Problem Utama Eksistensi Manusia

Apa problem eksistensi yang paling penting dan paling berpengaruh dari banyak manusia? Pertanyaan ini saya sampaikan dengan sebuah kelemahan sample yang akan saya jelaskan berikut ini. Selama saya hidup saya hanya mengenal sebagian kecil dari manusia. Dari milyaran manusia yang “masih hidup di bumi” ini, perkenalan saya hanyalah setitik air dilautan. Namun demikian saya akan mengabaikan kenyataan ini, sebagaimana juga banyak psikolog atau sosiolog atau pemerhati “manusia” juga melakukannya. Tidak ada seorangpun yang mampu menarik semua sample atas manusia yang hadir di dunia. Dengan demikian kata-kata “manusia” merupakan sebuah usaha untuk pemudahan penjelasan dari pemahaman yang ingin saya sampaikan.

Saya merasa, dan saya kok juga yakin, bahwa banyak manusia memiliki sejumlah problem eksistensi yang tidak dapat dihindari di kehidupannya. Terutama orang yang sudah menginjak “dewasa” dan memiliki sejumlah kesadaran yang terinsafi. Saya tidak akan mendefinisikan apa itu dewasa dan batasan-batasannya. Disini saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang benar-benar saya pahami dan saya pikirkan terjadi di banyak orang. Problem eksistensi ini merupakan sebuah hal yang sifatnya “take for granted” alias tidak dapat dihindari dan disingkirkan. Hal tersebut mau tak mau, suka tak suka, musti diterima. Banyak orang menyebutnya sebagai sebuah nasib atau takdir.

Hal pertama yang menjadi problem eksistensi dari manusia adalah kenyataan bahwa dirinya eksis. Dia sadar bahwa dirinya hidup dan memiliki segala macam dunia dan tubuhnya. Dia sadar bahwa orang-orang sekelilingnya memiliki kehidupan seperti dia. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa orang-orang atau dunia disekelilingnya merupakan sebuah ilusi namun entah bagaimana kemungkinan seperti ini akan ia singkirkan jauh jauh. Dengan menyadari bahwa dirinya ada atau eksis, dan menyadari bahwa ada sesuatu yang seperti dirinya, bukan hanya 1 namun beribu-ribu berjuta-juta dan bermilyar-milyar ia kemudian dihadapkan pada problem hidup. Problem bagaimana ia akan menjalani proses kehidupannya. Pengenalan akan budaya sosial agama dan sebagainya merupakan problem problem eksistensial. Banyaknya jamaah, khalakah, madzab, agama-agama, kelompok-kelompok, organisasi-organisasi, perusahaan-perusahaan merupakan implementasi cara-cara mengatasi problem hidup ini. Intinya problem ini dimulai dari sebuah pertanyaan: Bagaimana aku menjalani hidupku ini?

Hal kedua yang menjadi problem eksistensi adalah kenyataan bahwa setelah saya hidup saya akan mati. Setelah ia menyadari bahwa dirinya hidup ia kemudian mengetahui dengan penuh kesadaran dari orang-orang yang dijumpai, ia akan mat sebagaimana orang-orang yang hidup kemudian mati. Memikirkan sesuatu yang bukan merupakan pengalamannya (mati bukan merupakan pengalaman tetapi pengetahuan), membuat ia dihantui oleh ketidakpastian. Setiap ketidakpastian sering kali mengakibatkan ketakutan. Ketakutan akan kematian merupakan salah satu problem eksistensi yang paling mendalam. Banyak cara yang dipakai orang untuk mengatasi problem ini. Kepercayaan agama merupakan salah satu cara yang paling banyak digunakan untuk mengatasi problem eksistensi seperti ini. Ketidakpastian yang menumbuhkan ketakutan dapat diatasi dengan membangun sebuah keyakinan membabi buat. Mau tidak mau saya musti yakin. Dan ketika keyakinan itu sudah mendarah daging di kesadaran maupun bawah sadar seseorang maka ketidakpastian itu ditutupi dengan sebuah keyakinan. Ketakutanpun dapat disingkirkan. Imbalan surga neraka, reinkarnasi, dsb, merupakan salah satu contoh untuk mengatasi ketakutan akan kematian ini. Saya tidak akan mengklaim mana yang benar atau yang salah. Saya hanya menilai bahwa secara psikologis, agama dan segala kepercayaan yang muncul di dunia “manusia” cukup bermanfaat untuk mengatasi problem eksistensi seperti ini. Ia dapat menentramkan dan mendamaikan hati dari ketakutan akan kematian ini. Manusia diselamatkan oleh “kepercayaan agama dan kepercayaan yang lainnya” dari ketakutan akibat ketidakpastian akan kematian. Janji hidup abadi merupakan salah satu indikasi ketakutan akan musnahnya hidup dan kesadaran manusia. Disini saya tekankan bahwa saya tidak lalu merendahkan atau menilai agama dan kepercayaan “hanya” sedangkal itu tujuannya. Saya hanya mengungkapkan bahwa salah satu alternatif mengatasi ketakutan akan kematian dapat dilakukan dengan menganut salah satu ajaran agama atau kepercayaan.

Dengan demikian, ketakutan akan kematian juga memiliki kaitan erat dengan problem pertama yaitu kenyataan bahwa manusia itu ada dan hidup dengan kesadarannya.

Waduh kok jadi capek aku nulisnya… Udah dulu ya… Mungkin bersambung…
Weh, kenapa saya jadi reduksionis kayak gini ya?? Ah, mungkin demi sebuah pemahaman dan penjelasan… Tidak tahu ah… Pusinngg!!!

Salam Penuh Ngeri

Haqiqie Suluh (20 April 2007)

Iklan

12 Responses to “Problem Utama Eksistensi Manusia”


  1. 1 peyek Jumat, 20 April 2007 pukul 8:05 pm

    berarti “Hidup segan mati tak mau”

  2. 2 Evy Senin, 23 April 2007 pukul 11:02 am

    menurutku ga usah di permasalahkankarena mati itu pasti, jadi kita semua udah pegang ticket, tinggal nunggu kocokan arisan aja, yang harus di permasalahkan adalah untuk apa eksistensi kita di dunia ini, apa yg bisa kita buat sehingga keberadaan kita ga sekedar numpang lewat…iya apa iyaaa?

  3. 3 Mr. Geddoe Minggu, 29 April 2007 pukul 11:47 pm

    Saya sama ngerinya dengan anda. Semakin mengenal dunia, semakin ngeri. Semakin memingit diri, semakin terobati.
    Kesimpulannya, mengobati kengerian adalah dengan memakai teknik self-deception untuk mempropaganda pemikiran sendiri agar tidak berpikir terlalu jauh.
    Mengerikan bukan?
    Salam ngeri juga :D

    he eh … saya juga masih ngeri… gimana dong???

  4. 4 agorsiloku Minggu, 6 Mei 2007 pukul 11:38 am

    Benarkah orang takut karena melihat orang mati di sekitarnya atau dari berita?. Karena mati merupakan pengetahuan, maka benarkah mati menjadi ketakutan manusia?

    benar tidaknya gak tahu saya gor… lah tahu kan bisa jadi sumber ketakutan kan??? Bisa jadi loch??

  5. 5 warman Minggu, 13 Mei 2007 pukul 2:10 pm

    teorinya sih gampang.
    sorga-neraka (isitlah Hindu nih) itu pasti ada karena Yang Maha Adil itu juga pasti ada. Ngga logis kalo ngga ada Sang Pencipta, Sang Pemelihara, Sang Keadilan itu sendiri (tentang ini argumentasi ilmiahnya uber di situsnya harun yahya aja. Antaralain dia bilang, keserbateraturan jagat makro dan jagat mikro merupakan bukti Sang Eksistensi. Maka sungguh ngga adil kalo ngga ada sorga-neraka).
    Pada “kilometer” ini kita akan menyadari bahwa tak ada yang perlu ditakuti kecuali Sang Eksistensi itu sendiri.
    Andai saya cukup saleh maka kematian taklah menakutkan at all. Mungkin itulah sebabnya abang-abangku dan ibu-ibuku di Palestina sana nggak takut menghadang mesin pembunuh Israel. Karena mereka tau persis, melihat, menghayati, keberadaan Sang Eksistensi.
    Bersyahadah “Tiada eksistensi selain Eksistensi, dan sang habiby SAW beserta setiap tapaktilas perjuangan beliau adalah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk menuju Eksistensi.”
    Sekali lagi, teorinya sih gampang.

    anda sangat care pada yang jauh ya mas? moga yang dekat juga. amieenn

  6. 6 rlanang Kamis, 17 Mei 2007 pukul 12:21 am

    Hi Q,
    kesadaran akan kematian diawali oleh kesadaran akan kehidupan atau eksistensi. kita tidak akan sadar akan kematian kl kita tidak sadar akan kehidupan.
    Kenyataan bahwa manusia eksis dan hidup tidak serta merta mebuat dirinya sadar akan eksistensinya, banyak yang sekedar menjalani hidup. so i think you re lucky that you have that awareness.
    to be con’t

    oooo…. gitu ya gil… kok kowe ra tahu ol ki sibuk opo gil?

  7. 7 chiket Sabtu, 23 Juni 2007 pukul 7:58 pm

    everything that has a begin has an end…
    ‘ketakutan’ hanya akan timbul jika ‘ego’nya terdesak,tak mau melepaskan sgalanya,ato mungkin malah belum mengenali ‘ego’nya itu sendiri,sehingga slama hidupnya dia tidak menyadari bahwa ‘kesadaran’ yg di banggakannya itu ya masih ‘ego’nya sendiri…ha..ha..what a damn

    ego ya? ah gak tahu saya.. no comment aja :D

  8. 8 chiket Minggu, 24 Juni 2007 pukul 8:16 pm

    ‘ketakutan’ tu cuma fungsi turunan dari ‘ketidakinginan’/tak terpenuhinya ‘keinginan’ :D he..he.. di keduanya baik ‘keinginan’&’ketidakinginan’ itulah ‘ego’ menampakkan ‘diri’nya

    halah :d iki meneh :D ramudeng aku… maklum wong cilik :(

  9. 9 louka Selasa, 10 Juni 2008 pukul 2:40 pm

    eksistensi itu aktual bukan konseptual. jadi gak ada gunanya klo cuma di tor tori aja. tetapi sebelum melangkah menuju eksistensi kita, satu hal yang perlu dilakukan: menentukan arah. Dan untuk menemukannya kita mesti punya kesadaran (concious being in the world). kesadaran bahwa kita ada akan membawa kita pada keyakinan dan ketika kita mendapatkannya, itulah arah kita yang benar. sekali lagi, exixtence is actual,not conceptual….so let’s make a process. salam eksistensialis….

  10. 10 Cinta Tiara Kamis, 16 Oktober 2008 pukul 7:56 am

    kehidupan emang sealu dihadapi dengan problem dunia,, kehidupan yang terus kita jalani akan selalu berujung pada masalah – masalah yang tak akan pernah berhenti,, banyak orang mengira mati jalan yang terbaik. tapi itu semua kembali pada diri masing – masing. jangan pernah menganggap kehidupan itu beban. semangat untuk berjuang,, oke aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!

  11. 11 mherimuachi Sabtu, 25 Desember 2010 pukul 8:41 am

    tlong donk tentang tiga(3) aliran eksistensi mansia materialisme,spiritualisme,dan dualisme serta tujuan hidup,,,,,,,,,,,,,


  1. 1 Pertanyaan Ontological Eksistensial: Apakah sebuah kesalahan kategorian? « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Senin, 25 Juni 2007 pukul 9:33 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: