Teks, Seni, dan Kita

Saya semakin yakin bahwa dalam memahami diri dan dunia ini tidaklah mungkin dapat diartikulasikan dalam bentuk teks saja. Teks hanyalah suatu sarana pengejawantahan apa yang sebenarnya sangat sulit untuk diterjemahkan. Emosi-emosi, pengalaman-pengalaman, atau apapun itu yang terserap oleh indera kita (mata, hidung, hati, detak jantung, dll) merupakan sebuah pengalaman unik yang hanya mampu dirasakan oleh sang pemilik pengalaman atau emosi. Ketika upaya penerjemahan ke dalam bentuk teks itu dimulai, maka bukan emosi atau pengalaman itu yang terepresentasikan ke dalam teks. Teks itu sendiri menjadi bagian dari pengalaman sang pencipta teks. Teks merupakan emosi-emosi tersendiri dan pengalaman-pengalaman tersendiri yang lepas dari keterhubungan langsung dari pengalaman-pengalaman personal yang sesungguhnya.

Ketika saya menuliskan pengalaman ataqu emosi personal saya ketika saya marah misalnya, teks marah saya merupakan upaya duplikasi tak lengkap dari emosi personal saya. Bahkan bukan merupakan marah itu sendiri. Marah saya tetap menjadi emosi saya dalam ruang dan waktu saya. Teks marah saya malahan menjadi pengalaman tersendiri yang lepas dari konteks marah saya sesungguhnya. Jika ditilik dari segi kejadian, ia merupakan dua hal yang berbeda. Demikian pula representasi teks emosi-emosi yang lainnya.

Kita melihat keindahan (emosi indah) karya seni misalnya (saya anggap teks juga bagian dari karya seni, juga bisa saya katakan karya seni itu sama dengan karya representasi makna dari manusia, sang pencipta seni). Keindahan itu merupakan milik dari rasa “indah” yang muncul dari persepsi kita terhadap karya seni itu. Karya seni itu, dalam dirinya sendiri, merupakan benda yang tanpa makna dan tanpa keindahan. Kitalah yang merasakan keindahan itu. Kita membentuk pengalaman emosi keindahan dalam diri kita. Namun demikian, keindahan yang kita rasakan, saya yakin, tidaklah mungkin selalu karena pilihan sadar kita. Keindahan memang ada karena adanya kita, namun kita tidak bisa secara terus-menerus memiliki kehendak bebas untuk mengatakan sesuatu indah sesuai kehendak kesadaran kita. Indah pada akhirnya berada dalam level mistik-transenden dan tak terketahui. Seperti halnya moral yang melekat pada diri kita.

Tapi entahlah apa sesungguhnya itu indah, apa itu sesungguhnya teks, dan apa sesungguhnya diri kita… Dunia selalu menyajikan misteri… misteri yang kadang kala sangat indah…

Salam takjub atas Dunia

Haqiqie Suluh (20 Januari 2007)

Iklan

1 Response to “Teks, Seni, dan Kita”


  1. 1 anas Minggu, 17 Juni 2007 pukul 10:38 pm

    Pertamaxx, halah dateng-dateng nyepam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: