Wondering Life, Enquiring Death

Sensibilitas kita terhadap waktu dan ruang sepertinya melekat pada naluri alamiah biologi kita. Kepercayaan terhadap kedua hal tersebutlah yang nyatanya merupakan esensi dari pertahanan hidup kita. Keberadaan benda dalam ruang yang secara alamiah kita anggap nyata seperti dirinya sendiri yang bertahan dalam ruang dan waktu yang berubah merupakan pilihan praktis dari laku hidup kita. Tanpa ada kepercayaan alamiah terhadap benda-benda yang masuk dalam wilayah sesibilitas indera kita sepertinya kita akan sulit bertahan. Kelangsungan hidup dari proses makan dan minum merupakan kehendak naluriah tubuh dan psikologi kita yang tanpanya kita tidak bisa bertahan. Sistem pernafasan kita yang menghendaki hadirnya udara merupakan salah satu contoh nyata dari kebutuhan kita pada benda-benda di ruang dan waktu ini.

Akan tetapi akan selalu saja terdapat ketakjuban ketika kita membayangkan dan merenungkan hakikat dari benda serta ruang dan waktu itu sendiri. Selalu saja menyisakan celah jawaban yang tak dapat kita isi, walaupun sudah beribu-ribu tahun manusia memikirkannya. Suksesi pemikiran-pemikiran manusia yang menggeluti pertanyaan mengenai hakikat ruang dan waktu selalu saja mentok karena keberadaan manusia itu sendiri dalam ruang dan waktu serta keterbatasan kehidupannya dalam ruang dan waktu itu sendiri.

Apakah hakikat dari kita sendiri saja masih terus merupakan sebuah pertanyaan yang tak pernah dapat kita simpulkan? Sains yang hampir lima abad menguasai kerajaan pengetahuan ternyata belum mampu mengenali dirinya sendiri yang menciptakan sains itu sendiri, mengenali hakikat manusia.

Akankah kehidupan yang begitu mengagumkan ini menghilang begitu saja dimasa depan? Paling tidak, dalam kematian tubuh yang terus membusuk, aku sadar, kita akan selalu dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mengenai dunia kita sendiri. Harta, kuasa dan tubuh akhirnya menghilang bersama dengan kematian diri kita.

Walaupun demikian aku selalu saja memikirkan bahwa kematian hanyalah penyebutan pada suatu objek—yang dulu dikatakan hidup—yang sesungguhnya mungkin tidak akan pernah kita alami karena kematian adalah akhir dari pengalaman kita. Dengan demikian kematian bukan wilayah kesadaran yang terinsafi yang melekat bersama dengan pengalaman kita, tetapi ia merupakan waktu batas diri kita. Layaknya waktu ketika kita terjatuh kedalam tidur yang lelap yang tak akan pernah dapat kita ketahui kapan waktu tertidur kita.

Iklan

0 Responses to “Wondering Life, Enquiring Death”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: