The Art Of Loving: Kenapa Bahas Keterasingan Om Fromm?

Saya tidak sengaja membuka karya Erich Fromm yang berjudul The Art of Loving, dan saya menemukan sesuatu yang menarik! Tapi bukan soal cinta, melainkan persoalan lain yang membahas mengenai keterasingan manusia (alienasi). Entah sudah berapa tahun buku itu nongkrong di lemari buku saya dan sudah hampir tak pernah saya sentuh lagi. Namun karena ada seseorang yang menanyakan mengenai kepribadian Marxian (yang sampai saat ini lupa di buku mana ditulis dan dibahas, saya pernah membaca tapi lupa) saya kemudian di link ke tulisannya Fromm itu. Itupun karena The Art of Loving merupakan satu-satunya buku Fromm yang saya punyai (Yang lainnya cuma pinjam temen atau perpus). Saya pikir mungkin disitu dapat ditemukan sedikit informasi mengenai jenis Kepribadian Marxian. Sayangnya saya kecewa.

Namun, sungguh tidak saya nanya, ketika membolak-balik halaman buku tersebut, saya malah tertarik pada satu bab yang membahas mengenai Teori Cinta. Wah, saya pikir akan seru nih. Apalagi saya sudah lupa apa isi buku tersebut. Teori Cinta yang lahir dari seorang psikolog kaliber dunia. Pasti menarik dan menggugah. Begitu saya pikir. Namun, ternyata isinya tidak seperti yang saya bayangkan. Jauh sekali harapan akan teori cinta yang saya imaginasikan. Teori Cintanya Fromm di dalam bukunya tersebut bahkan saya nilai sangat tidak mendalam. Seperti karya jurnalisme saja, atau mungkin karya persuasif-argumentatif. Kajian filsafatnya sangat lemah. Apalagi dalam kajian psikologi. Cinta di buku Fromm tersebut berubah menjadi bentuk sloganisme dengan argumen-argumen tumpang tindih dari dunia psikologi. Intinya saya kecewa. Namun, saya kemudian malah tertarik pada argumen awal dari runutan Fromm sebelum sampai pada bahasan cinta.

Dilanjutkan besok… ngantuk… gak konsen…

Iklan

4 Responses to “The Art Of Loving: Kenapa Bahas Keterasingan Om Fromm?”


  1. 1 Aulia AM Sabtu, 7 April 2007 pukul 12:39 pm

    soal cinta, lebih bagus gabriel marcel. Levinas juga oke.

  2. 2 Rein Senin, 30 Juli 2007 pukul 1:38 am

    Sebenarnya saya cukup puas dengan sedikit uraian Eric itu. Tapi mungkin apa yang mas bilang betul juga kali ya. Baca lagi ahh..

  3. 3 Rein Senin, 30 Juli 2007 pukul 11:53 am

    oh iya, saya lebih suka tesis utamanya yang dipakainya untuk mengembangkan pemikiran-pemikirannya mengenai trend budaya modern. kayaknya di buku apa ya, ohh, To Have or To Be.

  4. 4 umam Jumat, 21 September 2007 pukul 2:35 pm

    owww…..

    art of loving y?

    w suka bagian yg ng bhs C ama C terbalik….

    pas bgt m w yg gi ngjomlo….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: