Anakku Hilang

Hari masih pagi. Dinginnya udara menyentak pori-pori. Suara subuhpun belum terdengar. Lelaki itu berjalan pelan menghampiri sepeda motornya sembari menggendong sesuatu. Dikeluarkannya motor dari dalam rumah. Dinyalakan. Dan dia kemudian pergi ke arah selatan. Lenyap di gelapnya malam.

Lelaki itu kembali. Sumpek di dadanya telah terlampiaskan. Dendam kesumat dan kemarahan telah dituntaskan. Tinggal menunggu reaksi dari lawan.

***

Perempuan itu masih menangis sesunggukan di bawah guyuran hujan sembari mendekap anaknya yang baru berumur 1 tahun. Anaknya pucat, menggigil. Jaketnya teramat tipis untuk mengusir dinginnya hujan yang mengikuti langkah sepeda motor yang diboncenginya bersama tetangganya. Ia ingin ke bidan, syukur-syukur ke dokter. Ingi segera anaknya mendapat pertolongan. Ia sudah sangat bersyukur tetangganya sangat baik hati mengantar dan bahkan memberikan uang untuk ke bidan atau ke dokter. Perut laparnya tak dihiraukan. Hari masih pagi walau cahaya surya dibalik mendung hujan cukup menerangi pagi itu.

***

“Si Agil mana mas? Agil hilang?”. Perempuan itu panik luar biasa. Hari masih sedemikian pagi. Kokok ayam belum juga berbunyi. Langit pun masih gelap. Suara hujan mengguyur jejalanan dan atap rumah mereka.

“Lah kamu tuh gimana?!? Gak bisa ngurus anak apa?!? Sampai anakmu hilang gak tahu?!? Cari aja sendiri sana!”. Kemarahan malah yang didapat dari mulut suaminya. Lelaki itu pergi dari hadapan perempuan itu, beranjak ke dapur. Seolah tidak ada apa-apa. Ia lalu sibuk merebus ketela.

Tahu sifat suaminya yang tak mau tahu soal anak mereka, perempuan itu menyerah bertanya. Ia mencari. Di sudut kamar, di kolong ranjang, di setiap centi ruang di rumah itu, mencari sesosok bayi yang baru mulai belajar berdiri yang hilang dari dekapan tidurnya.

Pergi ia ke rumah kakak ipar perempuannya. Rumah iparnya tidak begitu jauh dari rumahnya. Sembari berharap ia dapat menemukan bayinya disana. Basah rambut dan badannya tidak ia hiraukan. Siapa yang hirau akan hujan jika sang anak menghilang. Payungpun tidak terlintas di pikiran kalutnya.

Digedornya pintu rumah kakaknya. Muncul sosok perempuan,”Ada apa dik?, Pagi pagi dah bangunin orang?”

“Agil hilang mbak? Apa dia ada disini?”

“Nggak ada agil disini. Emang hilang dimana? Kok bisa?”

“Dirumah! Gak tahu kemana!”

“Udahlah dik, hari masih pagi bener. Hujan lagi. Entar kalau udah siangan dicarinya. Mana bisa keliatan di tengah pagi gelap begini.”

“Mbak. Kalau anak mbak hilang jam segini, apa mbak gak nyari. Mau jam 12 malampun kalau anakku ilang aku pasti nyari!” Ia menjawab dengan ketusnya.

Sadar anaknya gak ada di tempat kakaknya, dan sadar kakaknya gak begitu menaruh perhatian pada hilangnya anaknya, ia pergi dari rumah kakaknya.

Berlari ia ke rumah mertuanya. Berfikir mungkin anaknya ada di situ. Gedoran lagi yang ia lakukan. Namun apa daya. Anaknya juga tidak ada disitu. Mertuanya tidak dapat diandalkan juga. Semuanya seolah-olah tak peduli akan buah hati tercintanya.

“Disini gak ada Agil! Agil gak ada di tempatku! Cari sana di kebon!” Tukas bapak mertuanya, ketika ia bertanya mengenai keberadaan anaknya.

Hah! Di kebon? Gak salah? Apa mungkin Agil jalan atau main di kebon ditengah pagi gelap gulita dan hujan begini. Jantungnya bertambah kencang berdetak. Tangisannya tambah meradang. Air mata kedukaan dan kepanikan yang dari tadi mengalir semakin bertambah. Ia lalu ingat sesuatu. Tetangganya tadi berkata kalau ia melihat suaminya pagi-pagi buta pergi bersepeda motor ke arah selatan dengan menggendong sesuatu.

Lari ia ke arah selatan. Panik luar biasa. Membayangkan anaknya menangis ketakutan. Dinginnya air hujan dan pagi buta menusuk kulitnya. Ia semakin panik dan menangis. Anaknya pasti kedinginan dan kebingungan. Di tengah pagi buta ia pergi ke kebun di arah selatan. Ia sendirian mencari. Tak satupun keluarga yang dikeluhinya mau membantu. Di panggilnya nama Anaknya keras-keras.

Tiba ia di pinggir sungai. Sudah 1 jam ia mencari. Kelelahan namun masih bersemangat dan gundah gulana. Seketika jantungnya berdegup kencang. Matanya mengalir deras. Di pinggir sungai ia melihat anaknya tergeletak diam. Seakan-akan seperti patung. Ia berteriak,”Agiillll anakku!!”. Anak itu terdiam. Gagu. Pucat. Menggigil. Dan tak menangis. Ibunya tahu anaknya sudah kelelahan menangis hingga tak mampu lagi mengurai air matanya. Dekapan ibunya tak mampu membuat ia bergerak. Anak kecil itu masih terdiam. Kini ia dipelukan ibunya. Tanpa tangisan. Tanpa gerakan. Hanya menggigil kedinginan. Yang ada dipikiran perempuan itu satu,”Aku harus ke bidan”

Sekian..

Penuh Haru

Haqiqie Suluh (Alur cerita diatas merupakan kisah nyata yang diceritakan padaku tadi pagi buta (24 Maret 2007, jam 01.30) oleh “seorang rembulan”, yang menghantar dan membiayai perempuan dan anaknya itu ke bidan dan memberinya makan)

Updated: jam 09:17 “rembulan” sms kalau kasus diatas telah jadi kasus pembunuhan (ralat: percobaan pembunuhan)(jika ada berita koran bahas mengenai hal tersebut dari Kediri berarti itu kasus yang saya ceritakan diatas)

Iklan

5 Responses to “Anakku Hilang”


  1. 1 peyek Selasa, 27 Maret 2007 pukul 12:02 am

    nggak bisa baca koran kediri, tapi ikut sedih juga.

  2. 2 wongcompong Kamis, 29 Maret 2007 pukul 12:00 pm

    aku malah ga maksud leh…
    tapi aku maksud kenapa sampeyan tau kasus kediri itu,dan siapa rembulane sampeyan itu…hehehehehe :)

  3. 4 deKing Rabu, 4 April 2007 pukul 1:58 am

    Waduch..kisah nyata to mas?
    Weleh..weleh…

  4. 5 nyoto Senin, 9 April 2007 pukul 5:18 pm

    sedih juga ya….
    sedih…
    sedih…
    sedih…
    rembulane mase baek bener,salut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: