Agnotisme Benakku: Di Batas Persimpangan TUHAN dan Anti TUHAN

Walaupun sebenarnya saya tidak begitu suka menuliskan sesuatu mengenai apa yang sering disebut orang sebagai “TUHAN”, namun pada akhirnya saya seperti terpaksa untuk mengatakan sesuatu mengenai hal ini. Saya sampai saat ini masih saja berkesimpulan seperti antinominya Kant mengenai pembuktian adanya TUHAN. Seberapapun orang ingin menunjukkan keberadaanNya maupun menunjukkan ketidakberadaanNya, saya yakin mereka akan sampai pada kebuntuan. Artinya, mereka tidak mungkin sampai pada suatu alasan yang dapat dipercaya dan tak tergoyahkan mengenai pembuktian seperti ini. Dalam realitas pengalaman saya memang “TUHAN” memberikan arti penting terutama dalam perkembangan kehidupan saya ini. Namun demikian, alasan-alasan klasik baik itu dari pendukung “TUHAN” maupun penolak “TUHAN” tidak mampu meyakinkan saya untuk memilih salah satu dari pemikiran ini.

Saya tidak ingin menguraikan lagi alasan, maupun penjelasan masing-masing pihak yang mendukung (teisme) maupun menolak (ateisme). Saya hanya merasa bahwa walaupun saya punya “kecenderungan” untuk menganut teisme, namun secara rasional saya tidak mungkin membohongi diri saya untuk menolak semua alasan-alasan mengenai keberadaan “TUHAN”. Sering orang mengatakan bahwa dengan menolak pihak pertama (teisme) lalu secara serampangan mengatakan bahwa saya memihak pihak yang kedua (ateisme). Dengan mengatakan atau mengemukakan suatu argumen yang menolak alasan-alasan teisme, saya lalu kemudian dikategorikan sebagai pihak yang kedua (ateisme). Demikian pula sebaliknya ketika saya menolak ateisme tidak berarti secara serta-merta saya menganut teisme. Mereka sebenarnya lupa, atau pura-pura lupa, bahwa masih ada suatu sikap yang berada di antara kedua pihak tersebut. Sikap yang mengatakan bahwa saya tidak tahu. Artinya, entah benar tidaknya adanya “TUHAN” saya tidak begitu mempedulikannya karena pada dasarnya tidak ada argumen yang mampu membuktikan keberadaan maupun ketidakberadaannya. Sebuah ketidaktahuan adalah ketidaktahuan. Diam merupakan sikap yang saya lakukan. Ini sangat mirip sebenarnya dengan ajaran Buddha (walaupun banyak aliran buddhisme juga mengembangkan teologi tertentu), yang tidak begitu memperdulikan adanya “TUHAN” atau masalah teologi.

Orang sering menamakan sikap ini sebagai bentuk agnotisme. Agnotisme tidak melulu di sandarkan pada kepercayaan mengenai “TUHAN”. Ia bisa juga diterapkan pada hal-hal yang lainnya. Ini hanyalah merupakan sikap dalam menanggapi sebuah kepercayaan. Saya bisa agnostik soal kehidupan setelah mati. Saya bisa agnostik mengenai penciptaan dunia. Dan sebagainya. Namun untuk saat ini saya ingin membatasi hanya untuk masalah “TUHAN” saja. Jadi, jangan digeneralisasikan kepada kepercayaan-kepercayaan yang lain.

Semua alasan diatas saya kemukakan dalam wajah rasionalitas saya. Maksudnya adalah, kesemua penjelasan tersebut diatas merupakan bentuk dari penyelidikan kognitif kesadaran saya. Saya mengambil sikap sebagai seorang agnostik juga merupakan pilihan dari rasionalitas kesadaran saya yang secara alamiah memilih agnostik. Namun saya juga sadar bahwa, entah apapun itu bentuk entitasnya, saya juga mempunyai suatu rasionalitas bawah sadar yang tidak mungkin dapat saya abaikan. Rasionalitas bawah sadar inilah yang sebenarnya saya maksudkan ketika saya mengatakan bahwa saya mempunyai “kecenderungan” untuk mempercayai adanya “TUHAN”. Ini kemungkinan karena saya pada dasarnya dibesarkan dalam lingkungan nilai yang memihak pada kepercayaan seperti ini. Selama kehidupan masa kecil saya, saya telah menganut nilai-nilai seperti ini, sehingga mungkin telah masuk ke dalam rasionalitas bawah sadar saya. (Penjelasan: Yang saya maksudkan dengan rasionalitas bawah sadar adalah suatu proses rasionalisasi-rasionalisasi yang terbentuk dari pergumulan hidup masa kecil sampai sekarang dengan lingkungan nilai saya sehingga masuk ke dalam bawah sadar saya. Sebagai seorang manusia, saya hidup bersama rasionalisasi-rasionalisasi yang secara terus-menerus saya kembangkan semenjak saya kecil mengenai kepercayaan-kepercayaan yang melingkari diri saya.) Kecenderungan ini bukanlah sesuatu yang keliru, ini setidaknya menurut saya. Walaupun kita tidak bisa menggantungkan diri pada suatu alasan “kecenderungan” untuk menilai benar-tidaknya sesuatu, namun dengan menyadari adanya kecenderungan seperti ini, saya merasa bahwa ada keuntungan besar yang bisa saya ambil pemelajaran. Namun saya juga sadar, bahwa ada banyak orang yang memiliki kecenderungan yang berkebalikan dengan diri saya. Yaitu kecenderungan untuk tidak mempercayai adanya “TUHAN”. Mungkin bagi para pembaca di Indonesia akan mengatakan bahwa kecenderungan untuk tidak mempercayai “TUHAN” merupakan suatu hal yang mustahil. Untuk sikap seperti ini, saya hanya menasehati kepada pembaca sekalian, bahwa tidak semua hal yang anda yakini dan percayai bisa anda samakan dengan kepercayaan keseluruhan manusia di semesta ini. Apalagi jika argumen anda hanya mengambil dasar dari kalimat atau tulisan-tulisan yang anda anggap sebagai “kebenaran suci tak terbantahkan”. Maafkan kelancangan saya.

Orang mungkin akan menilai ada kemunafikan dalam diri saya ketika saya mengemukakan hal seperti ini. Namun perlu disadari bahwa kehidupan diri saya bukanlah merupakan milik kesadaran saya saja. Saya adalah bagian-bagian yang sangat komplek yang muncul secara tak terpahami dari entitas-entitas yang juga tak terketahui. Saya masih membutuhkan, secara “kecenderungan” untuk menganut dan menjalani ritual-ritual keagamaan. Dan secara jujur saya juga menikmati menjalankan ritual-ritual ini, walaupun tentunya dengan pemahaman dan pemaknaan yang berbeda. Mungkin sikap hidup seperti ini bisa dikategorikan sebagai bentuk pragmatismenya William James (Seorang filosof/psikolog yang terkenal dengan karyanya The Varieties of Religious Experience: diterjemahkan oleh Jendela dengan judul Pengalaman-pengalaman Religius, sebuah buku yang cukup bagus, walaupun terlalu panjang dan bertele-tele dibanding apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan). Tapi saya tidak ambil pusing mau memberikan nama atas apa yang tengah saya jalani atau tempuh di kehidupan saya, karena sepertinya hal tersebut mengabaikan atau menyederhanakan banyak hal dari kompleknya dan rumitnya sikap hidup yang akan, sedang dan telah saya jalani maupun banyaknya keyakinan-keyakinan saya yang lain yang tidak bisa dirangkum dalam kategori pragmatismenya William James.

Saya masih bergerak dengan (dan dalam) diri saya serta dengan hidup saya. Entah apa yang mungkin dan akan terjadi nanti di benak penalaran maupun rasionalitas bawah sadar saya di kehidupan saya. Saya juga tidak tahu. Yang saya tahu di detik ini, saya ingin menulis… dan saya ingin hidup… Apakah saya hidup? Apa itu hidup?

Salam penuh Ketakmengertian

Haqiqie Suluh

Iklan

39 Responses to “Agnotisme Benakku: Di Batas Persimpangan TUHAN dan Anti TUHAN”


  1. 1 eka Rabu, 28 Februari 2007 pukul 3:15 pm

    c’est quelque choce que je ne sais pas bien…mais j’essaie de le comprendre…

  2. 2 Ida Rabu, 28 Februari 2007 pukul 3:38 pm

    Assalamu’alaikum wr. wb.,
    Salam kenal ya…

    Maaf, saya hanya orang biasa yang tidak tahu apa-apa. Saya tidak begitu mengerti mengenai hal-hal yang filosofis/aliran2 filsafat dsb.. Saya seorang muslimah yang masih harus banyak belajar mengenal agama saya. Saya pernah mengalami suatu hal yang benar-benar hampir membuat saya membenci dan malah meragukan adanya Tuhan. Saya menganggap Tuhan tidak adil, bla bla bla… Tetapi kemudian setelah merenung dan berdiskusi dengan teman yang pengetahuan agamanya lebih baik dari saya, saya menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini termasuk pada diri saya sebenarnya ada hikmah dan maksud dari yang Diatas. Saya memahami apa yang anda alami saat ini walaupun mungkin tidak sepenuhnya. Saran saya, sebagai seorang muslim, tidak ada salahnya anda untuk mempelajari lebih dalam mengenai isi Al-Quran dimana salah satu ayatnya menyebutkan(lebih kurang):… jika kamu ingin melihat Tuhan (Allah), lihatlah tanda-tanda kebesarannya (ciptaannya)…

    Segitu saja pendapat saya yang awam….
    Wassalamu’alaikum wr. wb.,
    Ida

  3. 3 Suluh Kamis, 1 Maret 2007 pukul 9:48 am

    @eka:

    Aduuh, jangan pake bahasa prancis dong! Saya gak ngerti! Eh tuh bahasa prancis kan? Atau saya yang salah? Maaf

    @Ida:

    Ya, saya mengerti apa yang anda risaukan. Sebagaimana banyak orang yang merasa risau mirip dengan perasaan maupun kisah ANda. Saya ucapkan terima kasih atas Saran maupun Komentnya.

    Salam Kenal dari Yang Jauh dan Beda :D

  4. 4 fertobhades Jumat, 2 Maret 2007 pukul 10:48 pm

    bagaimana jika menggunakan “rasa” ?

    Ketika saya mengerahkan seluruh kemampuan kognisi saya, saya menyerah terhadap “Tuhan”. Tetapi berbeda jika saya menggunakan seluruh “rasa” yang saya punya, saya menyatu dengan-Nya.

  5. 5 m_kharis Sabtu, 3 Maret 2007 pukul 1:23 am

    Kemampuan manusia sangat terbatas….
    Menurut saya…..hilangkan keragu-raguan dalam hatimu….
    Iman menurut bahasa artinya keyakinan/kepercayaan. menurut istilah adalah kepercayaan adanya Alloh swt sekaligus membenarkan apa saja yang datang dari Alloh dalam cara meyakini dalam hati, menyatakan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal nyata.
    beriman kepada Alloh berarti meyakini sifat2 kesempurnaan Alloh yang Maha Suci dari sifat2 kekuranggan. melalui sifat2 kesempurnaan itulah kita akan dapat menggenal Alloh.

    Alloh bersifat wujud yang artinya ada, sanggat mustahil Alloh bersifat Adam artinya tidak ada. Bukti yang menunjukkan adanya Alloh adalah adanya alam semesta dan segala isinya. seandainya Alloh tidak ada, tentu alam semesta ini tidak akan ada pula, karena Alloh yang menciptakaan alam ini.

    Firman Alloh:
    Artinya: ¨Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak2mu yang terdahulu. (Q.S. Ad-Dhkhan: 7-8)
    jika kita sudah mengakui kebesaran Tuhan kenapa harus ragu. iman bukan keragu-raguan……. tapi meyakini.

  6. 6 Suluh Sabtu, 3 Maret 2007 pukul 9:10 am

    @fertobhades:

    Rasa? Ohya, bisa ya? Kok saya gak bisa ya? Atau emang saya yang bego! Bodo! Pwekok! Atau rasa yang anda maksud seperti yang saya sebut “kecenderungan”? Ah saya juga tidak tahu. Salam Kenal dan Senyum dari Yang Beda aja :)

    Wah selamat buat fertobhades yang telah menyatu dengan yang anda sebut TUHAN. Sekali lagi saya ucapkan selamat.

    @m_kharis:

    Makasih komentarnya. Cukup banyak juga. Makasih makasih sekali lagi. Saya mengerti sepenuhnya yang anda maksudkan. Makasih. Salam kenal dari yang Tak-Sama. :D

  7. 7 fertobhades Minggu, 4 Maret 2007 pukul 11:14 pm

    :-)

    Nggak, saya nggak menyatu dengan Tuhan. Tapi saya melihat sesuatu yang berbeda ketika saya menggunakan “otak” dan “rasa”.

    “Penyatuan” adalah konsep spiritualisme yang memang merupakan tujuan dari spiritualitas mereka. Berusaha mencari penyatuan dengan yang Tak Terdefinisikan dan Maha. Terkadang melihat sesuatu menurut sudut pandang mereka juga ada “enaknya”. Dan hal ini pernah juga dilakukan oleh fisikawan yang sekaligus spiritualis seperti F.Chopra. Dimana mereka mengekstrapolasi pemikiran fisika mereka sampai menyentuh “sesuatu” yang sering kita sebut Tuhan.

    salam filsafat…

  8. 8 Donny Senin, 5 Maret 2007 pukul 1:29 pm

    Make it simple! Itu sih saran saya. Kalau membaca tulisannya, saya mendapati sang penulis terlalu rumit memikirkan tentang Tuhan. Selalu ada jawaban dari sebuah ketidaktahuan kan? Masalahnya adalah, sudahkah sang penulis bertanya kepada mereka yang ‘lebih tau’? Atau penulis hanya membiarkan pikirannya menguasai dirinya dan membiarkan dalam ketidaktahuan? Namun, seringkali juga orang-orang yang kita anggap ‘lebih tau’, ternyata adalah orang-orang yang ‘sok tahu’. Kalau penulis bertemu dengan orang-orang seperti itu atau membaca tulisan-tulisan dari orang seperti itu, mungkin penulis hanya akan mendapati ketidakpuasan atas jawaban yang didapat. Karena itu, dalam hal mencari orang yang ‘lebih tau’ juga harus lebih hati-hati.

    Orang-orang yang terlalu banyak membaca filsafat juga sering terjerumus dalam ketidakmengertian akan Tuhan, karena memang Tuhan dibikin rumit. Padahal, dalam kasus ber-Tuhan, seringkali kita hanya ‘harus’ percaya saja, sesederhana itu, atau mungkin lebih tepat jika disebut ‘beriman’. Tentunya dengan segala konsekuensi dari keimanan itu. Dalam Islam misalnya, konsekuensinya adalah shalat, puasa dan lain-lain. Sebetulnya rugi nggak sih kita ‘beriman’? Kalau bagi saya sih tidak. Entah dengan penulis. :)

  9. 9 Suluh Senin, 5 Maret 2007 pukul 2:20 pm

    @fertobhades:

    Oh gitu ya? :D. Makasih atas pemelajaran spiritualitas-nya. Dalam pemahaman saya spiritualitas tidak “memfardlukan” adanya TUHAN.

    @Donny:

    No koment aja buat anda. Salam Kenal Penuh Haru dan Senyum :) . Koment seperti Anda mungkin akan banyak disetujui oleh banyak orang. Saya tunggu komentar yang senada.

  10. 10 agorsiloku Kamis, 8 Maret 2007 pukul 9:56 am

    Sebuah perjalanan berpikir yang menarik, dan itu telah dilakukan sejak segala manusia, sejak bersilam-silam lamanya. Manusia selalu bertanya aku siapa dan Engkau apa (dengan segala persepsinya). Saya juga begitu Mas, berputar-putar terus dan bertanya terus meski sering terganggu karena kebutuhan untuk hidup terus dan jalan-jalan ke mall. :).

    Hanya satu yang saya tidak mau pikirkan untuk memilih teisme dalam kehidupan saya, dan agama sebagai jalan pilihan. Lalu kenapa memilih ini, saya tidak mau memikirkan sama sekali. Saya memilih beriman saja, kemudian saya berusaha belajar dan mengelaborasi keberimanan saya.
    Memang, setiap orang akan secara liar mengembangkan nuansa berpikirnya. Karena merasa saya terbatas, maka saya juga mencoba membatasi pikiran-pikiran yang ada. Apalagi menyangkut hal yang kemudian akan menjadi sangat aneh (baca absur) : misalnya siapa menciptakan siapa?….

    Salam, agor

  11. 11 wongcompong Kamis, 29 Maret 2007 pukul 12:23 pm

    sampeyan kih terlalu menganggap semuanya rumit n harus serba gamblang.jadi ya kek gtu.ada yang ga gamblang dikit,langsung di gugat habis.jelas susah…susah di bikin sendiri..wong nabi aja nanya kek gtu langsung nyerah.tapi kalo sampeyan tetep nekat…tunggu aja kebenaran teorinya freud…:)

  12. 12 Rizma Adlia Kamis, 12 April 2007 pukul 8:34 pm

    Ma jadi inget pelajaran agama di SMA, debat yang judulnya “tuhan itu ada apa ngga?” ternyata banyak versi argumen tentang ke-ada dan ke-ngga ada-annya tuhan (tanpa dalil dan tanpa ‘pokoknya,,’ :) hehehe,,),,
    Kalo Ma bener bener percaya kalo tuhan itu ada, Ma percaya ada yang ngatur semua hasil sempurna yang ga mungkin terjadi dengan kebetulan ini,, hehehe,,

    Piss!

  13. 13 rlanang Kamis, 17 Mei 2007 pukul 10:38 pm

    Hi Q,
    aku gak terlalu sibuk sbenarnya…cuma males aj ke warnet, warnet di batam gak cukup nyaman buat berselancar, ombaknya terlalu kecil :)
    aku belum baca tulisanmu diatas, tapi kalo dari judulnya…seru!!!
    tuhan, kata yang digunakan manusia untuk merepresentasikan sebuah kualitas agung yang berada diluar jangkauan panca indra manusai. lingustik lagi…hehehe, i like it.
    nilai dari kualitas yang agung tersebut ditentukan oleh pemahaman sang pengguna kata ‘tuhan’ tadi. betul?
    buat si Bejo yang tinggal di kampung dusun kluthuk yang hijau nan asri dan selalu diajari oleh guru ngaji/kebaktian/meditasi nya bahwa tuhan itu sang pencipta padi, jagung, yang menurunkan hujan maka ya menurut bejo tuhan adalah sang pencipta yang tanpaNya, bejo dan seontoro kampung dusun kluthuk yang hijau nan asri gak bisa makan dan hidup. pokoknya tuhan penting banget!!!
    buat si Tejo yang tinggal di kota metropolitan dan sempat kuliah S3 di Harvard/Oxford/MIT/teknik fisika UGM
    yang diajari teori big bang, evolusi, chaos, suka baca buku filsafat, sosial, teknik, ekonomi, makan tinggal makan (asal ada duit :)), duit bisa dicari dengan nulis, kerja, ato minta orang tua yang deposito nya cukup buat 11 turunan sehingga tidak perlu nunggu panen dan hujan untuk bisa makan…tuhan adalah…tuhan ada ya??? tanya Tejo.
    apapun itu manusia adalah subjek (buat mereka yang sadar), darinya lah sesuatu (materi dan/atau ide) memiliki nilai.
    tuhan…tuhantuhantuhantuhantuhantuhantutuhantuhantuhantuhantuhantuhantu…hantu…
    ada dan tiada, tergantung nilai anda terhadap kata ‘tuhan’
    salam

    wah gil durung moco wis koment, mending gawe blog wae gill, buat komentmu ini jadi postingan pertama. entar aku yang koment pertama kali :D

  14. 14 chiket Minggu, 17 Juni 2007 pukul 8:25 pm

    ha..ha..ha..ternyata sangat ‘kompleks’ untuk membuat segalanya menjadi ‘simple’ :)

    mang komplek kok :D menurut saya sih…

  15. 15 chiket Minggu, 17 Juni 2007 pukul 8:30 pm

    saia yakin dari smua koment di blog ini ga ada yg memuaskan penulis :))

    eh keyakinan chiket bisa salah loch… dan kemungkinan salahnya besar sekali…. :D

  16. 16 chiket Senin, 18 Juni 2007 pukul 8:17 pm

    yare..yare..
    smoga saia salah :D

    ehm :D

  17. 17 etikesen Senin, 9 Juli 2007 pukul 9:42 am

    :) ada perasaan menelusup ke relung hati saya, senyum simpul tersungging ketika membaca tulisan ini, terutama pada dua paragraf terkahir. sebuah kepolosan, keluguan yang selalu mendatangkan gairah untuk merangkul dan menyentuh dengan tulus dan lugu pula. sebuah ketulusan yang menggairahkan.
    banyak orang yang tidak pernah puas dengan pencariannya tentang makna hidup, makna tuhan, makna alam, makna manusia, makna kematian, makna kebahagiaan, makna kehidupan sebelum dunia. terus mencari dan terus mencari. ada penghormatan tersendiri buat orang2 semacam ini, salut.
    ada banyak pelajaran hidup dari orang2 semacam ini, leo tolstoy mungkin salah satunya.
    orang2 seperti ini mungkin disatu sisi merasa bahagia karena sudah mengoptilmalkan kemampuan otaknya, otaknya terus diasah dengan pertanyaan2 tentang hidup. namun disisi lain, pernahkah dia mempertanyakan, apa arti pencarian yang saya lakukan jika saya tahu saya tidak pernah akan menemukan apa yang saya cari?
    hmmmm apakah ini yang disebut dengan manusia penyembah akalnya sendiri?

    ah akal…? betapa tak berdayanya dikau dalam memahami hidup dan dunia…?

  18. 18 nuragus Kamis, 19 Juli 2007 pukul 9:21 pm

    Tuhan mas?

    Ada gak sih Tuhan itu?

    Manusia, saya rasa adalah makhluk yang sangat bergantung pada panca-indra. Kita mengindra sesuatu, baru kemudian kita berpikir akan sesuatu itu. Dan ini menjadi kelemahan mutlak manusia dalam hal memahami sesuatu yang tidak bisa di-indra. Dan sayangnya, Tuhan termasuk yang tidak bisa di-indra.

    Kalau memang Tuhan ada, dan mendesain manusia seperti ini, maka berarti Tuhan memang bersembunyi dari kita semua. Tuhan, kalo memang ada dan tahu segalanya, pasti mengetahui bahwa manusia akan berselisih tentang Dia.

    Tuhan…

    Apakah Tuhan juga merupakan manifestasi atas kelemahan manusia dan ketidak-tentuan kejadian di dunia?
    Manusia berharap ini itu, tetapi dunia berkata lain. Manusia menganggap itu kehendak Tuhan.

    Tapi, mengakui ataupun tidak mengakui adanya Tuhan, tetap saja kita harus mengakui bahwa manusia sangat lemah.

  19. 20 Suluh Senin, 27 Agustus 2007 pukul 8:39 am

    @nuragus: ya manusia itu lemah.. sangat lemah…

    @geddoe: kalau saya lebih suka menyebut diri saya “mitigate freelance agnotism” di search di google paling juga gak ada… he he he <~~~ sebutan yang saya buat sendiri :smile:

  20. 21 Kopral Geddoe Kamis, 30 Agustus 2007 pukul 9:16 pm

    Yee, itu mah tetap agnostik juga atuh :mrgreen:

  21. 22 Suluh Jumat, 31 Agustus 2007 pukul 8:33 am

    @geddoe:

    lah siapa yang bilang tuh gak agnostik? cuma agnostiknya rada mitigate gitu loch… :mrgreen:

  22. 23 dewashiwa Sabtu, 27 Desember 2008 pukul 12:28 am

    Kalau kita tidak tahu siapa pencipta alam semesta, lalu kita langsung melakukan klaim bahwa penciptanya adalah TUHAN, betapa tidak ilmiahnya kita!! Sesuatu hal selalu dilingkupi oleh hukum sebab-akibat-korelasi. Jadi TUHAN adalah khayalan manusia saja, karena terbentur dari ketidak berdayaan manusia dalam mengungkap rahasia alam semesta ini. TUHAN adalah alam semesta itu sendiri, soal alam semesta diciptakan atau tidak diciptakan, adalah tugas kita untuk mengungkapkannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita punya dan itu berlangsung terus menerus tanpa henti sampai akhir jaman. Gunakan otak untuk berpikir bukan untuk menghujat. Keyakinan bukan untuk diadili, Kebenaran bukan untuk dipaksakan……..Salam Agnostik!!

  23. 24 Suluh Selasa, 6 Januari 2009 pukul 5:32 am

    Sesuatu hal selalu dilingkupi oleh hukum sebab-akibat-korelasi

    apa yang anda katakan diatas juga salah satu jenis dogma kepercayaan lho mas… dan tidak ilmiah dalam epistimologinya… tapi ilmiah dalam dogma atau sebagai aksiomanya…

  24. 25 dewashiwa Kamis, 8 Januari 2009 pukul 9:33 pm

    Hukum sebab-akibat-korelasi adalah anthroposentris dan itu wajar sebab kita manusia dan bukan tuhan yang theosentris. Kalo disebut tidak ilmiah secara epistimologi tetapi ilmiah secara dogmatis, itu kan tergantung dari persepsi mana kita melihat suatu teori, yang namanya teori kan bisa dibantah kapan aja, aku mah oke2 aja, hehehehe dan ingat, teori bagus tapi fakta tidak mendukung, bukan berarti teori itu jelek lho, hehehehe, beda dengan dogma2 ketuhanan, bagus atau jelek ya harus mau, tidak bisa ditentang, yang menentang ya kafir (katanya). Jika kita ingin selalu maju dan otak terus berkembang maka kita harus berpikir secara manusiawi, kalau kita berpikir secara tuhan, dijamin deh otak kita jadi mandeg dan pasti banyak terjadi hal2 negatif dibanding hal2 positif. Konflik di timur tengah adalah contoh yang nyata bagaimana agama telah “sukses” memainkan perannya secara irrasional, dogmatis, subyektif dan alogis.Agama sudah waktunya disimpen di perpustakaan atau gudang, karena buat apa agama kalau kita kehilangan kemanusiaan kita? Ya gak? hehehehe. Keyakinan bukan untuk diadili, Kebenaran bukan untuk dipaksakan. Salam Agnostik!!

    • 26 Suluh Jumat, 9 Januari 2009 pukul 4:57 am

      kalau gitu…. agama itu wajar… karena kita manusia juga…. sejauh yang saya pikirkan… sebab akibat tetap merupakan sebuah dogma… jika anda mengatakan itu manusiawi, brarti agama itu juga manusiawi…

      otak kita mandeg? ohya? klaim yang berlebihan saya kira…

      kemanusiaan itu bukan domain agama walau pasti ada dalam agama (agama ada karena manusia). entah ada agama atau tidak kemanusiaan tetap melekat di diri manusia.. bagi saya, dalam pengamatan dan perenungan kondisional psikologis sosial, agama tetap dibutuhkan, dan mustahil dimusnahkan, walau saya sendiri seorang yang berkecenderungan agnostik dalam pemikirannya saya tetap mendukung agama dilestarikan, sebagaimana kebudayaan. Sangat menyedihkan kalau hanya jadi gudang bacaan diperpustakaan. Hanya saja perlu agama perlu dibangun kearah yang positif.

  25. 27 satpam Jumat, 9 Januari 2009 pukul 10:22 am

    @suluh

    “Namun demikian, alasan-alasan klasik baik itu dari pendukung “TUHAN” maupun penolak “TUHAN” tidak mampu meyakinkan saya untuk memilih salah satu dari pemikiran ini”

    pengingkaran selalu berdasar pada penerimaan.

  26. 28 dewashiwa Jumat, 9 Januari 2009 pukul 8:59 pm

    Maaf mas,sampeyan harus melihat realitas atau kenyataan atau fakta yang ada di masyarakat kita, jangan hidup di dunia mimpi. Apa sih yang agama berikan pada negara kita sekarang, detik ini? Sebagian besar negatif kan? Cobalah buka mata dan hati sampeyan, gimana kelakuan orang2 beragama di negara kita, di sekitar kita? menyedihkan banget kan? hehehehe. Oh iya agama benar produk suatu kebudayaan alias produk manusia juga, tapi produk manusia atau budaya belum tentu bagus lho, apalagi tanpa melihat faktor ruang dan waktu. Agama islam, kristen dan yahudi asalnya dari timur tengah, apa iya cocok dengan situasi masyarakat budaya kita? Ya jelas jauh asap dari api. Begitu pula kita suci usang yang sdh ada ribuan tahun umurnya, apa masih cocok dengan situasi dan kondisi di tahun 2009 ini? Ya jelas patut dipertanyakan. Oh iya ada yang bilang pengingkaran selalu berdasarkan penerimaan? Saya tidak ber-agama karena saya tidak suka agama, bukan masalah menerima, menyakini, meratapi, mengingkari atau lainnya? Orang tidak suka duren ya biarkan aja mereka gak suka duren, kok mau dipaksa2? Nanti malah mutah, iya gak, hehehehe……..Blog sampeyan bagus mas, aku dukung deh…..maju terus mas suluh……..Salam Agnostik

    • 29 Suluh Sabtu, 10 Januari 2009 pukul 4:11 am

      sayaa juga melihat fakta yang ada disekeliling saya mas… dan saya rasa semuanya masih berjalan “normal” and sesuai dengan bayangan saya.

      banyak yang diberikan oleh agama… kebinekaan, ritual2nya yang khas. ajaran2nya.. bagi saya, sebagai produk manusia, agama tetap menarik untuk ditelusuri. proses psikologinya, ideologi yang mengakar, dan sebagainya..

  27. 30 satpam Jumat, 9 Januari 2009 pukul 9:12 pm

    Betul. Yg pasti duren itu ada.

  28. 31 Satpam Sabtu, 10 Januari 2009 pukul 2:27 pm

    Betul. Yg pasti rasa duren itu wenak tenan.

  29. 32 Michael Edward Senin, 22 Juni 2009 pukul 3:35 pm

    Mas Suluh,Boleh Saya share tulisan ini? Jujur saja, Amat sangat menarik tulisan ini..Terima Kasih..

  30. 33 harunsaurus Kamis, 11 Maret 2010 pukul 5:50 am

    believe in something, my friend (oh, sebentar. kita belum kenalan. saya harun. salam kenal).

    believe in something. live with it. terlalu banyak alternantif jawaban untuk pertanyaan 5W + 1H tentang hidup. jadi, pilih saja satu yang MENURUT KAMU benar, dan hiduplah dengan kepercayaan itu. kalau ada, katakanlah konflik karena perbedaan kepercayaan, saya cuma bisa bilang: that’s the way world goes.

    ada hal-hal yang gak bisa kita kendalikan. pada akhirnya kita memilih, bahkan termasuk memilih untuk tidak memilih. sekali lagi, that’s the way world goes. we are all part of this silly(or should I say ‘unthinkable’?) game. even angels ask Him why He placed men on this beautiful earth. kenapa ya? jawabannya sih sudah ada di kitab suci saya(yang gak semua orang percaya itu), dan saya percaya itu. kenapa? karena saya percaya.

    satu hal yang saya temukan beberapa hari yang lalu adalah bahwa setiap dari kita percaya dengan mukjizat, atau keajaiban. what is miracle? miracle is a word. a way of saying that something happened for unknown reason or by unknown factor. but it happened anyway. yeah, miracle is a proof that we are weak and knows nothing but few.

    btw, ngomong-ngomong tentang hidup. saya melihat zeitgeist di era postmodern(para dosen mohon ampuni saya jika saya salah menggunakan istilan) ini, saya melihat kecenderungan yang mengarah ke arah nihilisme… atau dekonstruksi(yang menurut saya juga nihilistik). jadi, hemat saya, nihilisme belum ada lawannya nih. nietzche masih jadi (dead)ubermensch bahkan di abad 21 ini. ini beberapa contoh karya yang konklusinya rada-rada(atau sangat) nihilistik:
    -the matrix (the wachowski brothers, film, 1999)
    -the mysterious stranger (mark twain, novel pendek, 1921)
    -chrono cross (squaresoft, video game, 1999)

    tiga aja deh. saya rasa cukup menggambarkan kecenderungan zaman ini :p

    udah ah. kepanjangan euy komen urang…

  31. 35 harunsaurus Kamis, 11 Maret 2010 pukul 5:53 am

    now now now

    saya baru aja keingetan buku yang bagus: “Aku Beriman Maka Aku Bertanya” karya Jeffrey Lang. dan beberapa buku senada dari penulis yang sama.

    semoga membantu.

  32. 36 Anshar Matak. Kamis, 1 April 2010 pukul 10:46 pm

    Agama memberikan pemahaman bahwa langit dan bumi dan yang ada di antara keduanya adalah ciptaannya dan dia pula yang memeliharanya, Islam mengajarkan 99 nama Allah yang memberikan pemahaman bahwa Allah maha atas segala sesuatu.baik, buruk, surga, neraka, iblis, malaikat, adanya ada ,adanya tiada dan lain-lain adalah ciptaan Tuhan dan tidak mungkin ciptaan selain tuhan. sehingga fenomena
    apaun yang terjadi tentu itu adalah kehendak tuhan juga. selajutnya, dalam berbuat aku kembalikan kepada kata hati saja sebab menurutku kata hati itu juga adalah ciptaan tuhan. begitulah aku saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti. jadi, kalau anda mau, ikuti saja kata hati anda.Oh iya, maaf kepada yang tidak berkenan.

  33. 37 Mutiara Jumat, 14 Mei 2010 pukul 9:12 pm

    Hallo Salam kenal mas.

    Saya juga seorang individu yang sering bingung melihat pemahaman manusia tentang agama dan Tuhan. Mungkin saya seorang penganut pantheism meskipun sebenarnya saya seorang muslim , terlahir dari keluarga muslim dan dibesarkan dengan didikan Islam.

    Kebingungan saya akhirnya agak terjawab setelah saya mencoba merenungkan hakekat dari kehidupan ini yang terdalam, ketika saya membaca sebuah agama kuno dari Persia yg disebut Zoroaster dengan nabinya Ahuramazda. Agam kuno ini tidak menyembah berhala dan tidak memiliki kuil, cara mereka berdoa, pergi ke atas gunung membuat api unggun dan berdoa….(mereka tidak juga menyembah api), inti dari ajarannya ada 3 hal : berkelakuan baik, berbicara baik dan berniat baik. Tiga hal itu sangat simple dan ‘benar’ menurut versi pemikiran saya, apalagi dalam catatan sejarah, agama kuno ini sama sekali tidak memaksakan kehendak dan keyakinan mereka pada orang lain ataupun menganggap diri lebih benar dari yg lain. Saya terpesona.

    Agnotis dalam sejarahnya, memang berdiri di tengah tengah antara percaya dan tidak percaya…., mengakui dan tidak mengakui. Menurut saya itu adalah sifat dasar manusia sejak jaman adam dan hawa diciptakan, namun saya agak kurang setuju dengan ketidak yakinan agnotisme pada TUhan dan hal hal gaib hanya karena tidak dapat dibuktikan secara empiris. Bukankah tidak segala hal bisa dijelaskan dengan empirical ? dan bila kita kembali pada agama kuno tadi, hal tersebut tidaklah perlu dipertanyakan, yang penting adalah keyakinan kita pada kebaikan dan segala hal yg membawa kebaikan…

    Sebagai individu, saya tidak pernah meragukan Tuhan. Buat saya Tuhan itu ada di dalam hati saya dan dalam segala hal yang bisa dan tidak bisa saya lihat, bahkan dalam hal hal buruk sekalipun.
    Namun saya meragukan keyakinan orang terhadap agama, yang kadang berlebihan dan hanya membuat pengkotakan dan perselisihan dalam kehidupan ini, menganggap satu agama lebih baik dari lainnya. Untuk itulah saya menganggap agama itu tidak baik bila hanya membuat orang berselisih paham dan saling bertikai.

    Betapa indahnya dunia ini, bila setiap individu tidak menjadikan agama sebagai panduan hidup, dan pengkotakan manusia, namun menjadikan Tuhan sebagai panduan hidupnya. Percaya kepada Tuhan dalam bentuk apapun itu, Tuhan yang ada dalam setiap langkah kehidupan dan kematian. Saya yakin Tuhan menciptakan agama untuk maksud baik dan bukan untuk membuat manusia saling bermusuhan. Begitu juag untuk para agnotis, tidaklah salah bila siapapun juga tidak mau memihak percaya atau tidak, asalkan semua untuk 3 hal dasar tadi, good deed, good will and good words !

    Salam kebaikan !

  34. 38 dhani Rabu, 2 Maret 2011 pukul 1:30 am

    pinjam tulisannya mbak,, lagi mau memahami agnotisme,,, untuk debat sama teman,,, :)

  35. 39 John Doe Selasa, 24 Januari 2012 pukul 12:17 am

    apabila anda berpikiran seperti itu, saya mengatakan itu adalah hal yang wajar bagi seorang manusia untuk berada di tengah2 drpd mereka yang mengaku penganut Islam yang kuat/taat, namun dlm kehidupan sehari-harinya terlihat bahwa dirinya tidak berke-Tuhan-an, dan kadang kita sendiri merasa saya tidak terlalu taat beragama seperti mereka namun tindakan saya jauh lebih bermoral dan beretika dibanding mereka yang mengaku agamanya kuat..

    kembali ke fokus, anda merasakan seperti itu karena sifat alamiah dasar manusia yang selalu bertanya dan memiliki akal, biasanya pemikiran seperti itu muncul kepada mereka yang sanggup berpikiran/pemahaman lebih jauh dibanding orang awam, karena kita membutuhkan rasionalitas yang solid untuk yakin terhadap sesuatu, dan keyakinan tidak bisa ‘diciptakan’ melainkan ‘dilahirkan’

    Saran saya kepada anda adalah, mungkin ada baiknya anda berhenti mempertanyakan ada atau tidaknya Tuhan (walaupun masih ada kecenderungan mempercayai Tuhan itu ada).. dan anda cukuplah berpikir Agama itu adalah hubungan yang pribadi antara umat dengan Tuhannya.. yang paling penting drpd mempertanyakan Tuhan, lebih baik kita menjalani kehidupan dengan penuh moral dan etika yang bisa diterima secara universal oleh orang-orang baik lokal maupun internasional.. dan jangan sampai anda kehilangan ‘pegangan’ dalam hidup, karena ‘jiwa’ manusia itu sebenarnya rentan oleh pikiran kita sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: