Menjadi Liberal (Becoming Liberal)

Saya, sebagaimana banyak orang juga memahami arti kata liberal secara kasar, selalu mengasosiakan kata liberal dengan arti kebebasan. Namun disini saya ingin menjelaskan posisi saya yang ingin atau berusaha menganut spirit liberalisme dalam kehidupan. Liberalisme memang di bangun dari tonggak arti kebebasan. Dari arti kata liberal itu saja dapat diketahui secara jelas apa yang dimaksudkan dengan liberalisme. Liberalisme saya juga memiliki konsekuensi untuk mengakui bahwa orang lain juga memiliki hak untuk melakukan banyak hal yang tidak sesuai dengan penilaian dan pemahaman saya. Artinya, kebebasan yang saya punya haruslah diejawantahkan bukan pada diri saya sendiri namun juga melekat pada diri orang lain. Kebebasan disini secara lebih khusus saya tujukan sebagai kebebasan memiliki pendapat atau opini pribadi, bukan sebagai suatu kebebasan berperilaku. Setiap orang berhak memiliki pendapat atau opini pribadi terhadap semua hal. Sekali lagi opini!

Pluralisme, sebagai sebuah kepercayaan akan adanya hal hal yang tak sama, atau beda, merupakan esensi dari liberalisme. Perbedaan merupakan keniscayaan hidup. Dengan demikian “menjadi liberal” merupakan salah satu bentuk pertahanan hidup saya, atau setidaknya menjadi nilai yang saya punyai. Dengan mengakui adanya sesuatu yang beda maka saya berharap akan ada suatu pemahaman bahwa suatu kehidupan memang ditakdirkan untuk berbeda satu sama lain. Sia sia saja jika kita berusaha menjadikan yang beda itu menjadi seragam. Usaha-usaha untuk menyeragamkan yang beda selalu saja (secara historis) memunculkan kengerian dan kekejaman sesama manusia.

Menjadi Liberal menurut pengalaman saya setidaknya adalah memiliki suatu sikap ketika berhadapan dengan yang bukan-saya, terutama yang memiliki beda pendapat atau opini atau kepercayaan, yang dengan perbedaan tersebut saya dan bukan-saya berbenturan lewat media argumen (bukan kekerasan), namun tidak menumbuhkan perselisihan secara fisik. Artinya ketika perdebatan yang terjadi telah sampai pada level argumen yang berulang-ulang maka itu sudah merupakan suatu pertanda bahwa kita memiliki perbedaan pendapat yang tidak dapat dikompromikan. Dengan menjadi liberal saya harus siap mengakui bahwa yang bukan-saya memiliki perbedaan opini atau pendapat, dan yang bukan-saya berhak memegang dan miliki pendapatnya sendiri.

Bagaimana apabila saya berbenturan dengan orang yang tidak memiliki sikap seperti saya? Bagaimana jika dia juga tidak memiliki kelapangan hati untuk menghargai perbedaan? Bagaimana jika dia melakukan kekerasan dan penghakiman? Tentunya ini memerlukan suatu pemecahan problem tersendiri. Terutama dapat diatasi apabila kita memiliki ketrampilan sosial yang cukup baik. Tapi entahlah, toh coretan ini juga merupakan sebuah pendapat atau argumen, yang bersifat teoritis atau mungkin dogmatis. Saya serahkan kepada anda untuk menilainya.

Saya hanya titip Doa:
Semoga yang Damai selalu melingkari hidup Kita

Haqiqie Suluh (17 Januari 2007)

Iklan

13 Responses to “Menjadi Liberal (Becoming Liberal)”


  1. 1 agorsiloku Sabtu, 20 Januari 2007 pukul 8:52 am

    Ketika tidak liberal, kemudian sadar menjadi pilhan untuk merasa benar dengan pilihan yang diambil, bahkan dalam berpikir sekalipun.

  2. 2 Cay Minggu, 28 Januari 2007 pukul 8:42 pm

    Apakah saya termasuk terburu-buru menyimpulkan, bila menduga bahwa konflik antar-masyarakat dan -bangsa yang terjadi belakangan ini, adalah akibat masyarakat yang belum siap menjadi liberal namun secara mendadak dihadapkan pada perubahan cara berinteraksi yang sifatnya liberal (misalnya dalam kemudahan mendapatkan infromasi, dsb)?

    Anyway, salam kenal Mas Haqiqie, saya suka tulisan Anda, ijinkan saya untuk mem-blogroll-nya :)

  3. 3 Haqiqie Suluh Senin, 29 Januari 2007 pukul 11:55 am

    @argosilo:
    jawabanya: ” mungkin juga ya….”

    @cay:

    saya rasa emang terlalu cepat anda membuat kesimpulan……

  4. 4 lovepassword Kamis, 26 Juni 2008 pukul 2:28 pm

    Selama ini banyak konflik gara-gara paham yang namanya pluralisme terutama pluralisme agama.Bahkan MUI dalam salah satu fatwanya menulis kalau Pluralisme agama Haram.

    Setelah saya cermati sebagian dari pertentangan tajam tentang pluralisme (pro /kontra) muaranya mungkin cuma simpel saja, yaitu masalah ketidakcocokkan definisi.

    Orang yang menolak pluralisme – mendefinisikan pluralisme dengan pikiran yang berbeda dengan yang menerimanya. Jadi sama sekali tidak nyambung sebenarnya apa yang mau disetujui dengan apa yang mau ditolak.

    Contoh kasusnya seperti ini : Anda mendukung pluralisme (kesan saya demikian). Pluralisme macam apa yang anda dukung ? Bisa dibaca pada artikel anda, bahwa pluralisme yang anda maksud adalah : “Pluralisme, sebagai sebuah kepercayaan akan adanya hal hal yang tak sama, atau beda”

    Sedangkan MUI menolak pluralisme. Pluralisme apa yang ditolak oleh MUI ? Pluralisme yang menganggap kalau semua agama itu sama benarnya.

    Tokoh-tokoh agama garis keras punya definisi sendiri soal apa yang anda tulis sebagai “pluralisme”. Mereka mengistilahkannya sebagai “pluralitas” : yaitu paham yang mengakui adanya perbedaan.
    Secara prinsip mereka mengakui bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah tetapi bukan lalu diartikan kalau semua agama sama. Ref : Buku Pluralisme Agama Haram.

    Sedangkan mengenai istilah pluralisme mereka menolak keras karena murut mereka pluralisme adalah paham yang menggeneralisasi semua agama. Pluralisme yang semacam itu justru dianggap berlawanan dengan kodrat kebhinekaan atau pengakuan terhadap perbedaan.

    Anda bisa bayangkan “kebodohan” apa yang telah kita lakukan bersama hanya karena perbedaan dalam memaknai “istilah pluralisme”.

    Orang yang memaki-maki anda mungkin sebenarnya punya pikiran yang sama persis dengan anda. Hanya saja dia alergi dengan istilah pluralisme karena istilah ini ditentang MUI, sedangkan orang yang memuji anda juga belum tentu sebenarnya punya pikiran yang sama (definisi yang sama) soal pluralisme ini.

    JAdi saya rasa sebelum topik ini di dialogkan antara kelompok fundamentalis dan kelompok liberal, definisinya harus disamakan dulu.

    Kalau sejak awal yang diterima dan yang ditolak saja sama-sama rancu. Bagaimana bisa terjadi dialog ?

    SALAM

  5. 5 Suluh Kamis, 26 Juni 2008 pukul 2:45 pm

    @lovepassword: kalau emang definisi berbeda, trus mereka tidak mau menyamakan persepsi (biasanya saling ngotot akan pendiriannya masing masing), apa yang harus dilakukan?

  6. 6 Aji Jumat, 25 Juli 2008 pukul 10:25 am

    Ya bebas bebas wae lah Mas,
    Hidup ini kan bebas (liberal)
    Anak-anak kita mau mabuk di muka umum pun yo sakarepe dhewe dhewe wae
    Mereka ndak sholat yo bebas lah…

    HIDUP LIBERAL!!! (Lha koq aku jadi fanatik yo? hehehe)

  7. 7 Aes el-Barca Selasa, 28 Oktober 2008 pukul 10:59 pm

    Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama (http://id.wikipedia.org/wiki/Liberalisme)
    ——————————————————————-
    Bentuk liberalisme secara umum adalah kebebasan beragama, kebebasan berpendapat (opini), kebebasan berperilaku, dan kebebasan memiliki sesuatu. Suluh lebih mengkhususkan tulisan diatas pada bentuk liberalisme yang kedua, yaitu kebebasan berpendapat (beropini).
    ——————————————————————-
    Liberalisme merupakan salah satu turunan ideologi Kapitalisme. Namun disini saya ingin membandingkan dengan ideologi Islam tentang kebebasan berpendapat. Harapannya, suluh bisa membedakannya.
    ——————————————————————–
    Islam punya ukuran bebas & tidak bebas menurut hukum Syara’. Kita bisa bebas, termasuk bebas berpendapat (beropini), bila tidak melanggar aturan Syara’. Sehingga Islam melarang opini yang bersifat memfitnah orang lain, berkata bohong, dll. Juga opini yang bertentangan dengan hukum Islam yang telah jelas halal-haramnya.
    ——————————————————————

  8. 8 Suluh Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 4:22 am

    @Aes el-Barca: yup, saya memang khusus untuk kebebasan beropini. Kalau soal fitnah memfitnah dan sejenisnya bukan hanya islam mas, tapi itu udah etika general manusia. Kebebasan beropini adalah lebih menyangkut kebebasan memiliki sebuah pendapat tentang sesuatu hal. Bukan kebebasan melontarkan fitnah, karena itu udah menyangkut kebebasan orang lain atau hak orang lain. jelas itu menyalahi aturan atau kontradiksi dengan becoming liberal.

    Contoh: adalah fitnah kalau muhammad itu nabi, bohong itu muhammad itu nabi. sedang yang lain bisa juga mengatakan atau memfinah yesus itu bukan tuhan, dll. Hal seperti ini dalam kebebasan berpendapat tidak bisa dilakukan. Diam adalah solusinya. Anda boleh berkata saya salah atau bohong, tetapi itu harus dipendam di diri anda dan tidak diutarakan sebagai sebuah fitnah “keluar” mulut. Esensinya seperti itu. Demikian pula soal finah pribadi, semisal anda itu pelacur atau gigolo, nah kalau seperti ini juga gak bisa dilakukan, kecuali anda punya bukti “inderawi” atau empiris. Anda boleh mengatakan saya mencuri jika anda punya bukti empiris, jika tidak anda itu pemfitnah dan harus dihukum dalam hukum positif. Saya kira ini etika global dalam arti diterapkan di banyak kondisi masyarakat or sosial tanpa memandang keyakinan. That’s Normal!
    .
    Pendapat berbeda itu soal opini ideal atau pemikiran atau ideologi, bukan soal opini yang empiris.

    Soal bohong itu kondisional mas, artinya bohong itu bagi saya tidak lah “mati” sebagaimana kita juga tidak “dibenarkan” (menurut saya) selalu “jujur”, kebohongan itu perlu, kejujuran lebih perlu lagi. That’s Live! :)

  9. 9 Aes el-Barca Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 4:04 pm

    Apakah Anda menyamakan liberal dengan liberalisme ? Jadi liberal juga punya batasan ya ? Jika masih punya batasan, apakah tidak bertentangan dengan arti liberal itu sendiri ? Bebas kok, dibatasi. Jika dibatasi, berarti tidak liberal, donk !
    ——————————————————————-
    Buktinya sekarang ini orang bebas berpendapat, mereka tidak mengenal lagi bohong atau tidak bohong. Bahkan seringkali pendapat itu cenderung dibiarkan berkembang (minimal didiamkan) menjadi opini masyarakat. Misalnya kasus WTC yang sampai sekarang tidak diselidiki. Juga kasus penyerangan AS ke Irak yang menurut opini dari pemerintah AS, katanya ada senjata pemusnah massal yang disembunyikan. Belakangan kabar itu bohong & sengaja dibuat-buat.
    ———————————————————————
    Bagaimana pendapat Suluh terhadap 2 contoh kasus diatas ?

  10. 10 Suluh Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 6:53 pm

    (cukup lucu sih menurut saya, sampai anda menyampaikan argumen liberal hanya dalam arti “harfiahnya”). Liberal itu bukan cuma harfiah nama mas, tapi sikap dan tingkah laku , praksis, dalam menyikapi “perbedaan opini” dalam masyarakat / kehidupan, jangan di gunting atau direduksi hanya secara arti harfiah, liberal = bebas, bebas segala galanya. Sepertinya anda kurang memahami arti liberal (kebebasan berpendapat) sesungguhnya, silahkan baca tulisan saya tentang kebebasan beropini or berpendapat:

    https://haqiqie.wordpress.com/2007/12/11/kebebasan-berpendapat-antara-paradok-moralitas-dan-kehidupan/

    Buktinya sekarang ini orang bebas berpendapat, mereka tidak mengenal lagi bohong atau tidak bohong

    Ini bukti apa mas? saya kok gak mudeng…

    soal AS dan IRak. Lho itu urusan siapa mas? gak ada kaitan soal liberal dalam tulsian saya keknya. :lol: sudah jelas itu urusan politik AS? kalau secara pribadi jelas saya juga gak setuju sikap AS. Itu unjuk kekuatan situasional Politik dunia? Sebenarnya mudah dipahami kenapa AS begitu. Siapapun yang memiliki “power dunia” seperti AS, sangat mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi tetap saja secara pribadi saya juga gak setuju.

  11. 11 joyo Rabu, 29 Oktober 2008 pukul 11:53 pm

    klo smisal FPI jd negara Adi Kuasa (satu2nya didunia) dan Rizieg jadi presidennya. saya kok 51% yakin bakal ada genosida thd non-muslim :D
    sorry OOT. (eh tapi nyambung dikit sma komen soal AS nyerang Irak diatas, eh nyambung gak ya?!)
    Ah sutralah…

  12. 12 Aes el-Barca Rabu, 3 Desember 2008 pukul 7:36 pm

    Liberal itu bukan cuma harfiah nama mas, tapi sikap dan tingkah laku , praksis, dalam menyikapi “perbedaan opini” dalam masyarakat / kehidupan, jangan di gunting atau direduksi hanya secara arti harfiah, liberal = bebas, bebas segala galanya. Sepertinya anda kurang memahami arti liberal (kebebasan berpendapat).
    ———————————————————————
    Secara harfiah saja uda saling bertentangan & tidak masuk akal, mas. Apalagi prakteknya. Contohnya kasus komik Rasulullah SAW. Bagaimana pendapat Suluh dengan kasus terbaru ini ? Apakah ini juga praktek liberalisme, terutama liberalisme beropini ?

  13. 13 Suluh Kamis, 4 Desember 2008 pukul 12:36 pm

    @Aes el Barca:

    Harfiah jelas beda dengan Praktek mas. Sebuah tindakan sikap dan sejenisnya (manusia tentunya) itu dipengaruhi oleh emosi, pengalaman mas lalu, pemikiran, lingkungan dan sejenisnya. dengan kata lain, Praktek itu diperngaruhi oleh situasional kondisional, bukan melulu harfiah alias kata bertentangan atau kontradiktif secara kata. Contohnya anda berada disini berkomentar, itu juga wujud dari sikap liberal yang tak sadar anda lakukan.

    Kalau mau jadi harfiah, mending MAS jadi robot aja, atau Komputer itu tuh gak usah jadi MANUSIA. yang gak mungkin keluar dari jalurnya. cuma dipengaruhi oleh HARFIAH 0 dan 1 ! dan siap siap aja anda HANG ERROR Dan LANGSUNG WAFAT kalau melakukan sesuatu yang PARADOX atau bertentangan semisal ketakterhinggaan atau sejenisnya.

    Contoh lain: Anda sekarang (sejauh yang saya tau) menyakini khilafah merupakan system pemerintahan yang jadi pilihan anda, tetapi anda sekarang hidup di negeri indonesia yang jelas bukan khilafah. Adalah paradox jika anda masih ingin hidup di Indonesia, karena secara harfiah itu bertentangan dengan diri dan keyakinan anda. Kenapa anda masih hidup dan bisa berkomentar disini. Karena situasi yang tidak memungkinkan dan mengharuskan anda hidup di negeri indonesia yang tidak berpemerintahan khilafah.

    Soal KARTUN MUHAMMAD. Lah bukankan sudah ada tindak lanjutnya? Kalau anda menentang atau menhajar atau menghakimi keyakinan orang lain maka tentunya itu bertentangan dengan sikap liberal sebagaimana yang saya maksud. Silahkan buka penjelasan saya tentang hal ini di
    https://haqiqie.wordpress.com/2007/12/11/kebebasan-berpendapat-antara-paradok-moralitas-dan-kehidupan/ (Moga mau membaca)

    WordPpress.com tempat dimana blog Kartun Muhammad itu telah melakukan tindakan yang sesuai bukan? WP.com juga menganut asas Liberal (walau tidak sama persis dengan pribadi pemikiran saya)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: