Kelenturan Moral (Moral Flexibility): Sebuah Ranah Pengalaman Hidup

Pertama tama saya ingin anda menyingkirkan dulu apa yang selama ini menjadi pilihan nilai yang anda lakukan, jalani dan yakini. Saya ingin mengajak anda melalui goresan kata-kata ini untuk setidaknya menyingkirkan segenap (atau setidaknya sebagian) dari keinginan anda untuk menilai atau mengadili atau memberikan kriteria baik atau buruk. Hal ini sesuai dengan judul coretan ini sendiri. Saya ingin anda membuat suatu keputusan untuk melenturkan atau mengendurkan nilai-nilai moral anda, dan kemudian saya ajak untuk menyelami dan memahami melalui kelenturan yang telah anda lakukan ke dalam nilai nilai moral yang ada di pengalaman hidup anda maupun saya.

Lentur berarti mudah mengkerut atau merenggang. Artinya dalam kasus moral ini saya maksudkan sebagai sebuah sikap dimana kita siap dan mampu dengan tingkat kelenturan tertentu untuk menerima setiap nilai yang masuk dalam kehidupan kita, walaupun pada dasarnya sering kali niali yang masuk tersebut bertentangan satu sama lain. Disini kita mengabaikan atau menyingkirkan konsistensi dalam bersikap atau bertindak. Ketika suatu ketika ketika kita dihadapkan pada situasi tertentu yang menghendaki moral atau nilai moral A kita lakukan maka dengan kemudahan atau kelenturan sikap maupun rasa kita mampu untuk menyesuaikan diri. Bisa jadi kita tidak begitu suka dengan nilai moral A ini namun mau tidak mau kita harus menerimanya. Terutama jika nilai moral ini jika tidak dapat kita sesuaikan dengan sikap kita akan menghancurkan diri kita. Namun demikian ini semua merupakan sebuah pilihan. Anda bisa menyetujuinya ataupun anda bisa menolaknya. Atau anda mungkin akan mengatakan moral flexibility merupakan sebuah kemunafikan atau kedurhakaan hidup.

Anda seorang penganut anti freesex atau sex before married is ok. Dengan lantang anda selalu mengatakan bahwa free sex merupakan perbuatan tercela dan terkutuk. Dengan demikian free sex merupakan sebuah dosa dan bergelimang neraka nilai dalam tubuh dan jiwa anda. Suatu ketika anda berteman dengan seseorang. Anda mengenal dan menyukai dirinya sebagai seorang teman. Bahkan sudah seperti sahabat bagi anda. Namun suatu ketika ia mengatakan kepada anda bahwa ia menjalani kehidupan seksual sebelum nikah. Dalam arti tertentu ia mengatakan kepada anda bahwa nilai yang dia anut berbeda dengan diri anda. Anda kemudian merasa dihina, kecewa, dan bisa jadi marah besar. Anda menjahuinya, mengutuknya, merasa sebagai hakim yang menghakiminya telah berbuat dosa dan kesalahan yang tak termaafkan. Anda tiba tiba tidak lagi menghargainya sebagai seorang teman. Ia menjadi setan bagi anda. Walaupun secara personal interaction (interaksi personal) ia tidak pernah salah dimata anda.

Sejauh pengalaman nilai yang saya alami, keterpaksaan untuk menganut yang namanya “kelenturan moral” merupakan sebuah sikap pertahanan hidup kita. Kelenturan moral merupakan suatu sikap yang hampir pasti dimiliki oleh setiap orang. Tentunya dengan intensitas yang berbeda beda setiap orang. Argumen bahwa kelenturan moral merupakan fenomena alamiah adalah sebagai berikut:

Setiap orang tumbuh dan unik dalam lingkungan keluarga, geografis sosial, maupun geografis hati yang berbeda beda. Dengan demikian ia memiliki karakter maupun nilai yang ada dalam dirinya juga berbeda. Orang dalam komunitas tertentupun akan selalu memiliki perbedaan perbedaan karakter dan nilai. Tidak ada yang sama dalam hidup seseorang khususnya dalam interaksi nilai maupun rasa moral seseorang (karena kita membahas moral maka saya memberikan penekanan pada hal ini). Kita terkutuk untuk berbeda. Kita terkutuk dan terlahir untuk tak sama dalam ragam moral manusia. Namun demikian kita juga terkutuk untuk berbenturan atau berhadapan dengan yang bukan-kita. Nilai nilai yang kita anut yang unik dan berbeda mau tidak mau berbenturan dengan nilai-nilai dari yang bukan-kita. Perbenturan ini bisa jadi menimbulkan perselisihan atau gesekan gesekan yang bisa menyebabkan pertengkaran. Ketika kita tidak bisa “melenturkan moral atau nilai kita” maka pertarungan antar nilai secara terbuka bisa terjadi. Kita akan bergulat dan berperang secara lahiriah dengan yang bukan-kita. Ini merupakan sebuah kewajaran. Namun perlu dicatat, tidak ada seorangpun di dunia ini yang pernah saya temui mampu bertarung habis habisan secara terusmenerus “dalam mempertahankan nilainya”. Selalu saja, entah satu atau banyak, ada nilai nilai dalam dirinya yang harus “dilenturkan” dan malah kadang kadang harus diubah. Ini terjadi sejalan dengan pengalaman dan pemikiran seseorang itu sendiri.

Lalu salahkah orang yang menganut free sex? Bagi orang yang menganut anti free sex akan menilai ia salah dan tidak benar. Ia bergelimang dosa. Ia harus didakwai dan diluruskan dari jalan yang tidak benar. Demikian seterusnya. Namun sebaliknya bagi para penganut free sex ia akan menilai dirinya tidak salah atau benar. Ia bahkan bisa memberikan penilain kepada para penganut anti free sex sebagai orang yang munafik dan tidak menghargai hasrat hidup. Demikian seterusnya. Akhirnya penilaian akan baik dan benar dalam masyarakat sesungguhnya juga merupakan pilihan subjektif kita.

Dengan menghaturkan rasa maaf saya kepada para penganut agama, saya tidak ingin memberikan suatu justifikasi secara teologis. Saya memahami, seperti judul coretan ini, beranjak dari realitas pengalaman hidup yang membumi. Mohon maaf jika ada yang tersinggung dan tidak berkenan dengan tulisan ini.

Kembali ke masalah moral flexibility. Sering kali kebohongan dianggap sebagai suatu kejahatan atau keburukan. Tapi kadang kala karena keterpaksaan hidup kita harus berbohong dengan alasan tertentu. Terutama yang paling sering adalah alasan demi kedamaian suasana atau ketentraman hidup. Berbohong untuk mendamaikan seseorang yang bertengkar merupakan suatu tindakan yang bijak dan tidak disalahkan. Ini merupakan suatu contoh dari “ kelenturan moral” yang lain.

Kelenturan moral mungkin juga merupakan suatu hal yang sangat berkaitan dengan sikap saling harga menghargai. Toleransi juga merupakan salah satu sikap dari wujud “kelenturan moral” seseorang. Walaupun ini juga membutuhkan batas batas tertentu dari orang itu sendiri yang menjalani dan mengejawantahkan “kelenturan moral” tersebut dalam realitas sosial. Cobalah anda renungkan perjalanan hidup anda. Mulai semenjak anda kecil, ketika pertama kali menerima masukan masukan nilai sampai anda beranjak di kekinian. Sudah berapa kali anda melakukan “kelenturan moral”?

Bagaimana kita menerapkan kelenturan moral ini dalam kehidupan kita? Kenapa kita harus melakukannya? Untuk apa? Tidakkah menganut sikap kelenturan moral merupakan suatu tidakan yang munafik atau bahkan kesalahan? Kriteria apa yang membatasi kelenturan moral kita? Sebatas mana kita harus menerima nilai dan menghargai nilai orang lain? Bukankah dengan menganut kelenturan moral kita seperti orang yang bingung? Bukankah kelenturan moral bisa menjadi berbahaya karena kemudian bisa dijadikan alasan untuk menghalalkan segala sesuatu atas nama kelenturan moral? Dan sebagainya sebagainya.

Saya tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Saya tidak tahu. Mungkin hidup yang akan memberikan kepada anda dan saya jawabannya. Moral memang tak terpahami dalam benak saya. Sebagaimana juga banyak hal di dunia ini yang masih menjadi misteri dalam diri saya. Namun demikian semoga saya dan anda bisa lebih sedikit mengerti tentang dunia dan diri saya dan anda sendiri. Selamat berlentur ria.

Salam Penuh Damai akan yang Beda

Haqiqie Suluh (19 Desember 2006)

Iklan

1 Response to “Kelenturan Moral (Moral Flexibility): Sebuah Ranah Pengalaman Hidup”


  1. 1 Pangeran Tien Peng Sabtu, 22 Mei 2010 pukul 6:55 am

    “Lalu salahkah orang yang menganut free sex? Bagi orang yang menganut anti free sex akan menilai ia salah dan tidak benar. Namun sebaliknya bagi para penganut free sex ia akan menilai dirinya tidak salah atau benar.”

    jika standar benar atau salah ditentukan oleh manusia yg akalnya terbatas memang begini jadinya. seorang homoseks, pedofil, incest, mereka juga belum tentu merasa bersalah, bahkan menyatakan perbuatannya itu tidak salah; semua karena “cinta”, dan itu alami menurut mereka.

    jika demikian halnya, mungkin yang dimaksud moral flexibility itu tidak lebih dari kompromi/sikap permisif thd penyimpangan2 sosial…

    kelenturan moral tidak otomatis menghasilkan sikap toleransi, toh di sekitar kita masih saja banyak orang yg mengklaim dirinya paling “toleran” tapi getol melabeli org lain dgn stigma kolot, radikal, tidak toleran, sementara di pihak lain org2 tsb bersikap lantang dlm membela penyimpangan2 atas nama HAM & demokrasi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: