Yang Terlupa, Yang Tersisa

Mengenang masalalu. Disana ada kerinduan akan ingat dan lupa. Disana ada wajah-wajah yang menggemaskan, juga kadang menyakitkan. Disana ada sebuah nama dan tempat dan juga ruang.

Pertengahan tahun 1999. Di pinggiran kampus Univesitas Gadjah Mada. Sekumpulan orang muda dengan gairah muda berkumpul. Dari ingatanku, kala itu, yang terlukis hanya wajah-wajah sumringah dan cerah karena ada sesuatu yang baru dan menggairahkan disana. Baru dan gairah menjadi seorang mahasiswa. Gairah dari siswa menjadi Maha siswa. Ada kebanggaan di sana ada pula sedikit kecemasan.

Kecemasan yang lumrah mungkin. Dari cemas soal pondokan, soal makan dan minum, soal memilih bus buat berpindah tempat, sampai soal ideologi dan kepercayaan yang menanti. Tetapi semua cemas tersembunyi dibawah permukaan senang dan bangga

Berkumpulnya lain jiwa dalam satu atap berarti bertemunya yang bukan aku dengan yang aku. Aku yang satu bertemu dengan yang bukan aku – bukan aku. Disana aku harus berkompromi dengan yang bukan aku. Demi sebuah kelangsungan hidup dan tentunya ketenangan dan kedamaian hidup. Disana juga muncul identitas baru dari yang aku dengan yang bukan aku- bukan aku. Ada persengkokolan tanpa ucap. Ada sebuah persetujuan akan identitas. Dan identitas itu, oleh seorang penghuninya, diberikan sebuah nama. Al Muta’alim. Sebuah pemberian nama yang tanpa gairah dan konflik. Tanpa argumentasi dan debat yang panjang. Yang ada bisunya para penghuni dan dalam diam, mereka meng iyakannya saja. Apalah arti sebuah nama?—What’s in a name? That which we call a rose. By any other name would smell as sweet, meminjam dari William Shakpears. Toh ia hanya sebuah pondokan kecil dari sekumpulan kecil mahasiswa yang tak punya tujuan bersama.

Kata sang penciptanya, nama itu bermakna sang pencari ilmu. Dari bahasanya jelas di ambil dari bahasa timur tengah sana. Mungkin, gairah identitas keagamaan yang melatarbelakangi. Kini, jauh dari masa itu, aku bertanya: kenapa harus bahasa arab? Mungkin juga karena sang pemberinama juga mengambil nama dari nabi arab sana. Yusuf. Dan juga nama aku.

Arab berarti juga mengandung sebuah harapan. Harapan untuk menjadi dan untuk dipanggil. Sebuah identitas tentunya untuk menjadi dan dipanggih sebagai bangsa arab.

Dan entah kenapa aku juga menginginkannya saat itu. Tentunya pernyataan tersebut akan dibantah dengan keras oleh teman-temanku dan juga aku saat itu. Yang pasti saat itu mereka menginginkan sebuah keshalihan sebagai orang islam dan penganut islam yang taat. Menjadi islam berarti menjadi arab. Semakin kita menguasai yang Arab semakin shalih dan kuat islam yang kita anut. Dengan demikian kita harus memberi nama arab bagi perkumpulan kita. Walau hanya sebuah pondokan.

Menjadi arab pun jadi sebuah mode. Jadi sebuah kelas yang tinggi. Dari urusan nama sampai urusan sikat gigi. Dari urusan makan sampai urusan minyak wangi. Dan berlomba-lomba lah orang menjual segala yang berbau arab. Kurma arab. Minyak dari arab, sabun arab, kopyah arab, baju arab, bahkan pemikiran arab. Semua yang arab adalah seksi dan indah.

Kini. Yang tersisa adalah kenangan akan ingat dan lupa. Aku dan sebagian yang bukan aku yang lupa dan sebagian lagi yang bukan aku yang ingat. Lupa disini berarti putus atau buang. Memutus sebagian (mungkin juga semua) yang arab dan membuangnya. Ingat berarti cinta dan simpan. Mencintai yang dan menggunakan yang arab dan menyimpannya.

Teman-teman dimanapun kalian. Satu yang kuinginkan. Sebuah persahabatan yang elok dari kita yang beragam. Dan tentunya sebuah perdamaian yang seksi. Hanya saja kala ini. Ia hanya jadi harapan dan angan. Kenapa beda sulit disatukan?

Iklan

0 Responses to “Yang Terlupa, Yang Tersisa”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: