Logika Emosi: Sebuah Analisis Wacana

Konon dahulu kala, hiduplah tiga orang manusia dalam sebuah kampung. Konon juga kampung itu memiliki inisial FT. Dua dari tiga manusia tersebut, satu berinisial F dan satu lagi berinisial H, keduanya seorang lelaki tulen nan gagah. Sedangkan seorang lagi berinisial M, seorang perempuan cantik nan seksi. Mereka bertiga telah hidup bersama semenjak kecil di kampung FT. Hanya saja seiring berlalunya waktu, entah kenapa, dalam diri F timbul kebencian yang mendalam kepada H, sedangkan H, walaupun sadar akan kebencian ini, tidak ambil pusing, karena pikirannya selalu tertuju pada M, gadis yang ia cintai dan kagumi. Namun demikian, H pernah juga berfikir, mungkin kebencian F karena sikap cintanya ini pada M, karena H juga tahu kalau F juga sangat mencintai M. Sedangkan M sendiri, walaupun ia tahu H dan F mencintainya, ia tidak pernah menghiraukan perasaan mereka. Ia tidak peduli pada keduanya.

Analisis Logika Emosi pada Kisah F, H dan M

Analisis Pertama. Subjek membenci Objek. Dalam cerita di atas, digambarkan kalau F membeci H. Apabila Subjek dengan sikap benci ini konsisten dengan sikapnya maka apapun yang berasal dan dimiliki oleh Objek yang dibencinya, akan selalu dicemooh. Objek akan selalu dikatakan jelek, salah, tidak logis, buruk, tak tahu diri, pemarah, sombong, tak menghargai orang, gila, kesurupan, psikopat dan yang lain-lain. Semua atribut dan kata “buruk dan salah” akan menjadi keyakinan dan keimanan si Subjek yang membenci Objek. Tak peduli apakah sesungguhnya secara faktual Objek tersebut benar atau tidak. Subjek akan selalu menjadi musuh bagi sang Objek. Bahkan jika kebencian ini semakin mendalam, Subjek akan berusaha melenyapkan si Objek selama-lamanya dengan cara apapun dan dengan alat apapun. Baik itu secara fisik maupun mental. Sumpah serapah akan selalu terlontar pada si Objek. Makian akan menjadi kerja sehari-hari Subjek tersebut.

Analisis Kedua. Logika Cinta. Subjek mencintai Objek. Dalam cerita di atas, digambarkan baik H maupun F yang mencintai M. Apabila Subjek yang mencinta tersebut konsisten dengan sikapnya kepada Objek maka segala sesuatu yang berasal dari Objek akan selalu disanjung dan dipuji. Objek akan selalu dinilai, dari kacamata Subjek, dengan kata-kata; cantik, indah, elok, benar, logis, sehat, masuk akal, baik, dan lain-lainya. Objek selalu akan selalu mendapatkan kata-kata “benar dan baik”, sehingga kata-kata tersebut menjadi keimanan dan keyakinan si Subjek. Tak peduli apakah sesungguhnya secara faktual Objek tersebut benar atau tidak.Bahkan jika kecintaan ini begitu mendalam, Subjek akan selalu berusaha memiliki dan menguasai Objek, kalau mungkin untuk selama-lamanya, dengan cara apapun dan alat apapun. Subjek akan selalu membela Objek dengan cara dan alat apapun. Pujian dan sanjungan akan mengalir kepada Objek terus menerus.

Analisis Ketiga. Logika Acuh tak Acuh. Subjek mengabaikan Objek. Dalam kasus di atas, M tidak peduli pada H ataupun F. Jika Subjek konsisten dengan sikapnya ini, maka Subjek tidak akan memberikan penilaian apapun pada Objek. “Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu” adalah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan sikap Subjek yang seperti ini. Dengan demikian Subjek berada pada posisi penonton atau pengamat netral, yang sesungguhnya, dalam kasus diatas, Subjek sebenarnya merupakan alasan dari benci dan cinta kedua Objek tersebut. Apatisme akan menjadi keyakinan dan keimanan Subjek.

Semoga bermanfaat

Penuh Haru,

Haqiqie Suluh

Bila emosi unjuk gigi

Naluri binatang terterangi

Bila nalar menguasai

Manusia bisa menjadi

(HS, 16 Maret 2006)

Iklan

3 Responses to “Logika Emosi: Sebuah Analisis Wacana”


  1. 1 Amin.Nurahman Kamis, 13 Maret 2008 pukul 3:07 pm

    Kisah dan analisa yang menarik. Saya sedang senang untuk belajar bernalar dengan benar. Terimakasih.

  2. 2 arsyi pamma Senin, 19 Mei 2008 pukul 8:14 am

    konon…dalam analisis wacana selalu ada motif yang terselubung melalui syimbol,pujian dan bahkan cacian. Antara F dan H akan senantiasa berperang symbol dan icon demi mendapatkan kekaguman dari si M.
    wacana tidak pernah lepas dari konteks(co-text), semua symbol diproduksi oleh F dan H dalam konteks memperebutkan hati si M.
    Si M tidak akan netral bila salah satu dari keduanya tampan dan menarik hati si M, M juga akan memproduksi tanda-tanda yang akan dipahami sebagai benci atau cinta. jadi….mudah-mudahan ini bukan pengalaman pribadimu kawan. karena kata “penuh haru” menyisakan pertanyaan.
    Siapa yang Haru? kenapa haru? haru sendiri? atau haru kepada siapa?

  3. 3 Suluh Senin, 19 Mei 2008 pukul 8:34 am

    @arsyi pamma: tulisan diatas sebenarnya adalah sebuah “jawaban” atas emosionalitas seseorang terhadap diriku karena suatu debat di milis.. demikian..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: