The Authority of The Truth: The Un-Ended Question

Siapakah sesungguhnya yang memiliki otoritas yang mutlak untuk menilai atau mengadili seseorang berbuat sesat atau tidak? Kriteria apakah yang membuat seseorang atau segolongan orang dicap menganut paham sesat dan yang lainnya tidak? Dan selanjutnya siapa yang berhak menentukan kriteria tersebut?

Apakah sesuatu yang dianggap sesat tersebut identik dengan sesuatu yang tidak benar? Lalu apa itu sesungguhnya yang benar? Siapakah yang berhak menentukan kebenaran? Kriteria apa yang mengikutinya sehingga sesuatu tersebut di anggap sebuah kebenaran?

Nah akhirnya secara tidak langsung kita akan terus-menerus dihadapkan pada pertanyaan pertanyaan mendasar seperti itu. Secara tidak langsung juga kita akan mengakui akan kegunaan dari proses berfikir dan kesadaran kita guna memperoleh apa yang kita namakan kebenaran itu sendiri. Sayangnya kita selalu saja mencari sejenis jawaban atau sumber jawaban yang kelihatan mudah dan nyaman bagi kita guna memenuhi keinginan pencarian kita sehingga kita telah melewatkan potensi dari diri dan pemikiran kita guna memperoleh apa yang disebut kebenaran itu sendiri. Di dalam Islam kebenaran dan segala yang dimaksud dengan benar selalu saja dinisbahkan ke kitab suci Al Quran dan Sunnah Nabi sebagai acuan sumber kebenaran.

Sedikit saja perubahan yang ingin diusulkan oleh segolongan orang dalam menafsirkan atau mempertanyakan keabsahan kitab suci dan sunnah akan mendapatkan reaksi yang keras dan kurang bijak dari segolongan yang mensucikannya secara membabi buta. Jaringan Islam Liberal (JIL) yang hanya mengungkit permasalahan permasa-lahan, yang aku anggap remeh, seperti cara berpakaian, cara membagi waris, cara kita berinteraksi dengan nonIslam, telah menyebabkan pihak yang mengaku sebagai pembela Islam dan penentang kaum kafir meradang dan naik pitam, sehingga berani memberikan perintah pembunuhan bagi mereka yang menyokong dan mempopulerkan serta mendukung Jaringan Islam Liberal ini. Fatwa mati pun menjadi hukuman bagi yang bukan-kita.

Persoalan ini aku pikir berawal dari kecenderungan manusia itu sendiri dalam menjaga dan memelihara apa yang mereka anggap sebagai kebenaran yang mereka yakini dan lakoni. Masing-masing dalam membela keyakinan dan keimanannya menggunakan sarana pemikiran atau nalar yang sangat tidak konsisten dan campur baur. Baik pihak JIL maupun lawannya menggunakan nalar sebagai sarana apologis dari pendapat mereka masing-masing. Memang sangat tidak mudah bila berbicara masalah keyakinan keagamaan bahkan di lingkungan agama yang “sama”. Jikalau mereka mau membuka diri dan membuka pikiran untuk bersikap bagai seorang ilmuan dengan mempertanyakan dan meragukan sesuatu yang dianggap kebenaran dan kemudian berusaha membuktikan baik secara empiris maupun logis (induksi dan deduksi) maka mungkin mereka akan dapat berdamai bahkan mungkin akan mengubah keyakinan dan keimanan yang mereka yakini saat ini.

Tapi memang tidak mudah dan tidak realistik pernyataan yang saya kemukakan diatas karena saya hanya berandai andai. Realita yang berkembang menuntut dan dituntut oleh keadaan yang serba beda dan berlawanan satu sama lain. Apalagi menyangkut permasalahan keagamaan. Disinilah saya ingin (sebisa mungkin) meletakkan diri sebaik mungkin menjadi seorang pengamat bebas. Saya tidak akan menilai mana yang benar dan mana yang salah. Bila dilihat secara fenomenologis hal ini merupakan sebuah dialektika yang normal dan wajar. Pertarungan ide dengan ide yang akhirnya akan membentuk ide baru. Berbagai organisme-organisme pemikiran yang bergumul dalam sebuah ekosistem Ide.

Suatu saat nanti mungkin juga aku akan ikut bergumul dan bergulat dalam pertarungan-pertarunganku sendiri. Hanya saja, secara pragmatis dan demi kebaikanku sendiri, untuk saat ini aku tidak akan menggeluti secara terbuka terlebih dahulu. Biarlah aku menggelutinya dalam dunia ideku sendiri dan segelintir orang saja yang tahu.

Yang aku yakini sekarang ini adalah tidak seorangpun atau apapun di dunia ini yang memiliki otoritas pemegang kekuasaan tertinggi dalam menentukan kebenaran. Tapi aku melihat bahwa sebuah konsep yang secara konsisten dapat menjelaskan, meramalkan bahkan dapat mengontrol fenomena ataupun ide secara konsisten dan koheren dapat dikatakan merupakan sebuah kebenaran. Jikalau nanti konsep ini mengandung kesalahan atau kelemahan kita bisa menolaknya atau menggantinya dengan konsep yang lebih baik. Contohlah kebenaran yang kita dapatkan dari penyelidikan kita tentang alam semesta yang telah mendapatkan sejumlah konsep-konsep mengenai gravitasi, energi, waktu dsb. Walaupun kebenaran ini juga merupakan kebenaran sementara yang tergantung konteks ruang dan waktu tempat observasi itu dilakukan.

Iklan

3 Responses to “The Authority of The Truth: The Un-Ended Question”


  1. 1 etikesen Sabtu, 7 Juli 2007 pukul 9:25 pm

    aku semakin tertarik aja dengan kemauan anda untuk berfikir mas. ditulisan mas suluh yang sebelumnya, saya mengajak mas suluh untuk melakukan pencarian mengenai standar kebenaran, dan ternyata ditulisan ini mas suluh memang membicarakan mengenai standar kebenaran itu, tapi saya kira mas suluh belum selesai melakukan pencarian standar kebenaran itu.
    oke mas, siapa yang berhak menentukan sesuatu itu benar atau salah? saya mengajak anda untuk terlebih dahulu memikirkan mengenai alam semesta dan segala isinya, manusia dan segala sifatnya, dan kehidupan beserta segala kekomplekannya, kemudian mari kita kaitkan ketiganya dengan kehidupan sebelum dunia, kehidupan didunia ini dan kehidupan setelah dunia. ini mungkin terlihat sederhana, tapi saya melihat mas suluh sudah melakukannya, hanya saja sepertinya belum tuntas.
    dalam tataran memikirkan hal tersebut, ada baiknya kalau kita mengerahkan segala kemampuan berfikir kita, mau pakai metode silogisme, deduksi induksi dan lain2nya, silahkan karena dalam tataran ini memang kita harus memikirkannya sendiri, kita bebas untuk berfikir.
    namun, jika ternyata kita menemukan jawaban bahwa ternyata Allah sajalah yang berhak untuk menentukan kebenaran, maka selanjutnya adalah ketaatan yang sepenuhnya

    hemmm…. syalut buat mbak etikesen yang telah menemukan jawaban dan telah puas dengan jawabannya… selamat selamat saya ucapkan..

  2. 2 etikesen Senin, 9 Juli 2007 pukul 9:54 am

    aduh mas, sampeyan kok lucu banget sih….selamat2 wae, komene dong….

    ketawa ah… kan ada yang lucu … he he he :D


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: