Cermin Diri dari Masa Bayi: Kesadaran Yang Terinsafi Atau Memori Yang Tersadari?

Apapun kesadaran itu sesesungguhnya, apapun definis yang ingin diberikan kepadanya, saya tahu bahwa saya memilikinya. Semenjak saya hidup dan menjalani waktu demi waktu yang (sepertinya) kontinu dan tak tersendat sedikitpun, saya mengingat bahwa kesadaran awal saya muncul ketika saya berumur sekitar 2 atau 3 tahun. Mungkin lebih tepat menggunakan istilah memori yang tersadari, mengingat di usia tersebutlah saya masih mengingat beberapa hal yang pernah saya lakoni. Semisal sewaktu saya mengejar tukang tahu dengan sepeda ontelnya atau semisal saya diajak jalan-jalan dan makan bakso oleh tetangga saya. Namun bukan hal tersebut yang ingin saya ulas disini.

Kesadaran saya sesungguhnya merupakan sebuah proses tak terkenali secara utuh. Saya tidak tahu apa mekanisme (sesungguhnya dan sebenar-benarnya) yang melahirkan kesadaran itu sendiri. Saya yakin mekanisme yang cenderung menjelaskan secara material mengenai kelahiran kesadaran saya, akan sangat tidak mumpuni untuk mengenali apa itu sesungguhnya kesadaran. Kesadaran saya lahir minimal tidak ketika saya dilahirkan. Saya muncul kedunia (dengan bercermin pada kelahiran orang lain yang saya identikkan dengan diri saya, ataupun melalui cerita-cerita ibu saya) melalui rahim ibu saya. Saya tidak menyadari sama sekali kelahiran saya. Saya tidak memiliki memori yang tersadari sewaktu saya dilahirkan ke dunia. Tentu saja saya juga tidak memiliki memori yang tersadari ketika saya berada di dalam kandungan.Seberapapun kuat saya berusaha mengingat kejadian kelahiran maupun masa-masa di dalam kandungan ibu, saya tidak mampu mengingatnya atau menyadarinya. Ini setidaknya sampai sekarang ini.

Sewaktu bayi pun selama rentang beberapa periode waktu yang cukup lama saya tidak mampu mengingat atau menyadari secuilpun pengalaman rasa, fisik, emosi, pikiran, dan bentuk pengalaman lain (mendengar, melihat, mengecap, dll) yang mampir di kehidupan awal saya tersebut. Namun dengan menyimak dan melihat dari cermin orang lain sepertinya, walaupun saya tidak menyadari atau mengingat sepenggal kisah pengalaman tersebut saya tahu bahwa saya waktu itu “melihat, mendengar, merasa, dan lain lain”. Entah kenapa ketika saya memperoleh sebuah pengamatan terhadap “bayi” atau “balita” saya merasa bahwa mereka benar-benar melihat, mendengar, mengecap dan lain sebagainya. Tetapi saya juga terus diwarnai kebingungan kenapa ketika saya dulu menjalani kehidupan seperti bayi saya tidak mampu mengingat atau menyadari pengalaman tersebut. Ataukah mungkin saya tidak pernah menjadi bayi? Saya tidak bisa memastikannya.

Sampai saat ini saya terus diwarnai keheranan terhadap apa yang terjadi di diri saya. Kesadaran saya terhadap setiap hal yang mampir di kehidupan saya memang sungguh unik. Namun kesadaran saya saya pikir tidak mungkin hadir tanpa adanya memori memori pengalaman yang mampir atau singgah di diri kita. Tanpa adanya memori, entah itu rasa, emosi, ecapan indera, konsep-konsep, kategori-kategori, dan pengalaman yang lain, kesadaran kita tidak mungkin muncul. Tanpa adanya memori atau ingatan kita seperti ruang hampa atau seperti dalam keadaan tertidur.

Masa-masa di kandungan atau masa bayi merupakan sebuah proses kehidupan yang bisa saya sebut “ngelindur”. Artinya adalah kita tertidur lelap namun segala macam interaksi yang muncul masih bisa kita jalani melalui suatu mekanisme alamiah yang melekat di diri kita semenjak kita lahir. Insting naluriah ketika menyusui, ketika nangis lapar, ketika disentuh kehangatan cinta ibu, merasakan dekapan sayangnya dan lain sebagainya, merupakan inti dari sesuatu yang tidak pernah kita sadari. Karena waktu itu kita sedang “tertidur”. Ketika bangun, tiba-tiba kita seperti telah memiliki ketrampilan-ketrampilan, kita memiliki tubuh, kita bisa mendengar, kita bisa melihat, kita bisa mengecap, kita bisa sakit, kita bisa sedih, kita bisa gembira, kita memiliki orang-orang yang “care” dengan kita, yang kita tak mengerti dan tak tahu bagaimana bisa terjadi semua ini. Kita muncul dari “ketiadaan”. Bak seperti disulap dan dimunculkan oleh sang Pesulap. Eh, jangan dikaitkan soal sulap menyulap dan muncul dari “ketiadaan” dengan TUHAN ya? Ini hanyalah istilah untuk menyebut keajaiban dari kesadaran itu sendiri. Dan dari semuanya itu saya merasa saya sadar bahwa saya memiliki kesadaran. Atau bisa dikatakan saya memiliki kesadaran yang terinsafi (conscious awareness).

Lalu apa itu sebenarnya Kesadaran yang Terinsafi? Dari mana dia muncul? Kenapa musti ADA? Saya juga tidak mengerti.

Salam penuh Keingintahuan dan Ketakmengertian

Haqiqie Suluh (Sabtu, 3 Maret 2007)

Iklan

4 Responses to “Cermin Diri dari Masa Bayi: Kesadaran Yang Terinsafi Atau Memori Yang Tersadari?”


  1. 1 mademoiselle Sabtu, 3 Maret 2007 pukul 2:42 pm

    hai,… tulisanmu lumayan membumi juga, maksudku, aq lumayan memahaminya… well, inilah kita di saat sekarang, yang ada di saat ini, kita ada krena proses ketidak atau ke_sadaran itu..(3maret 2007)

  2. 3 agorsiloku Kamis, 8 Maret 2007 pukul 9:41 am

    Di batas kenapa bisa mengerti dan ada, kenapa ada kesadaran. Itu juga tidak bisa saya pahami, lebih tidak dipahami lagi kenapa kesadaran itu diinsafi, disadari, dipersepsikan, diyakini. Itu mungkin juga yang menyebabkan ada berpikir bahwa keberadaan saya sesungguhnya adalah ketiadaan saya…..

  3. 4 thanti Sabtu, 17 Maret 2007 pukul 9:42 am

    tulisan yang menggugah,

    “kesadaran” rasanya lebih seperti anugrah yang muncul tanpa pernah kita ketahui… kita tiba-tiba mengalaminya begitu saja…
    sebagai anugrah, tentunya hal itu perlu kita syukuri.
    dan sebagai manusia sederhana, rasanya hanya itu saja hal sederhana yang bisa saya lakukan saat ini :)

    salam kenal…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: