Determinisme Einstein versus Ketakpastian Heisenberg

Tuhan tidak bermain dadu

Demikianlah sebuah pernyataan yang sangat terkenal yang sering kali diekori oleh para ilmuan, agamawan, praktisi sosial, dan masih banyak lagi. Pernyataan yang mengindikasikan bahwa sesungguhnya tidak ada sebuah kejadian yang sepenuhnya di alam sains (atau bahkan dunia seutuhnya?) yang tidak terjangkau oleh tangan tuhan alias tanpa kehendaknya. Semua ada asal usulnya atau sebabnya. Tidak ada namanya judi dalam bermain dengan alam semesta. Anda tentunya tahu siapa yang mengucapkan kalimat yang amat terkenal tersebut. Ya, dialah sang maestro fisika terbesar dalam kurun 1 abad ini, yang belum ada seorangpun mampu melebihi kedahsyatan revolusi saintifik yang diusungnya. Dialah Albert Einstein. Dia besar dengan karya penuh gemerlap yang dia namai Relativitas (Relativity).

Seorang yang lumayan tidak terkenal di dunia umum khususnya para awan, atau setidaknya tidak semasyhur Einstein, muncul di deretan ahli fisika kuantum. Ia mengusung sebuah batas pengetahuan deterministik fisika. Ia, yang kemudian sangat bersebrangan dengan Dadunya Einstein membawa perubahan baru di dunia fisika. Katanya; fisika hanyalah sebuah kumpulan probabilitas-probabilitas. Kita tidak mungkin mengetahui sebuah kejadian fisika kuantum (gerak/posisi atom) tanpa kita ikut andil memperngaruhi gerak mereka. Yang kita dapat sesungguhnya hanyalah jejak yang sudah berubah. Posisi sebuah atom yang kita tangkap bukanlah sebuah fakta atau kebenaran. Siapakah orang yang sedemikian hebat mampu menantang kemegahan Einstein? Dialah sosok yang sangat dikenal oleh para ahli fisika kuantum, bahkan telah merevolusi teori kuantum saat ini. Tidak lain tidak bukan, saya perkenalkan namanya: Werner Karl Heisenberg (1901 –1976). Dan teorinya yang terkenal yang memasyhurkan namanya ia sebut sebagai Ketidakpastian Heisenberg (uncertainty principle).

Pending… To be continue…

Iklan

13 Responses to “Determinisme Einstein versus Ketakpastian Heisenberg”


  1. 1 Geddoe Minggu, 20 Mei 2007 pukul 1:26 pm

    Btw, yang saya dengar, Einstein sendiri seorang agnostik. Ia datang ke sinagog cuma buat menghargai etnisnya, dan pemahaman agamanya adalah Panteisme a la Spinoza.
    Dan, dia pernah mengeluh bahwa pernyataannya soal Tuhan tidak bermain dadu itu dipublikasikan sebagai bukti bahwa dia seorang theis :roll:


    ooo gitu ya… masak sih??? eh entar kutambahin pernyataan tuh dibuat untuk apa ya… klo gak lupa sih…

  2. 2 helgeduelbek Minggu, 20 Mei 2007 pukul 9:01 pm

    Duh… belum paham nih :D

    wah belum paham kok senyum… saya juga cuma pura pura paham kok… ngikutan gak paham ah… :)

  3. 3 kunderemp Minggu, 20 Mei 2007 pukul 11:05 pm

    Kalau menurut Richard Dawkins (buku God Delusion), Einstein itu Deisme.


    kok malah bahas kepercayaan einstein sih? tapi gak papa kok jadi nambah referensi… thanks infonya…

  4. 4 Geddoe Senin, 21 Mei 2007 pukul 12:23 am

    Deisme a la Jefferson? Hoo, sebenarnya kepercayaannya apa, ya? -_-a

    hu uh apa ya? saya juga gak ngerti je ged… :(

  5. 5 kangguru Rabu, 23 Mei 2007 pukul 1:19 pm

    “berhentilah memberi tahu Tuhan tentang apa yang Tuhan lakukan”
    itu sich kata Niels Bohr pada Einstein hehehheh

    Wah gitu ya… hmm… Trus, dijawab einstein apa tuh?

  6. 6 Mr. Fulus Jumat, 1 Juni 2007 pukul 12:31 am

    Bukannya Max Plank yang memulai teori probabilitas mas?
    Saya bukan orang fisika, cuma belajar dikit-dikit filsafat sains.
    Walau bagaimanapun, teori-teori quantum memperteguh teori kausalitasnya Imam Ghazali, yang menolak teori sebab akibat. Pada abad 11, teori kausalitas ini ditertawakan oleh para saintis dan ahli teologi dalam dunia Islam. Teori ini menyatakan bahwa di samping tidak ada hubungan langsung antara satu kejadian dengan kejadian berikutnya yang sinambung, ia mengukuhkan kepercayaan ummat Islam, bahwa Tuhan mencipta setiap saat, bukan Tuhan yang menciptakan semesta dalam enam hari dan istirahat di hari ke tujuh; Sabtu istirahatnya Yahwe, Yahudi, dan Ahad istirahatnya Tuhan orang Kristen (saya kurang pasti Tuhan yang mana, Bapak, Yesus, atau Roh Kudus).
    Begitulah yang saya pahami, mohon diperbetulkan jika salah.
    Salam,
    Crab
    Ketua RT warga bawah laut “The Bikini Bottom”

    saya tidak mengatakan teori probabilitas kok ditulisan saya.. saya mengemukakan teori ketakpastian … mohon di baca ulang… untuk sebab akibat yang tertolak.. silahkan baca tulisan-tulisan saya sebelumnya… salah satunya ada di Tercipta dari Ketiadaan vs Tercipta dalam ketakberhinggaan: Lautan Kegelisahan Tanyaku

  7. 7 mpie Jumat, 24 Agustus 2007 pukul 11:00 am

    sebenarnya apa seh manfaat dari fisika kuantum itu?? penti g banget ya mempelajari fisika kuantum itu???
    terus… gima supaya gampang banget memahami fisika kuantum tu….

  8. 8 zon Jumat, 31 Agustus 2007 pukul 4:37 pm

    Fisika kuantum, denger-denger akan tersosialisasi di masa medatang. Mereka-mereka mendalami tentang cahaya, molekuler, anti gravitasi dll.
    Kita tunggu saja..

  9. 9 attu Minggu, 13 April 2008 pukul 1:46 pm

    hi..
    ikut comment g apa kn?

    Berbicara soal kuantum, sbgai orang yang baru belajar akan pusing 1000 keliling lingkaran, he…he…he..
    Why?????
    Karena ilmuwan yang menngungkap pertama kali tentng hal ini juga mangakui bahwa ‘tidak ada seoarang pun yang dapat mngerti kuantum secara utuh, ttpi hanya sebatas pemahaman mereka aja’ Kuantum selalu berkembang n sangat rumit menjelaskannya. So, manfaat fisika kuantum hanya sebatas sampai dimana manusia mengeksporali kekayaan fisika kuantum itu sendiri.

    PS (to mr. fulus): Jika Anda ingin mengaitkan fisika kuantum dengan agama, maka hal itu menjadi suatu kebodohan menurut saya karena apa yang tidak sempurna (pegetahuan manusia) tidak akan membuktikan Allah yang smpurna.

    semoga diterima
    Trims

  10. 10 cok Rabu, 13 Agustus 2008 pukul 9:42 am

    coooooooooookkkkkkkkkkkk][

  11. 11 Narasoma Senin, 25 Juli 2011 pukul 3:02 pm

    Tak ada cara yang tepat untuk membuktikan apakah Einstein atau Heisenberg yang benar, sebab keduanya melampaui eksperimen. Dan hanya eksperimen lah satu – satunya pembuktian yang diakui.

    Tentang Tuhan “bermain dadu”, kenapa tidak? Jika fisika kuantum adalah tembok batas yang dipasang Tuhan untuk membatasi pengetahuan manusia, maka itu menunjukkan kehebatan Tuhan itu sendiri. Dia mengetahui angka mana yang akan muncul setelah ia melempar dadu-Nya, namun manusia tidak. Manusia hanya dapat menggunakan pendekatan probabilistik.

  12. 12 Darma Rabu, 4 Juli 2012 pukul 9:29 am

    Mas saya kepingi tahu filsafat, setiap saya baca filsafa saya puyeng, bicaranya muter-muter


  1. 1 Berkawan dengan Statistik, Berbohong dengan Statistik « Suluh Numpang Nulis Lacak balik pada Minggu, 9 Desember 2007 pukul 8:33 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Haqiqie Suluh Facebook Profile

Tentang Aku

Banyak hal yang berubah seiring berlalunya waktu, Demikian pula Saya, Haqiqie Suluh, baik dalam hal pandangan atau keyakinan. Selanjutnya saya hanya ingin memberitahu bahwa terhadap apa apa yang telah saya tuliskan di blog ini, sangat mungkin bukan lagi merupakan pandangan dan keyakinan saya saat ini, karena ternyata saya telah banyak berubah, anda pun saya yakin sedang dan telah berubah juga. Semoga dimengerti.
Peringatan!!!

Anda Boleh Memaki, Anda Boleh Mencaci, Tetapi Jangan Sebar Spam or Promosi. Segala Bentuk Komentar yang Berbau Spam dan Promosi akan Langsung Saya Hapus! Tanpa Kecuali!

BOLEH COPY PASTE

Anda DIPERBOLEHKAN KOPI PASTE Semua Artikel atau Tulisan yang Ada disini

Syaratnya satu: Cantumkan Link Blog ini di dalam Artikel yang Anda KOPI PASTE!!

Suluh Numpang Nulis


%d blogger menyukai ini: