Aku dan Bukan-Aku: Sebuah Gairah Pertemuan

Entah mengapa dari dalam diriku selalu muncul perasaan yang menghendaki keakraban dan kesatuan dengan yang bukan-aku. Dalam kehendak hatiku yang terdalam selalu terbit hasrat untuk mengenal dan dikenal dari dan dengan yang bukan-aku. Hal tersebut sesungguhnya merupakan manifestasi dari ketakutan diriku pada keterasingan atau pun pada ketersendirian. Seolah-olah dalam diriku ada suatu dorongan untuk dikenal dan mengenal orang lain dan karenanya sebuah keterasingan akan menyebabkan batinku tertekan dan gundah.

Dalam proses perjalanan hidup dan pengalamanku akan keakraban atau kesatuan yang terwujud dalam sebuah proses perkenalan, selalu saja dibarengi dengan emosi yang positif dari dalam hatiku. Ada perasaan hangat setiap kali aku berkenalan dengan seseorang. Hanya saja perkenalan ini harus diberi catatan sebagai sebuah perkenalan yang positif. Artinya aku berkenalan dengan seseorang dalam suatu kondisi dan suasana yang positif bukan misalnya dalam suasana mencekam seperti umpamanya bekenalan dengan seorang penjahat yang ingin berniat jahat terhadapku. Pendek kata perkenalanku tersebut harus didasari pada hati yang bersahabat bukan pada hati yang berdendam.

Dengan derajat intersitas tertentu yang aku tidak bisa memberikan definisi maupun ukuran yang tepat, karena sifatnya yang subjektif, aku selalu lebih merasakan kehangatan dan keakraban dalam hatiku bila berkenalan dengan seorang wanita dibandingkan apabila berkenalan dengan seorang pria. Bukan hanya intersitas perasaan saja yang lebih baik, namun kehendak atau hasrat untuk mengenal diri seorang perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan hasrat atau kehendak untuk mengenal seorang pria. Hal tersebut terbukti dengan pengalamanku sendiri. Dari berbagai pria yang menjadi teman atau sahabatku hampir seluruhnya aku kenal karena suatu ikatan yang organisasional atau situasional dengan jangka waktu yang lama; teman kampus, teman kos, teman kkn, teman sd, teman smp, teman kampung, teman pecinta alam, dan sejenisnya. Jarang aku mengenal atau berteman dengan seorang pria hanya dikarenakan pertemuan sesaat. Hal tersebut berbeda apabila dibandingkan dengan proses perkenalanku dengan seorang wanita yang tidak hanya terjadi karena proses ikatan organisasional atau situasional dengan jangka waktu yang lama, namun juga bisa lewat proses ketidaksengajaan yang pendek. Aku bisa mengenal seorang wanita hanya karena aku pernah bertemu dengannya di sebuah bengkel; aku bisa mengenal dan berteman dengan seorang wanita hanya karena aku dikenalkan oleh seseorang; aku bisa mengenal dan berteman dengan seorang perempuan hanya karena aku ngobrol dengannya di sebuah toko buku; dan sebagainya.

Demikian pula intensitas perkenalanku atau pertemananku secara emosional lebih besar pada pertemanan dengan seorang perempuan dibandingkan dengan seorang pria. Aku tidak canggung atau ragu untuk mengungkapkan emosi negatifku menyangkut bermacam hal dihadapan perempuan dibandingkan kalau dihadapan pria. Aku tidak canggung untuk menjalin komunikasi lewat media elektronik dengan seorang perempuan dengan frekuensi yang tinggi dibandingkan dengan seorang laki-laki. Demikian seterusnya. Aku rasa sebagian laki-laki juga mengalami kecenderungan yang sama denganku.

Hal tersebut aku pikir merupakan suatu kewajaran yang lumrah dari kehendak biologiku yang terlahir sebagai seorang pria. Kecenderungan untuk lebih dekat dengan seorang wanita merupakan penegasan atau pun manifestasi dari hasrat seksual bagi seorang lelaki yang normal sepertiku, walaupun tidak dalam aspek elaborasi seksual badaniah. Dengan demikian aku juga tidak harus menganggap hal ini sebagai sebuah kesalahan, walaupun jikalau dihadapkan dengan tradisi keagamaan yang puritan—seperti islam puritan; jamaah tarbiyah atau salafi misalnya—hal tersebut merupakan suatu relasi yang terlarang dan berbuah dengan dosa. Hal tersebut mereka anggap sebagai sebuah pelanggaran atas norma-norma agama yang bisa menjerumuskan ke dalam lebah kenistaan yang diberi nama perzinaan. Walaupun pada suatu masa dari perjalanan hidupku aku pernah menganut norma tersebut namun pada akhirnya melalui sebuah perenungan dan penyadaran dari dalam benakku aku kemudian meninggalkan cara pandang yang lama tersebut dan kemudian berusaha untuk menemukan caraku sendiri. Walaupun demikian aku juga merasa bersyukur bahwa aku pernah menjalani kehidupan dalam ikatan norma yang ketat seperti itu.

Sungguh merupakan suatu kesenangan dan kegairahan tersendiri bagi jiwaku ketika aku mengenal dan berkenalan dengan seseorang yang bukan-aku khususnya seorang wanita. Keterasingan yang hinggap dalam diriku seolah-olah lenyap dan sirna jika ada seorang wanita yang bisa aku ajak komunikasi atau kuajak berteman. Namun demikian aku juga menyadari bahwa ada suatu batasan tertentu dari kegairahanku itu. Batasan itu terletak pada segi umur dari objek komunikasi dan pertemananku. Kegairahan tersebut muncul biasanya apabila dari segi umur objek pertemananku tersebut memiliki kesamaan atau setidaknya tidak berbeda jauh.

Namun… entah nanti… entah sekarang…. semuanya bisa saja berubah….

Iklan

1 Response to “Aku dan Bukan-Aku: Sebuah Gairah Pertemuan”


  1. 1 etikesen Sabtu, 21 Juli 2007 pukul 12:28 pm

    sebuah kejujuran diruang publik yang tidak semua laki2 bisa melakukannya, demikian juga perempuan. terima kasih, mau berbagi dengan kami semua :)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: