Hanya Pengen Nulis

Sebuah tulisan apalagi kalau itu merupakan hasil karya dengan menggunakan tangan (hand writing) bisa saja berhubungan dengan jati diri atau bawah sadar kita. Ia bisa saja merupakan suatu representasi dari kebiasaan dan karakter kita.

Dengan demikian kita bisa saja mengetahui karakter dan kebiasaan atau sifat kita melalui suatu analisa tulisan tangan. Dan kalau lebih baik lagi kita bisa menganalisa bagaimana ia membuat kalimat dan memberikan suatu cerita, argumentasi atau narasi dalam sebuah ide. Akan tetapi ini hanyalah salah satu cara kita mengetahui akan identitas diri kita pada saat ini.

Dari teori psikologi kita juga mengenal akan adanya proses perubahan jati diri melalui serangkaian proses tertentu, baik itu melalui proses yang lumayan lama atau bahkan suatu titik balik yang sedemikian cepat.

Walaupun pada dasarnya manusia itu merupakan suatu identitas yang utuh pada dirinya sendiri akan tetapi kita sering membedakan atau menggolongkan atau memisahkan penyusun-penyusun keutuhan itu sendiri. Kata-kata jiwa, ruh, emosi, jasad, otak, pikiran, logika, hati, senang, sedih, dan sebagainya merupakan suatu jenis penggolongan atau pemisahan itu sendiri.

Nah segala jenis penggolongan tersebut berinteraksi secara luar biasa kompleks dan tak dikenal dalam diri kita. Ketika kita bertanya siapakah diri kita yang sesungguhnya pada dasarnya kita hanya akan menemui jalan buntu. Karena sebuah diri merupakan bukanlah sesuatu yang statis yang tidak pernah berubah. Diri selalu merupakan sebuah proses yang berubah dan berubah. Dengan demikian tiada definisi yang sepenuhnya tepat untuk menggabarkan diri kita sendiri seperti apa. Bahkan kenyataan bahwa hanya melalui kesadaranlah kita bisa mengetahui siapa diri kita menimbulkan suatu hambatan terbesar untuk mengenal diri kita sendiri. Hambatan ini berupa kenyataan yang secara sadar kita ketahui bahwa diri juga membawa aspek-aspek bawah sadar dan aspek-aspek kausalitas yang tak bisa kita hindari.

Dalam banyak hal kita mengenal akan adanya ajaran-ajaran sosial termasuk di dalamnya ajaran agama. Pada dasarnya agama dalam fungsi sosial ini memberikan suatu hukum atau aturan yang diperuntukkan bagi para pemeluknya dalam menjalankan realita kehidupannya itu sendiri. Akan naluri serta akal sehat kita juga merupakan suatu agen yang turut berperan dalam menjalankan kehidupan kita sendiri.

Banyaknya persoalan yang melingkupi kehidupan kita lebih banyak berasal dari pergulatan mengenai bagaimana kita hidup dan bertahan di dunia ini. Persoalan pendidikan yang selalu ditekankan melalui rasionalitas ilmu pengetahuan ternyata, di banyak wilayah, kalah oleh sumber pengetahuan yang lain seperti agama dan mitos. Pengetahuan yang saya maksudkan disini adalah pengetahuan atau penjelasan, entah itu benar atau tidak sesungguhnya, yang diyakini benar oleh masyarakat.

Adalah benar kita tidak akan mampu mengetahui dunia realitas itu sebagaimana adanya dan adalah benar bahwa kita hanya mampu mengetahui dunia realitas melalui kacamata indera dan rasionalitas kita, akan tetapi tidaklah ini berarti ilmu pengetahuan melalui metode ilmiah memiliki level yang sama dalam mendaku kebenaran dengan metode yang lain seperti wahyu atau puisi. Saya masih meyakini sampai saat ini bahwa ilmu pengetahuan dengan metode ilmiahnya merupakan cara yang paling baik dalam memahami dunia ini. Kaum posmodern mengatakan bahwa sains itu hanyalah salah satu cara mengemukakan tafsiran terhadap dunia yang memiliki keabsahan dan validitas yang tidak berbeda dengan tasiran mitos atau agama, sastra, puisi terhadap dunia. Saya memang tidak begitu sepakat dengan pandangan posmodern ini.

Walaupun kita sesungguhnya harus memahami dunia seisinya sebagai suatu bentuk keseluruhan, tanpa harus membedakan dunia materi dan dunia hidup karena pada dasarnya keduanyalah yang membentuk dunia, akan tetapi saya rasa memang terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara dunia materi dan dunia kehidupan. Perbedaan ini sering kita nisbahkan pada sebuah agen yang kita sebut dengan ruh atau jiwa. Dan dalam dunia kehidupan itu sendiri kita juga membedakan antara dunia hewan dengan dunia manusia. Dalam hal ini kita, sebagai manusia menarik suatu garis pembatas antara dunia manusia dengan dunia binatang. Ada aroma egoisme dan arogansi disini. Garis pembatas ini sering kita berikan pada satu agen lagi yaitu agen kesadaran.

Nah, kalau narasi yang saya kemukakan tersebut mempunyai sifat kronologis yang runut maka dapat diketahui bahwa pada mulanya hanya ada dunia materi. Setelah melalui serangkaian waktu tertentu dunia materi sebagian membentuk dunia kehidupan dan dunia kehidupan lambat laun memunculkan dunia kesadaran. Dari berbagai pembicaraan di dunia kita, ketiga hal tersebut terus menjadi proyek penyelidikan dan permenungan. Bagaimana dunia materi bisa berubah menjadi dunia hidup. Dan bagaimana dunia hidup bisa berubah menjadi dunia kesadaran.

Melalui suatu penelitian kita mengetahui bagian-bagian dari otak kita yang serupa dengan hewan mamalia dan hewan reptilia. Dan secara menakjubkan bagian hewan reptilia merupakan bagian paling bawah atau dasar dari penyusun otak kita yang kemudian disusul dengan bagian otak mamalia dan selanjutnya terdapat bagian otak yang sepenuhnya berbeda dari mamalia yaitu otak kesadaran atau otak terluar. Otak ini lah yang dipercaya menjadi syarat adanya otak kesadaran.

Karena pada dasarnya segala pengetahuan dan pemahaman kita tentang dunia berasal atau bermula dari dan dalam dunia sebagaimana adanya, maka sesungguhnya setiap pemahaman dan pengetahuan kita merupakan suatu jalinan atau rangkaian yang saling berhubungan dan tak dapat dipisah-pisahkan. Entah seberapapun kompleks, panjang dan rumitnya jalinan itu. Akan tetapi hal ini juga menemui kontradiksi ketika kita dihadapkan pada kesadaran diri kita sendiri yang, sepertinya, seakan akan memiliki suatu sifat yang mandiri. Sifat yang mandiri ini sering kita sebut sebagai kehendak bebas kita. Bagaimana kita memiliki kehendak bebas jika kita sendiri merupakan bagian yang utuh dari dunia yang saling berkaitan erat dan tak terpisahkan? Apakah kehendak bebas kita memiliki suatu aturan tertentu atau hukum kausalitas yang rumit yang terdapat dalam mekanisme otak kita sendiri? Kecenderungan kita dalam menyikapi persoalan ini biasanya dengan membagi kedua permasalahan tersebut menjadi dua konteks yang berbeda dan sering kali kita mengasumsikan keduanya merupakan entitas yang tersendiri dan tidak berkaitan demi kemudahan kita menganalisa dan memikirkannya.

Saya juga menyadari bahwa ketika kita berpendapat atau berargumen kita selalu saja membawa asumsi-asumsi yang kita terima seolah-olah itu sudah terbuktikan kebenarannya terlebih dahulu. Memulai sesuatu pemahaman tentang dunia sepertinya merupakan suatu lingkaran setan. Kita terus menerus seperti mengejar ekor kita sendiri. Memulai sebuah lingkaran memang memerlukan suatu titik tolak sembarangan. Akan tetapi apakah yang kita maksudkan dengan titik tolak itu benar-bernar sudah benar dan tidak dapat dipertanyakan lagi? Tentunya ini juga tidak benar. Demikian lah kesulitan-kesulitan filsafat yang terus menggelayuti pemikir-pemikir dunia. Adakah memang ada sesuatu yang tak terhingga? Sesuatu yang tak terhingga sepertinya tidak akan pernah ada karena tak terhingga merupakan sebuah panah yang tak pernah berhenti. Jadi ketakterhinggaan hanya merupakan suatu ungkapan akan proses. Bukan suatu entitas tertentu yang memiliki akhir. Tapi adakah sesuatu di dunia ini yang memiliki sifat proses tak terhingga? Bagaimana ketakterhinggaan proses itu bisa berlangsung? Hal ini juga mengandung suatu kontradiksi. Ketakterhinggan tidak akan pernah menjadi pengetahuan karena yang menjadi sesuatu yang tak terhingga berarti juga menjadi sesuatu yang tak terjangkau pemahaman. Pemahaman memerlukan suatu titik henti dan titik tolak. Sedang ketakterhinggaan tidak memiliki keduanya. Immanuel Kant juga selalu bergelut dengan konsep ketakterhinggaan ini.

Hal lain yang menjadi problem adalah bagaimana sesuatu mendekati sesuatu yang lain tetapi tidak pernah bisa sampai ke sesuatu yang lain itu. Demokritos dan Zeno bergelut dengan persoalan ini. Demokritos membayangkan materi yang dibagi-bagi dan ia menyimpulkan bahwa materi memiliki sesuatu bentuk akhir yang tak pernah bisa dibagi lagi yang ia sebut atom. Sedangkan Zeno memikirkan tentang gerak yang ia bagi-bagi terus menerus menjadi suatu titik dimana sebuah gerak berhenti bergerak. Kumpulan perhentian ini seperti gambar di dalam slide film yang diputar oleh proyektor ke layar di depannya. Sebagaiman gerak waktupun juga demikian. Adakah ia pernah berhenti pada suatu titik?

Ah kenapa aku musti pusing pusing memikirkan hal seperti ini….
Tidur dulu ah…

Haqiqie Suluh (24 Februari 2006)

Iklan

2 Responses to “Hanya Pengen Nulis”


  1. 1 peyek Kamis, 19 April 2007 pukul 4:49 pm

    pelajaran tentang kehidupan tak cukup dengan menulisnya karena begitu berliku dengan sejuta perbedaan


  1. 1 Indera Kita dan Pengetahuan Kita: Problem Tentang Persepsi dalam Filsafat « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Sabtu, 16 Juni 2007 pukul 9:34 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: