Musik dan Aku: Sebuah Pemahaman

Bagiku, aku yang bukan pencipta tapi pecinta, musik selalu saja membuat diriku merenung dan mengalun. Sebuah syair memang memiliki bahasa dan makna yang jelas dalam benak-lingustik kita, tetapi bukan itu yang sesungguhnya menjadi inti dari kesyahduan sebuah musik. Yang menjadi esensi dari musik itu sendiri terletak pada musik yang melatar belakanginya atau kombinasi titian nada yang ada di dalamnya, atau aransemen yang lahir di dalam musik itu sendiri. Nada dari musik yang memiliki hati yang universal tanpa tersekat oleh apapun. Sehingga aku menilai bahwa aransemen nada memang memiliki jiwa nya sendiri, dan emosinya sendiri, tanpa harus memandang suku atau bangsa dan bahasa. Mungkin inilah universalitas dari sebuah bahasa jiwa bukan bahasa kata. Syair selalu saja berhenti pada bahasa dan makna, dengan demikian ia juga berhenti pada bangsa dan komunitas tertentu.

Musik yang seram. Musik yang syahdu. Musik yang marah. Musik yang sedih. Musik yang gembira. Apapun itu manifestasinya dalam titian nada akan selalu memberikan bahasa yang universal. Suara binatang tertentu pun sering kali menggambarkan gelora emosi yang ada dalam dirinya. Lenguhan kerbau. Ringkikan kuda. Auman macan. Meongan kucing. Atau gonggongan anjing. Kesemuanya itu hanyalah merupakan suatu simbolisasi bahasa hewan dalam pengertian yang sempit. Artinya gonggongan anjing bukanlah merupakan satu isyarat saja dari emosi anjing namun dengan suatu intensitas nada yang berbeda dari gonggongan anjing kita bisa mengetahui kemauan dan keinginan sang anjing. Nah dalam bentuk yang seperti inilah sesungguhnya bahasa gonggongan anjing dalam pengertian yang luas. Apalagi kalau hal tersebut dikombinasikan dengan perilaku si anjing itu sendiri.

Musik adalah bahasa. Musik adalah representasi dari rasa kita atau pengalaman kita. Dengan demikian kebutuhan kita akan musik bisa jadi merupakan suatu hal yang naluriah dan bermanfaat bagi penerjemahan pengalaman kita ke dalam suatu bahasa. Kemarahan atau kebimbangan tidak hanya dapat dikomunikasikan lewat media bahasa kata (baik tertulis maupun oral), namun kita juga bisa mengkomunikasikan perasaan dan pengalaman kita dengan bahasa musik. Aku rasa inilah yang dikerjakan oleh para komposer dunia, maupun para seniman musik. Dan aku yakin juga bahwa ini tidak hanya berlaku bagi seni musik tapi juga seni yang lainnya: seni lukis, seni pahat, seni sastra, dan yang lainnya.

Berbahasalah dengan musik…. Bermusiklah dengan bahasa….

Iklan

0 Responses to “Musik dan Aku: Sebuah Pemahaman”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: