Sebuah dialog via SMS

Aku : “Bapak yang terhormat, perkenalkan saya Suluh, dari Jogja, ingin menanyakan sesuatu hal. Manakah yang harus saya dahulukan untuk dilakukan: Meragukan atau mempercayai sebuah ide (pemikiran)?”

Pengarang: “Kalau ide itu datang dari sebuah pengalaman, saya langsung mempercayainya dan mencoba menerapkannya dalam kehidupan saya.”

Aku: “Bagaimana dengan ide seseorang atau mungkin bahkan ide dari ‘TUHAN’. Ragu atau percaya? Mana yang lebih dulu?

Pengarang: “Orang bisa mengalami hidup bersama Tuhan. Hidup atau pengalaman seperti itu adalah hidup yang jujur dan kreatif. Ide yang datang dari hidup seperti itu layak kita percayai.”

Aku: “Saya kok masih belum mengerti. Mungkin saya harus lebih banyak ‘mengalami’, dalam individualitas saya sendiri. Dan saya memilih ragu sebelum saya yakin. Hidup, seperti kata bapak, adalah memilih.”

Pengarang: “Ya, hidup adalah memilih. Tapi jangan jadikan hidup anda tidak didasari atas keyakinan. Anda boleh meragukan ide, tetapi lekas-lekaslah buktikan atau segera tolak ide itu.

Aku: “Ya, mungkin saya akan yakin dengan sebuah ide dan mungkin juga sebuah ide akan saya tolak. Tapi sebelumnya akan saya buktikan dan sebelumnya lagi akan saya ragukan.”

Pengarang: “Yang Paling Penting adalah membuktikan ide itu dalam kehidupan nyata dalam bentuk tindakan. Soal apakah mau diragukan atau dipercayai kebenarannyta itu urusan pikiran.”

Aku: “Tapi, tidak semua ide bisa dibumikan ke dunia. Ia hanya ada dalam diskursus logika. Bagaimana dengan ide semacam itu?”

Pengarang: “Itu bukan ide. Itu mungkin ilusi. Saya kok yakin bahwa setiap ide bisa dibumikan.”

Aku: “Ya, mungkin bapak benar, mungkin juga saya yang benar. Atau mungkin saya yang belum bisa mengerti cara membumikan ide tersebut.”

Pengarang: “Ya, tapi secara logika kan kita bisa bertanya: Apa gunanya berpayah-payah cari ide kalau tak bisa diterapkan?”

Aku: “Kadang seseorang bergulat dengan ide-ide bukan untuk diterapkan di dunia nyata. Kadang ia hanya mencari kepuasan akan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang singgah di benaknya.”

Pengarang: “Ya, lantas untuk apa kepuasan itu. Hidup, kata pemikir besar Iqbal, tak bisa dibangun dengan konsep demi konsep. Hidup perlu dibangun dengan kerja.”

Aku: “Ya, hidup perlu dibangun dengan kerja. Dan terkadang dalam kerja ada ide di kepala yang hanya tinggal ide. Dan ia terus mencari jawaban. Yang ia mungkin belum bisa membumikannya.”

Pengarang: “Saya berusaha keras agar ide tidak hanya menjadi ide. Menulis, berkali-kali membantu saya untuk mengikat ide dan bahkan mendorong saya untuk membumikan ide.”

Aku: “Dalam diri saya masih banyak pertanyaan dan keraguan yan belum menemukan jawaban. Saya masih muda dan saya tidak takut untuk hidup dengan pertanyaan-pertanyaan dan keraguan-keraguan. Sepeti bapak, saya akan berusaha untuk mengikatnya dengan tinta. Terima kasih atas waktunya. Maaf bila ada yang salah dengan diri saya. Senang rasanya bisa mendengar ide anda secara langsung.”

Pengarang: “Ya, ikatlah ide anda dan teruslah bertanya. Senang dapat berbagi pikiran dengan anda.”

28 Desember 2004

Iklan

3 Responses to “Sebuah dialog via SMS”


  1. 1 warman Minggu, 13 Mei 2007 pukul 3:28 pm

    “Menulis, berkali-kali membantu saya untuk mengikat ide dan bahkan mendorong saya untuk membumikan ide,” kata si pengarang.
    Rasanya si pengarang dan si “aku” adalah sosok yang satu. Gaya bahasanya mirip sih.
    Saya juga suka menulis, dan thanksGod, berkesempatan menjadikan kerja menulis sebagai sumber penghasilan. Saya bilang thanksGod bukan kayak menteri yang bilang thanksGod waktu dia diangkat jadi menteri.
    ThanksGod, kata guru saya Harun Yahya, adalah bahwa Sang Pencinta senantiasa memberi yang terbaik buat hamba-Nya. Tak pernah tak. Jadi, kerja sebagai tukang nulis yang diberikan-Nya kepada saya pastilah yang terbaik buat saya. Entah bagaimana saya harus bersyukur?
    Tapi sebagai satu di antara enam milyar manusia, saya merasa menulis adalah kesia-siaan.
    Sejak jaman Soeharto saya menulis, termasuk mengkritik – dan menghardik. Tapi rupanya tulisan saya tak lebih dari semut hitam di tembok hitam di kelam malam.
    Alih-alih sosialitas dan humanitas menjadi lebih baik, yang terjadi sepenuhnya chaos sebagaimana diumumkan teori chaos. Perbaikan yang kita coba buat selalu kalah dibanding chaotic.
    “Kalau kerja saya begitu nggak berarti,” kata saya sama Dia, “tolong, Dear, jadikan saya berarti, sekali saja, sebelum mati – dan saya minta supaya saya jangan dimatikan, tapi hendaklah saya gugur sebagai syuhada.” Soalnya mati itu ibarat bis reguler, berjubel dan lama banget. Kalo syuhada kan paling nggak setara bis eksekutif, ase, lewat jalan tol, full video – dengan tayangan yang bukan sinetron atau dangdut, dan drivernya ya saya sendiri. Ditanggung ngebut dan nyaman.
    Dia mendengar, saya tau. Tapi entah kenapa sampai hari ini saya masih juga mengerjakan yang tak berarti ini.

    itu benar benar dua orang berbeda kok mas… bukan satu…

  2. 2 Suluh Senin, 14 Mei 2007 pukul 11:35 am

    @warman:
    Saya kok yakin, dengan menulis kita bisa mengartikan dan memaknai sesuatu… Berutunglah Jedi yang dengan tulisan bisa memberi penghidupan… Menulis bagi saya masih sebatas hobi tanpa membuahkan materi…

  3. 3 etikesen Senin, 16 Juli 2007 pukul 1:25 pm

    mas suluh yang idenya cemerlang banget, nggak papa ya kalo saya sering kasih komentar, semoga tidak bosan. andaikan saya adalah pengarangnya, maka kira2 dialog itu akan berjalan seperti ini:
    mas suluh: “Manakah yang harus saya dahulukan untuk dilakukan: Meragukan atau mempercayai sebuah ide (pemikiran)?””

    aku:meragukannya terlebih dahulu, ketika saya sudah meyakini dengan sepenuh keyakinan barulah saya mempercayainya.

    mas suluh: “Bagaimana dengan ide seseorang atau mungkin bahkan ide dari ‘TUHAN’. Ragu atau percaya? Mana yang lebih dulu?

    aku: baik ide itu dari seseorang atau bahkan dari Tuhan aku akan meragukannya terlebih dahulu. untuk ide yang berasal dari Tuhan, aku akan menanyakan pada diriku sendiri apakah aku meyakini tuhan, akan kucari keyakinan itu sampai kutemukan bahwa aku yakin bahwa tuhan itu ada. akan ku cari sendiri, aku gak akan mencarinya dari orang lain. setelah aku meyakini tuhan, berarti aku wajib meyakini ide yang sampaikan oleh Tuhan.

    mas suluh: bagaimana mbak yakin bahwa ide itu benar2 idenya Tuhan?

    aku: aku akan memastikan bahwa ide2 itu berbeda dengan ide2nya manusia tapi ide itu sangat manusiawi, sangat sesuatu dengan perasaan, memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia, bisa menyelesaikan semua persoalan manusia

    ah aku kok jadi ngelantur, lain kali dilanjutkan mboten2 nop2 kan mas?

    he he he… bisa juga kamu… eh buat blog aja.. lumayan nyalurin hobi nulis etikesennya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: