Menggambar: Mari Mengenang Masa Kecil

Mari kita kembali ke masa hidup kita di kala SD atau TK. Anda juga pasti mengingat bahwa di jaman itu kita diajari (kalau tidak, ya dipaksa untuk belajar) bermacam-macam konsep dan ketrampilan. Nah, ada hal yang aku ingat kala mempelajari satu ketrampilan yang membuat aku waktu itu bertanya-tanya.

Semenjak TK ketrampilan menggambar menjadi salah satu acara wajib bagi semua siswa. Hal tersebut berlangsung sampai aku SMA juga. Waktu kelas 2 (atau kelas 1, aku tidak begitu ingat), objek gambar yang paling sering dibuat atau diajarkan adalah Rumah. Sampai saat ini pun adikku yang masih SD masih juga diajari menggambar objek tersebut. Tidak ada perubahan yang cukup berarti kecuali alat gambar yang lebih bagus dan lebih mudah untuk di dapat.

Satu kecenderungan yang masih teringat dalam benakku dalam persoalan gambar-menggambar ini adalah kecenderungan dari dalam diriku untuk menilai hasil gambarku atau gambar siapapun secara realis estetis. Artinya jika gambar yang berhasil dibuat semakin menyerupai kenyataan sehari-hari dan memiliki unsur “enak dimata” maka gambar tersebutlah yang dinilai baik. Maka ketika menggambar rumah mulai dari TK sampai akhir SD tidak ada perubahan yang berarti. Namun suatu waktu, entah dapat ilham dari mana, aku menggambar sebuah rumah dengan jendela yang berbeda dari biasa yang aku gambarkan (biasanya aku menggambar jendela berbentuk persegi panjang): Jendela yang kugambar berbentuk oval. Akan tetapi dari pandanganku jendela yang kubuat tersebut kelihatan jelek. Namun diluar dugaan guruku memberikan nilai 8, sebuah nilai yang sangat tinggi yang belum pernah aku dapatkan.

Selanjutnya dikarenakan kegembiraan yang mendalam akan keberhasilanku dalam memperoleh nilai tersebut, di lain waktu aku juga menggambar sama persis dengan yang kulakukan sewaktu mendapat nilai 8 tersebut. Namun hasil yang kuperoleh ternyata tidak sesuai harapan, aku hanya memperoleh nilai 7½. Ketika aku mengulang lagi aku hanya mendapat nilai 7. Dan selanjutnya nilai 7 tersebutlah yang menjadi nilai tertinggi yang bisa aku peroleh.

Di kelas 5 (kalau tidak ya kelas 6), ada lomba mewarnai layang-layang. Setelah mempersiapkan segalanya dari mulai membuat layang-layang sampai design bentuk dan warna yang akan aku buat, akhirnya aku mengikuti lomba tersebut. Kala itu aku membuat bentuk orang yang “abstrak atau semu” (walaupun aku dulu tidak mengetahui dan mengenal kata ini), yang aku contoh dari lambang suatu even bulutangkis—yang secara tidak sengaja kudapat dari halaman koran—dengan menghilangkan bola dunia yang melingkari dan menjadi latar gambar orang tersebut. Dan walaupun aku telah mempersiapkan beberapa warna sebelumnya, namun dalam pelaksanaanya aku hanya menggunakan satu warna yaitu warna merah.

Diluar dugaanku, karyaku tersebut memperoleh juara pertama. Padahal aku menilai karyaku tersebut jelek dan tidak enak dipandang. Jika dibandingkan dengan karya teman-temanku yang lain aku merasa kalau karyaku kalah jauh. Namun aku tidak mengerti mengapa guru penilai menilai karyaku yang layak jadi pemenang.

Di kala SMP, ada lomba menggambar kaligrafi. Oleh teman-temanku aku diajukan untuk mengikutinya mewakili kelas yang aku huni. Tanpa mencontoh atau mencari sumber referensi tentang kaligrafi, aku mengikutinya dengan hanya mengandalkan insting dan kemampuanku. Ketika menggambar kaligrafi, kulihat sainganku yang berasal dari kelas 1 sampai kelas 3—kala itu aku berada di kelas 1—membuat karya yang sangat-sangat bagus. Aku merasa tidak ada harapan untuk menang. Dengan hanya menggunakan spidol warna yang kucoretkan semauku sehingga membentuk setidaknya “sebuah tulisan arab” aku meneruskan juga gambaranku sampai selesai. Namun diluar dugaan akal sehatku aku ternyata memenangkan lomba tersebut dan mendapatkan hadiah pertama. Namun ketika kelas dua, sewaktu mengikuti lomba sejenis aku tidak mendapatkan gelar juara apapun. Kala itu aku baru menyadari ada suatu kesalahan yang aku lakukan dan aku sadari. Inilah beberapa alasan dan pemahamanku kala itu yang masih aku ingat dan yakini sampai saat ini mengenai kenapa aku bisa menang dan aku bisa gagal.

Semua cerita yang kugambarkan tersebut diatas, akhirnya aku menemukan kata kunci untuk menjelaskannya: kreatifitas dan spontanitas—dengan catatan hal tersebut dinilai dari kacamata para guru. Dalam kasus pertama, yaitu menggambar rumah, terdapat suatu objek desing baru yang aku buat yang tidak pernah ada sebelumnya dalam gambar-gambar di lingkungan sekolahku (teman-temanku), sehingga guru menilai itu merupakan suatu nilai tambah yang cukup signifikan. Namun karena selanjutnya tidak ada perubahan yang baru atau tidak ada kreatifitas yang tercipta lagi maka penilaiannya menjadi surut. Spontanitas yang ada dalam diriku menjadi mandek atau mati karena mengulang-dan mengulang gambar yang lama.

Dalam kasus layang-layang, berlaku juga demikian. Gambar yang aku buat juga merupakan hal yang sepenuhnya baru di kala itu dan penuh dengan spontanitas. Kreatifitas dan spontanitas yang aku hasilkan walaupun dari sudut pandangku kala itu tidak tersadari menjadi nilai lebih yang mengantarkanku menjadi juara. Dan ternyata para guru mengetahui gejala ini.

Di kasus yang kaligrafi kelas 1, hal ini juga berlaku. Karena pada waktu itu aku membikin sebuah kaligrafi yang lain-dari pada yang lain, dan tidak pernah ada dalam buku-buku kaligrafi, guru gambarku yang menjadi juri menilai itu sebuah hasil dari kehendak atas naluri kreatifitas dan spontanitas yang tidak terdapat pada karya yang lain yang cenderung meniru. Namun waktu kelas 2, kreatifitas dan spontanitas tidak mendapat tempatnya karena waktu itu yang menjadi juri bukan dari kalangan guru tapi dari kalangan siswa kelas tiga yang menjadi panitia. Aku menilai siswa kelas tiga tidak mengetahui hasrat dan nilai lebih dari kreatifitas dan spontanitas dan sebaliknya mengedepankan penampakkan luarnya saja. Aku bukannya hendak bermaksud memberikan suatu jastifikasi atas kekalahanku waktu itu namun karena aku benar-benar memahami bahwa hal tersebutlah yang terjadi.

So… be a creative person… don’t be a plagiat person… and you’ll see… your dignity will arise…

 

 

Iklan

1 Response to “Menggambar: Mari Mengenang Masa Kecil”


  1. 1 Farida Nur Senin, 2 Februari 2009 pukul 6:57 pm

    Hal yang tanpa disengaja terjadi juga pada saya. Tetapi dengan ketidaksengajaan tersebut membuat diriku mengetahui kemampuanku di bidang ketrampilan menggoreskan pensil dan pastel, dan membuatku untuk mau mempelajari lebih lanjut. Dan hal tersebut sangat berguna meskipun tidak seratus persen menjadi seniman. Sekarang ini saya berprofesi sebagai guru TK dan memegang kelas drama yang sangat membutuhkan banyak kekreatifan dalam membuat bahan untuk bermain drama anak-anak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: