Mengapa Berfilsafat?

Saya dari dulu juga bingung menjawab pertanyaan ini. Saya tidak tahu kenapa pada akhirnya saya dihantarkan untuk menempuh atau setidaknya mengikuti pemikiran pemikiran yang oleh sebagian orang disebut “filsafat”. Sejauh yang saya ketahui dari pengalaman saya, saya dahulu selalu berusaha untuk mencari jawaban terhadap setiap pertanyaan-pertanyaan yang singgah di kepala saya. Terutama menyangkut pertanyaan-pertanyaan yang “krisis dan sensitif”. Saya ingin mencari sejenis upaya justifikasi (pembenaran) atau upaya klarifikasi terhadap hal-hal yang menjadi kepercayaan-kepercayaan terpenting saya. Dan ini merupakan suatu hal yang saya rasa ditempuh oleh banyak orang. Dengan demikian filsafat hanyalah sebagai upaya atau alat apologis dari keyakinan-keyakinan saya. Jika ternyata filsafat tidak memberikan suatu klarifikasi atau justifikasi yang memuaskan saya akan berpindah ke sumber-sumber selain filsafat: seperti pemahaman umum (common sense), sains, agama, atau yang lainnya. Namun tidak demikian yang terjadi dari pengalaman saya. Justru saya berjalan kebalikan dengan semua itu. Saya mengambil pemahaman umum, sains, agama, dll, baru kemudian menggeluti filsafat.

Pada akhirnya saya sadar, bahwa hal tersebut merupakan suatu kekeliruan. Bukannya saya memperkuat keyakinan-keyakinan saya dengan justifikasi atau klarifikasi namun saya malahan seperti menipu diri sendiri. Saya mengambil apa yang penting dan berpengaruh di dalam filsafat atau yang lainnya dan menyingkirkan apa yang saya rasa tidak perlu, dengan mengambil standar bahwa keyakinan-keyakinan saya pastilah selalu benar. Dalam hal ini saya hanya mengambil sesuatu yang sesuai dengan keyakinan-keyakinan terpenting saya dan mengabaikan kelimpahan wawasan dari filsafat itu sendiri jika tidak sesuai dengan keyakinan-keyakinan saya. Penipuan diri seperti ini saya rasa banyak terjadi dikalangan para pemuda, maupun orang yang belajar filsafat.

Belajar filsafat pada akhirnya saya pahami secara lebih baik (ini menurut saya), sebagai suatu cara untuk memperoleh pemahaman baru mengenai realitas (yang ada), menemukan wawasan-wawasan baru, memperoleh pencerahan serta kebenaran baru. Secara ringkas belajar berfilsafat adalah untuk memperoleh pemahaman atau memahami dunia dan diri kita sendiri. Dengan demikian, kita harus siap untuk mengubah atau mengganti kepercayaan-kepercayaan atau asumsi-asumsi kita ketika kita memperoleh suatu pemahaman baru yang lebih baik. Kelapangan hati untuk menerima hal yang berbeda-beda juga sangat diperlukan dalam berfilsafat. Lahan studi filsafat yang satu (realitas) ternyata dipahami dengan cara-cara yang berlainan dan kadang bertentangan, walaupun sama-sama mempunyai argumen yang kokoh. Kita juga harus siap untuk menerima bahwa tidak setiap pertanyaan memiliki jawaban dalam filsafat, sehingga pada akhirnya kita sendirilah yang harus mencari dan menemukan jawaban itu. Dan sering kali kita harus siap untuk membawa pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban ke liang kubur kita nanti. Seperti yang dikatakan Magee:

“Apa yang dirumuskan oleh para filosof besar buat kita ialah pertanyaan-pertanyaan abadi, bukan jawaban-jawaban yang abadi”

Salam penuh Tanya

Haqiqie Suluh (18 Januari 2007)

Iklan

10 Responses to “Mengapa Berfilsafat?”


  1. 1 Shinta Kamis, 8 Februari 2007 pukul 4:55 am

    buat saya pribadi, belajar filsafat itu supaya bisa membedakan mana akar mana ranting (analisis masalah).

    atau kalo kumat mode sedang on, saya nyeletuk ‘supaya tidak arogan, oom’

    sedang menurut Nagaarjuna, setiap filsafat jika terus ditelusuri pasti akan contradictio in terminis.

  2. 2 Haqiqie Suluh Kamis, 8 Februari 2007 pukul 8:44 am

    @Shinta:

    Nice koment :)

    Sebuah perbedaan dalam memandang filsafat :)
    Memandang filsafat sebagai sebuah alat analisis… hemm… seperti kaum positivis logis… mungkin…

    Ada yang ingin menyusul?

  3. 3 agorsiloku Sabtu, 17 Februari 2007 pukul 1:44 pm

    Mengapa berfilsafat?, karena kita sedang bertanya apakah yang kita makan hari ini adalah makanan terlezat yang ada di bumi ini. Saat kita minum, inikah minuman yang paling menyegarkan di dunia di pagi ini. Inikah baju terindah yang bisa dipakai manusia, inikah pikiran paling agung yang sedang kita pikirkan, inikah teknologi paling canggih yang ada di dunia ini, inikah api yang terpanas yang pernah ada, suluh yang paling terang di antara segala penerangan, wanita tercantik yang pernah muncul di muka bumi, emas paling ber”karat” yang pernah ada.

    Karena kita sedang bertanya, dan tidak sedang membutuhkan jawaban.

  4. 4 Suluh Minggu, 18 Februari 2007 pukul 11:55 am

    @agorsiloku:
    Hmmm… Benarkah tidak membutuhkan jawaban? Memang terdapat setidaknya 2 pilihan dalam menyikapi setiap pertanyaan yang muncul di benak kita.
    Pertama, membenturkan dalam tembok ketidaktahuan (Gak menarik menurutku). Kedua, mencari dan mencari tanpa ujung (Ini juga gak menarik). Baca selengkapnya di sini

  5. 5 agorsiloku Minggu, 18 Februari 2007 pukul 5:29 pm

    hik… karena sebuah jawaban melahirkan lebih banyak pertanyaan….

  6. 6 Suluh Senin, 19 Februari 2007 pukul 9:01 am

    @agorsiloku:
    Wah anda milih yang pertama kalau begitu. Okelah.

  7. 7 chiket Kamis, 14 Juni 2007 pukul 7:48 pm

    tentu saja..untuk mengenal ‘ego’nya..salam filsafat!!!

    yah… memandang filsafat memang sering berbeda-beda… selamat untuk ‘ego’nya mbak or mas chiket…

  8. 8 Siska Triana Niagara Minggu, 25 Mei 2008 pukul 4:21 pm

    Assalammu’alaikum
    Akhi Haqiqie Suluh yang diRahmati Allah SWT.
    Kalau menurut saya filsafat Ilmu yang sangat bermanfaat, jika ditempatkan pada posisi yang tepat. Kenapa banyak pro dan kontra mengenai ilmu filsafat itu sendiri,subjektivitas saya berkata, karena manusia terlalu sok tau, melebihi kadar penerimaannya akan suatu ilmu. Filsafat dibangun dari satu keragu-raguan, yang ini akan menghasilkan berjuta pertanyaan, dan pada ujung-ujungnya melewati garis batas, yang kita sebagai manusia tidak diberi wewenang untuk mengkaji itu. Karena mas Haqiqie seorang muslim tentu tau, maksud saya. Dari beberapa artikel yang saya baca, anda merupakan sarjana teknik yang humanis. Cara pandang anda berbeda dengan sarjana teknik pada umumnya, yang telah tersteriotape. Bersyukurlah, jadikan tulisan anda menjadi suatu yang paling banyak manfaatnya ketika jiwa tak lagi bersatu dengan raga.
    Wassalam.

  9. 9 Suluh Minggu, 25 Mei 2008 pukul 4:36 pm

    Kumslam

    Mbak siska yang terhormat,

    saya gak tahu haru komentarin apa ya? Pada dasarnya ada beberapa kekeliruan mengenai diri saya yang mbak tangkap. Tetapi itu wajar kok…

    Sudah gitu aja….

    Wasslam juga…

  10. 10 hanafi Jumat, 9 Oktober 2009 pukul 11:00 am

    berfilsafat, tidak punya basis kuat
    nantinya bakal lari dari tauhid


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: