To Magee; A Great Thank from Me

schopenhauer 2.jpg

Tidak diragukan lagi pada diriku bahwasanya salah satu buku yang paling mempengaruhi dan mengilhamiku dalam memahami serta mengarungi kehidupan di dunia ini terdapat dalam Memoar-nya Bryan Magee. Kejernihan serta kecerdasannya dalam mengemukakan argumen dari para filosof dan kegeniusannya dalam mengantarkanku kepada pemikiran-pemikiran para filosof itulah yang menjadi tolak dasar dari pengakuanku tersebut.

Sebelum menyimak apa yang dikemukakan Magee, tiga tahun terakhir dalam kehidupan pemikiranku, aku cenderung menganut pandangan realisme empiris. Artinya adalah segala sesuatu yang terjadi dan akan terjadi atau sedang terjadi selalu saja aku cari penjelasannya dengan menggunakan cara pandang sains atau yang aku pandang sebagai sains. Aku tidak menyakini selama kurun waktu tersebut hal-hal yang bersifat transendental atau yang bersifat imajinatif yang tidak memiliki kaitan dengan penyelidikan ilmiah. Namun kini, aku menyadari bahwa penyelidikan ilmiah empiris dengan pengetahuan yang diperolehnya lewat cara-cara yang disebut dengan cara-cara sains ternyata tidak dapat menemukan kepastian atas persoalanku, yaitu persoalan memahami dunia. Kecenderungan kausalitas yang diusung sainslah yang menimbulkan kesulitan dalam memahami dunia ini.

Dalam bab-bab awal Bryan menceritakan atau lebih tepatnya memerikan pemikiran-pemikiran filsafat yang telah berkembang selama ini. Pemikiran yang paling banyak ia kupas di bab-bab awal adalah pemikiran tokoh-tokoh positivis logis serta analisis linguistik. Untuk rentang waktu tertentu, aku pernah begitu terpesona juga dengan pemikiran tokoh positivis logis seperti Bertrand Russel. Walaupun aku juga mengetahui bahwa Russel tidak suka digolongkan dengan golongan positivis logis ini (Beberapa buku karangan Russel sempat menjadi gairah pembacaanku sekaligus menghuni koleksi bukuku). Namun demikian corak filsafat yang dikembangkan Russel yang bercirikan kepastian model matematis, menjadikanku percaya bahwa Russel termasuk tokoh yang merintis kearah filsafat analitis logis ini. Dua prinsip verifikasi yang diusung oleh kaum positivis logis sempat mempesonakan pemikiranku. Seperti Descartes, kaum positivis logis mencari sebuah upaya untuk menemukan garis demarkasi antara sebuah pernyataan yang bermakna dan yang tidak bermakna. Aku menganggap juga pencarian ini merupakan salah satu dari hasrat pencarian akan kepastian atau kebenaran. Demikian pula dengan kaum analisis linguistik juga mengemban suatu pencarian akan kepastian juga.

Pencarian akan kepastian atau kebenaran ini sempat juga menjadi hasrat keinginanku yang pernah aku sampaikan kepada teman-temanku seangkatan di Teknik Fisika—yang sayangnya, hasilnya tidak memberikan suatu kontribusi yang memadai kepadaku, malah kemudian berakhir dengan debat kusir serta munculnya pernyataan-pernyataan yang penuh emosional yang ditujukan kepadaku. Namun, lewat pembacaanku atas Memoar-nya Bryan, ternyata selama ini yang aku cari telah melenceng jauh dari jalan yang benar. Tujuan dari pencarianku bukanlah menemukan suatu epistimologi kepastian atau kebenaran melainkan upaya sadar untuk memahami dunia serta memahami diriku sendiri sebagai bagian dari dunia yang memiliki suatu kesadaran atau kehendak bebas yang unik dan penuh misteri.

Dari Bryanlah aku kemudian memahami filsafatnya Kant dan Schopenhaeur, dua buah nama yang oleh Russel selalu saja dikesampingkan (Baca History of Western Philosopy-nya Russel). Walaupun akses ke buku-buku yang dikarang oleh Kant sangat mudah aku dapatkan (berbeda dengan karya Schopenhaeur) namun upaya pemahamanku terhadap filsafat Kant sangatlah sulit. Sampai detik ini saja pemahamanku pada filsafat Kant dan Schopenhaeur selalu saja harus melewati Bryan. Melalui Bryan pula aku menumbuhkan hasrat untuk membaca karya-karya masterpiece dari tokoh-tokoh filsafat yang ada secara langsung dari sumbernya.

Namun, aku juga merasa bahwa keyakinan-keyakinan yang aku ambil dari proses pembacaanku pada Memoar-nya Bryan pasti akan berubah seiring dengan perkembangan hidup dan pemikiranku. Secara tidak langsung aku telah menuliskan beberapa pemikiranku yang bercorak Kantian-Scopenhauer pada tulisan-tulisanku sebelumnya. Orang yang sudah akrab dengan dunia filsafat mungkin akan sangat mudah mengetahui kesamaan karateristik yang aku sampimages.jpgaikan dalam sebagian tulisan-tulisanku yang aku post di blog ini. Hal tersebut sangat berbeda dengan tulisan-tulisanku yang aku kirim beberapa waktu yang lampau, kepada teman-temanku di Teknik Fisika yang sangat bercorak Russelian atau Aristotelian. Bahkan aku juga sempat menggunakan analisis Aristotelian ini untuk menganalisis perilaku kita atau emosionalitas kita. Suatu hal yang aku anggap keliru saat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: