Alokasi Dana Pemberdayaan Masyarakat Pinggiran: Kegalauan Seorang Teman

Pagi hari selagi aku selesai mengeluarkan sisa makanan yang tak terserap satu hari sebelumnya dalam perutku, di hari Jumat, tanggal 1 Semptember 2006, seorang teman dengan nada gelisah dan galau ingin menelpon saya. “….Luh, aku ingin cerita!!…”. demikian isi pokok smsnya. Sebelumnya kupesani untuk menunggu sebentar sehabis aku sholat subuh (aku tak tahu pesan ini sampai apa tidak karena di handphone-ku kata pending terus saja tak mau berubah menjadi delivered). Singkat cerita, ia ingin melepaskan segala gundah dan gelisahnya dengan cara berbagi cerita. Diam bukan emas. Berbagi cerita bisa melepaskan kegelisahan dan kegundahan. Demikianlah proposisi yang selalu saya dan dia lakoni serta angguki dan kemudian jalani.

Lalu, terbitlah sebuah fakta dari mulutnya. Fakta yang kemudian baru saya sadari merupakan manifestasi dari buah kesenjangan antara Idealita dalam diri dengan Realitas dalam masyarakat. Fakta bahwa dikala ia sedang menjalanakan sebuah proyek pemerintah yang bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat nelayan atau pesisir (pinggiran), tetapi ternyata ia merasakan bahwa banyak sekali dana pemerintah yang ia rasa tak tepat sasaran.

Dia bukan orang pemerintah. Dia bekerja untuk perusahaan swasta dimana perusahaan swasta tersebut memenangkan tender proyek pemberdayaan tersebut. Masih merupakan kesaksiannya, alasan kenapa proyek tersebut diserahkan ke perusahaan swasta karena untuk menghindari praktek korupsi apabila proyek tersebut digarap oleh orang pemerintah sendiri. Inilah yang ia sebut sebagai efek dari reformasi tahun 1998. Ada nada senang sekaligus sendu sewaktu ia menceritakan kisah ini kepadaku.

Mulanya ia bercerita mengenai kesemrawutan panitia pelatihan untuk para nelayan atau masyarakat pinggiran ini. Sebuah hal yang wajar menurutku karena ia menggaet orang-orang muda dan lugu dalam proyek ini. Kemudian ia berbicara mengenai kegelisahannya soal uang yang dipakai untuk menggaji dirinya. Yang kemudian ia ungkapkan dengan kata-kata,”Luh, aku seperti makan uang dari masyarakat pinggiran ini, aku merasa tidak berhak menerimanya, terlalu banyak uang untuk hal hal yang menurutku tidak tepat sasaran!”.

“Umpamakan uang dari pemerintah untuk memberdayakan masyarakat pinggiran yang papa itu 100 juta rupiah. Nah, 80 juta lebih dari uang tersebut terbuang untuk nyewa tempat pelatihan, membayar fee para pemateri beserta akomodasinya, membayar gaji saya sendiri dan teman-teman, dan tetek bengek yang lainnya untuk keperluan pelatihan selama 3 hari ini. Nah sisanya yang 20 juta kurang tersebutlah yang bisa sampai ke masyarakat. Itupun saya tidak tahu apa benar-benar sampai atau tidak. Bayangkan cuma 20 % saja dana pemerintah yang secara nyata diterima di masyarakat. Dan apalah artinya 3 hari buat pelatihan yang kemudian mungkin tidak lagi banyak masyarakat ingat atau amalkan”.

Seperti biasanya saya hanya manggut-manggut dan sekali dua kali menggumamkan kata,”Hmm..” atau kata,”Terus…” dan kata-kata sejenis lainya. Saya hanya bisa menyediakan kuping saya. Tak banyak saran yang bisa saya sampaikan, karena memang demikianlah selalu dan selalu yang bisa saya lakukan kepada sahabat atau teman yang berbagi cerita kepada saya. Demikian pula sebaliknya, jika saya ingin bercerita saya cukup senang apabila di dengarkan oleh teman atau sahabat saya.

Dari cerita temanku diatas, aku merasa bahwa temanku tersebut mengalami kegelisahan dikarenakan ada kesenjangan antara yang Ideal dengan yang Real. Antara Das Solen dan Das Sein. Terutama antara keyakinan dan kepercayaan yang ia imani dengan kenyataan yang berkembang dimana ia terjebur atau mandi di dalamnya. Entah jika ini terjadi pada ku atau anda, mungkin hasilnya berbeda. Anda dan saya bisa saja maklum atau tercengang atau mengumpat. Akan tetapi bagi temanku tersebut, perbedaan antara 20% dengan 80% dari alokasi dana yang dikeluarkan tersebut begitu mengguncang hati dan pikirannya. Ia merasakan ketidakadilan atau setidaknya sebuah rasa bahwa alokasi dana tersebut kuranglah tepat guna.

Kehendak tulus untuk yang papa memang sering kali tidak terwadai dalam cawan yang bersih. Mau tidak mau kita harus berjuang dan hidup di dalamnya. Terutama bila yang “bersih dan kotor”ku berbeda nilai dan subjeknya dengan “bersih dan kotor”mu juga “bersih dan kotor” mereka, yang kemudian saling berhadap-hadapan dalam dunia fenomena. Ah, entahlah. Aku juga tidak begitu tahu.

Salam bimbang dan sendu serta haru untuk yang papa

Haqiqie Suluh

Iklan

8 Responses to “Alokasi Dana Pemberdayaan Masyarakat Pinggiran: Kegalauan Seorang Teman”


  1. 1 Edward Lontah Rabu, 12 Maret 2008 pukul 1:51 pm

    Dear Haqiqie,

    Nice story! Memang untuk memilih jalan hidup sebagai seorang fasilitator pemberdayaan masyarakat, dibutuhkan tekad dan prinsip teguh untuk benar-benar melayani masyarakat yang difasilitasi. Terlepas dari berbagai fasilitas yang diberikan, dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dijalankan seorang fasilitator.

    Terkait dengan kegundahan teman anda, sebagian besar teman-teman saya yang memilih untuk menjadi fasilitator masyarakat juga pernah mengalaminya.

    oya, kalo boleh, bisakah membantu saya untuk berkorespondensi dengan fasilitator yang merasakan kegalauan dalam cerita di atas. Apakah sampai saat ini dia masih aktif dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat? Terima Kasih.

    Regards,
    Edward.

  2. 2 Suluh Kamis, 13 Maret 2008 pukul 8:45 am

    @edward: orangnya sudah gak aktif…. sekarang lagi nerusin kuliah s2.

  3. 3 Edward Lontah Senin, 17 Maret 2008 pukul 12:45 pm

    Ya sudahlah kalo gitu, gpp. makasih infonya, Suluh.

  4. 4 Suluh Selasa, 18 Maret 2008 pukul 5:30 am

    @edward lontah… kalau masnya bersedia, saya bisa kirim no telepon teman saya tersebut ke mas… atau mas kirim no telpn mas ke alamat email saya di haqiqie[a]gmail[dot]com
    entar saya teruskan ke teman saya suruh dia menghubungin anda… gimana mas? mohon konfirmasinya…

  5. 5 Edward Lontah Selasa, 25 Maret 2008 pukul 4:15 pm

    Ok. sesegera mungkin saya kirim no kontak saya melalui e-mail anda. Wahh, terima kasih banyak, Mas Suluh. Tuhan memberkati.

  6. 6 Suluh Kamis, 3 April 2008 pukul 8:01 am

    @Endward Lontah: kok belum dikirim no kontanya? :sad:

  7. 7 learn more Sabtu, 9 Juni 2012 pukul 10:37 pm

    Great blog here! Also your site loads up very fast!
    What host are you using? Can I get your affiliate link to your host?
    I wish my web site loaded up as quickly as yours lol

    visit My Site


  1. 1 Sejarah Tuhan | zansyuyut Lacak balik pada Jumat, 14 Januari 2011 pukul 8:33 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: