Rasionalisme: Sebuah Sikap

Tulisan ini lumayan panjang. Saya harap anda mampu menyelesaikan proses pembacaan dan pemahaman sebelum melontarkan ide balik atau komentar.

Kalau lagi kumat pengen di warnet lama, saya tidak lupa mampir ke blog yang ada di WP ini. Beberapa blog yang lumayan rame sering saya singgahi. Isu-isu yang hangat dan sedang trend di blogsphere sering menambah pengalaman maupun emosi-emosi saya. Kebanyakan saya senyum-senyum sendiri atau nyengar-nyengir. Kadang kala saya juga sering geleng-geleng kepala menyimak perdebatan seputar isu-isu tersebut. Namun anggukan pun tak jarang saya berikan kepada mereka-meraka pra blogsphere di WP (maaf saya jarang blogroll ke temen-temen selain WP, karena alasan kemudahan dan waktu).

Ada beberapa yang perlu dicatat dan diberikan sedikit perhatian seputar permasalahan adu komentar (atau argumentasi) maupun adu postingan. Beberapa isu yang menarik bagi saya adalah seputar masalah penggunakaan kata-kata: rasional, rasio, akal, rasionalitas, dan sejenisnya. Patut saya akui kemampuan mengelontorkan ide yang menarik dan membikin trend di blogshpere cukup mengundang sejenis kekaguman bagi saya, terutama karena saya, entah mengapa tidak mampu (atau malas) mengikuti perbincangan seputar isu isu itu. Khususnya untuk dibahas di blog saya sediri. Namun saya cukup sering meninggalkan komentar saya sewaktu saya mampir ke blog mereka.

Rasionalitas yang sering dijadikan sebuah “kebenaran” bagi sebagian para blogger cukup memprihatinkan diri saya. Dengan mengatakan bahwa keputusan ini (misal soal pembubaran IPDN maupun yang lainnya) merupakan keputusan yang rasional dan tidak emosional cukup membikin saya ketawa getir. Kenapa saya menyampaikan hal seperti ini. Karena seolah-olah sebuah keputusan yang di klaim rasional sama dengan sebuah keputusan yang benar dan layak dipertahankan. Rasional sama dengan kebenaran. Ini merupakan sesuatu yang benar-benar salah kaprah. Semoga tulisan berikut mampu memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai klaim-klaim rasional dan turunannya.

Lalu kemudian muncul pertanyaan dalam diri saya. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan keputusan rasional? Kriteria apa yang menjadikan sebuah keputusan itu disebut sebagai rasional? Apakah keputusan rasional akan menghasilkan sesuatu keputusan yang tunggal?

Dari pertanyaan tersebut kemudian saya dihantarkan pada konflik antara rasionalisme dan irrasionalisme. Ide maupun argumentasi yang akan saya sampaikan dibawah ini bukan murni dari pandangan saya. Jikalau anda jeli dan cukup memiliki wawasan mengenai rasionalisme maupun irasionalisme anda akan mengetahui dari mana saya terilhami mengambil gagasan maupun ide-ide dibawah ini.

Pertama saya akan menyampaikan bahwa rasionalisme sering dikaburkan dengan istilah “akal atau nalar”. Dengan demikian perlu kiranya sedikit diberikan penjelasan secara kasar mengenai hal ini. penggunaan istilah rasionalisem maupun akal disini digunakan dalam arti yang luas; penggunaan istilah-istilah tersebut bukan hanya dalam aktivitas intelektual (pemikiran dan tetek bengeknya) tapi juga dari pengalaman ( observasi dan eksperimen). Bagi yang cukup sering menggeluti kategori-kategori pemikiran filsafat, rasionalisme yang akan saya sampaikan disini jangan dipertentangkan dengan “empirisme”, akan tetapi lebih dipertentangkan dengan irrasionalisme. Yang saya maksudkan adalah rasionalisme yang dipergunakan disini meliputi “empirisme” dan
“intelektualisme”. Rasionalisme juga bisa dimaksudkan sebagai usaha untuk memecahkan permasalahan didasarkan pada akal (pemikiran dan pengalaman yang jelas) dari pada didasarkan pada emosi dan nafsu (ini yang sering dibicarakan oleh temen-temen WP waktu bahas soal IPDN dan Petisi Online). Namun dikarenakan kita tidak dapat mendifinisikan secara jelas apa yang dimaksud dengan emosi atau nafsu maka lebih baik rasionalisme dijelaskan secara lebih praktis. Rasionalisme merupakan sikap yang bersedia untuk duduk satu meja mendengarkan argumen-argumen kritis dan belajar dari pengalaman. Secara singkat dan lebih menarik rasionalisme mengakui bahwa:

“Saya mungkin salah dan anda mungkin benar, dan dengan suatu usaha bersama, kita mungkin bisa semakin mendekati kebenaran.”

Rasionalisme mendasarkan dirinya pada penggunaan penggunaan argumen rasional dalam mencari pemecahan atas permasalahan yang sedang dihadapi. Disamping argumen rasional, rasionalisme juga mendasarkan dirinya pada fakta yang ada atau pengalaman yang hadir di sekitarnya. Sikap seperti ini agaknya mirip seperti yang dilakukan pada kajian ilmiah atau metode ilmiah. Dengan demikian rasionalisme juga mendasarkan dirinya pada penggunaan metode-metode tertentu untuk mencapai keputusan atas permasalahan yang dihadapi atau untuk memahami (menjelaskan) sesuatu.

Lalu apa yang dimaksud dengan irrasionalisme. Berkebalikan dengan rasionalisme, irrasionalisme menggunakan kepercayaan buta dalam mengambil keputusan. Istilah kerennya “membabi buta mempertahankan dogma”. Ia tidak mau diajak duduk bersama dan berargumen untuk mendekati kebenaran. Meskipun tidak dapat diingkari juga bahwa sikap irasionalis juga mengakui akal dan argumen ilmiah sebagai alat yang cukup baik jika ingin menjelas segala sesuatu atau alat untuk mengabdi pada tujuan irasional, namun orang yang memiliki sikap irasional bersikeras secara mentah-mentah bahwa apda Pokoknya “takdir manusia” itu irasional. Ia mendasarkan pada emosi dan kepercayaan membabi buta entah pada orang, kitab, buku, institusi, pemerintahan, atau yang lainnya. Pokoknya dan pokoknya merupakan salah satu indikasi orang yang bersikap irasional.

Tetapi apakah dengan mengatakan kita bersikap rasional merupakan sebuah jaminan bahwa kita menggenggap kebenaran? Tidak. Sama sekali tidak. Bersikap rasional merupakan sebuah pilihan hidup. Dia tidak sama dengan kebenaran. Bersikap rasional adalah sebuah metode. Jadi ketika anda mengatakan bahwa saya rasional tidak berarti anda adalah benar. Ini berlaku juga ketika anda mengatakan lawan anda irasional tidak berarti bahwa lawan anda salah atau tidak benar.

Rasionalisme buta

Rasionalisme bisa jadi berpedoman pada argumen-argumen dan pengalaman. Tetapi ketika secara membabi buta kita mempertahankan bahwa rasionalime adalah bentuk kebenaran ini sama halnya sebuah sikap yang menghancurkan dirinya sendiri. Apakah sikap rasional bisa dijelaskan dengan menggunakan argumen yang rasional juga? Dalam arti bahwa setiap argumen yang dilontarkan oleh orang rasionalis juga bisa dijelaskan dengan argumen yang lain? Ini merupakan hal yang mustahil. Orang yang irasionalis sering menggugat rasionalisme dengan cara seperti ini. rasionalisme dengan definisi seperti yang saya jelaskan diatas merupakan suatu bentuk kontradiksi interminis (kontradiksi dalam dirinya sendiri). Kenapa demikian? Karena tidak mungkin atau mustahil semua argumen bisa dijelaskan dengan argumen. Lebih jelasnya seperti ini.

Setiap argumen dimulai dengan asumsi-asumsi. Asumsi-asumsi tidak mungkin dijelaskan dengan argumen yang lain karena itu sifatnya akan melingkar dan tak terhingga. Dengan demikian sikap rasionalis juga menyandarkan pada asumsi asumsi yang pada dasarnya irasional. Rasionalisme pada dasarnya menyandarkan pada kepercayaan akan akal. Rasionalisme juga bersumber dari sikap atu kepercayaan irasional terhadap akal. Nah ini menjadi suatu kritikan keras bagi rasionalime yang datang dari kaum irasional.

Lalu musti bagaimana selanjutnya? Saya juga tidak tahu. Akankah anda memilih rasionalisme atau irasionalisme? Semua terserah anda. Apakah anda seorang yang rasional? Ataukah anda seorang yang irasional? Ataukah anda seorang yang pura-pura rasional? Silahkan nilai diri anda sendiri.

Tapi ingat rasionalisme tidak sama dengan kebenaran!!!

Salam penuh ketakmengertian

Haqiqie Suluh (Rabu, 25 April 2007, Ada penjelasan yang sebenarnya ingin saya tuliskan disini mengenai rasionalisme kritis yang mungkin bisa menjadi pilihan bagi anda. Namun mungkin lain waktu saya sampaikan)

Iklan

7 Responses to “Rasionalisme: Sebuah Sikap”


  1. 1 Luthfi Sabtu, 28 April 2007 pukul 9:00 pm

    belum ada yg komen ya?
    *spid riding*

  2. 2 With My Smile Senin, 30 April 2007 pukul 12:27 pm

    Wah2 keren juga diem2 pengamat yang baik…panjang bener bahasanya, bilang2 dong klo eamng ada kaitan dengan postingan ttg alasan rasional jadi khan bisa ditengokin ;)
    BTW rasional itu klo menurutku artinya masuk akal ya, nah masuk akal menurutku itu berdasarkan data dan fakta yang ada, misale jumlah mati dengan dada membiru, fakta bahwa kekerasan itu disuruh “kalau tidak bisa di bengkokkan patahkan” kata si praja…dst..
    trus klo irrasional ya yg ga masuk akal misale asal aja kasih alasan “abis gue sebel sih…” tanpa ada data yg membuat sebel itu apa…
    Apakah rasional itu sama dengan kebenaran? Rasional itu biasanya ditunjang kebenaran… kebenaran itu absolut klo menurutku, apakah mati dengan cara di gebuki itu benar atau salah, ya absolut misale perampok ketahuan trus di pateni dg cara di gebuki ama massa cara pandang dr sisi yg di rampk dan masa ya benar lha dia ngerampok, tapi dr sisi anak istri perampok lain lagi kali, lha dia cari makan dengan cara biasa ga bisa…jadi masalah cara pandang yang relatif, belum tentu kebenaran juga menjadi penyelesaian,kepentingan biasanya lebih di dahulukan entah kepentngan rakyat atau kepentingan negara atau kepentinan sekelompok…whatever.. thats life… jadi emang bukan untuk diperbandingkan antara kebenaran dan rasional…
    Ok thanks jadi nge blog disni sorry ya :)

    hmmm gitu ya… jadi mikir mikir nich…. lah kok malah mumet aku !! :( dasar goblog saya!!!

  3. 3 agorsiloku Minggu, 6 Mei 2007 pukul 10:54 am

    Sip deh, untung deh K.Haqqie mau nengok ke blog agor. Sudah lama, saya tak datang ke taman-taman indah ini.
    Menurut agor, rasional adalah netral. Rasional saja. Menggunakan perhitungan dan sebab akibat. Jadi itu rasional.
    Sikap rasional, sikap yang didasari alasan-alasan rasional.
    Karena sikap itu adalah tindakan, warna yang didasari norma, maka bisa saja “sebuah sikap” rasional dasarnya juga tidak rasional.
    Jadi antara sikap dan rasional juga beda. Karena sikap itu subjektif dari pemilik rasional.
    Bagaimana irrasional : waduh jadi bingung sendiri, saya ingin berjalan ke bulan menemui nini anteh pakai andong saja deh. Daag….

    oooo gitu ya… gak tahu ah aku!!!… mungkin juga…

  4. 4 rlanang Rabu, 16 Mei 2007 pukul 11:45 pm

    hmmm, hehehe, kita sering mendefinisikan suatu terminologi dengan terminologi tersebut, misalnya…”sikap rasional = sikap yang didasari alasan2 rasional”, jadi rasional apa ya…???
    ayo kita bahas pelan2,
    rasional atau rational berasal dari kata dasar rasio atau ratio yang diserap dari dari kata kerja ‘reri’ (Latin) yang dalam bahasa English artinya to think. jadi rasional adalah sesuatu yang bersifat atau didasarkan pada proses berpikir.
    keep it simple

    pendekatan linguistik ya? bagus juga buat referensi.. :)

  5. 5 etikesen Rabu, 11 Juli 2007 pukul 11:40 am

    yang aku tau, rasio atau akal merupakan suatu proses berfikir. manusia tidak dikatakan berakal dan rasional jika tidak mampu berfikir. sampai disini, apa sih yang dimaksud dengan berfikir atau proses berfikir atau ? proses berfikir memerlukan empat komponen, otak, panca indera, fakta dan informasi (istilah yang lebih tepat adalah maklumat sabiqoh atau informasi yang sudah dimiliki mengenai obyek atau fakta). apabila salah satu komponennya tidak ada, maka tidak terjadi proses berfikir.
    rasinonalitas adakalanya bisa digunakan untuk menilai sesuatu itu benar atau salah, tapi pada obyek kajian tertentu, rasionalitas menjadi tidak mampu untuk menjangkaunya. obyek kajian apa yang tidak bisa dijangkau oleh rasionalitas atau akal? yaitu obyek kajian yang tidak bisa dijangkau oleh panca indera, adanya malaikat misalnya, panca indera kita tidak bisa menjangkau obyek malaikat, oleh karenanya kebenaran mengenai adanya malaikat bisa kita yakini karena kita telah membuktikan kebenaran alqur’an, alqur’an yang bisa kita indera dan oleh karenanya kita bisa menggunakan rasionalitas kita untuk membuktikan kebenarannya.
    terhadap obyek kajian yang faktanya bisa kita indera, saya sepakat dengan apa yang mas suluh tulis,
    “Saya mungkin salah dan anda mungkin benar, dan dengan suatu usaha bersama, kita mungkin bisa semakin mendekati kebenaran.”
    ini serupa dengan apa yang dikatakan oleh imam syafii
    “pendapat saya benar, tapi ada kemungkinan salah. dan pendapat anda benar tapi ada kemungkinan salah”
    suatu kebesaran hati dan sikap rasional dalam mencari kebenaran, indah bukan? duduk bersama dengan pandangan yang beragam

    nice argumen :smile:

  6. 6 cizz Selasa, 9 Februari 2010 pukul 4:45 pm

    rasionalisme… kata yang sering banget aq denger semenjak kenal filsaft :p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: