pasti. Karena itu, cita-cita Descartes adalah memperbarui filsafat dan ilmu pengetahuan.

Epistemologi: Metode Kesangsian

Untuk dapat memberikan dasar kokoh-kuat pada filsafat dan ilmu pengetahuan yang ingin diperbaruinya itu, yang pertama-tama diperlukan adalah suatu metode yang baik. Cita-cita dan metodenya meniru matematika. “Rantai panjang”, selanjutnya dia berkata, “dari pertimbangan yang sederhana dan mudah yang biasa dipakai oleh para ahli ilmu ukur untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan dari dari pemaparan-pemaparan mereka yang paling sulit, telah memimpin saya membayangkan bahwa segala sesuatu, sejauh pengetahuan manusia sanggup mencapainya, saling berhubungan dengan cara yang sama, dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terlalu terpencil dari kita sehingga berada di luar jangkauan kita, atau terlalu tersembunyi sehingga kita tidak dapat menemukannya, asal saja kita menghindarkan diri dari menerima hal yang salah sebagai benar, dan senantiasa melindungi dalam pikiran kita aturan yang perlu untuk pengambilan kesimpulan (deduksi) mengenai satu kebenaran dari yang lainnya.” Descartes berpendapat bahwa ia telah menemukan metode yang dicarinya itu, yaitu dengan menyangsikan segala-galanya. Ia bermaksud menjalankan metode ini seradikal mungkin.

Descartes menganggap bahwa pengetahuan memang dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan (seperti dalam mimpi atau khayalan), maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data keinderaan tidak dapat diandalkan. Dia kemudian menguji kepercayaannya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, tetapi di sini pun dia menemukan, bahwa dia dapat membayangkan Tuhan yang mungkin bisa menipu manusia.

Dalam kesungguhannya mencari dasar yang mempunyai kepastian mutlak ini, Descartes meragukan adanya surga dan dunia, pikiran dan badani. Satu-satunya hal yang tak dapat dia ragukan adalah eksistensi dirinya sendiri; dia tak meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu. Bahkan jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, dia berdalih bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang disesatkan. Batu karang kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa Latin “Cogito ergo sum“. Saya berpikir, karena itu saya ada.

Yang dimaksudkan Descartes dengan istilah “berpikir” adalah “menyadari”. Pikiran memang merupakan salah satu bentuk kesadaran, dan dalam arti itu kesangsian metodis tadi disebutnya “saya berpikir“, dan karena saya berpikir, jelaslah saya ada. Itulah kebenaran yang bagaimanapun tak dapat disangkal.

Mengapa kebenaran ini bersifat pasti sama sekali? Menurut Descartes, karena saya mengerti itu dengan jelas dan terpilah-pilah (Inggris: “celarly and distinctly“). Jadi hanya hal-hal yang saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah itulah harus diterima sebagai benar. Dengan demikian Descartes berkeyakinan bahwa ia telah menemukan norma untuk menentukan kebenaran.

Idea-idea Bawaan

Menurut Descartes, apa yang jelas dan terpilah-pilah itu tak mungkin didapatkan dari apa yang berada di luar diri kita. Coba kita memperlihatkan lilin dan sarang madu. Dalam mengamati sebuah sarang madu ada beberapa hal masuk dalam indera kita, lidah kita merasakan madunya, hidung mencium baunya, mata melihat rupa dan warnanya, jari terasa keras dan dinginnya. Tetapi jika sarang madu itu kita masukkan ke dalam sebuah wadah dan kita panaskan di atas api, sifat-sifatnya berubah walaupun lilinnya tetap ada. Sifat-sifat itu sekarang cair, lunak, lemah, lentur, mudah dibentuk, dan sebagainya.

Jadi, demikianlah kesimpulan Descartes, yang tampak dan dapat kita amati bukanlah lilin itu sendiri. Adanya lilin kita ketahui dengan rasio atau akal kita. Benda yang disebut lilin itu pada dirinya tidak dapat diamati. Yang kita amati itu bukanlah benda (nomena) melainkan penampakannya (fenomena-nya) saja. Pengetahuan kita tentang benda itu sendiri (lilin) bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan atau sentuhan atau khayalan, melainkan karena pemeriksaan oleh rasio. Apa yang kita duga kita lihat dengan mata itu hanya dapat kita ketahui dengan kuasa penilaian kita yang terdapat di dalam rasio dan dan akal. Pengetahuan melalui indera adalah kabur. Dalam hal ini kita sama dengan binatang.

Justru karena kesaksian apa pun dari luar tidak dapat dipercayai, menurut Descartes, seseorang mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam dirinya, sambil menggunakan norma tersebut di atas (“jelas dan terpilah-pilah”). Descartes berpendapat bahwa di dalam diri kita terutama dapat ditemukan tiga idea bawaan, tiga idea yang sudah ada dalam diri saya sejak kita lahir, yakni:

1. Idea Pemikiran. Justru karena saya mengerti diri saya sebagai makhluk yang berpikir, maka harus diterima bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.

2. Idea Allah sebagai “wujud yang seluruhnya sempurna”. Saya mempunyai idea sempurna. Maka disimpulkan bahwa mesti ada suatu penyebab sempurna untuk idea itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak bisa lain daripada Allah. Karena Allah itu sempurna, Dia juga tidak akan terus-menerus memperdaya saya. Dengan demikian juga, objek-objek yang saya lihat selagi sadar pasti sungguh-sungguh ada.

Idea Keluasan. Saya mengerti materi sebagai keluasan atau ekstensi, sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli ilmu ukur.

Ontologi: Substansi-Atribut-Modus

Yang disebut “substansi” yaitu apa yang berada sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk berada. Substansi yang dipikirkan seperti itu sebenarnya hanya ada satu saja, yaitu Allah. Segala sesuatu yang lain hanya dapat dipikirkan sebagai berada dengan pertolongan Allah. Jadi, sebutan substansi sebenarnya tidak dapat dengan cara yang sama diberikan kepada Allah dan kepada hal-hal lain.

Sambil menyadari perbedaan ini, hal-hal rohani dan bendawi yang diciptakan memang dapat juga dimasukkan dalam pengertian substansi itu. Dan memang Descartes menyimpulkan bahwa selain Allah masih ada dua substansi, yaitu jiwa dan materi.

Selain pengertian substansi, masih ada dua pengertian lain yang dipergunakan Descartes untuk menentukan hakikat segala sesuatu, yaitu pengertian “atribut” dan “modus”.

Yang disebut atribut ialah sifat asasi. Tiap substansi memiliki sifat asasinya sendiri, yang menentukan hakikat substansi itu. Sifat asasi itu mutlak perlu dan tidak dapat ditiadakan. Adanya sifat asasi diandaikan oleh segala sifat yang lain. Segala substansi bendawi memiliki keluasan sebagai atribut atau sifat asasinya. Begitu pula jiwa atau roh mempunyai atributnya sendiri, yakni pemikiran.

Selain atribut, tiap-tiap substansi memupunyai juga modi (tunggal: modus), artinya sifat-sifat substansi yang tidak mutlak perlu dan yang dapat berubah-ubah. Jiwa memiliki sebagai modinya yaitu pikiran-pikiran individual, gagasan-gagasan dan gejala-gejala kesadaran yang lain. Substansi bendawi atau materi memiliki sebagai modinya yaitu bentuk dan besarnya yang lahiriah serta gerak dan perhentiannya. Dengan demikian segala benda tidak memiliki ketentuan yang kualitatif, yang menunjukkan kualitas atau mutunya. Seluruh realitas bendawi diisapkan ke dalam kuantitas atau bilangan. Oleh karena itu segala benda yang bersifat bendawi pada hakikatnya adalah sama. Perbedaan-perbedaan antar-benda bukan mewujudkan hal yang asasi, melainkan hanya tambahan saja.

Sebaliknya, yang berbeda secara asasi adalah roh (jiwa) dan benda (materi), sebab jiwa pada hakikatnya adalah pemikiran dan materi pada hakikatnya adalah keluasan. Roh dapat dipikirkan dengan jelas dan terpilah-pilah, tanpa memerlukan sifat asasi benda. Ini berarti bahwa, menurut Descartes, jiwa dan materi tidak hanya berbeda secara hakiki tetapi juga terpisah satu sama lain. Oleh karena itu secara a priori tidak ada kemungkinan bahwa yang satu mempengaruhi yang lain, sekalipun dalam praktik tampak ada pengaruhnya.

Jiwa telah memiliki sebagai bawaannya yakni pengertian-pengertian yang tunggal tentang substansi bendawi (seperti juga tentang substansi rohani dan substansi yang tiada batasnya, yaitu Allah). Tetapi karena Descartes telah menyangsikan dunia di luar diri saya, sekarang ia mengalami kesulitan untuk membuktikan bahwa idea materi itu juga ada. Artinya idea itu mempunyai eksistensi, tetapi “terwujud” dalam realitas ekstra-subjek. Bagi Descartes, satu-satunya jalan untuk menerima adanya dunia material adalah bahwa Allah akan menipu saya kalau sekiranya Ia memberi saya idea keluasan, sedangkan di luar diri saya tiada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Nah, tidak mungkin bahwa Wujud yang sempurna menipu saya. Jadi, di luar saya sungguh-sungguh ada suatu dunia material

Antropologi

Ajaran Descartes tentang manusia sesuai dengan pandangannya yang dualistis mengenai keterpisahan antara substani rohani dan substansi bendawi.

substansi bendawi. Manusia terdiri dari kedua substansi ini. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keleluasaan. Sebenarnya tubuh tidak lain daripada suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa.

Descartes, dengan memisahkan secara radikal jiwa dan tubuh, menganut dualisme tentang manusia. Ia mendapat banyak kesulitan ketika harus mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara jiwa dan tubuh berlangsung dalam glandula pinealis (sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil). Tetapi akhirnya pemecahan ini tidak memadai bagi Descartes.

Akhirnya, arti Descartes terletak dalam kenyataan bahwa ia telah memberi arah yang pasti kepada pemikir modern. Kesangsian Cartesian mencakup mulai dari pertimbangan falsafi serius akan segala sesuatu tentang apa kesangsian boleh dimiliki. Rasionalisme memungkinkan para filsuf menggapai kunci yang tidak saja menjamin metode ilmiah modern, tetapi juga membuka kunci seluruh realitas. Sebab, ternyata, keyakinan atas penelitian dan pengalaman dapat memperdaya, namun argumentasi rasional tidak terguncangkan. Selanjutnya, ajarannya membuat orang dapat mengerti aliran-aliran filsafat yang timbul pada abad-abad sesudahnya, khususnya idealisme di satu pihak dan positivisme dan materialisme di lain pihak. Pertentangan antara kedua kutub filosofis abad ke-19 ini sudah didahului oleh pertentangan pada abatd ke-17 dan ke-18 antara rasionalisme dan empirisme, yang kemudian diusahakan sintesisnya oleh Immanuel Kant dalam “kritisisme”-nya.

Descartes juga telah mewariskan kepada pemikir-pemikir modern persoalan-persoalan yang harus dibawa sepanjang abad hingga kini. Sebagai orang yang baru membuka jalan dan yang mendapatkan pendidikannya dari Skolastik juga, sudah barang tentu ia tidak sepenuhnya bebas dari tradisi seperti yang ia duga. Cita-cita Descartes untuk mulai dari nol kiranya tak mungkin dilaksanakan oleh manusia yang pada hakikatnya merupakan makhluk menyejarah. Hal yang kemudian dikritik oleh orang-orang empirisis di Inggris. Jika Descartes benar-benar ingin mulai dengan kesangsian, dasar pikiran awalnya seharusnya “Ada keragu-raguan atau kesangsian”. Dia tidak mungkin mengambil kesimpulan dari keberadaan diri pribadi ini, seorang “saya” dengan segala kualitas (sifat) yang kita abaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dapat dipertanyakan juga apakah seorang yang sangat skeptis sekalipun dapat dengan jujur tidak mulai dengan apa-apa kecuali keragu-raguan ataupun kesangsian sebagai data utamanya. Bagaimanapun sulit merumuskannya, kita semua sangat menyadari bahwa kita tidak seorang diri dengan keragu-raguan kita. Kita hidup dalam suatu lingkungan sosial, dan lingkungan sosial itu terdiri dari orang-orang lain, hal-hal lain, dan Allah.

Aliran filsafat yang langsung berasal dari Descartes ialah rasionalime yang mementingkan akal. Dalam akal terdapat idea-idea dan dengan itu orang dapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitas di luar rasio. Dalam aliran ini terutama ada dua masalah yang diwariskan oleh Descartes: pertama masalah substansi, dan kedua, masalah hubungan antara jiwa dan tubuh. Adapun beberapa tokoh rasionalisme adalah Nicolas Malebranche (1638-1715), Barukh de Spinoza (1632-1670), Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) dan Christian Wolf (1679-1754).

 

Iklan

4 Responses to “Rene Descartes (diambil dari sumber anonim)”


  1. 1 zahra Selasa, 28 November 2006 pukul 11:42 am

    Assalamualaikum
    saya bisa ikut gabung?
    gmn caranya?
    Wassalamualaikum

  2. 2 agorsiloku Sabtu, 17 Februari 2007 pukul 1:50 pm

    rasionalisme, asyiknya ketika ada di perbatasan atau merasa sudah ada di perbatasan…..

  3. 3 harianto Sabtu, 24 Februari 2007 pukul 8:02 pm

    ada yang menarik jika kita ikuti alur pemikiran filsof besar ini. Bersama koleganya yang lain, Issac Newton. Descrates mempengaruhi alur pemikiran manusia. bukan terhadap agama namun juga alam. pendekatan yang mekanistik, yang menyatakan alam berjalan seperti mesin, mempengaruhi cara pandang manusia kepada alam.
    Banyak yang “menhujat” pemikiran descrates bersama Newton, menjadi landasan seseorang melakukan perusakan lingkungan. karena pandangannya bahwa alam berada di bawah kaki manusia.

  4. 4 andi Rabu, 18 Februari 2009 pukul 11:03 pm

    yg menarik dari pemikiran2 para ahli filsafat adalah ketika kita coba menggunakan pemikiran2 tersebut dalam mengenal diri kita sendiri dalam perspektif agama, dapat dilihat bahwa sebenarnya yg dibicarakan adalah empiris, rasio dan intuisi, sangat berguna pemikira2 ahli filsafat dalam pendalaman agama dengan bimbingan guru tentunya. ternyata semuanya sudah kita lakukan dalam kehidupan sehari hari.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: