Aparatus Indera dan Keyakinan Kita

Setiap pengetahuan dan pengalaman yang kita peroleh melalui aparatus indera kita merupakan pengetahuan yang sifatnya sementara. Maksudnya adalah pengetahuan dan pengalaman tersebut tidaklah memiliki suatu kecenderungan hukum alam tertentu. Api yang selama ini merupakan benda yang memiliki panas yang dapat membakar kulit tubuh kita bisa saja memiliki karateristik yang berbeda seperti dingin. Ini bukanlah merupakan sesuatu yang mustahil secara logis. Kepercayaan kita mengenai api yang panas lebih bersifat psikologis praktis. Artinya kita memiliki kepercayaan tersebut dikarenakan kepercayaan tersebutlah yang mampu menghindari kita dari kesulitan hidup. Berulang kali memang aku menuliskan mengenai hal ini. dengan demikian pengetahuan yang diambil melalui metode induksi adalah pengetahuan yang sifatnya sementara.

Sesungguhnya jika dipikir lebih mendalam pengalaman dan pengetahuan kita juga bersifat sementara. Tidak ada keyakinan yang benar-benar benar. Semua kebenaran sifatnya sementara. Akan tetapi kesimpulan ini merupakan kesimpulan yang tidak memiliki aspek praktis. Ia hanyalah merupakan kesimpulan logis dari pemahaman dan penalaran kita. Jikalau kesimpulan ini diwujudkan dalam kehidupan nyata maka banyak sekali kendala dan kehancuran dari tatanan yang ada. Saya, walaupun memiliki apresiasi yang tinggi terhadap kesimpulan ini pada pemikiran saya, akan tetapi saya tidak dapat menjadikannya sebagai keyakinan praktis dalam kehidupan saya.

Tuntutan hidup tidak melulu bersifat pemikiran atau ide, hidup dituntut oleh kebutuhan tubuh atas kepercayaannya terhadap realitas disekitar tubuh tersebut dengan menganggap bahwa setiap kejadian memiliki sebab akibat yang kekal. Api selalu panas, dimanapun dan kapanpun tubuh itu berada, karena tidak dapat berspekulasi dengan tingkat probabilitas yang sedemikian kecil pada kepercayaan yang sebaliknya, api itu kadang juga dingin. Demikianlah mekanisme kerja dari tubuh kita terhadap realitas tempat ia tumbuh. Selain itu harus diakui juga bahwa tubuh merupakan bagian dari realitas itu sendiri.

Iklan

4 Responses to “Aparatus Indera dan Keyakinan Kita”


  1. 1 ana Minggu, 4 Juni 2006 pukul 5:51 am

    kata-katamu bagus bgt,boleh donk aq tau caranya bisa buat kata2 kaya kamu.salut bgt deh,jarang da cow yang suka nulis-nulis kaya gitu.aq aja yang cew BLASSSSSSSS gak bisa kok.Bawaan dari lahir ya??????

  2. 2 lovepassword Jumat, 3 Oktober 2008 pukul 7:16 pm

    Dari indera, manusia memperoleh sensasi pengalaman. Apa yang dirasakan manusia itu kadang ada yang berulang dan ada yang tidak. Kalopun berulang maka batas kebenaran indera manusia itu tentu memang hanya ada pada waktu pengalaman itu terjadi. Tetapi ketika ada perulangan demi perulangan maka timbullah keyakinan pada manusia mengenai adanya trend sebab akibat yang berulang.

    Jika kemarin kita sakit saat dipukul dan hari ini kita sakit jika dipukul sakit, maka pada hari2 ke depan akan timbul keyakinan kalo dipukul itu sakit.

    Dari sisi filsafat saya rasa pengalaman empiris yang sifatnya terlalu luas memang bukan sesuatu yang bisa diverifikasi. Metode yang lebih layak mungkin falsifikasi : Sesuatu bisa dianggap benar bila secara empiris/analogi benar dan tidak ada bukti yang menyatakan itu salah. Tetapi ada masanya juga bahkan falsifikasi demi falsifikasi kita abaikan, baik dengan konsep statistik maupun common sense yang bisa diterima banyak orang. Keberadaan Tuhan misalnya.

    SALAM MAS SULUH

  3. 3 Suluh Sabtu, 4 Oktober 2008 pukul 6:14 am

    @lovepassword: falsifikasi itu wilayah pengetahuan empiris mas. Khususnya dalam epistimologi “metode” sains. Falsifikasi, merujuk pada Popper, “the logic of scientific discovery” (sudah ada terjemahan bahasa indo cuma rada jelek terjemahaannya sih), merupakan sebuah metode untuk membuat garis demarkasi antara sains dan bukan sains. dan sejauh yang saya pahami, saya setuju dengan popper.

    Bahan bacaan:

    https://haqiqie.wordpress.com/2007/06/25/tidak-ada-kecuali-atau-anomali-dalam-falsifikasi-popper/
    https://haqiqie.wordpress.com/2007/06/02/falsifikasi-popper-falsifiabilitas-batas-antara-sains-dan-nonsains/


  1. 1 Indera Kita dan Pengetahuan Kita: Problem Tentang Persepsi dalam Filsafat « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Sabtu, 16 Juni 2007 pukul 9:33 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: