Wondering Life, Enquiring Death II

Kupikir apa yang dinamakan hidup itu, bagi manusia, adalah kesadaran itu sendiri. Menyadari bahwa diri kita ada dan berada serta bertindak, berpikir, berbicara, merasa, melihat, mendengar, mengecap dan berpikir merupakan esensi dari hidup itu sendiri. Aku sadar bahwa aku sekarang sedang di depan komputer dengan iringan alunan musiknya Kitaro dan dengan menggunakan jari-jari ku aku menekan tombol tombol dalam keybord serta secara bersamaan aku juga menyadari bahwa setiap aku menekan tombol aku melihat ada sejumlah huruf yang tertulis dilayar komputer. Aku sadar bahwa aku sadar. Sejauh pengalaman dan pengamatanku inilah sesunggungnya yang dimaksud dengan hidup.

Ketika kita kehilangan kesadaran baik itu oleh sebab aktivitas tidur ataupun dikarenakan kondisi lain seperti misalnya pingsan atau terhipnotis kita tidak lagi hidup karena kita tidak mampu menyadari adanya diri kita sendiri. Mimpi masih merupakan bagian dari hidup karena disitu kita masih memiliki kesadaran dan membangun pengalaman-pengalaman baru. Dan sejauh pengalaman manusia tidak ada satupun manusia yang berkesadaran tidak memiliki tubuh tempat kesadaran itu muncul. Maka dari fakta ini aku mengambil pernah berfikir bahwa setelah tubuh kita tidak bekerja lagi atau telah menjadi mayat maka dengan sendirinya kita akan kehilangan kesadaran kita dan tidak lagi hidup. Tidaklah salah jika kita sering mengatakan bahwa mati itu merupakan tidur yang abadi.

Menghadapi kenyataan akan mati, aku selalu saja diliputi perasaan yang mencekam. Aku seperti orang yang menderita klautropobia. Walaupun secara sadar aku harus mengakui cepat atau lambat keadaan itu akan sampai pada diriku. Memang banyak sekali kepercayaan yang berkembang mengenai kehidupan setelah mati. Tetapi entah kenapa, walaupun aku sudah berusaha untuk meyakininya, seperti yang mereka katakan, aku selalu saja diliputi oleh kengerian yang dalam.

Dalam fisika, misalnya, hukum kekekalan energi mengatakan kalau segala entitas yang ada adalah energi. Massa adalah energi. Segalanya adalah energi. Sehingga kitapun merupakan salah satu bentuk energi. Kematian kita juga akan kembali ke bentuk semula, yang masih merupakan salah satu bentuk energi. Jadi setelah mati kita akan kembali menjadi energi, apapun itu bentuknya. Dari energi kembali ke energi. Itulah sesungguhnya kita. Namun ketakutanku masih selalu ada.

Andai mati itu indah… andai mati itu syahdu… mungkin saja….

Iklan

1 Response to “Wondering Life, Enquiring Death II”


  1. 1 etikesen Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 11:40 am

    mati akan menjadi syahdu dan indah kalau sedari hidup kita menyadari bahwa ada kehidupan setelah mati. pasti akan sangat indah, bahkan indahnya kematian itu bisa kita bayangkan dari sejak kita hidup


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: